7. Kunjungan

1397 Words
Jantung Almira semakin berdebar ketika berhadapan dengan calon mertuanya. Orang tua Alfa merupakan sosok yang menyenangkan. Tetap saja, Almira merasa kikuk setiap kali menjawab pertanyaan yang mereka ajukan.  Mama masih terlihat muda di usia lima puluhan. Mengenakan gamis krim berbordir batik di bagian pergelangan tangan dan bawah. Dipermanis dengan jilbab syari berwarna senada. Seolah belum cukup, Mama juga menenteng tas Hermes yang memiliki warna sama.  Papa sosok yang sedikit bicara. Sekali melihat, Almira langsung bisa menilai jika Papa adalah pribadi yang tegas dan tidak mudah dibantah. Kaca mata yang membingkai wajah tuanya seolah mempertegas kepribadian Papa. Koko krim yang dikenakannya serasi dengan milik Mama. Kompak atau dipaksa Mama? Almira tidak berani menebak.  Alfa sendiri tampil memesona seperti biasanya. Masih setia dengan kemeja, kali ini berwarna abu-abu muda. Dilihat dari mana pun, Alfa memang terlihat memikat. Dia seolah memiliki sinar yang mengikuti ke mana pun melangkah. Atau itu hanya dalam pandangan Almira?  Selama makan malam tadi, Almira tidak berani mengangkat kepala. Melihat nasi dan lauk di piring menjadi lebih menarik daripada menatap Alfa yang duduk persis di depannya. Rasa lapar yang sudah menderanya seketika hilang. Perutnya malah terasa mulas dan memberontak ingin mengeluarkan sesuatu. Untung saja tidak terjadi sesuatu yang memalukan di depan semua orang.  Almira bersyukur orang tua Alfa hanya mengajak berdiskusi Bapak dan Ibu. Mereka membicarakan hal ringan yang pantas dibicarakan saat menikmati santap malam. Sedikit bernostalgia dengan masa lalu mereka yang terdengar seru.  *** Sekarang semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Midah berkali-kali menyenggol bahu Almira agar memperhatikan Alfa yang tengah berbicara dengan Bapak. Almira mengangkat wajah dan mendapati Alfa yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Dia tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Keduanya sama-sama berbisik, seolah tak ingin orang lain tahu pembicaraan mereka.  “Almira masih ingat Tante, kan?” Seseorang menepuk pundak Almira. Sedetik kemudian, dia sudah berhadapan dengan Mama yang tersenyum ramah. Rasa hangat menjalari hatinya menyadari sikap baik sang calon ibu mertua.  Almira mengangguk. “Almira pernah ketemu Tante waktu mengantar Ibu ke butik.”  “Iya. Bener banget. Tante langsung suka sama kamu. Rasanya pengin ngelamarin kamu buat Alfa saat itu juga.” Senyum Mama mengembang, sementara wajah Almira sudah memerah. Dia terpaku dan tidak bisa mengatakan apa pun sebagai balasan.  “Almira memang menantu idaman ya, Te?” tanya Midah mengalihkan perhatian Mama. Almira memandang Midah dengan mata berbinar. Dia harus berterima kasih pada sahabatnya itu nanti.  “Iya, dong. Tante jatuh cinta pada pandangan pertama. Untungnya Alfa juga begitu.” Almira dan Midah terdiam mendengar perkataan wanita paruh baya itu.  “Maksud Tante?” Midah yang bertanya. Almira masih mematung dan mencerna dua kalimat terakhir Mama.  Tante jatuh cinta pada pandangan pertama. Untungnya Alfa juga begitu.  Kedua kalimat itu terus menari-nari di kepala Almira. Bersamaan dengan bayangan Alfa yang sedang tersenyum manis. Almira memejamkan mata dan beristigfar menyadari dirinya sudah melewati batas. Dia membuka mata dan menatap Mama yang kini tersenyum miring padanya.  “Maksudnya ...” Mama sengaja menggantung kalimatnya. Dia menyadari ada binar bahagia di kedua netra Almira. “Alfa itu ... apa, ya? Kamu tanya saja langsung ke Alfa.”  Almira berusaha tersenyum dan mengangguk pelan. Meski dia sangat penasaran mengenai hal itu, dia tidak mungkin mendesak Mama. Bisa terjadi drama di sini, dengan Almira sebagai pemeran utama yang terjebak dalam perangkap.  “Baiklah, semuanya. Saatnya memasuki acara inti. Silakan om Hasan.” Perkataan Haris mengalihkan perhatian dan membuat semua orang melihat ke arahnya.  Hasan, papa Alfa, berdeham. “Baiklah, sahabatku, Miftah. Kedatangan kami ke sini adalah untuk mengkhitbah Almira untuk Alfa. Betul kan, Fauzan Alfarizi?” Papa menoleh pada Alfa yang mengangguk mantap. “Bagaimana menurutmu?” Kali ini Papa memandang Bapak.  “Semua keputusan ada di tangan Almira,” ujar Bapak. “Bagaimana, Nduk?” Lidah Almira kelu untuk sekadar berkata “Mau”. Tulang lehernya juga mendadak kaku ketika ingin mengangguk.  “Sepertinya Almira terlalu syok.” Ucapan Mama seketika melemaskan semua anggota tubuh Almira. “Atau kamu ingin Alfa yang melamar langsung?”  “Bukan. Hanya ....”  “Kalau begitu biarkan Alfa yang melamar,” potong Alfa. Almira mengerjap dan melirik pria itu. Namun, senyum kemenangan Alfa membuat Almira buru-buru berpaling. “Lagi pula Alfa sudah berjanji akan melamar secara langsung di depan Bapak dan Ibu.”  “Berjanji pada siapa?” tanya Bapak. Alfa memandang Almira yang menggeleng pelan.  “Pada diri sendiri, Pak,” jawab Alfa tanpa ragu.  “Tentu saja. Itu akan menjadi lamaran yang manis,” kata Mama dan disetujui oleh yang lain.  “Almira Nafisha,” panggil Alfa lembut. Almira hanya memandang sekilas sebelum kembali menunduk. “Maukah kamu menjadi istri Mas?”  Almira menelan ludah. Dia yakin sekarang wajahnya sudah pucat pasi. Seseorang tolong sadarkan gadis itu kalau dia tidak sedang bermimpi. Genggaman lembut Midah membawa Almira kembali menyadari keberadaannya. Wanita itu mengangguk, masih dengan posisi menunduk.  “Alhamdulillah,” seru semua orang.  Mama memeluk Almira erat. “Terima kasih sudah mau menerima Alfa,” ucap Mama.  “Sama-sama, Tante.”  “Jadi kapan pernikahannya?” tanya Bapak.  Almira refleks melepas pelukan Mama. Membuat Mama sedikit terkejut. Pertanyaan Bapak membuat semua yang ada di ruangan itu memperhatikan Alfa yang tersenyum lebar. Almira mengerutkan kening. Bisa-bisanya pria itu tersenyum dalam situasi seperti ini.  “Seperti yang sudah saya katakan tadi. Pernikahan akan dilangsungkan secepatnya.”  “Secepatnya itu kapan?” desak Bapak.  “Bulan depan,” jawab Alfa cepat.  “Bulan depan?” ulang Bapak. Alfa mengangguk. “Bagaimana, Al? Kamu siap?”  “Insya Allah, Al siap,” lirih Almira, tetapi masih bisa didengar oleh semua orang.  “Alhamdulillah.” Lagi-lagi bacaan hamdalah terucap serentak.  Duduk Almira menjadi tidak tenang. Dia menginginkan acara ini cepat selesai, sehingga bisa menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Jantungnya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi lagi. Berdentam keras dan membuat dadanya sakit. Apa lagi saat menyadari Alfa terus memandanginya seraya tersenyum.  Mengapa tidak seorang pun yang menyadari arah pandang Alfa? Apa karena mereka terlalu sibuk membicarakan detail pernikahan. Undangan, gaun, katering, dan segala hal yang berhubungan dengan pesta penyatuan sepasang manusia itu.  Almira tidak begitu menyimak pembicaraan mereka. Dia bahkan tidak menyadari kapan Mama beranjak dan duduk bergabung dengan para orang tua. Alfa sudah berbincang dengan Haris. Midah satu-satunya yang mengetahui ketidaksadaran Almira. Dia menepuk lengan Almira sedikit keras.  “Sakit, Mi,” keluh Almira.  “Lagian kamu dari tadi jadi patung. Kena kutukan siapa?”  “Engga usah bercanda deh, Mi. Aku lagi syok. Sebulan lagi menikah? Enggak terlalu cepat, ya? Kami belum saling mengenal,” kata Almira dengan wajah sepucat tembok. Dia tahu kalau pernikahan akan terjadi cepat atau lambat, tetapi tidak dalam waktu satu bulan.  “Kamu dan Mas Alfa bisa lebih mengenal setelah menikah. Kata Mas Haris, Mas Alfa bisa dipercaya. Dia calon suami yang baik buat kamu.”  Entah bagaimana, Almira tidak meragukan pendapat Haris. Dia juga tahu jika Alfa akan menjadi suami yang baik. Apa ini yang dinamakan ikatan batin dengan jodoh? Atau hanya karena nafsu? Si gadis berharap pada pilihan pertama. Dia berharap Alfa adalah jodohnya dan akan menjadi imam pertama dan terakhir baginya.  *** Almira masih belum bisa memejamkan mata, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Otaknya menolak untuk berhenti berpikir. Seakan ada yang mengganjal hati, dia tidak kunjung terlelap.  Ketika kedua mata Almira sudah mulai terpejam, suara dari gawai kembali membuatkannya terbangun. Dengan malas, dia mengulurkan tangan untuk meraih benda pipih itu. Rasa kantuknya langsung lenyap setelah membaca pesan yang baru masuk. Tidur.  Jangan terlalu memikirkan pernikahan kita. Sekeras apa pun kamu memikirkannya, pernikahan itu akan tetap terjadi. Jadi, jangan sia-siakan waktu hanya untuk memikirkan sesuatu yang sudah kita inginkan. Kamu menginginkan pernikahan ini, kan?  Pesan dari nomor baru, tetapi Almira tahu pasti siapa yang mengirim. Apa Alfa juga tidak bisa tidur seperti dirinya? Apa dia juga memikirkan pernikahan mereka?  Tentu saja Mas memikirkan pernikahan kita dan Mas berharap ini pernikahan pertama dan terakhir untuk kita berdua. Kamu mau membangun rumah tangga dengan Mas, kan?  Almira merinding membaca pesan kedua Alfa. Dia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kamar. Sepi. Bolehkah dia berkirim pesan seperti ini? Tangannya ragu mengetik balasan yang tak kunjung selesai.  Mas tahu kamu baca pesan Mas. Maaf. Seharusnya ini memang tidak boleh, tapi Mas berharap kamu bisa tidur tenang malam ini. Jadi, Mas juga bisa tenang. Selamat tidur, Almira. Semoga bisa bangun tepat waktu.  Mata Almira masih setia menatap layar gawai yang telah terkunci. Kalau sudah begini, bagaimana bisa Almira memejamkan mata? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD