6. Mantan

1412 Words
Almira masih menatap langit-langit kamarnya. Namun, pikiran gadis itu tidak sedang berada di sini. Kejadian kemarin siang selalu berputar di kepalanya. Mata indah sang gadis tidak berkedip. Napasnya juga seolah tertahan.  “Baiklah, kamu bisa bertanya sekarang. Apa yang ingin kamu ketahui tentang Mas?” Suara Alfa terdengar tenang. Almira menahan napas beberapa saat setelah kalimat itu meluncur dari mulut pria di hadapannya. “Atau kalau kamu malu bertanya langsung pada Mas, kamu bisa tanya pada Haris,” lanjutnya.  “Mas Haris hanya rekan kerja Mas Alfa, kan?” Sebongkah es seakan menghantam d**a Almira ketika dia memanggil Alfa dengan embel-embel “Mas”. Dia membeku sendiri menyadari senyum Alfa yang mengembang. “Kami teman baik sejak SMA,” jelas Alfa.  “Tapi Midah bilang kalian hanya ...”  “Mas yang minta Midah bilang begitu,” sela Haris. “Mas takut kamu enggak nyaman.”  “Dan sekarang aku benar-benar merasa enggak nyaman,” celetuk Almira. “Bukankah ini curang.” Alfa mengerutkan kening mendengar nada protes di kalimat itu.  “Curang bagaimana?” Alfa mencoba mencari petunjuk di wajah cantik Almira yang setia menunduk.  “Mas tahu semua informasi mengenai aku, sementara aku tidak tahu apa-apa. Kenapa Mas Haris tidak cerita? Padahal Mas punya banyak kesempatan.”  “Maaf. Mas enggak bermaksud menyembunyikan kenyataan itu. Seperti yang Mas bilang tadi, Mas takut kamu enggak nyaman. Maaf kalau kamu merasa diperdaya,” kata Haris, suaranya penuh penyesalan.  Almira menggelengkan kepala. “Enggak, Mas. Aku kan memang enggak pernah nanya soal Mas Alfa, jadi Mas enggak perlu berpikiran begitu.”  “Jadi, apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Alfa tidak sabar.  “Besok saja, Mas. Kita masih punya banyak waktu, kan?”  Senyum Alfa kembali terpasang. “Serius, Al. Izinkan Mas langsung melamarmu.” Almira menatap Alfa sekilas. Rasa sejuk langsung menjalari hatinya mendengar panggilan “Al” yang diucapkan Alfa. Seolah mereka memang sudah lama saling mengenal.  “Kalau Mas serius, lakukan lamaran itu di depan orang tuaku,” ucap Almira tegas, lantas menunduk.  “Tentu saja. Mas akan buktikan kalau Mas serius. Jadi, Mas boleh langsung melamarmu, kan?” tanya Alfa, kali ini dengan ucapan dan ekspresi serius.  Almira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Alfa terus saja memandangi wanita yang memperhatikan sepasang sepatu itu. Keduanya sama sekali tidak menyadari jika sedari tadi ada dua pasang mata yang mengamati interaksi mereka seraya menahan senyum.  *** Malam harinya, Alfa benar-benar datang seorang diri. Dia meminta izin untuk langsung melamar Almira. Bapak dan Ibu sempat terkejut, tetapi ketika melihat senyuman di bibir Almira, mereka tahu jika itu adalah berita baik.  Bapak meminta Alfa untuk kembali datang bersama orang tuanya dan melamar Almira secara benar. Tentu saja hal itu disetujui Alfa tanpa ragu. Almira merasa malam itu akan menjadi langkah awal menuju gerbang kebahagiaan pernikahan.  Helaan napas kembali terdengar. Gadis berparas cantik mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Dia butuh udara untuk menormalkan pernapasan. Ada yang bisa membantunya?  “Al!” Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Almira terduduk. Itu suara Midah.  “Masuk saja, Mi,” balas Almira pelan. Pintu terbuka dan memunculkan sosok Midah yang terlihat lebih anggun malam itu. Menggunakan gamis hijau toska polos dan pashmina instan putih dengan bunga-bunga hijau. Midah tersenyum, lalu duduk di samping Almira.  “Sudah cantik kok malah baring-baring, nanti berantakan lagi, lho,” goda Midah.  Almira langsung berdiri dan memerhatikan penampilannya di cermin. Gamis dan jilbab segi empat biru laut sangat cocok untuk gadis yang tengah terdiam melihat bayangannya. Dia meremas tangan. Mulutnya terkunci. Bismillah. Semua akan berjalan baik malam ini.  “Enggak usah gugup gitu, kamu sudah cantik, kok.” Midah meremas pelan kedua pundak Almira.  “Kamu juga gugup waktu Mas Haris mau datang,” cibir Almira.  Midah tertawa kecil. “Iya, sih. Tapi aku punya informasi penting buat kamu.”  Perkataan Midah yang misterius membuat Almira penasaran. “Apa?” tanya Almira tanpa menoleh. Dia berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya. Kalau Midah sudah memasang wajah sok imut seperti itu, pasti apa yang akan disampaikannya berkaitan dengan Alfa.  “Ternyata mantan Mas Alfa cuma satu.” Almira menoleh dan menatap Midah. Tidak ada raut menggoda di wajah wanita bergamis hijau.  Sejak pertemuan terakhir dengan Alfa, Almira memang sedikit penasaran mengenai masa lalu pria itu. Sebenarnya masalah wanita yang pernah singgah di hati Alfa selalu mengusik. Dia sadar jika sosok seperti Alfa banyak dikagumi oleh wanita. Tampan, mapan, pintar, dan berasal dari keluarga terpandang.  “Alfa itu dari dulu banyak yang suka, tapi dia enggak pernah menanggapi mereka.”  Almira percaya apa yang dikatakan Haris benar. Hanya saja menyadari bahwa Alfa pernah memiliki seorang kekasih, hatinya sedikit terusik. Melihat bagaimana sikap pria itu, dia tahu jika Alfa bukan pribadi yang religius. Sepanjang pertemuan kemarin, Alfa tidak pernah melepas pandangan darinya. Itu yang dikatakan Midah.  Pertanyaannya, mengapa Bapak setuju mengenalkan Alfa pada Almira? Bapak selalu menginginkan menantu yang bisa membimbingnya di dunia dan akhirat. Mungkinkah Alfa sanggup memenuhi keinginan Bapak?  “Mas Haris yang cerita?” tanya Almira.  Midah mengangguk. “Awalnya Mas Haris enggak mau cerita, dia bilang lebih baik kamu tahu dari Mas Alfa. Tapi aku penasaran, jadi aku sedikit memaksa.”  “Lalu ...” Almira menggigit bibir bawahnya. Mata bulat si gadis berputar-putar, “ di mana mantannya sekarang?”  Midah mengangkat bahu. “Setelah putus, mereka enggak pernah ketemu lagi.”  “Kenapa mereka putus?”  Sekali lagi Midah mengangkat bahu. “Kata Mas Haris, kalau kamu penasaran, tanya saja langsung.”  Almira mencebik. Mana mungkin dia berani menanyakan hal itu. Baru sebentar bertemu saja, jantungnya sudah berdebar-debar tidak keruan. Jangan-jangan kalau mereka membahas mengenai gadis lain, Almira akan jantungan karena menahan dentum jantungnya yang menggila.  Si gadis menggeleng-geleng. Mencoba untuk menghilangkan bayangan Alfa yang sedang menikmati kebersamaan dengan gadis lain selain dirinya. Dia sudah memutuskan akan mengenal Alfa. Setiap orang memiliki masa lalunya sendiri. Jadi, bagaimanapun masa lalu Alfa, dia harus menerima.  Almira mengangguk dan menata hati. Itu yang harus dilakukannya. Menerima Alfa apa adanya, agar Alfa juga bisa menerima dirinya. Saling menerima adalah langkah awal dalam memulai sebuah hubungan.  “Kamu kenapa, Al?” Almira tersentak saat Midah mengguncang-guncang tubuhnya. Dia segera menepis tangan Midah dengan wajah datar setelah sadar dari lamunan.  “Kamu apa-apaan sih, Mi? Sakit tahu,” protes Almira, masih dengan wajah datar.  “Kamu tuh yang kenapa. Dari tadi bersikap aneh.”  “Aneh apa lagi?”  “Terus tadi apa maksudnya? Geleng-geleng, angguk-angguk? Kamu ngigau. Aku tahu kamu gugup, tapi jangan bikin aku khawatir gitu, dong.”  “Aku cuma ... cuma ....”  “Cuma apa?” potong Midah cepat. Almira menatap lurus sahabatnya. Dia mendorong mundur Midah dan mendudukkannya di tepi tempat tidur.  “Apa yang kamu rasakan waktu tahu Mas Haris punya banyak mantan?”  “Mantan Mas Haris cuma tiga, Al. Enggak sebanyak itu.” Midah menatap tajam Almira, tetapi yang ditatap tidak memedulikan hal itu.  “Aku serius, Mi. Kamu cemburu waktu tahu?” Midah mengangkat alis dan diam sejenak, lalu detik selanjutnya tertawa. Dia refleks menutup mulut ketika menyadari tawanya yang tidak biasa.  “Kamu cemburu sama mantan Mas Alfa?” tanya Midah setelah berhasil mengendalikan diri.  “Wajar, kan?” Midah mengangguk.  “Wajar saja, sih. Lagian kamu juga banyak yang naksir. Kalau Mas Alfa tahu, dia pasti lebih cemburu. Soalnya yang suka sama kamu enggak bisa dihitung.” Almira mengerucutkan bibir. “Dengar ya, Al. Semua orang punya kisah sendiri dalam percintaan. Yang perlu kamu pikirkan bukan siapa yang bersama dengannya di masa lalu, tapi bagaimana kamu bahagia karena saat ini kamu sedang bersamanya.”  Almira menatap Midah penuh selidik. “Kamu enggak lagi kesurupan, kan?”  “Maksudnya?”  “Kok kamu jadi bijak dan romantis gitu?” Midah meraih bantal dan dengan cepat memukulkannya ke wajah Almira yang langsung menjerit tertahan.  “Midah! Jilbabku rusak.” Perkataan Almira membuat Midah buru-buru merapikan jilbab si gadis. “Sudah rapi,” gumam Midah. Dia menuntun Almira ke depan cermin.  “Rapi apanya? Kamu keterlaluan.” Baru saja Midah ingin mengatakan sesuatu, seseorang mengetuk pintu.  “Sudah siap apa belum, Al? Alfa dan keluarganya sudah datang,” kata Ibu dari balik pintu. Kalimat itu membuat Almira mematung. Dia melebarkan mata dan menatap Midah penuh permusuhan.  “Sudah, Bu. Sebentar lagi Al turun dengan Midah.”  “Ya sudah. Jangan lama-lama.” Terdengar langkah Ibu yang menjauh. Almira mengambil tangan Midah.  “Tanggung jawab. Kamu merusak jilbabku.”  “Iya, iya. Gitu saja sewot.” Almira semakin melebarkan mata. Midah menutup mulut agar tawanya tidak meledak. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD