Sebelas

1211 Words
"Bagaimana keadaan Tesa, ya?" gumam Sora. Lelaki itu memikirkan Tesa sejak tadi. Bahkan ia bingung mengapa tiba-tiba ibu Tesa mengusirnya dari toko roti. Bahkan Yuki, mengancam Sora agar lelaki itu tidak mendekati putrinya. "Apa salahku? Aku hanya ingin berteman dengan Tesa. Siapa tahu dia bisa membantuku mencari mutiara yang hilang," dengus Sora. Lelaki itu mencebikkan bibirnya tanda sedang berpikir. "Waktuku hanya tinggal sedikit. Jika aku tidak bisa menemukan mutiara yang hilang itu, Paman pasti akan memenggal kepalaku." Sora bergidik ngeri ketika membayangkannya. Sora de Saińt. Lelaki tampan dan baik hati. Ia bukan berasal dari bumi, melainkan dari planet yang sangat jauh. Planet yang ia tinggali bernama planet Bayana. Planet yang jauh dari galaksi bima sakti. Planet Bayana tidak dapat terlihat karena berada di dimensi lain. Bahkan atronot pun tak dapat mengetahui adanya planet itu. Karena letaknya berada jauh di balik lubang cacing. Sora, lelaki itu sudah dua bulan berada di bumi. Ia sudah mengelilingi beberapa negara demi mencari mutiara yang hilang. Sebuah misi yang diberikan oleh pamannya padanya. Sora berjalan menuju balkon kamarnya. Rumah mewah yang ia tempati selama kurang lebih dua minggu. Menatap langit yang dipenuhi oleh jutaan bintang. Juga bulan purnama yang sangat indah. Angin yang berhembus semilir membuat rambutnya bergerak. Menutup matanya dan merasakan belaian angin di wajahnya. Ia kembali menghela napas kasar. Sora mendudukkan dirinya di atas lantai balkon. Ia kembali termenung. Ia merasa kesepian selama di bumi. Misinya terlalu sulit baginya. "Kenapa penghuni planet Bayana tidak pindah saja ke bumi? Bukankah bumi juga tak kalah indah dengan Bayana?" pikirnya. Setelah beberapa menit duduk di balkon, Sora kembali masuk dan menutup pintu. Udara malam yang semakin dingin membuatnya ingin segera menarik selimut menutupi tubuhnya. Kantuk mulai menyerang Sora. Namun lelaki itu masih sulit memejamkan mata. Bayangan Tesa hadir dalam pikirannya. "Aku jadi merindukan gadis itu," lirihnya. Sora memang kesepian selama tinggal di bumi. Karena ia terlalu fokus dalam misinya. Namun, setelah bertemu dengan Tesa, ia merasa memiliki teman. Meskipun mereka baru bertemu dua kali, tapi Sora merasa Tesa adalah gadis yang baik. Membenarkan posisi tidurnya, ia mencoba memejamkan matanya hingga tertidur pulas. ***** Pagi ini suasana rumah Tesa tak sehangat biasanya. Tak ada tawa atau candaan yang terselip ketika mereka sarapan. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang memenuhi ruangan. Mereka bertiga makan dengan diam. Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Tesa sudah selesai menghabiskan makanannya. Ia hendak berangkat ke sekolah. Namun, Yuki menahan gadis itu. "Mulai hari ini kalian akan Mama anter jemput!" titah Yuki. Tesa yang mendengarnya hendak memprotes. Namun, Hana sudah membuka mulut mendahuluinya. "Mama gak bisa gitu ,dong! Hana udah janji bakal berangkat bareng Abian hari ini," protes Hana, putri sulungnya itu dengan wajah cemberut. "Ya udah kalau gitu Tesa ikut kalian, pulang sekolah biar Mama yang jemput. Gak ada bantahan!" tegas Yuki. "Tapi, Ma .... " Tesa ingin mengutarakan suaranya. Namun, belum selesai ia bicara, sang ibu sudah memberikan tatapan tajam agar anaknya menuruti perkataannya. Tesa hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tak mungkin bisa membantah perkataan ibunya. Walaupun ia masih marah pada ibunya. Namun, ia masih tahu batasan. Tesa tak ingin menjadi anak durhaka yang melawan ibunya. Mati aku, mau ditaruh di mana mukaku kalau ketemu Abian? Kejadian kemarin sungguh mempermalukanku. Awas saja kalian, aku akan membalasnya! batin Tesa. Gadis itu bertekad akan membuat perhitungan untuk Abian, Dinar dan teman-temannya karena sudah berani menjebak dirinya. Kini Hana dan Tesa tengah menunggu Abian datang untuk menjemput mereka. Beberapa menit menunggu, deru mobil terdengar mendekat. Hana dan Tesa keluar dari dalam rumah. Abian turun dari mobilnya dan berjalan ke arah Hana dan Tesa. "Udah siap?" tanya Abian basa-basi. Hana hanya mengangguk lalu menggandeng lengan Abian. Mereka berdua berjalan meninggalkan Tesa sendirian yang masih berdiri di depan pintu. Gadis itu terlalu gengsi untuk berbicara. Sementara Hana, ia sungguh tidak peka pada sang adik. Tesa jadi geram sendiri. Pagi-pagi melihat kemesraan mereka berdua membuat hatinya panas saja. Walaupun ia bilang jika ia membenci Abian. Namun, tak bisa dipungkiri jika di hatinya masih penuh oleh lelaki itu. Hana dan Abian sudah masuk ke dalam mobil. Sementara Tesa hanya melihat mereka berdua tanpa ada niat mengikuti. "Tesa, ayo! Ngapain masih bengong di situ?" ajak Hana. Gadis itu melambaikan tangannya pada Tesa. Tesa yang tersadar hanya tersenyum. Lalu ia berjalan menuju jok belakang mobil dan masuk. "Gak papa, 'kan Tesa ikut? Mama yang nyuruh soalnya," tanya Hana pada Abian. Gadis itu bergelayut manja di lengan Abian. Lelaki itu hanya mengangguk setuju saja. Ia melirik Tesa yang ada di belakang melalui kaca depan mobil. Setelahnya mobil yang ditumpangi tiga manusia itu bergerak membelah ramainya jalan kota. Di dalam mobil, Tesa hanya diam. Ia hanya menyimak pembicaraan tidak penting antara kakak perempuannya bersama sang kekasih. Sungguh dirinya sangat tersiksa. Kenapa ibunya tak mengizinkannya berangkat sekolah sendiri seperti biasa saja? Ia lebih memilih mengayuh sepeda kesayangannya menuju sekolah dari pada harus menjadi nyamuk di dalam mobil dan melihat kemesraan yang dipamerkan kakaknya dan Abian. Apa mereka sengaja membuatku panas? Pagi-pagi udah sarapan api cemburu, gerutu Tesa dalam hati. "Kenapa diem aja dari tadi?" tanya Abian tiba-tiba padanya. Tesa langsung menatap mata Abian lewat pantulan kaca depan. Ya, lelaki itu juga memandangnya dari sana. Lalu Abian tersenyum miring ke arah Tesa. Gadis itu terkesiap. Ia yakin setelah ini hidupnya tidak akan tenang. "Hanya bosan, kenapa mobil ini lelet banget? Tahu gitu aku berangkat bareng si ungu aja lebih cepet," keluh Tesa. Namun, keluhan itu dibalas tatapan tajam oleh Hana. Gadis itu menegur adiknya yang bicara keterlaluan terhadap Abian. Tesa hanya meringis kecil lalu meminta maaf setelahnya. Akhirnya hal yang ditunggu-tunggu oleh Tesa datang juga. Mobil Abian sudah masuk ke pelataran parkiran sekolah. Dengan cepat ia mengambil tas miliknya yang ia taruh di samping badannya lalu bergegas turun ketika mobil sudah berhenti dan terparkir rapi. Sebelum keluar tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Abian karena mau memberikan tumpangan. Namun, dengan nada malas. Setelahnya ia berlari masuk ke sekolah. Menuju kelasnya dan ingin tidur sebentar. Namun, hal itu hanya tinggal angan, karena di tengah perjalanan ia dicegat oleh Dinar dan dua temannya. Tesa hanya mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal. "Mau kemana lo?" tanya Ira dengan volume suara tinggi. "Ke kelas, sana minggir!" jawab Tesa asal. Gadis itu mengibaskan tangannya menyuruh ketiga manusia itu agar minggir. Namun ketiganya hanya bergeming di sana. Dinar melangkah mendekati Tesa. Kini dirinya berada di hadapan gadis itu. "Jangan lupa sama kesepakatan kita kemarin!" bisiknya di telinga Tesa. Lalu setelahnya Dinar dan kedua temannya pergi begitu saja tanpa menjahili Tesa sedikit pun. "Hah? Aku selamat kali ini?" ujar Tesa tak percaya. Bahkan mulutnya terbuka, menganga karena hal itu. "Aku yakin mereka pasti punya rencana lain buat ngerundung aku lagi. Kamu gak boleh lengah Tesa! Semangat!" Tesa menyemangati dirinya sendiri. Lalu setelahnya kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda untuk masuk ke kelas. Menghempaskan dirinya di kursi miliknya. Ia melirik bangku Hana dan Dinar. Bangku itu masih kosong. Tentu saja, Hana belum masuk ke kelas. Bagaimana jika kak Hana tahu kalau Dinar, Ana dan Ira adalah orang yang selalu merundungku dari awal aku masuk ke sekolah ini. Apa dia bakal meninggalkan teman-temannya demi aku? Atau malah sebaliknya? pikir Tesa. Kepalanya sakit. Ia pusing memikirkan semua hal. Tiba-tiba bayangan Sora mengusik pikirannya. "Sora, aku kangen kamu," lirihnya sembari menatap langit yang mulai mendung. to be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD