Beberapa jam berlalu, pernikahan yang dipersiapkan secara mendadak pun digelar. Tak pergi karena malas dan menganggap itu bukanlah hal penting, Diego meminta untuk semua dilangsungkan di rumah saja.
Orang-orang yang akan menikahkan, sudah ada di rumah. Tentu, pemeriksaan pun dilakukan lebih dulu pada masing-masing. Tak pernah ada orang lain yang memasuki rumah, hanya keluarga dan anak buah dari Diego saja.
Anak buah yang harus bersedia melenyapkan dirinya sendiri ketika berani untuk mengkhianati. Peraturan gila yang diberlakukan Diego pada semua orang yang bekerja padanya, tanpa ingin mengotori tangan sendiri.
Semua pernikahan diadakan seperti aturannya, dimana Diego tak ingin berdiri untuk melangsungkan pernikahan. Lelaki angkuh itu tetap duduk melipat kaki, bersandar layaknya orang sedang menikmati acara TV.
Siapa yang akan berani melawan seorang penguasa dunia hitam dan orang paling berpengaruh itu, tak ada satu pun. Keahlian bela diri yang sanggup melumpuhkan lawan dalam satu gerakan tanpa senjata, cukup membuat beku orang lain. Belum lagi, dia sanggup menghancurkan siapa pun yang dikehendaki dalam hitungan detik, orang pasti berpikir jutaan kali untuk berhadapan dengannya.
Clara tak ubahnya mayat hidup semenjak tubuhnya dijamah oleh orang-orang yang merawat kecantikannya. Semua dituruti, mencoba berkompromi dengan hati serta pikiran, semua dilakukan demi penghuni panti dan perlahan mematikan perasaan yang ada.
Berpikir tentang hidupnya, apalagi yang harus dipikirkan? Tersirat kembali sebuah pemikiran tentang orang tua yang tak lagi peduli padanya, tak pernah berusaha untuk mencari, begitu tega membuang tanpa menoleh lagi, Clara pun merasa jika hidupnya tak lagi berarti.
Sebuah kotak cincin diberikan padanya, ia harus menyematkan pada jari manis Diego. Menoleh ke arah lelaki begitu enggan menatap dirinya, Clara mengulurkan tangan dengan jari kanan memegang cincin sudah dipersiapkan.
"Cepat selesaikan semua ini!" tegas Diego, menarik tangan Clara agar segera memasangkan cincin.
"Kau! Apa kau ingin membuang waktuku?! Kau tahu berapa berharganya satu detik untukku?!" angkuh Diego pada pria tua yang menikahkan dirinya.
"Maafkan saya, Tuan. Anda hanya tinggal menandatangani ini saja," sahut pria tersebut.
"Kau pikir, tanda tanganku tidak bernilai?! Tanda tangani sendiri!" tegas Diego, berdiri dan mengantongi kedua tangan.
"Tuan muda, ini adalah surat pernikahan. Jadi Anda harus menandatanganinya," ucap Fabian mengeratkan gigi agar suaranya tertahan.
"Kenapa harus?! Kau tahu berapa nilai perjanjian untuk setiap tanda tanganku?!" sahut Diego.
"Ayolah, tanda tangani saja dan kau akan resmi menikah dengannya. Nilai perjanjianmu adalah anak! Kau lupa?!" geram Fabian, semakin rapat giginya mengerat.
"Ah, kau benar juga. Baiklah, ambilkan untukku!" teringat Diego.
Bian menarik dalam napasnya, membuang panjang dan kasar. Ia meraih secarik kertas, memberikannya pada Diego. Tak ada buku pernikahan dari pernikahan tersembunyi itu, hanya ada perjanjian hitam di atas putih saja.
Diego mengangkat tangan kanan, memutarkan jari telunjuk ke arah Fabian. "Apa?" tanyanya tak mengerti.
"Berputar, aku butuh punggungmu untuk ini! Apa aku harus melakukannya di lantai?!" sahut Diego.
Fabian lagi-lagi menghela napas, dia berbalik untuk meminjamkan punggung lebarnya. Menggerutu dalam hati, ada meja kenapa harus punggung yang digunakan sebagai alas. Sepertinya begitu sengaja menekan ujung pena, sampai jelas terasa bentuk dari tanda tangannya.
Menyerahkan kertas itu ke Clara, tatapannya berpaling dari perempuan yang juga menggerutu hebat dalam hati akan sikap Tuan muda yang benar-benar sombong baginya. "Cepat tanda tangani dan ke kamarku!" tegas Diego tanpa menoleh, lalu pergi meninggalkan acara pernikahannya.
Clara menatap dengan kilatan kebencian mengiringi, jika saja bukan karena anak panti, sudah dari tadi ia memaki sikap dari Diego yang begitu semena-mena. Clara menandatangani surat sama, Fabian meminta pelayan untuk mengantarkannya ke kamar.
Diego sudah lebih dulu pergi, sisanya harus diurus oleh Bian sebagai orang kepercayaan. Clara dan pelayan memasuki lift, menuju ke lantai atas dimana kamar Tuannya berada. Entah apa lagi sekarang, jantung Clara berdetak tak menentu. Sepertinya ia harus bersiap akan apa pun yang terjadi setelah hari ini, mungkin saja kedalaman neraka sudah menanti untuk dirinya masuk dan terbakar penuh siksa.
"Silakan masuk, Nona." Pelayan mempersilahkan ketika pintu lift terbuka.
Clara melihat keluar, ruangan di lantai atas ini sungguh menakjubkan dari lantai bawah. Ia berjalan pelan, matanya berkeliling mengamati keindahan desain rumah, dilengkapi banyak barang-barang mewah nan memesona. "Aku tidak tahu kalau dia sangat kaya," batin Clara.
Langkahnya harus terhenti, namun matanya tetap berjalan-jalan mengamati. Sebuah pintu tinggi diketuk oleh pelayan, handle pun di tekan. Clara dipersilahkan masuk ke dalam, langkahnya berubah ragu. Dilihatnya Diego tengah duduk memegang segelas wine di tangan, menatap dirinya jelalatan.
"Ambil ini, baca semua dan hafalkan, setelah itu tandatangani! Kau harus mengingat semua yang tak boleh dan harus kau lakukan selama tinggal di rumahku!" tegas Diego melemparkan beberapa kertas dalam map hitam ke atas meja.
Clara tak tahu apalagi yang harus ia tandatangani, ia sudah terlanjur masuk dan mengikuti setiap permainan yang ada. Berjalan mendekat, ia hanya diizinkan untuk duduk di atas lantai dan memperbaharui semua perjanjian telah dibuat pengacara.
Poin-poin tertulis jelas di dalamnya, ada sebuah kalimat dimana tak diperbolehkan adanya cinta dalam pernikahan rahasia yang dijalani. Clara harus segera pergi begitu anak dalam kandungan nanti dilahirkan, tanpa pernah kembali dengan alasan apa pun.
Secara jelas pun Diego menuliskan, jika dalam waktu dua bulan tak ada kehamilan, maka panti asuhan akan kembali dihancurkan tanpa ada perundingan sekali lagi. "Ini semua tidak masuk akal," batin Clara.
Tentu, siapa yang akan bisa mengatur tentang kehamilan selain Tuhan? Tidak ada satu manusia pun sanggup memerintah Tuhan. Sudahlah, lebih baik untuk Clara menandatangani dan menjalani, ia harus lebih banyak berdoa agar secepatnya diberikan keturunan.
Walau, pada akhirnya ia harus melepaskan buah hatinya tanpa pernah mendatangi. Entah Clara akan bisa melakukan hal semacam itu atau tidak, rasanya ingin sekali batinnya menjerit dengan sangat kuat.
Diego mengamati perempuan di depannya, tampak geram ketika membaca saja dianggapnya sangat lama. Diego menendang meja dan mengejutkan Clara, matanya sinis tertuju pada perempuan terangkat kedua pundaknya itu.
"Cepat! Aku tidak memiliki banyak waktu menunggumu!" sinis dan kasar Diego.
Clara terdiam, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Meraih pena yang juga tersedia diatas meja, menandatangani perjanjian dalam hati bergejolak ingin memberontak. Diego tersenyum simpul, hatinya begitu puas sekarang ini. Tak ada yang tidak bisa ia dapatkan, semua begitu mudah untuknya.