Delapan

1254 Words
"Di mana kartuku terjatuh, ya?" Sora menelusuri jalanan sambil menggerutu. Ia baru sadar jika benda miliknya hilang. Ia menduga benda itu jatuh kemarin, tetapi ia tak tahu harus mencari ke mana. Ia kembali menelusuri jalanan yang kemarin ia lewati. Berdoa semoga benda itu tak ditemukan oleh orang lain. "s**l sekali aku, sudah jatuh tertimpa tangga pula," monolognya dengan nada yang menyedihkan. Sudah hampir empat jam lelaki itu mencari kartu miliknya yang hilang. Lalu ia teringat akan sesuatu. Apa jangan-jangan terjatuh ketika aku menolong gadis yang kemarin? pikirnya. Dengan langkah cepat, Sora menelusuri jalanan yang dekat dengan sekolahan Tesa. Ia kembali menjelajahi jalanan itu. Namun hasilnya nihil. "Apa jatuh waktu aku ke apotek beli p3k?" Itu yang terlintas di otak Sora. Lelaki itu kembali menyusuri jalanan dengan langkah lebar-lebar. Matanya yang jeli memandang sekitar, berharap jika kartu miliknya ada di sana. "Akh, di mana kartu holo milikku? Jika aku menghilangkannya, maka aku tidak akan pernah bisa kembali ke rumah." Sora mengacak rambutnya frustasi. "Tesa," gumamnya. Mungkin jatuh di rumah Tesa, pikirnya optimis. Akhirnya Sora memutuskan untuk kembali ke rumah gadis itu. Dengan langkah cepat ia berlari. Padahal rumah Tesa sedikit jauh dari sekolah. Dan ia bisa saja pergi ke sana dengan angkutan umum. Menghela napas lelah, lalu menghirup udara dalam-dalam. Hal itu dilakukan Sora berulang kali hingga napasnya kembali normal. Bodoh memang, Sora selalu saja mempersulit diri sendiri, padahal semuanya bisa ia lakukan dengan cara instan. Ia telah sampai di rumah Tesa. Rumah yang sederhana itu tampak kosong. Beberapa kali Sora mengucap permisi dan menekan tombol bel, namun, tak ada yang menyahuti dari dalam. Lelaki itu duduk di pinggir, dekat dengan pagar rumah milik Tesa. Sambil memijit kakinya yang sedikit pegal, ia kembali menggerutu. "Kosong, apa dia pindah rumah, ya? Sia-sia saja aku datang kemari," dengusnya. Bodoh memang. Harusnya ia tahu jika Tesa masih berada di sekolah siang ini. Namun, hal itu tidak terlintas di otaknya. "Apa aku tunggu dulu di sini, ya? Siapa tahu Tesa sedang keluar karena ada urusan." Sora mengangguk-angguk ketika mengucapkannya. Berpindah tempat dan menunggu Tesa di tempat yang sedikit lebih sejuk. ****** Tesa melirik ke arah kanan dan kiri. Setelah memastikan parkiran sepi, ia berjalan menuju tempat ia memarkirkan sepeda miliknya. Tesa memang selalu berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda miliknya, berbeda dengan Hana yang selalu diantar dan dijemput. Entah itu oleh Abian kekasihnya atau pun Dinar kawannya. Mengembuskan napas lega, ia menggiring sepeda ungunya keluar dari pelataran parkiran sekolah. Kakinya memang sudah sembuh. Hanya tersisa luka lecet yang sudah mengering di tubuhnya. Bahkan ia sendiri heran, bagaimana dirinya bisa sembuh secepat itu. Sistem metabolisme tubuhnya memang benar-benar ajaib, dan Tesa lagi-lagi bersyukur atas hal itu. "Uh, selamat," lirihnya. Ia hendak menaiki sepedanya. Namun, niatnya ia batalkan ketika suara yang amat ia kenal menginterupsi. "Mau ke mana lo?" Tesa menoleh, wajahnya sudah memerah ingin menangis. Ia kira dirinya sudah lolos. Namun, ternyata salah besar. "Gue nunggu lo dari tadi, dan lo mau ninggalin gue gitu aja?" pekik Abian marah. "Aku gak ada urusan sama kamu, please jangan ganggu aku!" Tesa mengatupkan kedua jemarinya di depan d**a. Memohon pada Abian dengan tatapan memelas. "Tapi, gue ada urusan sama lo. Ayo!" Abian menarik paksa tangan Tesa. Lelaki itu mengajak Tesa ke depan ruang UKS. "Ngapain ke sini?" tanya Tesa penasaran. Abian menghentikan langkahnya mendadak hingga Tesa yang melangkah di belakangnya terjatuh karena menabrak tubuh kokoh Abian. Abian hanya melihatnya tanpa mau membantu. "Kalo berhenti itu bilang, sakit tahu!" keluh Tesa. Ia menepuk-nepuk rok seragamnya yang kotor setelah berhasil berdiri. Tesa memandang manik mata Abian dengan tatapan jengkel. Namun, dirinya tak menyangka jika Abian akan membalas tatapannya. Sebenarnya Abian sudah lebih dahulu memandangi Tesa. Namun, gadis itu tak menyadarinya. Mereka bertukar pandang. Tesa terhipnotis oleh tatapan Abian yang menyejukkan. Namun, ia tersadar dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sebenernya, gue suka sama lo udah dari lama .... " ungkap Abian. Tesa menyimak ucapan lelaki di depanya itu. Ia hanya diam, karena ia tahu ucapan Abian masih berkelanjutan. "Gue juga tahu kalo lo sebenernya udah suka sama gue sejak kelas sepuluh," tambahnya. Tesa meneguk salivanya kasar. Ia ketahuan. Apakah rasa yang ia miliki terhadap sosok di depannya ini sangat kentara hingga ia bisa mengetahui perasaan Tesa padanya sejak dua tahun yang lalu? Tesa gundah. "Jangan ngawur!" Tesa memaksakan tawanya ketika berucap. Namun, Abian malah menatapnya dalam. "Gue serius!" Abian berkata dengan mantap, masih tetap memandangi Tesa. "Lo juga suka, 'kan sama gue?" tanya lelaki itu. Bahkan kini tangan Abian terulur untuk memegang kedua jemari Tesa. Tesa melepas genggaman tangan Abian di jemarinya. Ia melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah. Menjaga jarak dengan Abian. Apa ini, Tuhan? Aku juga mencintai lelaki di hadapanku ini. Tapi ia milik kakakku, Hana. Apa yang harus aku lakukan? Apa ini caramu mendekatkan ia denganku? Tesa meraung dalam hatinya. "Kamu ... kamu pacar kak Hana. Gak seharusnya kamu ngomong hal kayak gitu ke aku!" hardik Tesa. Gadis itu berbalik dan hendak pergi. Namun, "Gue bakal putusin Hana kalo lo nolak gue!" Ancaman Abian berhasil membuat tubuh Tesa kaku. Tesa mendaratkan tamparan di pipi kiri Abian. "Kamu tahu kenapa dalam permainan catur hanya ada raja, bukan ratu? Karena wanita tak pantas untuk dijadikan permainan!" sinis Tesa tepat di wajah Abian. "Gue serius sama ucapan gue! Gue pengen lo jadi cewek kedua gue!" Perkataan Abian membuat amarah Tesa tak terkendali. Angin tiba-tiba saja berhembus kencang ke arah mereka berdua. Abian yang melihat perubahan udara yang sangat drastis mendadak cemas. Ia takut jika ada badai atau angin topan mendekat. Namun, hal itu hanya terjadi beberapa saat, setelahnya semua kembali normal. "Iya, aku memang suka kamu dari dua tahun yang lalu .... " Tesa menghela napas kasar lalu melanjutkan ucapannya. "Tapi aku masih sadar batasanku. Kamu milik kak Hana, dan aku tak ingin membuat kakakku memusuhiku hanya karena seorang pria." "Aku tidak menyangka seorang Abian yang dulunya aku kira baik, ternyata sebusuk ini. Dasar tidak punya hati!" decak Tesa. Abian tersenyum menang setelah Tesa selesai bicara. Hal itu membuat Tesa bingung sendiri. Namun, tiba-tiba saja suara tepuk tangan terdengar. Tesa terkejut mendengarnya. Dinar, Ana dan Ira muncul entah dari mana. "Wah, wah, wah. Akhirnya ada yang udah kena jebakan dari gue, nih!" celetuk Dinar. Gadis itu tertawa, begitu juga kedua temannya. Sementara Abian hanya berdiam diri. Dinar mendekat ke arah Abian. "Thanks udah bantu gue, ya, brother. Lo boleh pulang sekarang!" ujar Dinar. Lelaki itu langsung saja melangkah meninggalkan keempat gadis yang masih berdiri di depan ruang UKS. Sebelum pergi, ia menatap Tesa dengan tatapan remeh dan menggerakkan bibirnya membentuk kata "mampus" tanpa suara. Sementara Tesa meneteskan air matanya melihat hal itu. Ia bahkan tak sadar jika liquid bening miliknya sudah meluncur bebas ke pipinya hingga dagu. Abian yang melihatnya sedikit terkejut. Namun, ia memilih mengabaikannya dan berlalu karena urusannya sudah selesai. "Gue udah ngerekam seluruh percakapan lo sama Abian," tegas Dinar. Gadis itu berjalan mendekati Tesa. Tangannya tergerak untuk memegang helaian rambut Tesa. "Urusan kita masih belum selesai, Tesa. Gue bakal kirim ini ke Hana, gimana reaksi Hana kalo dia tahu adiknya mau nikung dia, ya?" Dinar memainkan rambut Tesa sambil mengancamnya. Tesa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia memohon pada Dinar agar tidak menyebarkan rekaman itu pada kakaknya. Akhirnya Dinar membuat sebuah kesepakatan dan Tesa dengan terpaksa menyetujuinya. Dinar dan kedua temannya pergi dari sana, sementara Tesa hanya merutuki kebodohannya dan berjalan mengambil sepedanya yang ia geletakkan begitu saja di depan sekolah. "Rencana yang kita susun, perlahan-lahan mulai berhasil!" ucap Dinar pada seseorang lewat telepon. Lalu ia mematikan sambungan dan mengantongi ponselnya sambil tersenyum licik. to be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD