Belum selesai masalah dengan orang yang sudah mengancam Bintang dan Hikari, kini muncul masalah baru.
Revro sedang menunggu kedatangan Bintang dan Bravo di kantin, ketika dia melihat seorang cewek berambut pendek sebahu terjatuh karena ditabrak oleh mahasiswa lain. Bukannya membantu dan meminta maaf, mahasiswa itu justru pergi sambil tertawa, sementara cewek yang dia tabrak harus mengambil diktat-diktat kuliahnya yang ikut terjatuh dan berhamburan di atas lantai. Langsung saja, Revro bangkit dari kursinya dan berjongkok tepat di depan cewek itu untuk membantunya.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Revro ramah. Dia mendongak sedikit agar tatapannya bisa sejajar dengan manik cewek di depannya itu. Bukannya menjawab, cewek itu justru membatu. Revro yang bingung kontan melambaikan tangan di depan wajah cewek tersebut sambil berdeham dan tersenyum tipis.
“Eh? Ah, apa?”
Revro menarik napas panjang dan berdiri. Diulurkannya tangan kanan, menunggu cewek itu untuk menjabatnya. Setelah jeda beberapa detik, cewek tersebut barulah menjabat tangan Revro dan kembali membatu.
Jantungnya meliar tanpa sebab dan dia merasa wajahnya memanas.
Cewek itu menunduk untuk menatap tangannya yang digenggam oleh Revro. Tangannya benar-benar kecil jika dibandingkan dengan tangan hangat cowok tersebut. Kemudian, dia mendongak, menatap wajah tampan Revro yang sedang tersenyum lembut.
“Gue Revro. Lo?” tanya cowok itu seraya memperkenalkan diri. Cewek tersebut tersentak dan mengerjap. Dia memang sering mendengar nama Revro, tapi dia belum pernah bertemu langsung dengan orangnya.
Gugup, dia menjawab, “Gue... Bulan. Bulan Wijaya.”
“Wijaya?” Revro melepaskan genggaman tangannya dan hal itu membuat Bulan nyaris mendesah kecewa. Dia ingin terus berpegangan tangan dengan Revro. “Lo kenal sama Haris Wijaya? Atau lo keluarganya?”
Alis Bulan terangkat satu. “Om Haris? Lo kenal sama Om Haris?”
“Haris Om lo?” tanya Revro dengan nada tidak percaya. Lalu, cowok itu tertawa renyah hingga membuat Bulan terpana. Tawa Revro benar-benar memesona. “Jadi, Haris punya ponakan seumuran gue? Gila!”
“Mmm... lo kenal sama Om Haris di mana?” tanya Bulan bingung. Memang, umurnya dengan adik bungsu dari pihak ayahnya itu hanya berbeda tiga tahun saja. Hal yang membuat Bulan sempat bingung di awal, tapi akhirnya mengerti.
“Gue sama dia sering latihan memanah bareng.” Revro menjelaskan. “Dia hebat, loh.”
Nggak usah ditanya, batin Bulan dan tersenyum tipis.
Terdengar suara dehaman dari arah belakang Revro, membuat cowok itu dan Bulan menoleh. Di sana, Revro bisa melihat Bravo sedang menatapnya galak, sementara Bintang terlihat ingin tahu. Revro memicingkan mata dan nyaris tersenyum bahagia saat menyadari binar cemburu di kedua mata indah mantan pacarnya yang sebentar lagi akan langsung dia jadikan istri saja kalau masalah mereka sudah beres.
“Selingkuh mulu kerjaan lo!” tegas Bravo. Dia menoyor kepala Revro, membuat Revro terkekeh dan langsung mendekati Bintang. Dirangkulnya pinggang cewek itu, menyebabkan Bintang tersentak dan langsung berdeham untuk menetralkan detak jantungnya yang mulai meningkat.
“Tenang, hati gue hanya untuk Bintang seorang.” Revro mengedipkan mata ke arah Bintang, sementara cewek itu mengalihkan wajah. Malu. Dia mencoba melepaskan diri dari rangkulan erat nan posesif Revro di pinggangnya, tapi tidak berhasil. “Gue cintanya cuma sama Bintang, kok!”
Baru saja Bravo akan membalas ucapan Revro, cowok itu tidak sengaja menatap Bulan. Cewek asing yang muncul di hadapannya dan Bintang itu sedang menatap Bintang dengan tatapan yang tidak terbaca. Bravo sampai harus mengerutkan kening karena memikirkan apa masalah si cewek asing dengan saudara kembarnya itu, sehingga menimbulkan kesan tidak suka.
“Mmm... kalau gitu gue pamit dulu, ya, Revro,” ucap Bulan kemudian. Cewek itu tersenyum tipis, sangat tipis dan singkat, lantas membungkuk sejenak untuk pamit. Dia menatap Revro, lalu beralih ke arah Bintang. Bintang tersenyum, tapi Bulan sama sekali tidak membalasnya. Cewek itu langsung pergi, bahkan tanpa pamit pada Bintang dan Bravo.
“Cewek aneh,” komentar Bravo ketus. “Lo nemu di mana?”
“Di sini,” jawab Revro polos. “Gue bantuin dia yang jatuh karena diseruduk banteng nggak tau diri.”
Banteng?
“Lo terlalu sering ngomong yang aneh-aneh, Rev,” celetuk Bintang sambil tertawa. Dia menggeleng, melepaskan tangan Revro dari pinggangnya, kemudian berjalan menuju meja yang ditempati Revro karena ada ransel cowok itu di sana.
Di belakang Bintang, Revro dan Bravo mengikuti. Ketiganya sudah duduk manis di kursi masing-masing, saat tatapan Bravo jatuh pada sebuah meja yang jauh dan terletak di sudut kantin. Di meja itu, Hikari sedang duduk sambil menatap datar meja di depannya dan mengunyah sandwich tuna kesukaannya.
“Hikari?” gumam Bravo. Lalu, perasaan bersalah itu kembali muncul, kala otaknya kembali memerintahkannya untuk mengingat kejadian kemarin pagi di koridor kampus.
###
Hikari sedang asyik melahap sandwich tuna kesukaannya sambil melamun, ketika ponselnya berbunyi.
Cewek itu melirik sekilas ke arah ponselnya yang ditaruh di atas meja dan mendesah panjang. Dia cukup sedih sebenarnya karena harus sendirian di saat-saat seperti ini. Ingin menangis di dekat Bintang atau cerita pada Revro, dia tidak bisa. Dia harus menjauh dari kedua orang tersebut juga menjauh dari Bravo.
Lo harus jadi tumbal!
Kata-kata itu lagi. Kata-kata itu selalu saja terngiang di gendang telinganya, membuat Hikari down. Ponselnya masih kekeuh berdering, menyebabkan Hikari kembali mendesah dan memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.
“Lama banget angkat teleponnya!” gerutu seseorang di ujung sana. Hikari mendengus.
“Gue lagi makan,” jawabnya malas. “Kenapa, Ref?”
“Lo baik-baik aja di kampus, kan? Nggak diancam atau dicelakain lagi, kan?” tanya Reffal bertubi-tubi. Niatnya, sih, Reffal mau stand by di dekat Hikari. Berjaga-jaga kalau si oknum gila yang sudah menghipnotis temannya tempo hari itu kembali beraksi. Tapi, hari ini dia ada kuis di kampusnya.
“Lebih tepatnya belum.” Hikari meminum es jeruknya. “Kalau dia muncul lagi di depan gue gimana, Ref?”
“Emang lo ingat mukanya?” tanya Reffal. Cowok itu berhenti menulis di ujung sana dan memindahkan ponselnya ke telinga kanan. “Lo bahkan lupa apa yang terjadi sama lo waktu itu, pas lo sadar dan ada di kamar gue.”
“Iya, sih,” keluh Hikari. Dia memijat pelipisnya pelan, terlalu lelah dan stres dengan semua masalah yang mendadak datang menghampirinya itu. “Tapi, kayaknya gue ada bayangan, deh. Walau samar.” Cewek itu kemudian mendongak dan tidak sengaja bertemu mata dengan Bravo, Revro juga Bintang di kejauhan. Bintang dan Revro nampak khawatir, kemudian tersenyum ke arahnya, sementara tatapan mata Bravo sulit diartikan oleh Hikari. “Gue harus tutup teleponnya, Ref. Ada Revro, Bintang sama Bravo di kantin. Gue harus menghindari mereka sekarang.”
“Gue janji akan bikin orang itu babak-belur karena udah bikin lo menderita begini, Hikari-chan,” janji Reffal tegas. “Jangan lupa, pulang gue jemput nanti. Tunggu di gerbang kampus, oke?”
“Sip.” Hikari memutuskan sambungan telepon dan bangkit berdiri. Cewek itu memakai tas selempangnya, kemudian berniat pergi, saat seseorang menyenggol pundaknya dengan keras. Cewek itu mengaduh, sedikit terdorong ke samping, lantas menoleh dan menatap tegas si pelaku.
Lalu mendadak dia membeku.
Cowok dengan rambut panjang nyaris mencapai tengkuk itu tersenyum. Tapi, senyumannya justru membuat Hikari merasa tidak nyaman. Hawa dingin yang entah datang darimana mulai menyusup ke dalam hatinya. Matanya sepenuhnya terpaku pada dua manik beda warna yang nampak memesona itu. Biru muda dan hijau muda.
Sesaat, Hikari merasa terbang. Terseret masuk entah ke mana. Dia mendapati sekelilingnya kosong dan mulai gelap. Tapi, anehnya dia justru merasa nyaman di sana. Sepi, sunyi, tidak ada keramaian. Hal yang selalu didambakannya.
Lalu, semuanya kembali seperti semula.
“Maaf, lo nggak apa-apa?” tanya cowok itu ramah. Hikari mengerjap dan mengangguk pelan. Senyuman cowok itu semakin terlihat, membuat Hikari tidak bisa berkutik. Terlebih tatapan mata yang beda warna itu. “Syukur kalau lo baik-baik aja.”
Hikari tetap diam. Mata beda warna itu semakin membuatnya terlena. Lalu, cowok tersebut mengusap rambut Hikari lembut. Hikari bisa melihat mulut orang tersebut berkomat-kamit, entah mengucapkan apa, sebelum kemudian berkata, “Hati-hati, ya.”
Cowok itu akhirnya pergi meninggalkan Hikari. Meski begitu, Hikari tetap menatap punggungnya yang semakin menjauh. Tak lama, dia mendengar suara-suara yang begitu ramai memanggil namanya. Semakin lama, suara itu semakin terdengar. Saat dia menoleh, pertama kali yang dia lihat adalah wajah tegas dan khawatir milik... milik...
Lalu, dia tidak mengingat apa-apa lagi.
###
Bintang menatap hamparan bintang di langit sana dengan tatapan menerawang.
Malam mulai datang, dan Hikari masih belum sadarkan diri. Bintang sekarang sedang berada di rumah Revro, karena saat mendadak pingsan tadi, Hikari langsung dibawa ke rumah ini olehnya, Revro dan Bravo. Tak lupa, Revro memberitahu Reffal, ketika ponsel Hikari berbunyi dan nama cowok itu muncul di layarnya.
Sebuah jaket melingkupi tubuh mungilnya, membuat Hikari kaget dan menoleh. Senyuman Revro menyambutnya, disusul tangan hangat cowok itu mengusap rambutnya lembut dan dia mendesah panjang. Revro ikut menatap bintang di atas sana dengan senyuman yang masih bertahan pada tempatnya.
“Lo nggak nemenin Hikari?” tanya Bintang heran.
“Ada Bravo, kok, di sana. Gue malas berduaan doang sama kembaran lo karena dia selalu bawel kalau ada gue.” Revro terkekeh dan menarik napas panjang. “Lo nggak apa-apa?”
“Maksudnya?”
Revro melirik sekilas dan kembali menarik napas panjang. “Lo pasti lagi mikirin si orang gila yang menyebabkan semua masalah ini, kan? Juga mikirin Hikari.”
“Iya,” jawab Bintang lirih. Dia ingin menangis rasanya kalau mengingat Hikari yang dijadikan tumbal dari semua masalah ini. Cewek itu pasti sedih dan tersiksa bukan main, sementara dia tidak bisa menemani Hikari. “Gara-gara gue, kalian semua harus mengalami hal-hal buruk.”
“Bukan salah lo, kali,” bantah Revro. “Emang orang yang menyebabkan ini semua aja, yang udah nggak waras.” Kemudian, Revro meraih pergelangan tangan Bintang, membawa tubuh cewek itu ke arahnya.
Bintang hanya bisa tersentak dan menahan napas, ketika Revro memeluknya dengan sangat erat. Dia tidak mampu membalas pelukan itu karena terlalu kaget. Wajahnya memanas dan dia yakin rona merah itu mulai terlihat di kedua pipinya. Bintang bahkan bisa merasakan hangat napas Revro di tengkuknya, karena cewek itu mengikat rambutnya.
“Sebentar aja, ya, Bintang,” pinta Revro pelan. Dia memejamkan kedua mata dan meresapi pelukan itu. “Gue butuh energi. Gue butuh tenaga. Dan semua itu bisa gue dapatkan kalau memeluk lo, atau bahkan hanya dengan melihat senyuman lo. Tapi, akhir-akhir ini lo nggak pernah tersenyum, yang gue tebak pasti karena masalah ini.”
Bintang diam. Membenarkan ucapan Revro di dalam hati.
“Awalnya, gue pikir lo ninggalin gue karena udah nggak cinta lagi sama gue,” kata Revro lagi, diiringi tawa pelannya. “Gue frustasi, loh. Soalnya, gue masih sangat mencintai lo. Sangat... sangat mencintai elo. Tapi, setelah gue tau alasan dibaliknya, gue bersyukur karena alasan lo pergi dari gue bukan karena lo nggak cinta lagi sama gue.”
Wajah Bintang semakin memanas dan jantungnya semakin berdetak kencang.
“Karena itu, gue bersumpah akan segera menemukan orang gila ini dan mungkin ngirim dia ke penjara. Gue akan rebut lagi hati lo dan akan gue kasih mantera hati lo, biar lo nggak bisa pergi lagi dari gue. Selamanya, lo cuma milik gue, Bintang!”
Bintang mengerjap dan tersenyum tipis. Perlahan, kedua tangannya terangkat, mulai membalas pelukan Revro. Cewek itu menenggelamkan wajahnya di leher Revro, menyembunyikan rona merah yang bahkan Revro sendiri tidak bisa melihatnya.
“Gue... agak cemburu.”
Revro mengerutkan kening.
“Gue cemburu waktu tadi liat lo bisa ketawa lepas sama cewek lain di kantin. Gue cemburu waktu liat lo ngobrol sama dia akrab banget, walaupun gue tau, gue nggak ada hak sama sekali buat cemburu. Tapi, gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri.”
Revro mendesah lega. Dia tahu, Bintang juga masih mencintainya. Karena itu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan semua masalah ini dan kembali bersatu dengan Bintang.
“Vro....”
Panggilan itu membuat Revro menguraikan pelukannya dengan Bintang dan menatap ke sumber suara. Reffal berdiri di sana, menatapnya iba dan tersenyum pahit.
Ada apa?
“Hikari udah sadar,” kata Reffal kemudian. Mendengar itu, Revro dan Bintang saling tatap dan tersenyum senang. Revro menggandeng tangan Bintang, mengajak cewek itu masuk ke dalam untuk melihat kondisi Hikari, ketika Reffal kembali bersuara. “Tapi, gue harap lo berdua jangan terlalu bahagia dulu.”
Langkah Revro dan Bintang otomatis terhenti. Mereka menatap Reffal yang menunduk dan menarik napas panjang.
“Maksudnya apa, Ref? Kenapa lo ngomong kayak tadi?” tanya Revro tidak paham. Bukannya menjawab, Reffal justru melangkah lebih dulu ke dalam, diikuti Revro dan Bintang yang mengerutkan kening mereka.
Sesampainya di ambang pintu kamar tamu, Revro dan Bintang mematung. Mereka bisa melihat bagaimana Hikari menyudutkan diri di ujung tempat tidur sambil menatap nyalang Bravo yang terlihat shock dengan keadaan ini.
“Hikari, ini gue... Bravo,” ucap cowok itu dengan nada frustasi. Dia berniat mendekat, namun Hikari semakin menyudutkan diri dan menggeleng. Wajah cewek itu pucat dan dia berteriak. Histeris.
“Pergi! Gue nggak kenal sama lo! PERGI!!!”
DEG!
Bintang dan Revro terperangah. Hikari... tidak mengenal Bravo?
Hikari... takut pada Bravo?
“Hikari-chan.” Suara Reffal terdengar, membuat Bravo menoleh, begitu juga dengan Hikari. Langsung saja, Hikari melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju Reffal. Cewek itu menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung Reffal dan meremas kaus yang dikenakan oleh cowok tersebut. Matanya kini bukan hanya menatap nyalang ke arah Bravo, tetapi juga ditujukan untuk Bintang dan Revro.
“Hikari, lo kenapa?” tanya Revro ketika dia sadar dari kekagetannya. Cowok itu berjalan mendekat, tapi Hikari langsung menangis keras.
“Berhenti! Berhenti di sana! Jangan ke sini, jangan!” teriak cewek itu panik. Dia semakin menyembunyikan diri di belakang punggung Reffal dan menangis hebat. Tubuhnya gemetar, matanya tetap menatap nyalang, sementara kedua tangannya sibuk mencengkram lengan Reffal.
“Hikari, ini Bintang....” Kali ini, Bintang yang bersuara. Cewek itu berusaha untuk tersenyum, tapi Hikari sama sekali tidak membalas senyuman itu. Dia justru terlihat sangat ketakutan.
“Gue nggak kenal sama kalian! Pergi!!!””
Di tempatnya, Bravo mengepalkan kedua tangan. Cowok itu menunduk, menatap lantai di bawahnya dengan tatapan tajam.
Hikari tidak ingat dengannya, juga dengan Bintang dan Revro, tetapi cewek itu mengingat Reffal.
###