Tujuh

1251 Words
Setelah usai mandi, Tesa menghubungi ibunya. Mengatakan bahwa dirinya tak bisa datang ke toko roti dan membantu ibunya. Ia bilang pada Yuki jika kakinya terkilir dan lebam akibat terjatuh dari sepeda ketika pulang sekolah. Sang ibu yang khawatir berencana akan pulang cepat dari toko dan merawat putri bungsunya. Namun, Tesa mencegahnya. Ia tak ingin lebih merepotkan sang ibu. "Tidak perlu, Ma. Tesa baik-baik aja, kok. Tadi udah diobatin juga sama temen Tesa. Nanti Mama repot kalau harus bolak-balik ke rumah terus ke toko roti. Boros bensin juga, Ma, hehe," kekeh Tesa menolak sang ibu dari telepon. Gadis itu dapat mendengar dengusan napas kasar ibunya dari seberang telepon. Ia tahu ibunya sangat khawatir padanya sekarang. Sudah dirawat dan dibesarkan dengan baik di keluarga ini saja dirinya sudah sangat bersyukur. Yuki yang mendengar penuturan anaknya ingin menangis. Dirinya sangat terharu. Bahkan Hana, yang anak kandungnya saja hampir tidak pernah membantu dirinya di toko roti. Ia hanya datang untuk meminta uang dan pamit untuk bermain bersama dengan teman-temannya atau Abian. Setelah itu Tesa mematikan sambungan telepon dengan ibunya agar ibunya bisa fokus bekerja. Ia juga bilang pada sang ibu, jika tak perlu menghkawatirkan dirinya karena ia baik-baik saja. Tesa mengambil benda tipis yang ia temukan tadi di depan rumah. Mengamatinya dan sesekali membolak-balikan benda tipis itu. "Kira-kira ini apa, ya?" Dahi Tesa berkerut. Tanpa sengaja ia menyentuh bagian tengah benda tersebut dan sebuah sinar menyilaukan muncul dari benda itu, karena terlalu silau, ia secara reflek membuangnya, dan perlahan cahaya itu meredup, lalu setelahnya mati. "Apa itu barusan?" Tesa masih memegangi dadanya yang berdebar karena terkejut. ****** Hari ini Tesa sangat gembira. Pasalnya ia akan menagih janji Anjani yang akan mentraktirnya makan di kantin. Bahkan gadis itu sudah sampai duluan dan duduk di meja kantin sambil menunggu Anjani yang masih berjalan di belakangnya tadi. Tak lama, Anjani telah sampai. "Seneng banget lo?" ujar Anjani dengan nada sinis. "Seneng dong, makan gratis." Tesa tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Yee, dasar, kalo yang gratisan aja lo gercep," decak Anjani. Gadis itu heran, kenapa Tesa masih anteng di bangkunya. Gadis itu menatap Anjani seolah memberikan sebuah kode. Anjani yang paham apa arti tatapan itu langsung berdiri dengan malas. "Lo mau pesen apa?" Anjani bertanya dengan sebal. Tesa memang kurang ajar, sudah mengeruk isi dompetnya. Ia pula yang harus mengantre untuk membelikan makanan. Teman laknat emang. Tesa tersenyum, ia bilang bahwa dirinya ingin makan batagor, siomay dan air mineral saja. Anjani pergi untuk memesan makanan sementara Tesa hanya duduk di sana dan menunggu. Karena bosan, ia memainkan ponsel miliknya. Seperti kebanyakan gadis pada umumnya, ia juga suka membuka media sosial terutama untuk menstalker akun orang-orang. Bangku di depannya berdecit setelah seseorang mendudukinya. "Cepet baー" Ucapan Tesa terhenti kala melihat siapa yang duduk di depannya. Orang itu bukan Anjani. Melainkan sosok pujaan hatinya. Abian Revaldo. Tesa menatap lelaki itu dengan tatapan tidak percaya. Ia menepuk pipinya sekali untuk memastikan hal itu. Sakit, itu yang dirasakannya. Itu berarti ini bukan mimpi atau sekedar khayalannya semata. Ia bingung. Untuk apa kekasih dari kakaknya ini menemuinya? Padahal yang Tesa tahu, Abian tak pernah menyukai keberadaannya. Bahkan pria itu selalu berkata kasar jika membalas ucapan Tesa. "Salah meja, Pak?" ujar Tesa menaikkan sebelah alisnya. "Ada larangan gue duduk di sini?" Abian malah balas bertanya. "Gaada sih, tumben ajaー" Belum sempat Tesa menyelesaikan ucapannya, Abian sudah memotongnya terlebih dahulu. "Gue tahu, lo naksir gue udah lama." Tesa yang mendengarnya langsung diam seolah dirinya adalah patung. Tesa bingung harus menjawab apa. "Diem lo udah jadi jawaban buat gue," sambung lelaki itu. Detak jantung Tesa sudah tidak teratur. Ia takut sekaligus khawatir. Jika kakaknya sampai tahu hal ini, bisa dipastikan dirinya akan di jauhi oleh sang kakak. "Gimana kalo gue sebenernya juga suka sama lo?" ujar Abian lagi. Lelaki itu tak memberikan kesempatan untuk Tesa berpikir jernih. Mendengar hal itu, Tesa malah bimbang. Anjani yang sudah selesai memesan makan siang sedang berjalan menuju meja Tesa. Abian yang mengetahui hal itu langsung berdiri dari duduknya. Sebelum ia pergi, ia membisikkan sesuatu ke telinga Tesa. "Gue tunggu lo di parkiran sepulang sekolah nanti!" Yang membuat Tesa bergidik geli. Sementara itu, di sisi lain kantin. Percakapan mereka didengar dan diamati dari jauh oleh seseorang. "Akan aku pastikan, kamu hancur Tesa!" desis orang itu dengan senyum miring yang mengembang di wajahnya. Lalu ia pergi dari sana "Wah, ngapain si masa depan gue nyamperin lo?" tanya Anjani. Namun, tak mendapat respons dari sang kawan. "Tesa, woy, budeg lo?" teriak Anjani di depan wajah Tesa. "Iya, kenapa?" Gadis itu menatap Anjani dengan tatapan polosnya yang membuat temannya itu geram dan kesal secara bersamaan. Anjani mengulangi kembali pertanyaannya. Tesa hanya menggeleng. Ia terpaksa berbohong pada Anjani mengenai kedatangan Abian ke mejanya. Anjani hanya mengangguk mengerti setelah mendapatkan jawaban dari Tesa. Lalu ia menyodorkan piring makanan pesanan Tesa dan memakan makanan yang sudah ia pesan tadi. Namun, yang dilakukan gadis itu hanya memainkan garpu miliknya tanpa ada niatan memakan makanan yang sudah dipesankan oleh temannya tadi. "Lo kenapa, sih, Sa?" tanya Anjani cemberut. Tesa berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Hanya sedang memikirkan sesuatu. Anjani menyipitkan matanya, menatap Tesa curiga. Gadis yang ditatap hanya diam. Ia gugup saat ini. "Lo .... " Anjani menggantungkan ucapannya. Tesa makin gugup, akhirnya gadis itu mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan seorang lelaki yang kemarin menolongnya setelah jatuh dari sepeda. Anjani langsung diam dan menyimak dengan antusias. Pasalnya Tesa sangat jarang berkomunikasi dengan siswa yang lain. Bahkan dirinya harus rajin menempeli gadis itu. Iya, Anjani memang tidak pernah dianggap ada oleh Tesa. Hanya saja gadis itu selalu mengintili Tesa, sekedar untuk diajak berbicara atau berdiskusi. Sebenarnya Tesa anak yang pandai dan humble menurutnya. Hanya saja dua sifat itu ia sembunyikan rapat-rapat entah kenapa. Anjani yang penasaran akan hal itu selalu mencari kesempatan untuk mengulik ke dalam diri Tesa. Namun, niatnya selalu gagal. "Trus, dia ganteng apa engga?" Wajah Anjani berbinar ketika menanyakan hal itu pada Tesa. "Ganteng, kayak bukan orang Indonesia," balas Tesa. Anjani yang langsung memegang erat jemari Tesa. "Kenalin ke gue, please!" mohonnya. Tesa menoyor kepala temannya satu ini. Di otaknya hanya ada dua kata, pria dan tampan. Ia sampai jengah sendiri. "Aku aja cuma tahu namanya, kemarin dia langsung pergi gitu aja. Jadi mana bisa aku ngenalin ke dia ke kamu," dengus Tesa. Gadis itu merotasikan kedua manik matanya. Dengan sebal, Anjani melanjutkan acara makannya. Begitu juga Tesa yang sejenak melupakan perkataan Abian tadi. Hingga akhirnya bel masuk berdering nyaring di setiap penjuru sekolah. Tesa dan Anjani serta siswa lainnya langsung saja meninggalkan area kantin karena pelajaran akan segera dimulai. Selama pelajaran, Tesa tak bisa fokus. Pikirannya melayang jauh entah ke mana. Bahkan guru sampai beberapa kali menegurnya. Hana yang melihat adiknya melamun menjadi khawatir. Gadis itu beberapa kali melirik ke arah Tesa untuk memastikan keadaan adiknya. Tesa yang sedari tadi merasa diawasi menoleh dan melihat sang kakak. Raut wajah Hana memperlihatkan jika gadis itu tengah cemas akan dirinya. Tesa tersenyum. Senyuman yang menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Lalu kembali menghadap depan seolah mendengarkan penjelasan gurunya. Padahal nol besar. Namun, beberapa detik setelah Tesa memalingkan wajah dari sang kakak. Hana ternyum tipis. Sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya. Jantungnya terpacu untuk memompa darah lebih cepat dari biasanya. Ia tidak ingin menemui Abian sepulang sekolah. Ya, dirinya akhirnya memutuskan untuk menghindar saja daripada mendapat masalah lagi di sekolah. Jujut saja, mendapat perundungan dari Dinar dan kawan-kawannya saja sudah sangat melelahkan, dan kini ia harus berurusan dengan orang yang ia cintai dan juga ia benci sekaligus. to be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD