Empat

1264 Words
Tesa tengah berdiri di depan cermin rias miliknya di dalam kamar. Dirinya memang sudah pulang dari sekolah beberapa waktu lalu. Ia merasakan tubuhnya kembali segar setelah selesai mandi. Ia mengenakan kaos putih polos dengan lengan panjang dan celana jeans belel. Mengoleskan lipbalm di permukaan bibirnya lalu kembali melihat pantulan dirinya di cermin. Tesa Amora. Gadis itu sebenarnya sangat cantik. Memiliki manik mata berwarna almon, rambut hitam bergelombang dengan panjang setengah punggung juga bentuk tubuh yang ideal. Tinggi badannya sekitar 163 cm dengan berat badan 45 kg. Wajahnya juga menjadi nilai plus bagi dirinya. Alis yang tak terlalu tebal, garis rahang yang kuat, hidung bangir juga bibirnya yang tipis. Meskipun hanya mengenakan lipbalm tanpa make up lain, wajahnya tetap terlihat cantik dengan natural. Ia memang jarang memakai riasan wajah kecuali untuk acara tertentu. Ia menguncir kuda rambut gelombangnya lalu menutupinya dengan topi berwarna putih. Setelahnya ia keluar dari kamar. Setiap hari sepulang dari sekolah, Tesa memang selalu membantu sang ibunda di toko roti miliknya. Tak besar memang, namun, dari sanalah sang ibunda mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk menghidupinya dan sang kakak. Berjalan keluar dari rumah lalu langkahnya tertuju pada garasi kecil di sebelah rumahnya, ia mengambil sepeda kayuh miliknya yang berwarna ungu kemudian mulai mengayuh sepedanya menuju ke toko roti. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit dengan sepedanya, akhirnya ia sampai. Ia parkirkan sepeda miliknya di tempat biasa lalu berjalan menuju toko roti. Lonceng berbunyi tanda pintu toko roti di buka. Tesa melangkah masuk dan langsung menuju ke kitchen pembuatan roti. Di sana, ia disambut ramah oleh dua karyawan yang bekerja di toko. Mereka berbincang sebentar lalu kembali bekerja ketika ada pelanggan. Tesa langsung menelusuri dapur untuk mencari ibunya. Matanya kemudian menangkap sosok sang ibu tengah memanggang roti. Tesa menghampiri ibunya lalu memeluknya dari belakang. "Halo, Mama cantik!" sapa Tesa pada ibunya. Yuki Amora. "Kapan sampai, Sayang?" Yuki membalikkan badannya lalu menatap sang anak. "Baru aja, Ma," jawabnya sambil melihat-lihat pekerjaan sang ibu. Tadi Tesa diberitahu oleh salah satu karyawan sang ibu jika hari ini banyak pesanan roti dari pelanggan. Tesa mencuci tangannya agar higenis lalu mengambil apron dari gantungan dan memakainya. Ia akan membantu membuat roti pesanan agar lebih cepat. Ia juga ingin mengurangi beban yang ditanggung sang ibu. Ia tak ingin sang ibu kelelahan bekerja. Menjadi single parent memanglah berat. Namun, ia tak pernah sekalipun mendengar satu keluhan yang keluar dari mulut Yuki, ibunya. Dengan cekatan, ia mulai memasukkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat roti dan mengaduknya dengan mixer besar. Cetakan-cetakan kue kering melayang di atas udara, lalu mendarat tepat di atas adonan yang sudah di giling tipis dengan rol roti. Lalu setelahnya cetakan tadi mulai menekan diri mereka sendiri agar adonan dapat terbentuk dengan rapi. Roti-roti yang sudah matang keluar sendiri dari dalam oven setelah pintu oven terbuka dan melayang menuju meja pantri. Hal itu terus menerus terjadi selama kurang lebih dua jam. Yuki yang melihat hal itu langsung memelototkan matanya dan menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Wanita itu berdecak melihat kelakuan anak bungsunya. "Pakai tenaga sendiri, dong! Buat apa pake apron kalau kamu gak bakalan kotor?" Tesa hanya tersenyum menyengir mendengar ucapan ibunya. Dengan wajah polosnya, ia menatap sang ibu lalu berkata, "Biar cepet, Ma." Ia tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Kebiasaan kamu, ya. Inget, kamu harus hati-hati dalam menggunakan kemampuan kamu ya, Sayang. Jangan sampai kejadian di masa lalu terulang kembali!" pesan Yuki pada sang putri. Tesa menganggukkan kepalanya sekali dengan mantap. Lalu berdeham menanggapi pesan yang disampaikan ibunya. Kue dan roti yang sudah matang kemudian di packing oleh kedua karyawan toko untuk diantarkan ke pelanggan yang memesan. Tesa tampak asik dengan pekerjaannya membuat adonan. Pipi kirinya yang terkena tepung terigu membuat wajah gadis itu tampak lucu karena cemong. Apron miliknya juga sudah tak sebersih tadi. Karena kini, gadis itu membuat adonan dengan tangannya sendiri. Tanpa bantuan kemampuan khusus miliknya, yakni telekinesis. Yuki yang melihat hal itu tergoda untuk mengerjai sang anak. Ia mencelupkan jemarinya ke dalam tepung lalu mengoleskannya di wajah cemong milik putrinya. Tesa yang kesal akhirnya membalas perbuatan ibunya. Akhirnya terjadilah perang terigu di dapur hingga membuat dapur berantakan. Semua kue dan roti sudah jadi juga sudah diantar oleh karyawan delivery. Tugas Tesa kini telah selesai. Ia membersihkan diri di kamar mandi dan melepas apron miliknya. Lalu ia membersihkan kekacauan yang ia buat. Ia memikirkan sapu yang tergantung di pojok ruangan, melayang dan mulai menyapu kotoran. Dan sapu itu mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Tesa melalui pikiran. Namun salah satu karyawan mendadak masuk membuat konsentrasi Tesa buyar. Sapu yang tadinya masih melayang kini sudah tergeletak di tengah dapur. Tesa terkejut. "Kenapa, Mba?" tanya Tesa was-was. "Mau cari Ibu, Mba pikir di dapur ternyata gak ada," balasnya kikuk. "Mama ada di ruangannya, Mba," jelas Tesa dengan senyum mengembang di wajahnya. Karyawan tadi mengucapkan terima kasih lalu menutup pintu dapur dan meninggalkan Tesa sendirian di sana. Menghembuskan napas lega, Tesa bersyukur karena dirinya tidak ketahuan. Untung gak ketahuan, batinnya sambil memegang dadanya. Detak jantung yang tadinya berpacu dengan cepat, kini kembali normal. Tesa kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ia memerintahkan sapu itu untuk kembali menyapu ruang dapur. Setelah selesai, kini giliran air kran wastafel yang menyala, spons mulai bergerak membersihkan semua barang-barang yang kotor. Setelah dicuci dan dibilas, alat-alat untuk membuat kue dan roti tadi bergerak ke lemari dengan rapi. "Selesai, deh," ujar Tesa bangga. Gadis itu keluar dari dapur lalu mendekat ke etalase kaca dan menyomot satu roti lalu memakannya karena ia lapar. Ketika sedang asik makan, Tesa tanpa sengaja melihat seorang lelaki yang berjalan melewati depan toko roti ibunya. Lelaki itu tampak kebingungan dan tengah mencari sesuatu. Tesa hendak menghampirinya. Namun, lelaki tadi sudah pergi. Ganteng banget, batin Tesa sambil membayangkan wajah lelaki itu. Akhirnya gadis itu terhanyut oleh khayalan yang ia buat sendiri. Namun lamunanya buyar karena sebuah tepukan di bahunya. "Hayoloh mikirin apa?" ujar seseorang yang menepuk Tesa. "Kak Hana ngagetin aja, deh," desis Tesa. Gadis itu memasang mimik wajah merajuk. "Habisnya ngelamun terus," balas Hana. "Kapan dateng, Kak?" Tesa menatap Hana ketika mengucapkannya. "Baru sampe, kok," balas Hana. "Mama di mana, Dek?" sambungnya, bertanya pada sang adik. Tesa mengarahkan telunjuknya ke ruangan pribadi sang ibunda. "Tuh!" ujarnya. Lalu Hana pamit pada Tesa dan berjalan ke kantor sang ibu. Gadis itu tak menyadari jika Hana datang bersama seseorang karena kakaknya itu hanya masuk sendiri. Tak beberapa lama, lonceng kembali berbunyi. Tesa melirik siapa yang masuk ke toko. Ia membelalakan matanya ketika tahu bahwa Abianlah yang datang bersama Hana. Hana keluar dari ruangan ibunya bertepatan dengan Abian masuk. Yuki juga ikut keluar menemani sang putri sulung. "Ya udah Hana pamit ya, Ma," ujar gadis itu lalu mencium tangan sang bunda. Ternyata Hana datang ke toko untuk meminta izin pergi bersama Abian. Tesa, ada perasaan sedih dan kecewa yang hinggap di hatinya saat ini. "Tesa gak diajakin sekalian?" tanya Yuki pada putri sulungnya. Hana tak langsung menjawab. Melainkan ia melirik ke arah Abian, kekasihnya. Abian menggelengkan kepalanya memberi kode pada Hana. Gadis itu tampak tak enak hati. Namun, semua itu tak luput dari penglihatan Tesa. Jadi sebelum Hana sempat menjawab, Tesa sudah mendahuluinya. "Tesa di sini aja sama Mama. Lagian Tesa capek, Ma, tadi habis nyuci loyang banyak banget." Gadis itu berpura-pura melakukan peregangan otot agar terlihat seperti benar-benar kelelahan. Namun, dalam hatinya ia ingin marah dan ingin memprotes sikap Abian padanya. Akhirnya Hana dan Abian pergi dari sana setelah pamit pada Yuki. Tesa, gadis itu mendadak juga ikut pergi entah ke mana. Yuki, wanita itu yang memahami perubahan raut wajah anak bungsunya hanya bisa menatap kepergian Tesa dengan khawatir. to be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD