Diego menarik kasar surat perjanjian baru saja ditandatangani, menyeringai penuh kemenangan tanpa peduli jika perempuan di depannya justru menitikkan bulir air mata ketika menandatangani.
Banyak sekali poin tak masuk akal tertulis di dalamnya, semua jelas tak pernah menguntungkan bagi Clara, dan semua menguntungkan Diego. Entah tentang kehamilan atau tentang anak yang nanti dilahirkan laki-laki atau perempuan, semua hanya menguntungkan Tuan muda yang memang tak pernah ingin rugi sedeikit pun.
“Pergi ke kamar sebelah dan ambil pakaian di atas tempat tidur! Saat aku datang, kau sudah harus menggunakan itu!” perintah Diego dalam nada tegas juga dingin. Perempuan di atas lantai itu tak mendengar, ia tengah sibuk bertengkar dengan hati juga pikiran.
Diego menendang meja sekali lagi, ia tak menyukai ketika ucapan justru diabaikan. Terkejut bukan main Clara, menaikkan biji mata menatap wajah angkuh terarah padanya. Tangan secepat kilat mengusap air mata, membasahi bibir dan menatap tanya pada lelaki justru membanting map berisi surat perjanjian di atas meja dengan kesalnya.
“Kau tuli?! Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?!” tegas Diego. “Pergi ke kamar sebelah dan ambil pakaian di atas ranjang itu, sekarang juga! Aku mau saat aku datang, kau sudah menggunakannya!” semakin tegas dan penuh penekanan, menunjuk ke arah ranjang di mana gaun tidur sudah dipersiapkan.
“Jangan macam-macam denganku, atau semua ini akan aku batalkan sekarang juga! Kau pasti tidak berharap untuk itu terjadi, bukan?!” timpalnya melebarkan kedua mata tajam.
Clara membisu, menatap ke arah ranjang di mana jari tangan kiri itu menunjuk. Berjalan lirih dan harus mendapat bentakan lagi, Clara mempercepat langkah dan mengambil pakaian terpampang jelas bagaimana modelnya.
Tidak ada waktu bagi Clara untuk sekedar mengamati bertapa menjijikkan pakaian yang harus dikenakan malam ini, ia meraih dan bergegas ke luar dari kamar. Kain itu terasa tipis di tangan, bahkan sanggup ia genggam erat seraya menahan kekesalan dalam hati penuh sesak.
Diego memang sudah mempersiapkan sebuah gaun tidur seksi untuknya, pakaian yang dibawakan juga oleh orang-orang yang membantu Clara bersiap tadi. Diego sengaja meminta hal itu, ia ingin melihat seberapa indah tubuh sebelum dirinya mulai menjamah.
Clara berjalan dengan tatapan kosong, menuju kamar yang di maksud oleh lelaki dianggapnya sangat angkuh dan menyebalkan. Jika saja ia memiliki kekuatan untuk melawan, pasti sudah dilakukan sedari tadi.
Hati terus mengingatkan tentang keluarga panti asuhan, namun pikiran justru mengingatkan jika dirinya adalah manusia yang tak pantas diperlakukan seperti ini. Rasanya sangat ingin berlari menjauh dan tak peduli, namun ia bukanlah manusia egois semacam itu.
Memasuki sebuah kamar, membuka pakaian baru saja ia raih dan mengamati. Kedua mata Clara terbuka sangat lebar, pakaian itu benar-benar tipis. Tapi, ia harus tetap menggunakannya malam ini sebelum lelaki selalu menggunakan ancaman untuk mengendalikan itu datang.
Beralih ke sebuah ruangan lain dalam kamar itu, berdiri di depan wastafel terdapat kaca besar, mengamati dirinya sendiri. Pilu tatapan terlihat di kaca besar tak jauh dari pintu geser, Clara coba memberikan semangat pada dirinya, jika semua ini akan baik-baik saja, tak ada yang sia-sia dengan perjuangan.
Pakaian diletakkan pada meja wastafel marmer hitam, diraih oleh Clara setelah gaun pernikahan berhasil lepas dari tubuhnya. Oh, Tuhan! Itu benar-benar pakaian yang sangat menjijikkan dan baru kali ini dikenakan olehnya.
Clara mengamati tubuh dari kaca, lalu menunduk lalu terpejam kedua mata indahnya. Pakaian itu sangat tipis, bahkan kulitnya mampu terlihat sangat jelas, seperti tak menggunakan apa-apa. Panjang sampai paha atas, dan belahan pada bagian d**a pun terlalu berlebihan.
“CEPAT!” terdengar suara menggelegar, menyadarkan Clara dari lamunan atas diri yang harus memakai atau tidak. Mencuci wajah sejenak untuk menghilangkan air mata, dia mengeringkan dengan handuk kecil terdapat pada meja marmer sama, lalu menggeser pintu kamar mandi.
Menelan saliva, menutup bagian tubuh atas dengan tangan kiri, merapatkan kedua kaki dengan satu tangan lain berusaha menarik pakaian ke bawah agar menutupi kaki tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
Diego sudah ada di sana, mengenakan kemeja lengkap dengan celana panjang sama. Ia meminta Clara pergi, karena ingin menyimpan surat perjanjian asli pada brankas kamar yang tak ingin diketahui oleh seseorang dicurigai akan mencuri.
Mata mengamati dari atas ke bawah, berganti ke atas lagi dan memajukan langkah mendekat. Refleks kaki Clara mundur, hingga tubuh membentur dinding belakang samping pintu kamar mandi. Tak ada ruang lagi untuknya menghindar, sampai kedua lelaki itu menggunakan kedua tangan untuk membuka setiap bagian telah ditutupi.
Sekarang, kedua tangan Clara berada lurus di atas menempel dinding. Mata Diego menelisik setiap bagian, mengagumi dalam hati akan tubuh dianggap indah dengan bagian-bagian penting ditonjolkan sempurna.
“Kau tidak terlalu buruk, meskipun hanya anak panti asuhan. Aku harap, rasamu juga tidak seburuk penampilanmu!” ucap Diego, terlalu menyakitkan bagi seseorang tengah mengalihkan wajah ke arah kanan. Tangan lelaki itu membelai sesuka hati, bulu kuduk Clara berdiri dan sanggup diketahui oleh Diego. Namun, itu justru meyakinkan dirinya, jika Clara belum pernah terjamah dan membuatnya semakin berselera melakukan lebih untuk malam ini.
"A—apa yang akan Anda lakukan?" terbata Clara sangat ketakutan. Tidak ada jawab ia dengar, kecuali gerakan lincah pada tubuhnya.
Mengutuk dalam hati, ia hanya bisa diam ketika lelaki telah menjadi suami dan berkuasa atas dirinya itu mulai menjajaki sesuka hati. Hati menangis kencang, tertahan dengan mata tertutup. Diego terus melakukan apa diinginkan tanpa pernah menyentuh bibir, karena itu tak akan mudah dilakukan olehnya pada siapa pun, kecuali memang ada sebuah perasaan. Poin dalam perjanjian pun menyebutkan hal sama, tak ada ciuman yang sempat membuat Clara lega. Akan tetapi, justru hal-hal tak pernah dilakukan dan tak tertulis dalam perjanjian, dilakukan oleh Diego tanpa boleh untuknya melawan.
Memindahkannya ke atas ranjang, semua ada pada tubuhnya dilepaskan kecuali pakaian seksi milik Clara, karena dianggap terlalu indah ketika melekat pada tubuh sudah tak lagi ada pakaian dalam ia hempaskan ke atas lantai. Apa harus dilakukan untuk bisa mendapat keturunan, dilancarkan oleh Diego.
Air mata mengalir dari ekor mata Clara, memegang kuat seprei dan tetap dengan mata terpejam semakin rapat. Kesakitan dirasakan, tak bisa untuk diungkapkan, hanya air mata menjadi wakil atas kesakitan hati juga fisiknya kali ini. Berkompromi dengan keadaan, mengatakan jika semua memang sudah kewajibannya sebagai istri tanpa boleh menolak.
Paling tidak, itu akan membuat Clara sedikit bersahabat dengan jalan hidupnya mulai hari ini. Karena jelas, semua tidak akan berakhir di malam ini saja setelah tanda tangan diberikan, sebagai kunci untuk membuka neraka, dan juga kunci untuk menutup rapat dirinya di dalam tanpa bisa ke luar. Walau berkompromi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Saat Clara tengah sibuk bertengkar lagi dan lagi, Diego justru sangat menikmati apa dilakukan walau sedikit kesal karena tak mendapat balasan, seperti apa diharapkan atau dilakukan bersama perempuan lain sebelumnya. "Ah, dia benar-benar sangat nikmat!" batin Diego masih melancarkan aksinya.
Lelaki yang memang tak melakukan hal itu untuk pertama kalinya dalam hidup, merasakan kenikmatan luar biasa ketika menikmati Clara. Ada sensasi yang bahkan tak pernah ia dapatkan dari perempuan kerap menyodorkan tubuh padanya dengan sukarela. Tak sedikit memang perempuan berlomba untuk bisa menghabiskan satu malam dengannya. Tapi, untuk memiliki keturunan, jelas Diego tak akan pernah memilih salah satu dari mereka. Siapa yang mengandung keturunannya, haruslah perempuan baik-baik yang memiliki kelembutan juga kasih sayang, layaknya perempuan tengah ia jelajahi tubuhnya sekarang. Seperti apa pun brengseknya Diego, ia tetap mengharapkan perempuan baik-baik untuk mengandung anaknya, bahkan akan sangat sempurna ketika tubuh itu belum pernah tersentuh tangan lelaki lain.
****
Dini hari, Clara terbangun dari tidurnya, tubuh sangat lelah usai meladeni keinginan dari lelaki yang menyentuhnya hingga dua kali lalu pergi meninggalkan kamar setelah apa diinginkan terpuaskan. Dua kali yang sangat lama dan menyakitkan untuk Clara. Tuan muda itu tidak tidur selain di kamarnya, kamar yang tak pernah boleh ditempati oleh siapa pun kecuali dirinya. Bahkan, ketika pelayan membersihkan, harus ada yang mengawasi tanpa boleh ke luar masuk sesuka hati.
"Tubuhku sangat sakit," keluhnya tak sanggup untuk duduk. Tenggorokan kering, Clara ingin meraih sebotol air mineral di meja samping ranjang, namun terlalu sulit untuknya bergerak.
Menelan saliva untuk membasahi sejenak, tangan berusaha untuk meraih air minum. Air mata sudah habis terkuras, ketika ia justru ditinggalkan tanpa perasaan dengan keadaan kaki masih terbuka lebar. Apa arti dirinya sekarang, semua sudah tidak ada artinya lagi. Bahkan, ia seperti bukan manusia saat ini, ketika lelaki sudah menikahinya justru pergi tanpa kata. Rasa sakit apa yang tak dirasakan karena langkah kaki yang datang dengan mengharap belas kasihan, tapi justru berbeda yang ia dapat.
Clara membuka tutup botol masih tersegel, meminum air usai berhasil menarik tubuhnya duduk bersandar.
"Oh, Tuhan. Ini benar-benar sangat sakit, aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku," ucap Clara, semua terasa menyakitkan dan kaku dengan sangat. Ingin turun dan ke kamar mandi, tapi ia tak sanggup melakukan. Berusaha sebisa mungkin untuk turun, ia harus ke kamar mandi. Perempuan memang selalu terbiasa bangun di waktu seperti ini pun, perlahan menapakkan kaki di atas lantai. Memekik kesakitan ketika tubuh sudah berdiri, kakinya terasa sangat kaku dan organ intimnya juga sakit. Diego terlalu buas melakukan, tak peduli jika itu adalah pertama kali untuk Clara dan hanya memenuhi keegoisan atas kepuasan semata.
Langkah pelan menapaki lantai mengkilat kamar, tangan berusaha untuk berpegangan pada apa pun yang sanggup ia jangkau. Bagaimana bisa sekujur tubuh terasa sakit, bahkan ada bekas merah pada bagian tubuh atas yang tak ia ketahui apa itu. Semua terlihat ketika ia duduk dan meneguk air minum, bersama aroma dari tubuh Diego yang masih menempel kuat, mengingatkan dirinya atas apa sudah berlalu.
Napas harusm namun memiliki sedikit aroma alkohol pun, masih sanggup tercium oleh perempuan yang tak membuka kedua mata sama sekali selama hubungan itu berlangsung. Selain mengutuk tentang Tuan muda itu, Clara juga tak memiliki keberanian menatap wajah dalam jarak dekat. Entah seberapa dekat tadi, hingga napas itu sanggup ia cium aromanya, bahkan tubuh pun sesekali saling menempel sebelum lelaki itu menempelkan lebih lama dengan napas memburu hebat yang tak diketahui oleh perempuan polos itu akan alasannya.
Sementara Clara dengan kesakitan luar biasa dari fisik juga hatinya, ada ibu panti yang tak henti merasakan firasat buruk setelah panggilan Fabian yang mengatakan jika Clara bekerja sebagai ganti panti asuhan.
"Ibu kepala, Anda tidak tidur?" tegur seseorang, menghampiri di sebuah kursi pada lorong berjajar kamar.
"Tidak. Saya kepikiran dengan Clara, sepertinya ada hal buruk terjadi padanya. Saya bisa merasakan itu, dan dia sedang membutuhkan kita." Ibu kepala menceritakan apa dirasakan. "Saya akan berusaha mencari tempat tinggal untuk kalian semua, saya tidak ingin kalau Clara mengorbankan diri. Cukup buatnya terus berkorban demi semua anak di sini, dia berhak untuk bahagia dan menjalani hidup. Besok saya akan coba menghubungi beberapa donatur dan meminta tolong."
"Iya, Bu. Saya juga akan mengusahakan yang terbaik. Kita tidak boleh mengorbankan Clara demi tempat ini. Kalau memang harus pergi, maka kami sudah siap melakukannya." Perempuan berbalut blouse hitam bunga-bunga itu menyetujui.
Telah berbicara dengan semua penghuni panti, jika memang harus pergi maka mereka bersedia untuk pergi, asalkan kakak yang selalu menjadi sandaran baginya kembali lagi dan berkumpul bersama. Akan lebih baik kehilangan tempat tinggal, dari pada kehilangan keluarga. Ibu kepala sudah memikirkan tentang bantuan dari donatur yang mungkin saja bersedia menolong sejenak, sampai ia bisa memberikan tempat baru. Ada satu yang sudah menghubungi ketika mendengar panti akan digusur, menawarkan bantuan tapi belum ada kepastian. Mungkin nanti setelah matahari menunjukkan sinarnya, ibu kepala akan menghubungi sekali lagi.
Ia tidak pernah melahirkan anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, namun sanggup merasakan ketika salah satu dari mereka mengalami masalah, bahkan tengah sangat membutuhkan.
Clara memang terus memanggil nama ibu kepala untuk membantunya ke luar, mungkin itu telah sampai pada wanita berusia enam puluh tahun, yang bahkan tak bisa sekedar membasahi tenggorokan dengan air putih.
Bayang-bayang tentang Clara hadir begitu nyata, tentang senyum selalu memberikan kekuatan padanya, bersama kenakalan kecil ditunjukkan untuk menghibur dirinya juga anak panti. Ia merindukan Clara, meminta pada Sang Pencipta untuk melindungi gadis kecilnya. Ya, walau Clara sudah berusia dua puluhan, tetap ibu kepala menganggapnya anak kecil dan ingin selalu membelai rambutnya saat menemani tidur.
"Tidurlah, kita akan mengurusnya nanti. Saya akan datang ke rumah Tuan muda dan menjemput Clara," ucap ibu kepala.
"Ibu juga harus beristirahat," sahut wanita berambut pendek sampai tengkuk itu.
Ibu kepala menyunggingkan senyum, dia berdiri dari sebuah kursi berbentuk setengah lingkaran, kursi sama biasa ia gunakan bersama Clara untuk mengamati anak-anak tengah melakukan aktivitas mereka. Walau tersenyum, namun ia tak mungkin bisa untuk memejamkan kedua mata hari ini dalam kegundahan dirasakan kuat.