"Aww, kalo jalan pelan-pelan, biar gak nabrak orang!" pekik Tesa. Gadis itu terjatuh kala seseorang menabraknya. Dengan cepat ia berdiri. Ingin rasanya dirinya memaki orang yang sudah menabraknya hingga pantatnya terasa nyeri.
"Lo yang salah, kalo jalan dipake, tuh, matanya!" ketus orang yang menabraknya.
Tesa sudah mengepalkan tangannya hendak meninju wajah orang itu. Namun niatnya ia urungkan.
"Abian yang terhormat, mana ada orang jalan pake mata? Kamu sendiri aja jalan pake kaki, ngapain nyuruh aku jalan pake mata, hah?!" sungut Tesa kesal.
Dalam hati ia hanya terus mengucapkan kata sabar agar amarahnya mereda. Untung saja lelaki itu tampan dan sialnya Tesa menyukainya. Jika tidak, sudah dipastikan Abian akan melayang di udara lalu terhempas ke tanah dengan keras.
"Minggir lo, gue buru-buru. Ga penting ngobrol sama orang kayak lo!" Abian mengucapkan kata itu sambil mendorong pelan dahi Tesa dengan telunjuknya. Kemudian berlalu meninggalkan Tesa yang berdiri mematung.
"Sok, yes banget jadi orang, sih!" teriaknya, namun tak ditanggapi oleh Abian.
Akhirnya Tesa membuat tali sepatu Abian terlepas dengan sendirinya. Lalu ia memerintahkan sepatu yang dipakai Abian agar menginjak tali sepatunya yang terlepas.
Dan suara benda terjatuh terdengar merdu di telinga Tesa. Abian jatuh tejungkal setelah menginjak tali sepatunya sendiri. Gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu.
"Hahaha, sukurin jatuh. Makanya jangan cari gara-gara sama Tesa Amora!" teriaknya.
Tesa berlari menjauh dari sana setelah Abian menatapnya dengan tatapan horor dan mengepalkan tangannya ke arah Tesa seolah lelaki itu hendak menghajarnya.
Tesa beristirahat sebentar setelah lelah berlari. Ia sudah berada di parkiran sekolah dan bersiap untuk pulang. Berjalan menuju si ungu, sepeda miliknya lalu mendorong sepedanya keluar dari parkiran sekolah.
Jalanan lumayan ramai hari ini. Apalagi mentari sangat terik. Buliran keringat Tesa mulai turun membasahi wajah cantiknya yang kini sedikit kusam karena debu dan cuaca panas.
Ia hendak menyeberang ke sisi lain jalanan. Ingin membeli minum di sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan.
Namun, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Tak ingin menabrak orang itu dengan sepedanya, Tesa membanting stir sepedanya hingga menabrak pembatas jalan. Dan hasilnya ia terjatuh.
Kakinya terasa sakit, terlebih lagi pantatnya. Ia takut jika nanti ada cedera, apalagi tadi ia juga sudah terjatuh.
Sial banget aku hari ini, udah jatoh dua kali gak ada yang nolongin lagi, keluhnya dalam hati.
Namun, sebuah tangan terulur di hadapannya. Ia dengan cepat menggapai uluran tangan itu dan berdiri. Kakinya sakit, terdapat lecet di sana.
Tesa hendak berterima kasih pada lelaki yang membantunya berdiri. Ia mendongak.
Mulut gadis itu seolah terkunci, tak satu pun kata dapat terucap dari bibirnya. Lelaki yang menolongnya adalah lelaki yang tadi ia lihat di jalanan ketika ia mengerjakan tugas di perpustakaan.
Mendadak ia malu. Pipinya menjadi merah, keringat dingin mulai bercucuran. Ia gugup. Bahkan tangannya bergetar.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja membuatmu jadi terjatuh," ujarnya dengan nada yang lembut. Sangat lembut untuk ukuran lelaki bagi Tesa. Bahkan ia juga tersenyum dengan manis.
Tentu saja, karena kebanyakan lelaki yang Tesa temui sering berbicara kasar dan juga dengan nada tinggi. Abian misalnya.
"Tiーtidak, kamu gak salah, kok," balas Tesa. Ia menunduk, tak ingin memperlihatkan wajahnya yang sudah mirip kepiting rebus hanya karena memandang senyum dari lelaki tadi.
"Kakimu terluka, mari biar saya obati!" ajaknya. Ia memapah Tesa yang terpincang-pincang karena kakinya sakit.
Lelaki itu pergi ke bawah pohon yang cukup rindang. Suasana jadi sejuk setelah duduk di sana.
Lelaki tadi menyuruh Tesa agar menunggunya di situ, sementara dirinya akan membelikan obat terlebih dahulu untuk mengobati luka Tesa. Gadis itu hanya mengangguk patuh saja.
Setelah beberapa menit pergi, akhirnya lelaki tadi kembali sambil membawa kotak obat. Ia buka kotak obat itu lalu duduk di samping Tesa.
Membersihkan luka lecet yang ada di kaki Tesa dengan air mengalir lalu dengan alcohol. Setelahnya ia teteskan obat merah di sekitar luka lecet itu dan menutupnya dengan perban dan plester.
Lelaki tadi juga membuka sepatu Tesa, pergelangan kaki gadis itu lebam dan sudah sedikit membiru. Dengan telaten, lelaki tadi mengompreskan es batu yang sudah ia balut dengan perban karena tidak ada kain pada luka lebam Tesa.
"Masih ada yang sakit?" tanyanya sembari memandang Tesa.
Tesa menggeleng lalu menatap lelaki yang sudah mengobatinya. Tatapan mata mereka bertemu. Tak ada yang mau melepas kontak mata satu sama lain, mereka seolah terhanyut oleh pesona masing-masing.
Namun, Tesa dengan cepat tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu yang tadi mengintip saya diam-diam dari gedung tinggi itu, 'kan?" tanya sang lelaki. Ia menunjuk gedung sekolah Tesa yang masih terlihat dari tempat itu.
Tesa tak mampu menjawab. Ia malu karena kepergok mengintip. Lelaki tadi mengangkat satu alisnya heran karena gadis yang di sampingnya ini hanya bergeming.
Suasana menjadi canggung. Hening. Tak ada yang memulai percakapan lagi di antara mereka. Akhirnya sang lelaki buka mulut untuk memecah keheningan.
Ia memperkenalkan namanya pada Tesa dan mengulurkan tangannya. "Nama saya Sora!"
Gadis itu meraih uluran tangannya dan memperkenalkan diri juga. "Aku Tesa!"
Lelaki bernama Sora itu tersenyum setelah Tesa memperkenalkan namanya. Ia bertanya pada Tesa apakah gadis itu bisa pulang sendiri atau tidak karena kondisinya yang masih seperti itu. Ia berniat mengantarkan Tesa pulang ke rumah. Namun, gadis itu menolaknya, ia tak ingin merepotkan orang yang belum ia kenal.
Namun, dengan paksaan dari Sora, akhirnya Tesa mau diantarkan pulang. Sora bilang padanya jika ia khawatir, hal itu membuat Tesa luluh. Tentu saja, baru kali ini ada orang lain yang memperhatikan dan mengkhawatirkan dirinya selain Yuki dan Hana.
Mereka berdua naik ke sepeda milik Tesa. Untungnya sepeda milik Tesa memiliki tempat duduk di belakang, jadi ia tak harus berdiri. Sementara Sora, ia mengayuh sepeda milik Tesa sesuai dengan arahan gadis itu.
Selama perjalanan mereka membicarakan sedikit banyak hal. Tesa bertanya pada Sora tentang siapa lelaki itu dan bagaimana kepribadiannya walau tak ia ungkapkan secara langsung. Karena itu namanya tidak sopan.
Ia juga bercerita pada Sora jika dirinya sudah beberapa kali bertemu dengan lelaki itu. Ia bertanya, sebenarnya apa yang tengah Sora lakukan. Namun lelaki itu hanya bilang jika ia sedang berjalan-jalan mencari suasana baru.
Tesa tahu pria di depannya ini tengah berbohong. Namun ia tak bisa memaksa Sora untuk menceritakannya karena Tesa sadar pada batasannya. Ia hanya seorang gadis yang baru dikenal Sora beberapa menit yang lalu.
Akhirnya mereka sampai di rumah Tesa. Perjalanan terasa singkat karena perbincangan mereka yang menemani.
Tesa berterima kasih pada Sora dan mengajak lelaki itu untuk mampir sekedar beristirahat, namun, Sora menolaknya. Ia bilang tengah terburu-buru.
Sora merogoh saku celana miliknya dan memberikan sesuatu pada Tesa. Sekotak kassa steril dan beberapa plester. "Jangan lupa ganti perbannya jika terkena air!" pesannya pada Tesa. Gadis itu mengangguk dan tersenyum simpul pada Sora.
Sora akhirnya berjalan menjauh dari rumah Tesa. Lelaki itu melambaikan tangannya ke arah Tesa dan berkata," Sampai jumpa lagi!"
Tesa membalasnya, kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum masuk ke dalam rumah, ia menemukan benda di dekat tempat Sora berdiri tadi. Tesa memungutnya.
Benda itu bentuknya mirip dengan kartu ATM, namun berwarna silver dan juga tidak ada tulisan atau logo apa pun. Hanya ada sebuah gambar lingkaran dan segitiga kecil di tengahnya.
Mungkin ini milik Sora yang terjatuh, tapi bagaimana cara mengembalikannya? batin Tesa. Ia membolak-balik kartu tersebut. Namun tak menemukan apa pun.
Rumah tampak sepi seperti biasanya. Yuki pasti masih berada di toko roti miliknya. Sementara Hana? Kakaknya itu pasti tengah berpacaran dengan Abian, sang kekasih.
Membayangkan sikap Abian yang menjengkelkan jika terhadapnya dan bersikap manis jika di depan kakaknya membuat otak gadis itu mendakak menjadi mendidih.
Ia memutuskan untuk mandi saja agar pikirannya mendingin. Dengan langkah terseok-seok, ia berjalan masuk ke kamarnya. Kakinya masih sangat sakit.
Tangannya terulur untuk menyentuh kran air panas dan dingin. Menghidupkan kran air di bathup dan menunggu isinya hingga penuh.
Setelah bathup terisi penuh. Ia mulai menanggalkan bajunya satu per satu dan masuk ke dalam sana. Berendam air hangat untuk merileksasikan pikirannya.
to be continue