[6] Sedikit Kejutan

2653 Words
"Lama berteman dengan luka, lama bersahabat dengan rasa sakit, lama bercengkrama bersama gelap, aku jadi belajar, bahwa sekecil kebahagiaan, itu penting adanya." —Bersama alam, dan kuhirup semua oksigennya. NADINE'S POV Aku masih gemetar. Setelah berjabatan tangan dengan pria di depanku, perasaanku makin tidak karuan. Kontak fisik pertama setelah tujuh tahun. Mataku dengan cepat menatap jarinya yang barangkali terselip sebuah benda kecil berbentuk lingkaran. Sebagai jawaban dari apa yang kutemukan, aku menghembuskan napas lega. Jari itu kosong. Benar saja, itu pasti hanya sebuah kebetulan. Setelah itu, aku tidak tahu harus apa ketika pak Adam memintaku untuk duduk berseberangan dengan Aldric, maksudku, Azka. Entahlah, entah sejak kapan aku enggan memanggilnya Aldric. Aku benar-benar tidak fokus. Tanganku memilih mencari keberadaan ponsel di dalam tas yang aku pangku. Sebisa mungkin aku menghindari tatapan pria itu. Ya! Dia terus saja menatapku. Tanpa ekspresi. Dan itu seratus persen membuatku tidak nyaman. Setelah mendapatkan ponsel, dengan cepat aku mengirim chat kepada Satria. Ponselku seketika berbunyi ketika panggilan Satria masuk. "Maaf sebentar," ujarku menatap tidak enak pada pak Adam. "Ka—kamu dimana?" Aku berbisik dengan kegugupan yang masih menyelimuti. "Cepetan, Sat. Please." "I'm wearing navy, okey?" Aku memutuskan panggilan dan berusaha memperbaiki pernapasan. Kupaksakan senyuman kepada pak Adam dan kulihat ia mengangguk samar. Aku harus segera mengatakan hal ini kepadanya. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan kerja sama sialan ini. Tidak jika ada pria di hadapanku. Ini sungguh sebuah lelucon sampah yang sengaja disiapkan takdir untuk membuatku kembali terluka. "Pak Adam-" "Nadine?" Aku menoleh ke belakang secepat kilat, kudapati Satria dan dengan segera aku berjalan mendekat ke arahnya. "Sat." Kupejamkan mata sambil berbisik ke arah Satria. "Kamu kenapa? Siapa, Nad?" "Aku mau balik ke hotel. Aku nggak bakalan kerja kalau ternyata pria itu terlibat, Sat. Aku bener-bener nggak bisa." "Dia di sini?" "Arah jam 12, kemeja hitam." "s**t!" Umpatan dalam bentuk bisikan milik Satria terdengar begitu jelas di telingaku. "Apa Anda baik-baik saja?" Aku menoleh gelagapan ketika Pak Adam datang mendekat. "Saya tidak bermaksud mengganggu acara Anda dan pacar Anda, tetapi apakah bisa meeting yang sama sekali belum dimulai ini kita mulai sekarang?" Aku menggigit bibir bagian dalam, bagaimana ini? Membatalkan kerja sama seperti ini tentu saja belum pernah kulakukan sebelumnya. Itu tidak professional, tapi Demi Tuhan, situasi yang terjadi sekarang akan membunuhku pelan-pelan. "Perkenalkan, saya Satria," ujar Satria sambil mengulurkan tangan ke arah pak Adam. "Adam." "Bisa kita bicara sebentar? Jika saling setuju, percakapan ini hanya akan memakan waktu lima menit, bahkan kurang dari itu." "Jangan tinggalin aku, Sat." Kurasakan genggaman Satria setelah itu, membelai lemput tanganku. Yang kulakuan hanya menurut karena aku benar-benar butuh Satria sekarang. "Baiklah." Setelah mendapat persetujuan dari Pak Adam, Satria mengajaknya keluar. Berbicara di depan restaurant ditemani sinar matahari pagi. Aku memilih membuang pandangan saat Satria mulai membuka suara, menatap jalanan yang mulai diisi oleh manusia yang berjalan kaki maupun berkendara. Kenapa bisa seperti ini? Kenapa cepat sekali pertemuan sialan ini. Membuatku bungkam seribu bahasa. Membasmi segala keberanian yang kubangun perlahan. Membabat segala bentuk keyakinan yang aku timbun di kepala. Lelaki itu memporak porandakan segalanya. Sadarkah dia? Sepertinya tanpa perlu bertanya, aku sudah mendapatkan sebuah jawaban. Lelaki itu sehat-sehat saja. Tidak seperti aku, yang kini begitu bergantung pada Satria. Bagaimana dia melewati tujuh tahun ini? Aku penasaran. Tapi rasa tidak berani dan takut yang menyelubungi tiap jengkal badanku membuatku bungkam. Aku menciut, keberanian yang aku bangun dan mungkin sudah sebesar raksasa pengejar timun mas berubah menjadi semut kecil halus yang selalu menghindar ketika bertemu tangan manusia. Untuk kali ini, aku akui aku kalah. "Nad, Nad." Aku tersentak ketika suara Satria memanggilku. "Kamu nggak apa-apa?" Aku menggeleng perlahan. "Baiklah, Nadine. Karena istri saya begitu berharap pada Anda, saya tetap ingin mempertahankan kerja sama ini. Maaf jika meeting kali ini membuat Anda tidak nyaman, dan saya pikir anda benar-benar butuh istirahat. Nanti akan saya beritahukan hal ini kepada istri saya, dan kalian bisa melanjutkannya di Jakarta." Aku hanya mengangguk. Satria pasti akan dengan senang hati menjelaskan hal ini kepadaku nanti. Aku hanya butuh guling sekarang. Benda yang selalu kupeluk tiap malam itu entah kenapa seperti memiliki magic tersendiri untuk membuatku tenang. Satria kembali mengajakku masuk karena tasku masih berada di dalam. Langkah demi langkah yang kuambil membuatku tidak tenang. Satria masih setia menggenggam tanganku. Dan tatapan Aldric—sialan, kenapa aku begitu sulit mengubah panggilan ini—tidak bisa k****a barang sedikit. Dia terlihat tenang dan terkontrol. Apa yang dia pikirkan? Aku membereskan sedikit bagian tasku yang berantakan, sebisa mungkin mencoba untuk fokus. "Aku bawa obat kamu." Satria gila. Kenapa dia mengatakan hal itu disini? Aku menatap Aldric—baiklah, terima kasih untuk diriku sendiri karena tidak bisa mengubah panggilan itu—berniat mengecek apakah dia mendengar perkataan Satria. Jika saja dia tahu, hidupku tentu saja berada di ambang jurang kematian. Aku tidak mau Aldric tahu, aku tidak mau dia menertawakan keadaanku. Kepalaku terasa sakit karena beban pikiran yang kian bertambah. Dan tanganku dengan gerakan handalnya mulai memijit kepala. "Nad, aku mohon jangan banyak pikiran." "Sat!" "Balik ke hotel, ya?" Aku memilih mengabaikan ucapan Satria. Memilih menatap pak Adam dan dengan ucapan maaf sebagai pendahulu, aku pamit. Tanpa berniat menatap Aldric, aku lalu berbalik, berjalan keluar restaurant. "Aku nggak butuh obat itu, Sat," ungkapku ketika sudah berada di taksi yang akan mengantar kami menuju hotel. "Nad, aku yang lebih tau." "Seriously? Ini diri aku, Sat. Aku yang lebih tau." "Kalau kamu tau, kamu pasti bisa ngendaliin diri kamu, Nad." "Damn you!" "Ayolah, Nad." "Aku cuma butuh kamu di samping aku, Sat. Aku cuma butuh kamu, Sean, Reva, buat selalu dampingin aku tanpa adanya obat sialan itu." Satria kali ini diam, tidak menanggapi kalimatku. Beberapa menit kemudian taksi tiba di depan hotel. Aku memilih keluar lebih dulu dan meninggalkan Satria di belakangku. Aku hanya ingin sendiri. Ketika mengira bahwa aku memang benar akan sendirian di dalam lift, sebuah tangan langsung saja menghadang gerakan dua besi yang akan saling menutup tersebut. Kenapa Satria cepat sekali? "Aku tau ketakutan kamu, Nad." Aku diam, malas menanggapi. "Pria tadi. Dia sahabat kamu di senior high school, kan? Dia ketakutan kamu. Kamu sadar kalau dia selalu merhatiin kamu tadi? Tapi matanya nggak bisa dibaca." "Iya, dia sahabat aku. Dulu banget. Aku suka sama dia. Dia suka sama adik aku. Sampai aku punya temen baru, cowok, dan dia suka aku. Tapi adik aku suka sama cowok ini. Rumit, kan? Nggak perlu kamu cerna. Semuanya sampah. Nggak penting. Bikin muak. Nggak guna." Aku memegang dadaku karena sesak tiba-tiba menyapa. Aku terdiam, kembali menutup mulut. Pertama kalinya aku jujur perihal hal ini kepada Satria. "Nad, cerita ke aku pelan-pelan kalau kamu rasa kamu sanggup." "Masalahnya, aku nggak sanggup, Sat." "Kita sarapan dulu, ok?" Aku diam, membuang muka ke arah lain. "Kangen mama, kangen papa," ujarku lirih. Ting! Lift terbuka, dan aku segera berjalan meninggalkan Satria. Aku benar-benar butuh mandi, setelah itu tidur. Lupakan makan untuk sekarang. Nafsu makanku hilang sejak pertemuan sialan tadi. Lupakan juga perihal berangkat menuju Ubud, aku hanya ingin kembali ke Jakarta dan memeluk mama papa. Rindu ini mencekikku. Setelah pasti kunci kamar tersebut terbuka, aku dengan cepat membuka pintu. Namun langkahku kembali ke belakang dan badanku goyah, beruntung Satria menahannya. Mataku membesar karena kaget yang tak bisa kujelaskan hanya dengan alfabet. Begitupun sepasang berumur di depanku yang kini tengah mempersiapkan kue beserta lilin juga balon-balon. Mama. Papa. Aku berlari ke arah mereka. Menangis seperti anak kecil yang tidak pernah mengerti apa-apa. Kupeluk erat tubuh mama, kusimpan kepalaku dalam hangat dadanya, kutumpahkan segala rasa rinduku. Di belakangku, papa ikut mendekap. Aku rindu mereka. Benar-benar rindu. "Anak mama udah gede." Suara mama yang bergetar membuat air bening itu makin berderai di kedua pipiku dan tak bisa dihentikan. "Makin cantik banget sulungnya mama." "Ma," panggilku tak kuasa. "Apa kabar princess papa?" "Papa," tangisku bagai bayi. "Kok nangis, sih, anak Papa cengeng." "Sulungnya Mama tinggian, ya. Gimana di sana? Kangen nggak sama mama? Kangen nggak sama papa?" "Maafin Nadine, Ma, Pa." "Maaf kenapa, Nak?" "Nadine minta maaf." "Princess Papa bener-bener bikin pangling." Entah berapa lama aku menangis dalam dekapan hangat mama papa. Semuanya lebih menenangkan sekarang. Jujur saja, aku merasa aman. Seperti beberapa kepingan puzzle dalam kehidupanku ditemukan. Mereka benar-benar harta berharga untukku. Tawa papa, candaan mama, senyum mereka, membuatku kembali merasakan rumah yang selama ini aku cari. Selama tujuh tahun, aku melarang kedatangan mereka. Aku tidak mau bertemu siapapun. Aku sadar betapa hidupku penuh dengan keegoisan. Rasa sesal ketika kepergian oma tiba-tiba saja menyergap, memintaku berlutut dan menyerah. Ya, saat di Jakarta nanti, aku akan mendatangi makam oma. Meminta maaf di sana. "Lulu tadinya mau ikut ke sini, tapi Lala nggak bolehin." Kini kudengarkan mama bercerita, dengan paha mama menjadi bantalanku. Papa, Satria, dan juga Reva tengah turun ke bawah, entahlah, mungkin saja tengah sarapan. "Tiap Lulu jauhin Lala, Lala nangis. Hari biasa kalau Lulu pergi sekolah, Lala jangan sampai liat soalnya bakalan bahaya. Sekarang juga liburankan, Lala makin merdeka. Masalahnya sekarang, Lala lagi nggak enak badan, makanya nggak bisa diajak kemana-mana. Mama juga nggak tau mereka bakalan nyusul apa enggak." "Lulu inget aku, Ma?" "Mama rasa enggak." "Aku juga mikir gitu." Mataku entah kenapa kembali memanas. "Aku ngerasa bersalah kaerna pergi lama banget. Ninggalin Lulu, nggak pulang waktu oma dimakamin, nggak pernah ngunjungin eyang." "Shh, udah. Yang penting kamu di sini sekarang." Aku diam, memikirkan apakah baik jika aku bercerita pada mama perihal pertemuanku dengan Aldric pagi ini. Namun setelah berpikir beberapa kali, aku memilih mengurungkan niat. Lain kali saja. Setelah itu, aku memilih memejamkan mata, merasakan usapan telapak tangan bidadari surga yang menyentuh tiap helai rambutku. *** "Kamu taukan kalau sebenernya istri Pak Adam yang punya urusan sama kamu?" "Awalnya orang tambahan yang dibilang sama Pak Adam itu, aku pikir istrinya." Aku menghela napas, menyesap sedikit es jerukku, ini manis. "Kamu bilang apa ke Pak Adam tadi?" "Aku nggak mungkin kasih tau keadaan kamu selaku pasienku ke siapapun. Itu sumpahku. Ya, aku cuma bilang kalau kamu lagi nggak enak badan. Badan kamu kaget sama perubahan cuaca, dan Pak Adam untung aja ngerti." Aku mengangguk paham, dan mulai menyentuh makanan di depanku. "Reva juga udah dapet kabar dari istrinya Pak Adam, dan udah susun jadwal juga buat pertemuan kalian di Jakarta nanti." "Bagus, deh." "Jadi apa rencana kamu nanti?" "Maksudnya?" "Kerjaan kamu." "Nggak taulah, mungkin freelance bakalan jadi kerjaan utama aku. Atau tetep jadiin itu kerjaan sampingan dengan nerima tawaran kerja yang dateng ke aku. Aku belum putusin itu." "Udah ada yang nawarin?" "Lumayan. Malah ada yang nawarin posisi bagus ke aku. Tapi kadang, aku kepikiran pengen punya butik sih. Jadi kayak nyiptain lapangan kerja gitu buat orang-orang. Ya, liat nanti ajalah. Gamau mikirin kerjaan dulu, capek." Kini kami tengah menikmati makan malam di tepi pantai. Ditemani banyak orang di sekeliling, suasana disini makin ramai. Aku menatap mama yang kini terlalu sibuk bercengkrama dengan ponsel. Sepertinya Lulu yang berada di seberang panggilan itu. Aku berpikir beberapa kali untuk meminta ponsel mama atau tidak. "Ma." Mama menatapku dan aku hanya memberi kode agar mama menyerahkan ponselnya padaku. "Ini Lulukan?" Mama tersenyum lalu mengangguk. Aku diam beberapa saat setelah meletakkan ponsel tersebut di telinga. Astaga! Kenapa jantungku harus berdetak tidak karuan. Ini hanya Lulu, demi Tuhan. "Oma Ka?" Suaranya. Dia tengah memanggil mama. Oma Rika maksudnya, hanya lebih dipersingkat. Aku menahan haru mendengar suara bocah ini, begitu lembut. Hal yang paling aku ingat dari Lulu ketika tidak sengaja ia buang air kecil di pakaian Aldric. Sudah lama sekali. "Hallo, Lulu." "He?" "Ini Nadine, inget nggak?" "Bunda!" Aku menahan senyum tatkala Lulu berteriak memanggil kak Riri, bundanya. "Ini, kayaknya temen bunda." "Hallo?" "Hallo, kak. Ini Nadine." "Ya ampun! Ini Nadine? Kamu apa kabar? Lagi dimana sekarang? Jangan bilang kamu juga di Bali?! Ya Tuhan, Nadine. Jadi mama papa kesana karena mau ketemu kamu ya, tau gitu Kakak ikutan, Nad." "Nadine baik. Iya ini lagi di Bali. Kangen banget sama Lulu. Lala gimana, kak? Nggak sabar mau ketemu dia. Kata mama Lala sakit?" "Lala ingusan, Nad. Kemarin Lulu bandel ngasihin es ke adeknya waktu kakak tinggal sebentar. Padahal tadinya kakak mau lepasin Lulu pergi bareng mama, tapi si Lulu baru naik mobil, Lala teriak kenceng banget. Lulu ikutan nangis karna gabisa pergi. Jadinya besok pagi kayaknya kita sekeluarga udah disana. Doain aja Lala baikan." "Serius, kak? Gila Nadine nggak sabar banget mau ketemu mereka." "Kamu baik-baik ajakan, Nad?" "Baik banget, Kak." Senyumku tak hilang setelah mendengar kabar bahwa kak Riri dan keluarga akan menyusul kemari. Dan kini kepalaku sibuk mengatur segala jadwal untuk kegiatan esok hari. "Kakak nggak sabar ketemu kamu." "Sa—" "Eh, Nad. Lalanya nangis lagi. Kakak tutup dulu, ya. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam," jawabku pelan. Padahal aku masih ingin mendengar suara Lulu. Sudahlah, besok kami juga akan bertemu. Aku mengembalikan ponsel kepada mama, setelah itu membuang pandangan ke sekeliling. Tidak sabar rasanya merasakan esok hari. "Nad." Aku menoleh ketika suara papa terdengar. "Kenapa, Pa?" "Beneran ada rencana diriin butik?" "Kita bahas di rumah aja ya, Pa. Nadine bener-bener lagi nggak pengen bahas kerjaan sekarang." Papa mengangguk dan tampak mengerti. Aku hanya lelah membahas pekerjaan. Karena tiap disinggung perihal tersebut, kepalaku dengan teratur akan mengingat kejadian pertemuanku dengan Aldric. Setelah itu, bagai sebuah rekaman yang tidak dapat di hentikan, suaranya, tatapannya, dan sentuhannya, kembali membuatku susah untuk bernapas. Pengaruh pria itu begitu hebat untukku. Sialan. Aku hanya ingin liburan ini dapat menjadi langkah utama bagi kesehatanku. "Eh, Mbak. Itu bukannya—" Aku langsung saja menoleh ketika Reva bersuara dan menatap ke satu arah. "—yang kemarin ituloh, Mbak." Dimi. Tidak jauh dari mejaku, aku kembali melihat bocah itu. Dia tampak makan bersama, ya sepertinya kedua orang tuanya. Tapi aku tidak dapat melihat jelas sepasang suami istri tersebut karena mereka membelakangiku. Seketika aku kaget ketika bocah lelaki itu melambaikan tangannya, kearahku?! "Dia ngelambai ke Mbak tuh." "Siapa, Rev?" Suara mama bertanya terdengar begitu penasaran. "Nggak tau jugasih, Buk. Soalnya kemarin ketemuan gitu doang karena bolanya masuk meja waktu kita makan. Terus Reva anterin ke omnya, mana ganteng. Sempet kenalan juga, namanya Azka." Aku menatap Reva dengan tidak menyembunyikan kekagetan. Ini benar-benar, Oh Tuhan, apa maksud ini semua? "Azka?" Kini suara papa terdengar tidak biasa. Seperti tidak terima bahwa nama pria itu disebut. "Iya, Pak." "Lengkapnya?" "Yah, Reva nggak tanyain. Kenalan nama panggilan doang." Aku hanya diam, mengabaikan tatapan mama juga papa. "Eh liat, Mbak, Dimi kesini." "Halo, Tante baik." "Eh, kamu. Nggak main bola lagi?" "Enggak dibolehin sama ayah." "Hai, Dimi. Omnya mana?" Aku menggigit bibir bagian dalam ketika Reva bertanya dengan mata penuh binar. Jangan katakan bahwa.. "Omnya Dimi pulang tante, kata ayah enggak enak badan. Jadinya enggak bisa lanjut liburan." "Yah, berarti nggak disini, ya?" "Iya, Tante." "Mau Tante anterin ke ayah sama bunda?" tawarku tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban Dimi, aku berdiri. Kugenggam tangan mungilnya yang halus, berjalan menuju mejanya. "Ayah, Bunda, liat deh tante baiknya nganterin Dimi kesini." Dan saat dua orang itu menoleh, tebakanku seratus persen benar. Kak Zeydan dan istrinya. "Nadine?" Kak Zeydan berdiri, mengulurkan tangan mengajakku bersalaman. "Apa kabar, Kak?" tanyaku tenang, lalu bergantian pada istrinya. "Baik. Kamu gimana?" "Berharap bisa baik." Sebenarnya aku begitu ingin mengutuk benda tidak bertulang ini. Kenapa bisa-bisanya menjawab pertanyaan orang-orang tentang keadaanku dengan jawaban yang berbeda-beda. "Azka cerita sama Kakak, kalau dia ketemu kamu. Awalnya kakak nggak percaya, cuma karena dia milih pulang, baru Kakak percaya." Mataku memanas seketika. Kenapa pria itu menghindar? "Dia kenapa, Kak?" "Udah lama dia kayak gitu, Nad. Jadi cuek, nggak pedulian, nggak mau nurut. Cuma sama mama dia nggak kayak gitu. Dia abisin waktu sama bola basket, abis itu lempar bolanya sembarangan, kaca gudang nggak tau udah berapa kali ganti." "Dia sehatkan, Kak?" "Secara fisik, iya. Kalau yang lain Kakak nggak tau." Astaga.. "Kenapa dia pulang, Kak?" "Dia bilang kalau, dia bahagia ketemu kamu, Nad. Sampai nggak bisa dijelasin pakai kata-kata, karena waktu tujuh tahun emang nggak sebentar." Air mataku tergenang, bersiap untuk tumpah. "Tapi nggak bisa dia hindar, kalau nyatanya dia masih kecewa. Mungkin kamu ngerti maksud dia." Aku menutup mata dengan telapak tangan, menangis terisak. Jangan tunggu gue, lupain gue. Karena gue milih buat nggak kenal sama lo lagi. Ya, pantas saja dia kecewa. ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD