[7] Lulu dan Ubud

1964 Words
"Kamu itu malaikat, Sat. Kamu itu jelas-jelas malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirim langsung." —Sore hari, dibalut indahnya tempat ruang kita bercengkrama. NADINE'S POV "LULU!" Teriakku ketika seorang gadis kecil dengan rambut panjang diikat dua terlihat. Lulu mengernyit menatapku, sedangkan aku tetap tersenyum dan mendekat padanya. Aku berdiri dengan lutut sebagai tumpuan agar tinggiku dapat setara dengan Lulu. Dia diam, terlihat jelas bahwa dia tengah kebingungan. Tidak peduli, aku memilih memeluknya erat beberapa saat. Dia tumbuh dengan baik, walaupun deretan gigi bawahnya sedikit tidak beraturan. Kulitnya putih bersih, rambutnya lembut, bibirnya tetap menggemaskan dengan warna pink alami. Ciri-ciri anak rumahan. "Lulu apa kabar? Inget Nadine nggak?" Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menggeleng. Seketika hatiku mencelos. Dulu sekali, kami begitu dekat. Dan sekarang, dia pasti menganggapku orang asing. Cukup aneh memang rasanya, tapi aku harus berusaha menatanya dari awal, karena pada dasarnya memang aku yang memilih pergi terlalu lama. "Ini anaknya oma, Lu." Aku menatap mama yang kini bersuara, menjelaskan siapa aku kepada Lulu. "Anak pertamanya oma. Waktu Lulu kecil, paling deketnya sama yang ini. Tante Nadine gapernah mau dipanggil pake tante kalau sama Lulu, maunya dipanggil Nadine aja. Terus Lulu kebiasa panggil Na ke tante Nadine." "Na?" "Iya," jawabku pelan. "Panggil gitu lagi, ya." "Kan nggak sopan." "Kalau Lulu nggak apa-apa. Nadine nggak marah." "Itukan waktu Lulu kecil, belum tau apa-apa. Lulu panggil tante aja, ya?" Gadis lucu di depanku masih terlihat takut, aku menghela napas, memilih berdiri. Kuperhatikan Lala yang kini berada di dekapan kak Riri. "Hallo, Kak." Kupeluk sebentar kak Riri dari samping. "Ampun Nadine, kamu bener-bener makin cantik. Keliatan dewasa banget." Aku tersenyum malu-malu sambil tertawa. "Bisa aja, Kak, kakak juga kok." Aku kemudian beralih pada kak Fiko yang sejak tadi menatapku. "Nggak usah kaget gitu, Kak, Nadine emang cakepan. Nggak perlu kaget." Kak Fiko tertawa dan setelah itu menarikku dalam pelukannya. "Sama aja bandelnya kayak Sean, susah banget disuruh pulang." "Yee ini kan pulang. Marahin Sean sana kenapa masih betah." "Ada yang nyangkut nggak?" "Nope," jawabku pendek sambil melepaskan pelukan. "Kasian." "Enak aja," semprotku cepat. "Sendirian itu bukan karena nggak laku, tapi karena kita punya selera. Ya pilih-pilih juga dong." "Sok selera-seleraan. Terus ini siapa? Bukan pacar?" Aku terdiam sebentar, membiarkan kak Fiko dan Satria saling berkenalan. "Cocok padahal." "Ini Satria, temennya Sean—" "Calonnya kamu." Aku mencibir ketika kak Fiko menyambung kalimatku. Sialan. Aku memilih memandang Lala. Dia terlihat sangat lucu dengan pipi chubby. Wajahnya lebih menjiplak Kak Fiko. Aku yakin Sean akan sangat gemas dengan Lala ketika dia disini. Saat Lala tertawa dalam gendongan sang bunda, aku mencoba mengulurkan tangan, yang sayangnya ditolak mentah-mentah. "Lala suka takut tante kalau sama orang baru. Tapi nanti kalau sering main bareng udah nggak takut lagi kok." Suara lembut Lulu menjelaskan, aku tersenyum tanda mengerti. "Nadine punya hadiah buat Lulu sama Lala." "Hadiah apa tante?" Aku mengulurkan tangan, namun Lulu malah tampak makin kebingungan. "Tangan Tante?" "Bukan. Maksudnya tangan Nadine di pegang, jalannya barengan." Aku berujar sambil mengambil tangan Lulu, lalu membungkusnya dengan tanganku. "Ayo." Kini aku berjalan lebih dulu bersama Lulu, meninggalkan mereka semua di belakangku menuju mobil. Dalam balutan kaus belang-belang lengan seperempat dan ripped overall jeans yang sedikit longgar, membuat kakiku lebih leluasa. Mama sempat memarahiku kenapa memiliki celana monyet di dalam koper. Seingat mama, terakhir kali mama membelinya untukku adalah ketika SMA. Dan aku tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Tetapi sekarang, disaat sudah berkepala dua, dengan bangganya aku mengenakan celana monyet ini. "Umur segini baru dipake, kemarin waktu masih lucu dikemanain celananya?" "Umur segini juga Nadine tetep lucu, ma. Lagian diluar sana bukan cuma Nadine yang pake beginian, nenek-nenek juga banyak." "Huss." Aku hanya dapat menggeleng pelan ketika mengingat percakapan singkatku dengan mama, aku rindu dengan perdebatan kecil seperti itu. Benar-benar merasa seperti ibu dan anak pada umumnya. "Tante, kita bakal kemana?" tanya Lulu tepat ketika mama dan kak Riri dengan Lala dalam gendongannya menyusul masuk mobil. Kak Fiko dan papa memilih naik taksi karena mobil yang Satria sewa terlalu kecil. Nanti setelah sampai hotel, Satria akan segera pergi mengganti mobil. Sedangkan Reva sendiri memilih untuk tidak ikut menjemput Lulu, alasan pertama karena belum mandi, dan yang kedua karena dia lebih tertarik dengan gosip hari ini. "Nggak tau, ikutin supirnya aja." Aku tersenyum menoleh pada Lulu. "Nad...." Aku terbahak ketika Satria bersuara di sampingku. "Lu, kenalin dulu, ini Om Satria." "Udah tau, kok. Tadikan kenalan sama papa—aduh, Lala! Rambut Kakak jangan ditarik. Bunda, sakit." Aku menahan tawa menatap hal tersebut. Lala jelas-jelas terlihat begitu gemas terhadap Lulu. Lulu yang kesakitanpun masih berusaha melepaskan tangan sang adik dari rambutnya. "Lulu seneng nggak punya adik?" tanyaku penasaran. "Nggak, sayangnya bunda sama papa jadi kurang buat Lulu." "Lulu nggak boleh gitu." Kak Riri mengingatkan. Seketika aku sadar bahwa pertanyaanku tadi salah besar, seusia Lulu tentu saja akan lebih memilih menjawab jujur. "Emang iya begitu. Apa-apa adek diduluin, Lulu selalu jadi nomor dua." "Sayangnya Bunda buat Lulu sama Lala itu sama." "Buat Lala lebih." "Lulu bunda nggak pernah ajarin kayak gitu." Suara Kak Riri terdengar tegas. Kulihat Lulu membuang muka dari sang bunda, memilih menyandarkan kepala pada mama. Mama yang membelai kepala Lulu juga ikut mengelus pundak kak Riri. "Tante, Tante punya hadiah apa buat Lulu?" Aku menoleh, menatap Lulu tersenyum. "Nanti Tante kasih." Aku kembali melihat ke depan, beberapa menit kemudian, mobil sudah berhenti di depan hotel. Setelah turun dan aku ikut membantu Lulu, Satria kembali menjalankan mobilnya. Gadis kecil itu kugenggam, berjalan bersamaku menuju kamar kami. "Dulu Lulu deket banget ya sama Tante?" Gadis ini kembali menyuarakan tanyanya ketika kami sudah berada di dalam lift. "Banget." "Lulu nggak inget. Tapi Lulu pernah liat poto tante, di album-album kalau lagi main di rumah eyang uyut." Aku tersenyum, membelai lembut tangan Lulu. "Lulu sekarang hobinya apa?" "Foto apa aja." "Udah punya kamera?" "Waktu itu cuma pinjem punya papa terus, tapi waktu Lulu ulang tahun akhirnya dikasih kamera, ukurannya kecil lucu. Lulu lupa merk apa." "Nanti bisa dong ya foto-fotoin Tante?" "Tante tinggal gaya aja, biar Lulu cekrek." Saat aku dan Lulu berhighfive sambil tertawa, lift terbuka. Lalu kami segera berjalan menuju kamar. Tepat kami masuk, Reva keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut rambut basahnya. "Itu Lu, kenalin, Tante Reva. Temennya Tante." "Hai!" Reva bersemangat menyapa Lulu. "Nama Tante Reva." "Hai, Tante Reva. Aku Lulu." "Lulu cantik, ya." "Makasih tante." "Mama papanya Lulu dimana?" "Bunda sama papa di bawah." Lulu menggerakkan tanganku, "Tante hadiahnya apa?" Aku teringat, lalu langsung berjalan menuju koper. Mencari benda yang kujanjikan pada Lulu. Gadis itu ternyata mengikutiku membongkar koper, tampak penasaran. Nah, ketemu. Earflap Cap Winter Warm Hooded Scarf. "Lulu mau yang mana?" "Lucu!!!" Aku tertawa ketika bocah itu berteriak girang. "Lulu mau yang serigala ya tante, biar yang kucing buat Lala." Aku mengangguk, dan setelah itu Lulu sibuk dengan benda baru miliknya. Aku memutuskan mencuci muka sebelum bersiap-bersiap untuk check out. Ketika keluar dari kamar mandi, kamar terlihat lebih ramai. Lulu dan Lala makin sibuk bercengkrama mengenai hadiah dariku. Mereka benar-benar terlihat menggemaskan ketika damai. Semuanya selesai, aku dan Satria mengurus urusan ketika check out. Yang lain beserta barang-barang sudah menunggu di mobil. "Sat, thanks ya." "Buat?" "Semuanya." Aku tersenyum ketika Satria mengacak pelan rambutku. "Udah tugas aku." "Aku takut kamu kebeban, Sat." "Jangan pernah mikir kayak gitu." Aku lagi-lagi tersenyum sebelum akhirnya masuk mobil di jok samping kemudi. "Kapan ni bakal resmi?" Aku membalikkan badan ketika Kak Fiko bersuara. "Susuin Lala sana," semprotku kesal. *** "Maaf." "Buat apa, Nad?" Aku tersenyum terdiam. Menikmati pemandangan Ubud dibalut bra dan juga sebuah kain warna hitam jaring-jaring agar badanku tidak terlalu terekspos. Bagian bawahku tertutupi oleh kain dengan gradasi warna indah, melilit bagian pinggang. Mahakarya Tuhan terbentang luas di hadapanku, membuatku berulang kali takjub tanpa kata. Aku menghela napas berkali-kali, menatap ragu pada Satria yang kini mengenakan kaus oversize warna baby yellow, dan celana khas lelaki sepanjang lutut. Aku mengingat lagi ucapanku tadi. Apa tadi kataku? Maaf? Ya, itu akan aku katakan cepat atau lambat kepada Satria. Maaf karena terus menggantung perasaannya hingga sekarang. Maaf karena terus bersembunyi dan lupa menjawab. Kesabarannya terhadapku memang tidak cukup aku beri dengan ucapan terima kasih. Pria ini benar-benar berhak mendapatkan lebih. Takdir ternyata cukup berbaik hati memberiku sosok malaikat seperti Satria. Namun takdir benar-benar tidak pernah memberiku kesempatan untuk mencoba membuka hati padanya. Karena rasa sayang yang selalu tumbuh perlahan di hatiku, itu hanya teruntuk satu pria. Rasa sayang yang tumbuh begitu saja di hatiku, tidak dalam keadaan menggebu, tidak dalam keadaan lumpuh, semuanya standar. Mengalir apa adanya, dan tumbuh dengan kokoh. Jujur saja, aku pernah mencoba menebangnya, dan aku benar-benar tidak kuasa. Akarnya terlalu kekar dan perkasa. Sulit dibinasa. "Maaf karena aku terus buta tentang perasaan kamu. Maaf karena aku terus nutup mata sama telinga. Tapi Sat, jatuh cinta ke aku itu salah. Sama semua orang-orang yang jatuh ke aku, mereka nggak bakalan dapet timbal balik apa-apa. Jatuh ke aku itu sia-sia, Sat." "Kenapa bisa mikir kayak gitu?" "Aku udah coba, Sat. Bahkan sebelum kamu masuk ke hidup aku. Aku udah coba buat bunuh satu pohon yang sampai sekarang dia masih setia buat tumbuh. Kamu nggak ngerti. Kamu nggak bakal pernah ngerti. Kalau aku milih buat ceritain kisah itu, aku bakalan jadi orang paling jahat ke kamu. Cukup dengan aku yang nggak bisa bales perasaan kamu, aku nggak bisa lebih jahat lagi." "Jadi aku?" Aku menghapus air mata sambil menatap Satria penuh kebingungan. "Jadi karena perasaan aku, kamu milih buat mendem masa lalu itu? Nad, kapan kamu bisa liat aku selayaknya psikiater yang punya niat baik buat bantu pasiennya? Bantu kamu sembuh, itu udah jadi kewajiban aku. Lupain perasaan itu, Nad. Yang aku mau dari kamu itu cuma satu, kamu sehat. Nggak cuman fisik, tapi juga batin kamu. "Kalau kamu selalu natap aku sebagai pria yang jatuh ke kamu, aku tau, aku nggak bakal pernah bisa gantiin posisi pria itu. Bisa bikin kamu senyum dengan cara aku sendiri, aku udah ngerasa lega, Nad. Seenggaknya kamu nggak nolak aku. Aku juga sadar kalau kedudukan aku sama pria itu di hidup kamu beda jauh. Pria itu sepenuhnya menang karena dia megang masa lalu kamu, tapi kita nggak pernah tau siapa yang bakalan genggam masa depan kamu, Nad. Dan tinggi banget harep aku, kalau aku punya kesempatan atas itu." "Sat, aku nggak pernah punya niatan buat berbagi cerita masa lalu aku ke kamu. Kamu mau, punya pasangan, tapi kamu sendiri nggak tau masa lalu pasangan kamu?" "Kalau kamu orangnya, aku rela." Aku menggigit bibir bagian dalam, menghela napas berat. "Kamu nggak bakal bisa bertahan sama aku, Sat. Aku cuma perempuan lemah yang punya gangguan di dirinya karena efek dari masa lalunya." "Aku udah bilang sama kamu, aku bakalan bantu kamu, Nadine." Aku memejamkan mata. Menyumpah serapah. Demi Tuhan, aku membenci saat orang lain menyebut namaku penuh perasaan seperti itu. Yang boleh mengatakan namaku secara utuh hanya pria b******k itu. Hanya pria penggenggam masa laluku. "Sat, sampai kapan kamu bakal tahan kayak gini?" "Sampai aku bisa sejajarin langkah kamu. Sampai kita bisa ngelangkah sama-sama." "Nggak akan pernah, Sat. Percaya sama aku, kamu cuma bakal dapetin luka kalau terus-terusan bertahan kayak gini. Aku nggak mau jahat ke orang lain. Buat aku, masalah perasaan itu bukan soal biasa. Aku nggak mau jahatin malaikat sebaik kamu. Dengan kamu terus kayak gini, aku bakalan selalu ngerasa jadi iblis jahat." "Itu yang aku tanyain sama kamu di awal, Nad. Kapan kamu bisa liat aku selayaknya psikiater yang cuma punya niatan buat bantuin pasiennya?" "Sampai kamu bisa hapus perasaan itu." "Aku nggak bisa ngontrol perasaan aku, Nadine. Sama kayak kamu, kamu juga nggak bisakan ngontrol perasaan buat pria itu?" Aku menggigit bibir kuat, merasa bodoh atas perintahku terhadap Satria. Jika aku sendiri tidak dapat mengendalikan perasaanku, kenapa aku harus memaksa orang lain harus dapat mengendalikan perasaan mereka. "Lihat aku, Nad. Aku orang yang bakal sekuat tenaga bantuin kamu sembuh." Tuhan, Kau buat dari apa hati pria di depanku? ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD