Surat Perjanjian

1114 Words
Mendengar persetujuan dari perempuan dibalik pintu itu, Diego meraih sebuah pena dan juga kertas. Ia menuliskan beberapa kalimat di atasnya, mengayunkan jari ke arah Clara begitu usai menulis.  Clara berjalan lirih, dia menyiratkan keraguan dalam setiap langkahnya. Hati dan pikirannya bertengkar sangat dahsyat, berdebat akan persetujuan yang baru saja ia berikan tanpa kesempatan berpikir. "Tanda tangani perjanjian ini!" ucap Diego, menyodorkan kertas di atas meja dan meletakkan pena di atasnya. Clara menatap tulisan hitam di atas putih tersebut, hati melarang untuk tangan bergerak meraih pena, namun pikiran memerintahnya untuk bergerak cepat sebelum pemikiran berubah dari seorang pria sombong di depannya. Ia meraih pena, membubuhi tanda tangan juga nama. Fabian menjadi saksi atas perjanjian tertulis tanpa peraturan, yang akan dibuat bersama pengacara. "Siapkan pernikahanku malam ini!" perintah Diego. "Ya?!" terkejut Fabian dibuatnya, mata terbelalak dengan mulut terbuka lebar. "Kau! Bersiaplah!" tambahnya ke arah Clara, yang juga memasang keterkejutan sama. Diego meraih ponsel di atas meja samping laptop, menekan sebuah nomor dan tersambung pada anak buahnya. "Batalkan penggusuran!" kata Diego, lalu menutup kembali panggilan yang hanya tersambung beberapa detik. Beralih pada sebuah telepon rumah, ia menekan tombol angka satu yang ada. Tersambung dengan seorang pelayan, memerintah untuk datang ke ruang kerja. Dimana ia tak perlu bergerak atau menunggu lama, semua perintah hanya dengan satu ujung jari saja.  Pintu diketuk dari luar, muncul seorang pelayan dengan tubuh membungkuk. "Bawa dia keluar, persiapkan dia dengan cantik dan bersih!" perintah Diego. "Baik, Tuan!" pelayan sigap menjawab. Berjalan sejenak untuk menghampiri perempuan tetap kebingungan, mempersilahkan untuk keluar bersama meninggalkan ruangan. Clara jelas sangat bingung, ia berjalan dengan berulang kali menoleh, tapi satu pun tidak ada yang memberi penjelasan akan apa yang terjadi. Pintu tertutup rapat, Fabian pun menatap ke arah tuannya dalam kebingungan serta tanda tanya besar. Diego mengetahui akan hal itu, memilih untuk menatap layar laptop masih dibiarkan menyala sedari tadi. "Ka—kau serius?!" tanya Bian, tak lagi menggunakan bahasa formal seperti ketika ada orang lain diantara mereka berdua. "Menurutmu?!" santai Diego. "Apa maksudnya dengan menikah? Anak? Apa semua itu?" cecar Bian. "Aku membutuhkan penerus untukku, dan aku tidak ingin terikat dengan perempuan lebih lama. Aku menikahinya karena tidak ingin kalau anakku lahir tanpa pernikahan," terang Diego tenang. "Tapi, kenapa dia? Banyak perempuan yang mau denganmu, kenapa harus gadis panti asuhan itu?" tanya kembali Bian, masih tak bisa memahami keputusan yang dibuat cepat. "Persiapkan saja!" tegas Diego, melirik dari balik laptop. "Kau sudah gila!" umpat lelaki yang juga kawan baiknya itu, diberikan dua pundak terangkat sebagai jawaban oleh Diego. Seperti mengusir seekor kucing, Diego mengayunkan tangan tepat di wajah Fabian untuk menyuruhnya pergi. Lelaki yang telah bersamanya dan berbagi banyak hal sedari usia 15 tahun, beranjak dari duduk lalu berpamitan keluar. Sepertinya, tak ada pilihan lain selain menuruti keputusan gila dan tak masuk akal menurutnya. Diego memang bukan tipe orang yang akan menunggu untuk sebuah hal dijalankan, namun ini adalah pernikahan. Bagaimana bisa semua dipersiapkan hanya dalam waktu beberapa jam saja, itu sangatlah tidak masuk akal. Ujung jari Fabian mulai mengurus semua di luar ruangan, tak beranjak pergi meninggalkan istana seorang Tuan muda berkuasa itu, dia memutuskan untuk mengatur semua dengan ponsel di tangan. Kekuasaan dari Diego sangatlah berguna, tanpa perlu bergerak dan semua akan terlaksana sesuai keinginan. Ketika ia berkata atas sebuah keputusan, maka seluruh dunia akan kelimpungan dibuatnya, tanpa berbeda untuk hari ini. Sementara Bian mengurus semua keperluan pernikahan, Diego justru tetap fokus pada setiap angka di layar laptopnya. Menjadi seorang pengusaha yang memiliki beberapa perusahaan di dalam dan luar negeri, membuat kesibukan Diego berkali-kali lipat. Walau memiliki tangan kanan untuk setiap perusahaan, nyatanya Diego tidak mempercayakan sepenuhnya. Mengontrol setiap hari, laporan pun harus dikirimkan oleh beberapa orang kepercayaannya. Meski, tak sepenuhnya ia untuk percaya. Bagi seorang Tuan muda berkuasa itu, mempercayai seseorang adalah sebuah kebodohan terbesar. Memberikan kesempatan pada sebuah pengkhianatan, tak akan pernah dilakukan olehnya selama membangun bisnis dari nol. Di tempat lain, ada Clara yang terdiam dalam kebingungan. Wajahnya sudah menyerupai orang baru saja mendapat kabar duka, terguncang tanpa sanggup berkata-kata. Tatapan matanya kosong, dia diajak untuk duduk di sebuah ranjang berukuran besar oleh pelayan sembari menunggu orang-orang yang akan mengubah penampilannya. "Tunggulah disini, Nona. Sebentar lagi, orang-orang yang akan merawat kulit Anda akan segera tiba. Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tegur pelayan menyentak Clara seketika. "Ah, mm … itu, bisakah saya minta segelas air putih?" jawab Clara kebingungan. "Tentu, saya ambilkan sebentar." Pelayan beralih ke sebuah lemari es kecil berwarna hitam, terdapat dalam kamar sama. Mengambilkan satu botol minuman dingin, lalu menyerahkannya pada seorang perempuan yang bahkan tak memiliki kesempatan untuk mengagumi tempat luas dimana dirinya duduk. "Ini, Nona." Pelayan menyerahkan sebotol air mineral. "Terima kasih banyak," ucap Clara, membuka tutup botol bersegel dan meneguk minuman hingga habis. Tenggorokannya sangat kering, tak ubahnya padang pasir. Seketika botol berukuran sedang yang ia buka, dihabiskan airnya dalam sekali minum. Lega rasanya ketika air membasahi tenggorokan, Clara memang belum meneguk satu tetes pun sedari dirinya kembali bekerja. "Maaf, bisakah saya meminjam telepon? Saya ingin menghubungi panti asuhan," lembut Clara. "Maaf, Nona. Untuk hal itu, saya tidak berani mengizinkan. Tuan melarang kami semua untuk menggunakan nomor rumah," jawab pelayan, memang itulah aturan yang diberlakukan. "Oh, begitu? Baiklah, terima kasih banyak." Clara tersenyum paksa. Bagaimana dia bisa menghubungi panti dan mengatakan apa yang terjadi, ponsel pun ia tak memiliki. Clara meminta izin untuk keluar sejenak dari kamar, ia berjanji tak akan kabur. Namun, pelayan mengekori dirinya tanpa membiarkan untuknya pergi seorang diri. Baru tersadar betapa besar rumah yang ia masuki, Clara mengamati setiap sudut rumah. Lampu kristal menggantung di atas, tak lepas dari rasa kagumnya. Clara melihat lelaki yang tadi mengajaknya masuk, berjalan menghampiri dan berdiri di depannya. "Maaf, bisakah saya meminjam ponsel? Saya ingin menghubungi panti asuhan, saya takut kalau mereka mencemaskan saya. Sebentar saja," kata Clara memberanikan diri. "Saya sudah mengurus hal itu, tenang saja. Mereka tahu kalau kamu akan bekerja disini sebagai pelayan untuk menggantikan panti asuhan," kata Bian. "Ke—kenapa Anda berkata semacam itu? Mereka pasti—," terpotong Clara, lelaki tinggi yang sudah menghubungi kepala panti itu berlalu meninggalkan dirinya. Fabian memang sudah mengurus akan hal itu, menjelaskan jika Clara harus menjadi pelayan di rumah Diego sebagai ganti panti asuhan yang tak jadi digusur. Tentu Clara merasa tak enak, bagaimana jika seluruh orang panti justru terpikirkan tentangnya atau bahkan merasa bersalah. Ingin keluar dan berlari kembali ke panti, tapi jelas itu tak bisa dilakukan. Mengingat banyaknya penjaga juga pelayan yang mengikuti setiap langkahnya, Clara tak akan bisa untuk bergerak kemanapun. Dia harus diam dalam sangkar emas yang lebih mirip disebut penjara baginya. Dalam hati ia berharap pada Sang Penguasa, agar apa yang telah diperjuangkan hari ini tidak akan sia-sia. Semoga saja Diego menepati janjinya, dan bukan berniat untuk mengambil kesempatan dalam ketidakberdayaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD