Tak Sengaja, Atau Tugas

2107 Words
Daniel meninggalkan ruangan setelah mengatakan apa yang perlu dikatakan, mungkin lebih tepat untuk meninggalkan sebuah ancaman sebelum dirinya beranjak dari duduk nyaman. Diego memperhatikan setiap langkahnya, ibu jari mengusap setiap jari lain dengan rahang mengerat hebat. Fabian segera masuk begitu keduanya pergi tanpa ingin untuk di antar, menghampiri lelaki masih duduk dengan mengusap-usap jari, seperti kebiasaan saat dirinya tengah berpikir keras. “Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa panti asuhan berhubungan dengannya?” tanya Fabian, berdiri menatap Diego. “Entahlah, tapi ini bukan pertanda baik. Cari tahu semua tentang Clara, aku ingin mendapatkannya hari ini juga!” sahut Diego. “Aku sudah memberikan semua informasi tentangnya, dan itu sudah ada padamu. Selain anak panti asuhan yang dibuang orang tuanya semenjak bayi, tidak ada lagi informasi mengenai Clara yang bisa aku dapatkan.” Fabian menjawab dengan keyakinan. “Pasti dia sudah menutup semua informasi tentangnya. Aku yakin ada sesuatu di balik ini semua, tidak mungkin Daniel akan ikut campur kalau ini tidak memiliki hubungan lain. Aku sangat mengahapal dirinya,” tak yakin Diego. “Mungkinkah ....” Fabian menggantung ucapan ada di kepala, mata Diego terarah padanya. “Mungkinkah mereka ayah dan anak? Atau, sepasang kekasih?” ucap Fabian melanjutkan kalimat menggantung, kotak tisu hitam segera mendarat padanya. “Itu bisa saja!” “Berpikirlah lebih jernih lagi! Mana mungkin mereka ayah dan anak?! Apa lagi sampai memiliki hubungan kekasih! Kau sudah tidak waras!” jengkel Diego tiba-tiba. “Siapa yang akan tahu hal itu?!” kata Fabian. “Mereka tidak mungkin ayah dan anak, karena Daniel bukan orang b******k yang akan membuang anaknya. Mereka juga tidak mungkin menjalin hubungan lain, Clara bukan seleranya sama sekali. Daniel akan berkencan dengan perempuan yang pandai di ranjang, bukan seperti Clara!” terang Diego menyangga semua kecurigaan sahabatnya. “Ka—kalian sudah melakukannya? Bagaimana bisa kau tahu kalau dia tidak pandai di ranjang?” menyipit kedua mata Fabian penuh curiga. “Diam dan pergilah cari tahu tentangnya!” tegas Diego. “Sudah aku katakan, tidak ada lagi yang bisa aku dapatkan! Kau pasti sudah mengerti alasannya! Sudah, mereka pasti memiliki hubungan kekasih, itu bukan hal mustahil. Siapa yang akan bisa menolak pesona Daniel?! Bahkan jika dibandingkan denganmu juga tidak akan bisa!” jengkel Fabian, berdiri lelaki melebarkan kedua mata seketika. “Hahaha, aku tidak mengatakan apa pun!” tawa Fabian, meletakkan kotak tisu dibawanya ke atas meja lalu berlari ke luar ruangan. “Siapa menyuruhmu pergi?! Kembali dan ulangi lagi perkataanmu!” teriak Diego kencang. “Aku tidak percaya dengan mulutnya itu! Apa dia selalu minum bisa ular setiap hari?!” menggerutu sendiri, lalu menoleh ke arah pintu terbuka dan muncul kepala seseorang menunjukkan senyum lebar dengan ibu jari terangkat, lalu diputar terbalik. “FABIAN!” menggelegar suara Diego, mengambil sepatu dan dilemparkan ke pintu segera ditutup kembali. “Dasar menjengkelkan!” gerutunya. Melihat ke arah sepatunya, membuang napas kasar dan menggelengkan kepala. “Ah, aku malas berjalan ke sana!” Walau malas berjalan, ia tetap saja mengambil tanpa ingin mengotori kaos kakinya. Lelaki tengah meyakini adanya hubungan lain antara pemimpin kegelapan terbesar itu dengan Clara, bertekad untuk segera menemukan apa yang sebenarnya terjadi Jika Diego berkuasa dalam dunia bisnis juga kegelapan, Daniel ada di atasnya untuk lebih memiliki kuasa. Jika Diego terkenal dengan kekejaman, maka Daniel terkenal dengan sikap tenang namun sadis. Tak ada yang ingin berurusan dengan Diego, tapi lebih tak ingin lagi jika berurusan dengan Daniel. Pasti ada sesuatu lebih besar di antara Clara dan Daniel, sampai pria yang kini dalam perjalanan ke panti asuhan itu berani memberikan peringatan. Kini, Daniel mengantarkan kepala panti kembali, meminta padanya agar tak terlalu memikirkan tentang Clara yang akan diambil tanggung jawab atas dirinya sebagai seorang ayah. Daniel berjanji untuk menjaga serta melindunginya, di atas nyawa sendiri. “Jangan cemaskan apa pun, panti asuhan akan aman mulai hari ini, begitu juga Clara. Saya akan berusaha sebaik mungkin, jadi Anda tidak perlu mencemaskan apa-apa. Cukup fokus pada anak-anak yang ada sekarang, Clara sudah menjadi urusan saya. Diego tidak akan bisa menyakitinya meskipun sedikit saja,” tutur Daniel meyakinkan. “Baiklah, Tuan besar. Saya akan melakukan seperti apa yang Anda inginkan. Tapi, bisakah saya tetap mendapat kabar tentang Clara?” sahut kepala panti, wajahnya penuh akan permohonan dan kecemasan. “Tentu. Anda akan selalu mendapat kabar darinya,” tersenyum Daniel, ada banyak rencana di kepala. “Jangan berterima kasih, saya tidak menyukainya.” Daniel menambahkan ketika melihat wanita di sampingnya hampir berucap apa tak diharapkan selama ini. Kepala panti tersenyum lebar, dia menghapal seperti apa orang yang jelas diketahui siapa sirinya dan bagaimana rasa kasihnya terhadap Clara juga anak-anak panti. Dia juga yang selalu berada di balik Clara untuk membantu dalam diam, pria tak pernah suka mendengar ucapan terima kasih atas apa dilakukan dianggap tak seberapa, padahal itu sungguh luar biasa bagi kepala panti. Bagaimana tidak, pria itu selalu ada kala ia membutuhkan, menawarkan tanpa pernah diminta, tanpa pula peduli seberapa besar. Setiap anak panti mendapatkan pendidikan terbaik karena kemurahan hatinya, mereka pun bisa menikmati apa yang mungkin tak pernah disediakan oleh panti asuhan. Mengajak mereka makan bersama di rumah mewahnya setiap dua kali dalam satu bulan, itu sungguh luar biasa. Kebahagiaan anak panti beriringan dengan doa, dan hanya itu yang menjadi tujuan dari Daniel ketika membagikan apa dimiliki. Hanya doa yang ia butuhkan dalam hidup, bukan balasan seperti uang atau tenaga. Lagi pula, selama ia berbagi tak pernah merasa kekurangan, justru harta semakin berlipat ganda dan membesarkan namanya hingga detik ini—nama yang tak pernah disangka akan sampai di telinga Diego juga Fabian, sehingga salah mengenali. Mengantarkan ibu kepala sampai panti, namun tak turun ketika sudah tiba. Daniel langsung berpamitan dan menghubungi anak buahnya, tanpa menunggu untuk waktu berlalu. “Awasi Diego, laporkan padaku setiap waktu. Aku akan mengirim tugas lain, pilih orang untuk melakukannya, dan usaha itu berhasil! Ingat, aku tidak menyukai kegagalan, terutama kali ini!” tegas Daniel memberikan perintah. “Baik, Tuan besar. Apa pun itu,” sahut orang di ujung panggilan. Selalu mengatakan apa diperlukan, berbicara tepat pada intinya tanpa menyukai adanya basa-basi tak berguna, Daniel mengakhiri panggilan. Ia mengirimkan beberapa foto, lalu menerangkan apa tugas yang harus dikerjakan dalam hari sama tanpa boleh menunda. Dia bukanlah orang yang akan menerima alasan, ketika ada kegagalan. Semua akan dianggap sebagai kebodohan, tanpa usaha keras dilakukan. Anak buahnya sudah mengerti akan hal itu, mereka akan berusaha sebaik mungkin agar kegagalan tak pernah ada dan memang belum pernah terjadi sampai sekarang. Sementara semua orang tengah sibuk berpikir tentangnya, di rumah Clara justru tengah sibuk membersihkan rumah bersama pelayan lain. Walau sendirinya tak nyaman dengan tubuh juga kewanitaannya, tapi Clara tidak terbiasa untuk diam saat lainnya sedang bekerja. Pelayan melarang, tapi dia mengatakan jika dirinya tak jauh berbeda dengan mereka, lalu untuk apa dilarang? Tak ingin dipanggil sebagai Nyonya, namun Clara masih membiarkan meski telinga risih ketika harus mendengar. Dia tidak ingin untuk orang lain dimarahi karena dirinya, sehingga mulai membiasakan telinga. “Maaf, Nyonya. Ada telepon untuk, Anda. Tapi tidak menyebutkan namanya siapa,” ucap salah satu pelayan, menghampiri dengan telepon rumah warna hitam di tangan. “Terima kasih banyak,” jawab Clara, meski sendirinya bingung siapa yang menghubungi. Menyerahkan kain dipergunakan untuk bersih-bersih tadi pada pelayan, beralih ke tempat lain untuk menjawab panggilan. “Ya? Ini siapa?” tanya Clara begitu telepon rumah ia letakkan di sisi wajah. “Akhirnya aku bisa mendengar suaramu. Bagaimana kabarmu sekarang? Semua baik-baik saja?” tanya seseorang di ujung panggilan, dikenali pasti siapa pemilik suara itu oleh perempuan tengah mengukir senyum lebar. “tuan Daniel? Benar ini, Anda?” sahut Clara. “Tentu, siapa lagi yang akan menghubungimu selain aku? Apa kamu sudah makan?” sahut pria sengaja menghubungi. “Saya baik-baik saja, saya juga sudah makan. Ada apa? Kenapa Tuan menghubungi saya? Ibu kepala tidak bersama saya sekarang,” tutur Clara. “Aku tahu, aku baru saja bertemu dengannya.” Daniel menjawab. “Clara, akan ada paket untukmu, bisakah kamu mencari cara untuk menerima paket itu? Aku mengirimkan ponsel untukmu, ada tempat juga di sana dan kamu bisa menyimpan ponsel itu nanti tanpa ketahuan Diego. Hubungi aku kapan pun kamu bisa, dan jangan lupa untuk mengabari kepala panti. Dia sangat merindukanmu,” terang Daniel. “Kenapa Anda harus repot? Bagaimana Anda tahu kalau saya ada di rumah Tuan muda Diego? Lalu, bagaimana cara saya mengambil paket itu nanti, di sini sangat banyak kamera dan penjaga. Saya tidak berani melakukannya,” sahut Clara. “Tenang saja, kamu hanya perlu ke depan nanti. Sisanya, biar aku yang melakukan. Jaga dirimu baik-baik di sana, jangan terus mengalah atau kamu akan selalu ditindas olehnya. Lawan sebisamu untuk menjaga diri, jangan terlalu memikirkan panti asuhan, semuanya aman sekarang. Aku tutup dulu,” pungkas Daniel, tak memberikan kesempatan untuk Clara bertanya lebih jauh karena ia sendiri tidak ingin untuk menjelaskan apa-apa padanya. Terdiam memegang telepon rumah, Clara masih belum tahu apa maksud dari perkataan pria kerap membantu dirinya dan memperlakukan dengan sangat baik, layaknya Tuan putri selama ini. Melawan, apa dia sanggup untuk melawan lelaki yang bahkan matanya saja cukup membuatnya gemetar ketakutan. Dia tidak memiliki keberanian dengan mempertaruhkan anak panti asuhan, jika harus melawan Diego dengan segala ancaman terus diberikan. Tapi, dari panggilan singkat barusan, Clara sedikit lega dengan ucapan Daniel yang mengatakan jika panti asuhan sudah aman. Tak perlu untuknya meragukan, setiap ucapan Daniel selalu dipertanggungjawabkan dan bukan semata untuk menenangkan. Clara meletakkan kembali telepon rumah pada tempatnya, seraya berpikir harus melakukan apa demi bisa mengambil paket dimaksudkan tadi. Berbeda dengan Daniel yang selalu menggunakan Anda dan saya, ketika berbicara dengan Clara, ia akan menggunakan panggilan aku dan kamu, agar keakraban tercipta di antara mereka berdua. Perempuan yang selalu bisa membuatnya ingin tetap selamat dan hidup lebih lama, perempuan sama yang sangat ingin dilihatnya terus mengukir senyum dalam biar bahagia, tanpa lagi ada kesedihan juga air mata. Perempuan yang kerap menunjukkan semangat di tengah kerasnya hidup dijalani, perempuan yang begitu menarik untuknya. **** Detik demi detik waktu terus saja bergulir, Diego masih menyibukkan diri bersama pekerjaan yang tak bisa membuatnya konsentrasi sama sekali. Tentang Daniel yang tiba-tiba datang bersama ancaman yang bisa jadi bukan hanya sekedar ancaman, tentang Clara yang entah memiliki hubungan apa. Diego sudah menggunakan kekuasaan dimiliki untuk mencari tahu, namun hasil nihil di dapat hingga pukul tiga sore ini. Berada di jalan setelah bertemu dengan klien dari waktu pukul siang tadi, mobil tiba-tiba melaju dengan tersendat-sendat, mengguncang tubuh Diego juga Fabian di belakang. “Ada apa ini?! Apa kau tidak bisa mengemudi dengan benar?!” tegas Diego memaki, tak sampai ia mendengar jawaban, mobil sudah berhenti dengan mesin mati. “Apa ini mogok?!” tanya Fabian. “Ma-maaf, Tuan. Saya akan memeriksanya sebentar,” sahut sopir. “Ah, hari apa ini sebenarnya?! Kenapa kau sangat sial?!” umpat Diego memegang kening dengan tangan kanan seraya menghempaskan punggung bersandar. “Aku akan melihatnya,” ucap Fabian lalu ke luar. Sopir telah mencoba untuk menyalakan mesin mobil, namun hasilnya percuma sampai ia ke luar dan memeriksa mesin. Fabian berdiri di sampingnya, memperhatikan mesin tengah coba di utak-atik. Diego merasa kegerahan di dalam, ia ke luar untuk menyusul Fabian. Akan tetapi seseorang langsung mendorongnya hingga tubuh membentur mobil dan seseorang yang mendorongnya secara mengejutkan, terkapar di atas aspal. Fabian dan sopir yang mendengar, segera menghampiri setelah mata keduanya menatap adanya motor terguling tak jauh dari mobil berhenti. “Kau baik-baik saja?” tanya Fabian menelisik setiap bagian tubuh sahabatnya. “Aku baik-baik saja, tapi lihatlah keadaannya.” Diego menunjuk orang dia aspal jalan. Fabian mendekat lalu berjongkok melihat keadaan pria berpakaian lusuh yang ada di jalan. “Anda terluka,” ucap Fabian melihat siku berdarah. “Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya terluka sedikit saja, ini akan sembuh. Apa Tuan itu baik-baik saja? Maaf kalau saya mendorongnya tadi. Saya hanya melintas di jalan ini, tidak sengaja melihat ada motor oleng dan hampir menabrak Tuan itu.” Pria dibantu untuk duduk itu menjelaskan. “Dia baik-baik saja. Tapi, Anda harus merawat luka lebih dulu. Kemarilah,” ucap Fabian membantu berdiri, lalu mengajaknya duduk di trotoar. Seketika meraih ponsel dalam saku celana, menghubungi anak buah Diego untuk segera datang ke lokasi ditunjukkan, Fabian lalu beralih membuka pintu kendaraan dan mengambil kotak obat. Sementara Diego, lelaki itu menghampiri pengendara motor yang jatuh dan memukul wajahnya kasar. “berani sekali kau menabrakku!” geram Diego memukul wajah sudah dilepas paksa helm menutupi wajah. “Hentikan! Dia sudah terluka!” teriak Fabian mengetahui, berlari ke arah sahabatnya. “Kau! Siapa yang memerintahkanmu untuk melakukan itu?!” tegas Diego, tak melepaskan dan kembali memukul pria sudah terluka karena motor menyeret tubuhnya. “Sa-saya tidak mengerti apa maksud, Anda. Saya hanya tidak memperhatikan jalan dan berusaha menghindari mobil Anda saja,” terang pengendara motor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD