4. Camer

1138 Words
Alfa menatap rumah sederhana yang sekarang berada di hadapannya. Di depan rumah itu terdapat berbagai jenis tumbuhan, bunga dan sayuran. Sang pria mengatur debar jantung yang mulai bergerak cepat.  Keputusan untuk mengunjungi orang tua Almira terasa begitu berat saat ini. Padahal Alfa sendiri yang menginginkan hal itu. Dia bahkan tidak memberi tahu siapa pun. Sudut matanya melirik sekeranjang buah yang ada di tangan kanan.  “Assalamualaikum.” Alfa menoleh cepat ketika mendengar suara dari belakang. Seorang pria yang memakai kaos coklat dan celana kain panjang tersenyum. “Waalaikumsalam,” jawab Alfa, menahan laju detak jantung yang semakin menyiksa. Dia mengamati pria di hadapannya. Menyadari dengan siapa dia sedang berhadapan, membuat Alfa ingin lari saja. Bagaimana bisa sanga calon mertua berada di sana? “Selamat pagi, Pak.” Meski sedikit terbata, Alfa berusaha bersikap ramah. Dia tidak mau memberikan kesan buruk di awal perjumpaan mereka. Dengan ragu, dia menyalami tangan Bapak. “Pagi, mau bertemu dengan Bapak atau Almira?”  Pertanyaan Bapak membuat Alfa mendongak. Lalu, saat melihat tawa tertahan pria sepuh di depannya, dia menunduk. Dia pikir, Bapak akan benar-benar mengizinkannya bertemu dengan pujaan hati. Setelah dipikirkan lagi, hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak untuk hari ini. “Tidak sabar bertemu dengan Almira, ya?” “Bukan begitu, Pak. Saya ke sini untuk bertemu dengan Bapak dan Ibu,” ujar Alfa, mulai menguasai diri. Bapak tertawa kecil. “Bapak mengerti. Ayo, masuk,” ajak Bapak. Dia merangkul pundak Alfa. Tidak tahukah Bapak jika tindakan itu mengakibatkan sengatan di tubuh Alfa?  Semoga saja Bapak tidak menyadari. *** Foto keluarga Almira menyambut pandangan Alfa begitu masuk ke rumah. Alfa mendekati sebuah pigura tua yang berada di lemari ruang tamu. Almira kecil tersenyum lebar seraya memamerkan piala bertuliskan “Juara 1 lomba pidato”. Ternyata wanita itu sudah cantik dari dulu. Jilbab merah bergambar kartun berhijab menambah kesan imut. Tangan Alfa terulur untuk menyentuh pigura, tetapi suara deham menghentikan. Pria itu tersadar dari sikap konyol yang dilakukan. Bisa-bisanya dia melakukan hal memalukan. Benar-benar bukan seperti Alfa yang biasa. Di mana sosok Alfa yang selalu mengedepankan kesan baik pada setiap orang? “Maaf, Pak,” kata Alfa salah tingkah. Bapak tersenyum maklum. “Duduk.” Bapak yang sudah duduk sedari tadi memerhatikan Alfa. “Bu, ada Alfa, nih,” ucapnya agak keras. Seorang wanita berjilbab besar, yang Alfa yakini sebagai ibu Almira, keluar. Dia tersenyum ramah. Alfa menangkupkan tangan di d**a dan dibalas oleh Ibu. Pria itu tahu jika Ibu selalu menjaga hubungan dengan lawan jenis. “Ngobrol dulu sama Bapak, biar Ibu buatkan air,” ucap Ibu lembut. “Tidak usah repot, Bu. Saya hanya ingin berkunjung.” Alfa mengulurkan buah yang dibawa. “Buah sedikit, Bu.” “Wah, pakai bawa buah segala. Terima kasih, ya.” Alfa mengusap tengkuk mendengar ucapan Ibu, lalu bergumam pelan, “sama-sama, Bu.” “Ya, sudah. Ibu tinggal sebentar, ya.” Alfa mengangguk sopan. “Usahanya lancar, Al?” tanya Bapak membuka percakapan. “Alhamdulillah, lancar.” “Mama Papa sehat?” “Sehat, Pak.”  “Jadi, apa tujuan kamu datang ke sini?” Nah, apa yang menjadi pokok perbincangan dimulai. Alfa berdeham untuk mengatur suara. Dia tidak bermaksud melamar Almira dengan suara bergetar. Manik hitamnya menatap Bapak serius. “Saya mau melamar Almira, Pak,” ucap Alfa mantap. Bapak meneliti ke dalam mata sang pelamar itu. “Bukankah itu memang tujuan kami, para orang tua, sejak awal? Kami juga menginginkan pernikahan secepatnya, Al. Kalau boleh Bapak tahu, kenapa kamu terlihat terburu-buru?” “Bukan terburu-buru, Pak. Saya hanya takut tidak bisa menahan diri.” Bapak terdiam cukup lama sebelum kembali bersuara. “Kamu sudah pernah bertemu Almira?” “Maaf sebelumnya. Saya memang pernah bertemu dengan Almira, tapi bukan jenis pertemuan yang tidak pantas. Kami hanya kebetulan berjumpa di jalan.” “Kebetulan?” tanya Bapak menegaskan. Alfa menghela napas. Dia tahu tidak ada gunanya menyembunyikan kebenaran dari Bapak.   “Sebenarnya saya sengaja menyapa Almira, tapi Almira benar-benar tidak mengenal saya.”  Bapak manggut-manggut. “Bapak mengerti kegelisahan kamu, tapi pernikahan tidak sesederhana itu. Almira sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Meski Bapak juga berharap dia menerima pernikahan ini, Bapak tidak bisa memaksa.” “Tentu saja, Pak. Saya juga tidak mau memaksakan kehendak. Hanya saja, jika pada akhirnya Almira menerima, saya ingin segera menikah.” Alfa memperbaiki posisi duduknya. “Saya tahu, saya belum cukup baik untuk menjadi imam Almira. Maksud saya, saya masih belum terlalu memahami ajaran agama Islam. Pengetahuan yang saya miliki mungkin tidak ada separuh dibandingkan dengan Almira. Untuk itu, saya siap belajar.” “Bapak suka dengan pemuda yang punya keinginan kuat untuk belajar agama. Papa kamu juga sudah menyampaikan hal itu pada kami. Terus terang saja, kami tidak keberatan. Kami yakin kamu bisa menjadi imam yang baik untuk Almira.” “Iya, Pak. Saya tidak akan menjanjikan kebahagiaan Almira, tapi saya sungguh ingin membangun keluarga yang baik.” “Amin. Insya Allah, semua bisa berjalan lancar.” “Amin.” “Kok serius sekali, lagi bahas soal apa?” Ibu keluar dengan membawa teh dan camilan.  “Diminum, Al.” “Iya, Bu. Terima kasih.” “Alfa mau langsung melamar Almira, Bu,” kata Bapak sambil menyeruput teh. “Alhamdulillah. Ibu senang kalau kamu punya niat seperti itu. Kami percaya pada orang tuamu. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk keluarga kita.” “Kalau kamu memang ingin langsung melamar, sebaiknya kamu dan Almira bertemu dulu. Tapi ingat, tidak boleh hanya berdua. Jangan sampai Almira merasa terlalu ditekan atau dipaksa.” Alfa tersenyum. Mendapat dukungan penuh dari orang tua Almira sangat penting. Dia lega karena keduanya tidak bertanya banyak hal. Mungkin mereka sudah berbicara dengan mama papanya, sehingga tidak perlu lagi mengajukan pertanyaan sulit. “Untuk menjadi imam yang baik memang tidak mudah, Al. Bapak juga banyak melakukan kesalahan di awal pernikahan. Jadi, kamu harus menguatkan niat. Belajar bisa di mana saja dan dengan siapa pun. Kita diwajibkan untuk terus memperbaiki diri. Makanya, sampai kapan pun, kita tetap diperintahkan untuk belajar.” “Bapak benar, Al. Yang terpenting adalah hati kamu. Kalau hati kamu kuat dengan segala cobaan, insya Allah, rumah tangga kalian akan berjalan baik.” “Terima kasih, Pak, Bu. Saya akan mengingat semua itu dan berusaha untuk menjadi imam yang baik bagi Almira.” Ibu dan Bapak mengangguk dengan senyum semringah. Alfa jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan Almira lagi. Dia harus menyusun rencana agar bisa mewujudkan hal itu. Apa yang sebaiknya dia lakukan. Ketika suatu ide terlintas di kepala, Alfa merasa jika Allah telah memudahkan jalan. Dia hanya perlu sedikit bantuan dari sahabatnya. Awal dari perjuangan Alfa sudah menunggu. Setelah berhasil meyakinkan orang tua Almira, sekarang giliran sang calon mempelai.Alfa berharap jika Almira bukan wanita yang terlalu sulit ditaklukkan. Bukan berarti Almira gampang dirayu. Dia berdoa semoga membuka hati wanita itu tidak memerlukan waktu panjang. Kita lihat nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD