Tiga

1207 Words
"Tesa kamu ke mana aja? Kakak nyariin kamu dari tadi. Kakak khawatir tahu sama kamu!" sungut Hana setelah melihat Tesa dari kejauhan. "Aku tadー" Belum selesai Tesa menyuarakan jawabannya, Hana sudah memberondongi dirinya dengan berbagai pertanyaan hingga membuat kepalanya kembali berdenyut. "Kamu kenapa? Kok dahinya sampe lebam gini? Trus baju kamu juga robek sebelah. Kamu habis dari mana? Ada yang ganggu kamu? Siapa? Kasih tahu kakak!" cerocos Hana pada adiknya. Iya kak, aku habis dirundung sama temen kak Hana, balasnya dalam hati. "Kok diem?" tanya Hana menyelidik. Mata gadis itu menyipit seolah sedang curiga pada adiknya. Tesa menggeleng pelan. Ia berbohong pada kakaknya dan mengatakan bahwa tadi dirinya terjatuh ketika sedang berada di toilet dan bajunya tersangkut paku hingga robek. Hana hanya mengangguk saja meskipun ia tak percaya dengan jawaban sang adik. Ia melihat dengan jelas jika robekan di bajunya sangat rapi, tidak mungkin jika itu karena tersangkut paku. Apalagi, di toilet mana ada paku? Ia akan menyelidikinya nanti saja, untuk saat ini ia hanya akan diam. Mungkin adiknya akan menceritakannya nanti ketika mereka sudah di rumah. Hana menggandeng Tesa ketika memasuki kelas, seolah Tesa adalah anak kecil yang bisa saja tersesat jika berjalan seorang diri. Tesa hanya menggeleng pelan melihat tingkah kakaknya. Dalam hati ia bersyukur memiliki kakak sebaik Hana, namun ia juga mengumpat karena kebaikan yang Hana miliki malah dimanfaatkan oleh orang jahat seperti Dinar. Hana duduk di samping Tesa. "Kamu tahu di mana Dinar, Ana sama Ira gak? Dari tadi mereka ngilang setelah ada gempa di kantin," tanya Hana mengawali percakapan keduanya. "Mmm, aku gak tahu kak," jawab Tesa. Maaf kak, Tesa harus bohong, sambungnya dalam hati. "Kamu beneran gak papa kan, Dek?" ulang Hana. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan adiknya. Lagi-lagi Tesa berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal dalam batinnya ia tengah berteriak menahan sakit dan nyeri yang melanda. Entahlah, Tesa tak mengerti kenapa kepalanya terasa sangat nyeri. Padahal biasanya tidak seperti itu. Tesa yakin sakit kepala yang menderanya bukan akibat dari benturan di toilet beberapa waktu lalu. "Kamu mau ke UKS aja apa gimana? Biar lukanya diobati," saran Hana. Ia menyentuh luka lebam di dahi sang adik dengan tatapan ngeri. Bibirnya meringis ketika berhasil menyentuhnya. Namun Tesa tak merasakan apapun dari sentuhan itu. Mata Hana terbelalak saat ia sadar bahwa hidung Tesa sedikit merah, seperti ada darah kering yang menempel. "Tesa, kamu yakin gak papa?" tanya Hana dengan tatapan mata yang serius. Tesa yang menyadari perubahan mimik wajah Hana menjadi gugup sendiri. Ia bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, Hana tidak. "Kamu habis mimisan? Kamu kenapa?" sentak sang kakak. Tesa tercengang. Ini pertama kalinya Hana membentaknya lagi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. "Kalau Tesa jujur, apa kakak bakal percaya? Engga kan, Kak? Kakak pasti malah ngiranya aku yang sandiwara," kesal Tesa. Gadis itu memberengutkan wajahnya. Hana meminta maaf pada adiknya. Ia tak berniat membentak Tesa, hanya saja dirinya terlalu khawatir. Tesa hanya mengangguk pasrah kemudian menelungkupkan tangannya di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di sana. Ia sudah paham akan sifat sang kakak. Jadi lebih baik mengalah untuk saat ini. Tak lama, bel masuk berdering dengan nyaring. Hana kembali duduk di mejanya yang berada di barisan kedua dari depan setelah ja memastikan bahwa adiknya baik-baik saja. Seorang guru masuk beberapa saat setelah bel berbunyi. "Baiklah anak-anak sebelum Bapak mulai materi pada pertemuan kali ini, alangkah baiknya kita berdoa," ujar guru tersebut. "Menurut kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai!" sambungnya. Setelahnya sang guru mengakhiri sesi doanya dan memulai materi. Tesa mendengarkan materi dengan seksama. Pasalnya, mata pelajaran kali ini adalah favoritnya. Seni. Ia menyukai semua hal tentang seni, entah itu seni rupa, seni musik dan seni-seni lainnya. Apalagi gurunya yang satu itu selalu menyempilkan guyonan-guyonan miliknya agar siswa tidak jenuh dengan materi yang ia ajarkan. Namun di tengah ia menerangkan materinya. Ia baru menyadari bahwa tiga bangku di barisan kedua dari depan itu kosong. Hanya ada tas yang tergeletak di sana. "Siapa yang tidak hadir di kelas saya?" tanya guru itu dengan suara berat khas miliknya. "Dinar, Ana dan Ira, Pak," jawab salah satu murid lelaki. Pak Andri yang merupakan guru seni itu menganggukkan kepalanya lalu bertanya lagi siapa yang tahu kemana perginya ketiga siswa itu. Namun hanya gelengan yang ia dapatkan sebagai respon. Semua siswa yang ada di kelas itu tak ada yang tahu kemana perginya ketiga gadis itu. Ada beberapa siswa yang bertanya pada Hana, karena biasanya Hana akan selalu bersama mereka bertiga. Namun gadis itu sendiri juga bingung kemana perginya ketiga temannya. Sang guru memberikan tugas kepada para siswa untuk melukis sesuatu dengan konsep tiga dimensi sesuai dengan materi yang ia sampaikan pada pertemuan hari ini. Sementara beliau pamit ke luar kelas untuk menemui guru konseling. Pak Andri melaporkan ketidakhadiran Dinar, Ana dan Ira di kelasnya. Setelah itu kembali lagi menuju kelas XII IPA 2 untuk melanjutkan materi yang sempat terpotong. Sedangkan sang guru konseling mencari ketiga siswa yang membolos di tengah jam pelajaran berlangsung. Pak Andri berjalan mengelilingi meja untuk mengecek satu per satu lukisan siswanya. Tak jarang guru lelaki itu memberikan arahan yang benar untuk para siswanya agar lukisan yang mereka ciptakan tampak seperti benda asli. Pak Andri berhenti untuk memeriksa pekerjaan milik Tesa. Guru itu terkagum akan hasil lukisan miliknya. Pak Andri memberikan sedikit saran dalam pewarnaan agar terlihat natural. Tak lupa guru itu melontarkan kalimat pujian yang diperuntukkan bagi Tesa. Tesa yang dipuji oleh gurunya hanya bisa tersenyum dan menunduk malu, ia mendengarkan setiap arahan gurunya agar hasil lukisannya tampak seperti nyata. Setelahnya pak Andri kembali berkeliling. Sudah hampir satu jam berlalu, beberapa siswa telah menyelesaikan lukisan mereka di atas kertas gambar. Lalu satu persatu dari mereka mulai mengumpulkan hasil karyanya ke meja guru. "Bagi yang belum selesai, cepat selesaikan karena waktunya sebentar lagi," ujar pak Andri. Suara pintu yang diketuk membuat semua atensi menoleh ke asal suara. Ternyata di sana sudah ada bu Indira sang guru konseling. Beliau berdiri di tengah pintu, namun ia tak sendiri melainkan bersama tiga gadis. "Maaf mengganggu waktunya, Pak, anak-anak," ujarnya ramah. "Saya cuma mau mengantarkan Dinar, Ira dan Ana kembali ke kelas," sambungnya. "Anak-anak, cepat masuk kembali ke kelas!" titahnya. Lalu ketiga siswa yang disebutkan namanya oleh guru itu berjalan masuk ke dalam kelas. Semua siswa yang ada di dalam kelas tertawa dengan keras melihat mereka bertiga. Tentu saja, penampilan Dinar, Ana dan Ira saat ini terlihat sangat buruk. Baju yang compang camping di beberapa bagian, rambut yang acak-acakan seolah habis diserang oleh tornado, juga beberapa luka kecil di pipi dan lengan. Hal itu sontak saja memicu tawa dari kawan-kawannya. Mereka bertiga berjalan dengan langkah cepat menuju meja masing-masing dengan pandangan menunduk menatap lantai. Tesa tertawa dalam hatinya. Sukurin kalian, batinnya senang. Setelah mengantar Dinar dan kedua temannya, bu Indira pamit undur diri. Sementara pak Andri menceramahi ketiga siswanya karena sudah membolos di mata pelajarannya. Semua yang ada di sana penasaran apa yang sebenarnya ketiga gadis itu lakukan atau apa yang terjadi pada mereka hingga membuat mereka jadi seperti itu. Namun ketiganya tak ada yang membuka suara ketika ditanya. Dengan sorot penuh dendam, Dinar menatap Tesa dengan tatapan seolah ia akan memakan gadis itu hidup-hidup. Sementara Tesa hanya meliriknya sekilas dan tersenyum simpul. Setelahnya gadis itu kembali sibuk dengan pekerjaan miliknya. to be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD