Alfa berjalan mondar-mandir dengan kepala yang seakan mau pecah. Berkali-kali dia melirik koridor rumah sakit yang sepi. Namun, Nasha tak kunjung datang. Tidak pernah sekalipun pria itu menyesali banyak hal dalam sehari. Dia selalu berpikir positif dan menemukan jalan keluar dengan cepat. Mata Alfa terpejam rapat, berharap dia terbangun di tempat tidurnya dan melupakan kejadian tidak masuk akal ini. Akan tetapi, harapan tinggal harapan. Ketika Alfa membuka mata, dia masih di ruang tunggu rumah sakit. Dengan frustrasi, dia mengusap kasar wajah dan membanting tubuhnya di kursi terdekat. Bolehkah dia mulai menyesal sekarang? Dia menyesal sudah datang ke Jakarta. Dia menyesal sudah bertemu Nasha hari ini. Dia menyesal sudah mengantar Nasha ke rumahnya. Dia menyesal hanya terdiam ketika Tan

