5. First Time

1259 Words
“Deg-degan enggak nunggu kedatangan Mas Alfa, Al?” Almira mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dipilih. Dia mendadak kehilangan mood yang tadinya bagus.  Kenapa sih harus membahas soal itu? Dia ingin membeli dan membaca buku agar pikirannya bisa teralihkan. Cukup di rumah Bapak dan Ibu yang merecokinya, jangan Midah juga. Bayangkan kalau setiap hari ada yang mengingatkanmu tentang hal sama berulang kali.  “Sabtu malam Alfa akan datang.”  “Jangan malu-maluin ya, Al.”  “Jaga sikap, jangan berlebihan.”  “Alfa itu pengusaha sukses, jadi kamu harus mengimbangi.”  Itu diucapkan sejak beberapa hari yang lalu oleh kedua orang tua Almira. Terjadi setiap hari, setiap saat, dan setiap Almira bertemu dengan mereka.  Ya Allah! Almira sudah dewasa. Dia bisa bersikap sebagaimana seharusnya. Sudah bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Bukan sekali ini mereka menerima tamu penting, tetapi seolah berniat membebaninya, semua orang mengingatkan mengenai Alfa.  Almira sampai harus sering beristigfar setiap kali membayangkan sosok Alfa. Tanpa dimintai oleh siapa pun, dia sudah mencatat dalam hati tanggal dan hari kedatangan Alfa ke rumahnya. Sejak hari di mana dia mengetahui bahwa pria berkemeja hitam yang memesona itu adalah Alfa, bayangan pria itu semakin meneror hari-harinya.  Hal yang bisa dilakukan Almira adalah lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sebisa mungkin menghindari Bapak dan Ibu. Bukan karena tidak ingin membahas mengenai Alfa, tetapi dia takut jika setelah membicarakan Alfa, dirinya akan memikirkan pria itu sepanjang hari. Dia merasa terganggu. Sebelumnya dia tidak pernah begitu, mengapa Alfa harus berbeda?  Tanpa berhenti memanjatkan doa dan meminta petunjuk Allah, gadis itu juga memohon perlindungan. Dia takut rasa suka yang terlalu membuncah akan membuatnya lupa diri dan terjerumus pada kesenangan sesaat. Itu hal yang paling menakutkan, dia tidak ingin menjadi bagian dari wanita tersesat karena cinta duniawi.  Ya Allah, lindungi hamba dari perasaan buruk yang melingkupi hamba. Jika Mas Fauzan Alfarizi memang baik untuk hamba, maka dekatkan kami dengan cara yang baik pula. Satukan kami dalam hubungan yang Engkau ridai. Jangan biarkan rasa kebahagiaan sesaat yang hamba rasakan ini merusak hubungan yang bahkan belum dimulai. Lindungi hamba, Ya Allah.  Itulah doa yang selalu Almira baca seusai salat. Dia menginginkan segala kebaikan dalam hubungan. Baginya, hubungan yang baik harus dimulai dengan kebaikan pula. Jangan sampai perasaan sesaat merusak segalanya.  Mengenai perasaan, Almira pasti merasa berdebar. Apa lagi mengingat waktu terus berjalan dan perjumpaan yang dinantikannya sudah semakin dekat. Menurut kalian, apakah ada seorang wanita yang tidak berdebar-debar saat akan dipertemukan dengan pria masa depannya? Semua akan merasakan apa yang saat ini tengah dirasakannya.  Bingung dan senang bercampur menjadi satu. Bingung bagaimana harus menghadapi si pria ketika berhadapan nanti. Akan tetapi, juga merasa senang karena akhirnya bisa bertemu dengan orang yang memang ingin dijumpai.  Setelah semua perjuangan yang dilaluinya berhari-hari ini, tidakkah Midah bisa mengerti? Mengapa mesti menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya? Dia juga dulu sudah merasakan hal ini, bukan? Almira ingat betul bagaimana pucatnya Midah saat akan menemui Haris pertama kali. Jadi kenapa sok menanyakan hal tidak penting.  ***“Kok malah melamun, sih?” Midah menyenggol siku Almira, yang langsung mendapatkan pandangan horor.  “Sudah deh, Mi, kamu tahu betul perasaanku. Enggak usah ditanyain lagi.” Almira kembali memilih buku di rak. Berusaha mengenyahkan bayangan pria yang mulai mengganggu konsentrasinya. “Aku kan cuma nanya, Al. Jangan ngambek, dong.” Midah lagi-lagi menyenggol siku Almira. Gadis yang sedang memilih buku itu menggeram. Berkali-kali beristigfar agar dia bisa menahan diri. Dia tidak ingin beradu argumen dengan Midah. Terutama di saat dia sedang berada dalam keadaan yang tidak baik. Almira menoleh dan berusaha tersenyum. “Kamu enggak nanya, Mi. Kamu cuma mau menggodaku,” ujarnya.  “Kelihatan banget, ya?” bisik Midah lirih. Dia tersenyum jahil. Almira mendengkus.  “Sebenarnya kamu mau beli buku atau enggak, sih? Kenapa dari tadi ngikutin aku?”  “Tadinya mau beli buku, tapi enggak jadi.” Almira memicingkan mata. Ada yang aneh dengan Midah, tetapi dia tidak terlalu yakin.  “Kamu nyembunyiin sesuatu, ya?” selidik Almira, masih memicingkan mata.  “Enggak. Hanya saja ...” Midah memutar-mutar mata. Kakinya bergerak tak beraturan. “Mas Alfa itu teman Mas Haris.”  Gadis berjilbab hijau memandang aneh. Midah sudah mengatakan hal itu, lalu mengapa dia mengatakannya lagi. Almira semakin penasaran. Pasti ada yang tidak beres di sini.  “Kamu sudah bilang soal itu. Kamu bilang mereka rekan kerja, kan?” Midah tak langsung menjawab. Dia melirik pintu keluar masuk toko buku, lantas menunjuk dengan dagu. Dengan penuh tanda tanya, Almira mengikuti arah pandang Midah. Matanya terbelalak seketika.  Almira langsung menatap tajam Midah yang hanya tersenyum kikuk. Apa sebenarnya yang direncanakan istri Haris itu? Bukan itu yang harus dibahas sekarang. Almira perlu pergi sesegera mungkin tanpa dilihat oleh siapa pun, terutama dua orang yang kini tengah berdiri tepat di depan pintu masuk toko.  Ya Allah! Tolonglah hamba.  “Sudah dapat bukunya?” Suara bass Haris membuyarkan lamunan Almira tentang rencana kabur yang dia susun. Wanita itu menunduk dan memandangi flat shoes hitam yang dipakainya.  “Almira!” Itu bukan suara Haris, Almira tahu benar itu. Kepala gadis itu terangkat, memandang pria berkemeja putih di hadapannya. Hanya sejenak, karena dia kembali menunduk.  “Kita makan siang bareng saja, ya.” Ajakan Haris membuat hati Almira bergejolak. Tubuhnya kaku di tempat. Dia melirik Midah yang berdiri di samping sang suami. Sahabatnya itu seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi sang suami sudah setengah menyeret pergi.  Almira membuka mulut, lalu menutup kembali. Sudut matanya bisa menangkap tatapan pria di hadapannya. Dia ragu akan melangkah mengikuti Midah atau tetap di posisi sekarang.  “Kita ikut makan siang saja, ya,” ujar sang pria. Tanpa menunggu jawaban Almira, dia melangkah terlebih dahulu. Si gadis mengikuti pria berkemeja putih setengah hati.  *** Di sinilah Almira berada. Di sebuah kafe dengan nuansa putih gading. Siang ini kafe sangat ramai. Almira meminum jus jeruknya perlahan. Dia masih merasa diperdaya Midah. Mungkinkah hal ini memang rencananya?  Suara bunyi gawai mengalihkan perhatian Almira, dia mengeluarkan benda itu dari tasnya. Mata bulatnya membaca pesan yang masuk.  Aku enggak ngerencanain ini. Serius! Ini benar-benar ketidaksengajaan.  Almira menghela napas. Dia kembali meminum jus, tanpa repot memasukkan gawai ke dalam tas lagi. “Maaf kalau jadi bikin suasana canggung,” kata Alfa, pria berkemeja putih. Dia mulai terganggu dengan suasana tidak nyaman yang sedari tadi menyelimuti. Almira menatap Alfa sejenak dan tersenyum. Dia sadar betul jika kalimat itu ditujukan padanya.  “Enggak, kok. Aku cuma kaget,” aku Almira, lalu kembali menunduk.  “Ternyata Haris benar tentang kamu.” Ucapan Alfa berhasil membuat Almira penasaran dan mendongak. “Kamu pemalu,” tambahnya. Almira mengerjap. Dia bisa merasakan pipinya memanas. Apa sekarang dia sedang tersipu? Apa pipinya yang memanas saat ini berwarna merah?  “Aku bukannya pemalu, hanya sedikit bingung saat bertemu orang baru,” elak Almira.  “O ya? Seharusnya kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik dari pada sekarang,” kata Alfa. Almira sudah tidak menatap pria itu lagi. “Apa menurutmu, Mas bisa langsung melamar?”  Almira hampir menyemburkan jus jeruk yang sedang diminum. Haruskah Alfa berkata seperti itu? Apa-apaan tadi? Melamar? Mereka bahkan belum saling mengenal. Akan tetapi, dia juga menginginkan lamaran tersebut, bukan? Hati kecilnya mulai bersorak. Alfa tersenyum miring, dia menelengkan kepala untuk melihat ekspresi gadis yang tertunduk dalam-dalam di depannya. Seluruh tubuh Almira terasa melemah, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap jus jeruk miliknya.  “Kita bahkan belum saling kenal.” Akhirnya Almira bisa bersuara.  “Kalau begitu, kita berkenalan sekarang. Mas sendiri sudah tahu banyak mengenai kamu.”  “Tapi aku belum.”  “Baiklah, kamu bisa bertanya sekarang. Apa yang ingin kamu ketahui tentang Mas?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD