[11] Pesta Kecil dan Reuni Akbar

3752 Words
"Genggamanmu, membuatku paham, bahwa rumah terbaik, adalah rasa nyaman." —Tertanda, wanita lemah yang hanya sanggup berteriak dalam hati. Nadine's POV "Kamu, Nad. Aku mau kamu." Aku terdiam, darahku berdesir dan jantungku berdetak tidak karuan. Kutatap sepasang hitam miliknya ragu, mencari tahu maksud kalimatnya. Ini seperti impian yang telah lama terkubur bahkan sudah terlampau usang. Tapi saat kalimat itu diucapkan, seperti ada air surga yang yang tiba-tiba saja menyirami impian tersebut hingga bersih kembali. Bercahaya. Aku tersentak saat suara klackson berulang kali terdengar. Membuatku gelagapan dan akhirnya memilih membuang muka. "Kamu udah makan?" Aku menoleh kaget pada Aldric. Dia menatapku sesekali untuk menanti jawaban. "Belum." "Kita makan dulu?" "Aku harus ke rumah opa, Al," jawabku pelan. Tuhan, aku benar-benar ingin mengatakan kata iya untuk tawaran Aldric. Namun sms dari mama sudah berulang kali memintaku cepat datang. "Gimana kalau kamu ikut gabung makan malem?" Cetusku langsung. Sungguh, aku tidak mau berpisah darinya secepat ini. Biarlah, jika tunangan pria ini akhirnya marah padaku, akan aku terima. Hanya saja, untuk malam ini, aku ingin bersamanya. "Kamu yakin?" "Kenapa enggak?" "Oke." Aku tersenyum tertahan mendengar jawabannya. Sisa lima belas menit perjalanan, aku memilih diam karena Aldric sibuk berbicara dengan seseorang di seberang ponselnya, mungkin klien. Aku mendengarkan musik-musik yang diputar oleh stasiun radio sambil sesekali bersuara. Jujur saja, selama tujuh tahun kami berpisah, tak sekalipun aku berani membayangkan akan kembali duduk bersebelahan di dalam mobil seperti ini. Jantungku tetap berdetak lebih cepat bahkan saat mobil Aldric telah terparkir di depan rumah opa. Keadaan di dalam sepertinya cukup ramai, terlihat dari beberapa mobil yang terparkir dan bahkan mobil Kiya terdapat disana. Aku berjalan beriringan bersama Aldric, memasuki rumah dan ternyata orang-orang telah duduk di sekitar meja makan. "Itu Tante Nadine." Teriak Lulu terdengar dan semua pasang mata sukses menatap ke arah kami. Oh Tuhan, aku lupa satu hal. Mengenai papa dan Aldric. Mengapa aku begitu bodoh karena bisa-bisanya melupakan hal itu. "Nad?" Kutatap mama takut sambil menggigit bibir. Memikirkan jawaban yang tepat untuk menjelaskan pada mereka semua tentang kedatanganku dengan pria di sampingku. Mataku menyisir tiap wajah penasaran di depanku, dan kenapa ada Aqila? Sejak kapan dia tiba? Lalu keberadaan Satria membuatku tidak dapat bergerak lagi. Aku seketika terpaku dengan tatapan yang ia beri. Kenapa situasinya malah seperti ini? Aku benar-benar tidak siap kala Aldric harus bertemu Aqila ataupun Aldric harus tau siapa Satria sebenarnya. "Duduk, Nad, temennya diajak." Aku tersenyum kikuk ke arah tante Mei—istri om Arya. Kutatap Aldric sebentar lalu berjalan lebih dulu. "Udah bawa pasangan masing-masing aja ya kalian," ujar om Arya. Dan aku yang baru bergerak ingin mengambil buah anggur seketika berhenti, kutatap om Arya beberapa saat dan menahan geram kala matanya mengerling padaku. Sialan. "Sean sama pacarnya udah berapa lama nih? LDR, ya?" Subhanallah. Ingatkan aku untuk memasukkan garam ke dalam minuman om Arya agar pria beranak dua tersebut tidak lagi menggoda para pemuda-pemudi disini. "Eh, enggak, Om. Aku temennya Nadine. Cuma tadi harus pulang bareng Sean sama Mario karna merekanya nebeng di aku. Aku juga nggak ada hubungan apa-apa sama Sean." "Udahlah, Om. Makan aja tuh ayam, nggak usah goda-godain kita," kata Sean tenang. "Kenapa? Biasanya dari godain dulu, malu-malu, awalnya biasa aja malah jadi kepikiran, setelah itu clop, terus jadi." "Kasian anak orang takut sama Om." Jawab Sean lagi. "Kok takut? Om nggak makan orang." "Papa udah, kasian Kak Kiya mukanya jadi merah gitu." Zifana tersenyum pada Kiya yang baru kuperhatikan, mukanya ternyata memang merah karena malu. "Maafin ya, Kiya. Om godain Nadine aja." "Om!" teriakku tidak terima. Kenapa jadi aku? "Itu kapan mau diresmiin?" "Nggak lucu, Om." "Ini Azka temen lamanya Nadine, ya? Yang Nadine su—" "Om Arya!" ujarku sedikit lebih kuat. "Nih ya, aku kasih tau, Aldric udah punya calon tunangan. Udah ya, Om? Jelaskan?" Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada lagi balasan dari mulut om Arya. Dan hal itu aku jadikan kesempatan untuk memakan makananku. Tuhan, kepalaku sakit. "Ini barangnya udah saya beli semua." Suara berat terdengar, memecahkan keheningan di ruangan ini. Kutatap pria yang sedang memegang plastik putih ukuran besar, entah apa saja isinya. "Nah bagus, Mang. Sana kamu siapin di halaman belakang, ya." Setelah kepergian pria tadi, ruangan kembali santai. Mengobrol seperti biasa dan tidak ada lagi kalimat godaan. Syukurlah. *** Aku keluar dari kamar mandi setelah yakin bahwa aku akan baik-baik saja. Aku berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar, berniat mengganti baju. Kuambil sebuah kaus oversize berwarna krem dan dengan cepat memakainya. Jika saja aku boleh tidur, aku akan lebih memilih tidur karena kepalaku benar-benar pusing. Tapi keadaan diluar sangat tidak baik bila kulewatkan. Karena itu adalah pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulanganku dan Sean. Setelah selesai, aku berjalan ke sudut ke ruangan. Mencari keberadaan sandal jepit rumahan dan setelah itu kembali keluar. Baru saja menuruni tangga, keberadaan Satria membuatku kaget. Dia diam menatapku di ujung tangga. Aku menghela napas lalu mendekat padanya. "Mau ngobrol?" Tawarnya padaku. Aku bingung. Jujur saja, aku ingin sekali bercerita. Namun takut bila Satria tidak senang mendengarnya karena hal ini menyangkut Aldric. "Aku psikiater kamu, Nad." Kenapa pria ini tau apa yang sedang kupikirkan?! "Di ruang tamu, yuk." Aku berjalan duluan, mengambil tempat di sofa panjang lalu membaringkan badan. Ah, kepalaku terasa lebih baik sekarang. "Dia udah ada yang punya, Sat," ucapku akhirnya, setelah lima menit hanya hening yang menemani. "Dia nggak nepatin janjinya. Dia bohong. Dulu dia pernah bilang kalau dia bakal nunggu aku. Tapi sekarang apa? Lucu aja, sih, kenapa aku mulu yang ngarepin dia kayak orang bego." "Aku nggak nyuruh kamu buat jadi orang ketiga, tapi, seenggaknya kamu masih punya kesempatan. Kalau emang cara terbaik untuk buat kamu sembuh itu bareng dia, kenapa nggak dicoba? Jodoh udah ada yang ngatur, Nad. Percaya sama aku." "Semalem aku panik lagi." "Kamu minum obatnya?" "Emangnya aku punya pilihan apalagi selain itu?" jawabku pelan. Kuhela napas sambil memejamkan mata. "Sat." "Hm?" "Kalau dia nanya kamu siapa, kamu bakalan jawab apa?" Tanyaku takut. "Temen kamu." Mataku terbuka, kuputar badan menjadi telungkup agar dapat melihat Satria yang sedang duduk di sofa single di sampingku. "Kamu serius? Nggak bakalan ada embel-embel psikiater, kan?" Tanyaku lagi. "Iya, Nadine." Aku tersenyum lega. Baru saja ingin mengajak Satria berbicara lagi, Sean datang dengan piring di tangan. "Disini ternyata. Lo kenapa, Nad?" "Nggak apa-apa," jawabku pelan. "Bener, Sat?" "Iya. Nadine baik-baik aja." "Ga percayaan amat sih!" ujarku sewot. "Yaudah kalau gitu ayo ikut gabung." "Iya, bentar lagi nyusul." Sean tampak mengangguk lalu berjalan menjauh. Aku dan Satria berdiri bersamaan, sama-sama meninggalkan ruang tamu untuk menuju halaman belakang rumah. "Makasih ya, Sat." "Aku seneng sama kamu yang terbuka sekarang, Nad." *** Aku menatap sekitar dan menemukan Aldric yang tengah bercengkrama bersama papa. Khawatir menyapaku seketika. Takut jika papa mengatakan hal yang tidak diinginkan kepada Aldric. "Buat pertama kalinya aku ngeliat laki-laki itu lagi. Dia makin ganteng aja. Lucu ya kak, kenapa aku nggak pernah bisa suka sama dia. Kenapa aku harus berharap sama seorang dingin kayak Razza." Aku menoleh, menatap Aqila mengernyit. Apa maksudnya? "Kakak, kenapa bisa suka sama dia?" Aku diam, menggantungkan jawaban. Kutatap Aqila sebentar lalu kembali menatap ke tempat Aldric kini berdiri. "Lo tau kenapa lo bisa suka sama Razza?" "Dia sempurna." "Ch." "Kenapa?" "Orang yang lo pikir sempurna itu nggak lebih dari seorang pengecut, Aqila." "Kakak yang buat dia jadi pengecut." Aku menatap Aqila terkejut, meminta penjelasan dari pernyataannya beberapa detik lalu. Namun perempuan di depanku hanya tersenyum tenang. "Karena kakak juga Kak Azka, dia jadi pengecut. Aku tau dia bohong selama ini tentang aku yang kenal sama dia bahkan dari kami SMP. Tapi Kakak paham nggak, sih? Dia cuma mau Kakak. Tapi bodohnya, Kakak selalu ngarepin orang yang berhasil noreh luka di kakak. Dan apa tadi? Kak Azka udah punya tunangan? Sampai kapan Kakak mau ngarepin dia terus? Aku cuma minta, tolong peduli sama Kak Razza, kak. Kalau Kakak nggak bisa ngasih dia kesempatan buat jadi pacar atau apapun sebutannya, kasih dia kesempatan buat jadi temen Kakak lagi." Aku terdiam. Tidak mampu membalas perkataan Aqila. Kenapa semuanya serumit ini? Aku menghela napas kasar, memijit pertemuan alis lalu mencari kursi untuk duduk. Meninggalkan Aqila yang masih setia berdiri disana. Pikiranku kembali dipenuhi Razza dan segala kebaikannya di masa lalu. Siapa yang ada di dekatku kala Aldric menjauh? Siapa yang menghiburku saat hatiku menangis karena Aldric? Siapa yang berusaha agar aku dapat terus bernapas lega saat melihat kedekatan Aldric dengan Aqila dulu? Semua jawaban itu, Razza. Segala rasa kecewa itu seperti bergabung dan bersatu untuk membuatku yakin bahwa Razza tidak layak dimaafkan. Namun, perkataan Aqila tadi seperti menampar keras sisi egoisku. Berubah. Maafkan. Dan kembali seperti sedia kala. Akankah semudah itu? "Kakak bakalan jadi orang paling kejam kalau naruh amarah buat Kak Razza cuman karna rasa cinta dia ke kakak." Aku tersentak kala Aqila menyusul duduk di sampingku. "Kak, kalau seseorang bisa ngontrol dia mau jatuh cinta ke siapa, nggak bakalan ada yang namanya rasa sakit. Karena apa? Karena pasti orang itu bakal milih jatuh ke orang yang juga mau jatuh ke dia." Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Kutatap Aqila dengan pikiran dan hati yang saling berdebat. "Aku nggak pernah mau jatuh ke Kak Razza. Apalagi Leo. Aku nggak pernah punya pikiran bakal jatuh ke mereka. Tapi karena hati punya setirnya sendiri, dia bebas buat milih siapa orang yang bakalan jadi tempat dia berlabuh, kan? Kita nggak punya kendali apa-apa. Yang kita punya cuma pilihan, nikmatin, atau teriak sekeras mungkin kalau kita benci itu semua." "Lo bahagia sama Leo?" "Aku bakalan bahagia kalau kakak bisa temuin dulu bahagianya kakak, and fight for it." "Leo pasti bisa bahagiain lo." "Kadang, aku suka senyum sendiri kalau inget semua pengorbanan dia buat aku. Dia lucu. Padahal dulu aku benci banget sama dia." "Hm. Kalau dia ketawa, keliatan nggak punya masalah sama sekali." "Orang-orang punya cara sendiri buat simpen masalah mereka, Kak." "Orang kayak Leo punya masalah?" "Apa ada manusia yang hidup tanpa masalah? Nggak ada. Semuanya cuma tentang pilihan. Tergantung gimana individu itu nanggepin setiap masalahnya. Mau nangis? Silahkan. Mau ketawa? Nggak apa-apa. Mau murka juga boleh. Terserah. Karena itu pilihan. Satu hal aja, jangan pernah bilang hidup itu nggak adil, karena Tuhan nggak pernah nggak adil, Kak." Aku lagi-lagi terdiam. Dari mana perempuan di depanku belajar kata-kata seperti itu? Lalu Aqila tersenyum lembut. Memegang bahuku sambil berdiri, dan tanpa suara, dia melangkah menjauh. Kutatap kepergian Aqila menuju papa yang masih terlihat berbicara bersama Aldric. Sebenarnya apa yang tengah mereka bicarakan? "Kenapa sendirian?" Aku menoleh cepat dan menemukan Satria yang tengah memegang piring berisi beberapa tusuk sate. Aku menggeleng perlahan, membiarkan pria itu mengisi tempat yang baru saja ditinggalkan oleh Aqila. "Nggak apa--apa." "Mau sate?" tawar Satria. Aku menoleh padanya dan tetap diam. "Aku suapin," tuturnya lagi, dan sukses membuatku terkekeh pelan. Aku pikir Satria hanya bercanda, namun tidak. Pria itu benar-benar mengarahkan tusukan sate padaku. Aku menggeleng, namun Satria tetap bergeming. Baiklah, aku mengalah. Kuterima dengan memakan satu daging dari empat yang tertusuk di lidi. Sisanya dilanjutkan oleh Satria. "Dia liatin kita." "Dia?" "Azka." Jantungku berdetak seketika, dan membuatku tidak berani menoleh menatap Aldric. Satria tersenyum lalu tertawa. Sialan, aku reflek memberi pukulan pada lengan pria ini. Dan tawanya makin lepas. "Pergi sana." "Besok jadi?" "Kamu jadwalnya gimana? Acaranya sekitar jam lima kali ya, aku juga lupa. Nanti deh aku coba tanya ke yang lain." "Besok aku kosong." "Berarti bisa, ya?" "Buat kamu semuanya bisa, Nad." Pria itu tersenyum sebelum meninggalkanku untuk berjalan mendekati Sean. Aku menggelengkan kepala mengenai perkataannya, memilih menyandarkan punggung dan memejamkan mata. Aqila benar. Jika saja seseorang dapat memilih ingin jatuh pada siapa, pasti banyak orang yang memilih untuk jatuh pada orang yang juga jatuh padanya. Jika saja aku diberi kesempatan memilih, mungkin Satria dapat kuterima. Namun sayang, hati adalah suatu hal yang tidak dapat kita kendalikan. "Kalau ngantuk ke kamar aja, Nad. Kasian badan kamu jadi makan malem nyamuk." Aku kembali membuka mata kala suara yang begitu aku kenal menyapa indra pendengar. Pria itu tersenyum, dan tanpa kusangka, dia menyelimuti bagian kakiku dengan selimut yang entah di dapat darimana. Dia mengambil tempat di sampingku dan tidak lagi bersuara. "Al." "Ya?" "Dimi." "Dimitri?" "Ya. Aku kira dia anak kamu...," ujarku lirih. "Itu anaknya—" "Kak Zeydan." Kutatap Aldric sekilas sambil memainkan jemari. Beberapa pertanyaan menyangkut di kepalaku. Bingung, apakah aku harus bertanya atau tetap diam. "Al." "Hm?" "Kamu bakalan marah kalau aku bilang kamu berubah, Al?" tanyaku akhirnya. Raut wajah Aldric tampak terkejut, namun setelah itu dia membuang muka. "Waktu kamu ulurin tangan dan kita saling kenalan kayak dua orang asing. Kamu berubah, Al." "Aku cuma lakuin apa yang kamu minta, Nad. Kalau kamu milih buat nggak kenal sama aku lagi. Kamu pergi tanpa mau dengerin apa-apa lagi dari aku. Ninggalin satu buah buku yang kalau kamu mau tau, aku masih nyimpen itu, Nad." Mataku memanas karena kata demi kata yang Aldric katakan. "Al, aku minta maaf." "Aku cuma mau kenalan lagi sama kamu, Nad. Mulai semuanya dari awal. Karena, waktu pertama kali ngeliat kamu lagi, bohong kalau aku nggak kaget." "Al," panggilku lemah. "Boleh aku tau siapa Satria? Kamu baik-baik ajakan selama ini?" Aku menggeleng, tidak berniat menjawab pertanyaan tersebut. Kutatap wajah penuh harap Aldric. Tuhan, izinkan aku memeluk kembali tubuhnya. Merasakan kembali hangat dekapannya. Membiarkan rasa nyaman menyelimutiku walaupun hanya untuk satu malam. Izinkan aku menjadi jahat untuk sekali saja. Sampaikan pinta maafku untuk calon tunangannya, Tuhan. "Nad, jawab aku." Aku menggeleng, lalu tanpa aba, kulingkarkan tangan pada pinggang Aldric. Menumpukan kepala pada dadanya. Menangis disana. "Al, aku kangen kamu. Aku kangen kita." Aku kian terisak saat merasakan dekapan Aldric yang kian mengerat. Elusan lembut pada rambutku membuatku terbuai oleh kantuk. Aku benar-benar bisa tertidur dalam keadaan seperti ini. "Jangan tinggalin aku, Al," ujarku akhirnya, sebelum gelap menarikku kian dalam. *** "Tadi malem Tante digendongin, kayak dede bayi." Aku yang sedang duduk di teras rumah sembari menikmati mentari pagi selepas olahraga terkejut dengan kedatangan Lulu yang tiba-tiba. Di sebelahnya ada Lala dengan piyama kebesaran. "Apa?" "Iya, sama om Lulu yang nggak tau namanya." "Kok nggak dibangunin?" "Kata omnya, Tante capek banget, jadi nggak boleh dibangunin." "Kok Lulu belum tidur, sih, jam segitu sampai bisa tau Tante digendongin?" Gadis kecil di depanku cekikikan, membuat ikatan rambut ekor kudanya bergerak. "Abisnya rame, Lulu jadi nggak mau tidur. Jugakan masih jam sembilan, Tante Nadine aja yang tidurnya kecepetan." "Terus omnya ada bilang sesuatu lagi?" tanyaku penasaran. Karena sejak tadi aku tidak lagi melihat keberadaan Aldric. "Itu tante—" "Kenapa, Lu?" "Lulu emangnya pernah ngompolin orang ya, Tante?" Aku seketika tertawa, dan Lulu tampak semakin kebingungan. "Yakan wajar, masih kecil ngompol. Emangnya omnya bilang apa?" "Omnya bilang gini waktu mau pulang, Lulu masih ngompol nggak? Waktu kecil dulu Lulu pernah lho ngompolin om. Terus omnya ketawa, abis itu ngelus pipi Lulu, terus pulang deh." Wajah Lulu tampak malu, mungkin saja bocah itu berpikir bahwa mengompol adalah hal paling berdosa yang pernah ia lakukan selama ini. "Emangnya Lulu beneran pernah ngompolin omnya ya, Tante?" "Iya, terus abis ngompol Lulu malah ketawa." "Eh? Kok Lulu nggak sopan?" "Kan masih kecil, Lulu nggak tau." "Jadi nggak dosakan, Tante?" "Kalau yang ngompol Om Sean, baru dosa." "Lulu abisnya takut dosa. Terus masuk neraka, deh." "Makanya Lulu nggak boleh bandel." "Nggak pernah. Lulukan anak baik." Aku melupakan kegiatan mandi untuk sementara dan memilih untuk lanjut mengobrol bersama Lulu. Sedangkan Lala sibuk dengan makanan di tangannya. Kami baru berhenti kala terdengar teriakan dari dalam yang mengatakan bahwa sarapan sudah siap. Aku beranjak dari duduk, menggendong Lala dan mengajak Lulu masuk. *** Aku menuruni anak tangga saat mengetahui bahwa Satria sudah tiba. Kulihat pria itu yang kini tengah mengobrol santai bersama papa dan mama. Aku menyapa, membuat Satria berdiri dan membalas sapaanku. Dia tampak tampan dalam balutan kemeja biru navi. "Mama papa nggak ikutan?" "Nanti aja nyusul kalau sempet," jawab mama santai. "Kok gitu?" "Ada urusan lain, Nad." "Udah sana pergi, nanti macet." Aku mengangguk menanggapi kalimat papa. Sampai detik ini, aku masih penasaran dengan apa yang Aldric dan papa bicarakan. Ingin saja aku bertanya, tapi mungkin tidak sekarang. "Kalau gitu kita pamit, Om, Tante." "Titip Nadine ya, Nak Satria." "Pasti, Tante." "Nadine pamit," ujarku sebelum keluar rumah. Aku hanya dapat menggelengkan kepala kala Satria membukakan pintu mobil untukku. Bagi perempuan lain yang mendapatkan perlakuan seperti ini dari Satria, mungkin akan langsung terbang menuju langit ke tujuh. Tapi tidak denganku, tidak ada getaran apapun yang membuat kakiku sulit untuk berdiri. Semuanya terasa biasa saja. "Aku punya tangan, Sat." "Cuma masuk, Nad. Jangan bikin aku keliatan bodoh, oke?" Aku tertawa pelan. Sampai kapan pria ini akan bertahan? "Iya ini masuk kok, Pak." "Btw, kamu cantik, Nad." Aku tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Dress hitam sepanjang lutut menjadi pilihanku dengan higheels warna senada. Tidak macam-macam penampilanku, dress ini juga kubeli saat di London kemarin dan tidak sekalipun terpakai. Kami membunuh waktu selama perjalanan dengan membicarakan perihal keadaanku. Aku mencoba menceritakan apapun. Belajar untuk lebih jujur lagi. Kemacetan selama perjalanan pun tak dapat dihindari. Membuat waktu yang kami perlukan untuk menuju hotel menjadi lebih lama. Awalnya aku berpikir bahwa reuni akbar ini akan dilakukan di Cakrawala. Namun tidak, ternyata acara ini diselenggarakan di salah satu hotel ternama. Aku membayangkan akan banyaknya para alumni yang hadir. Terlebih, jika nanti aku bertemu dengan teman-teman lamaku. "Nanti kalau temen-temenku nanya tentang aku, aku harus gimana, Sat?" "Coba jawab sebisa kamu." "Kalau aku nggak bisa?" "Ada aku, Nadine." Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan kala mobil kami sudah berada lebih dekat dengan hotel. Dari sini saja mobil Satria menjadi berhenti karena memang sudah tidak ada lagi pergerakan dari mobil lainnya. Sepertinya, ini adalah para tamu reuni yang juga menuju hotel. Sekitar dua puluh menit, akhirnya kami tiba. Aku dan Satria memasuki gedung hotel, berbaur dengan tamu lain yang juga baru tiba. Kami berjalan menuju ballroom tempat acara diselenggarakan. Aku langsung saja mencari ponsel untuk menghubungi Kiya dan mengatakan bahwa aku telah tiba. Beberapa saat kemudian, perempuan itu tampak di depanku. Kiya tampak sempurna dalam balutan dress putih tulang yang membentuk badannya. "Kok baru dateng? Orang-orang udah pada dari tadi." "Macet, Ki." "Eh, hai, Satria." Sapa Kiya sambil tersenyum pada Satria. "Gue kirain Nadine dateng sendiri, taunya sama lo. Thanks ya udah mau nemenin dia." "Jahat banget, sih." "Udah diem, ayo masuk." Baru ingin bergerak, Kiya lagi-lagi menginterupsi. "Eh bentar, peluk dong Nad lengan Satrianya." "Ha?" "Lama banget, sih." Aku tersentak saat Kiya menggerakkan tanganku untuk menempel pada lengan Satria. Perempuan gila. "Ok, seenggaknya gini lebih baik." Aku menggelengkan kepala, melanjutkan langkah untuk memasuki ballroom. Aku sukses membeku saat melihat seluruh manusia disini. Begitu banyak, sangat ramai. Dan lagi, tampak meriah. "Tuh kita di meja sana." Disini disediakan meja panjang besar agar tiap orang dapat dengan mudah berinteraksi. Satu meja bisa diisi oleh dua puluh orang, bahkan lebih. Aku mengikuti Kiya sambil mengendalikan diri karena jantungku sedang dalam keadaan melompat riang sejak tadi. Ketika tiba, mereka yang sejak tadi bersuara seketika hening. Dan aku sendiri yang bingung harus apa hanya tersenyum. "Nadine?!" "Nadine ini lo?!" "Demi apaan?" "For God's sake, Nad ini lo?" "Nadine, gila lo kemana aja?" "Demi kucing gue yang beranak lima, lo ngilang kemana aja selama ini hah?" Aku tidak menjawab dan makin mengeratkan pelukan pada lengan Satria. Kutatap satu-satu wajah yang sudah tampak lebih dewasa. Dan Cio, itu Cio? Lelaki berbadan bagus itu Cio? Dan tidak jauh dari Cio, dapat kulihat Aldric dan, baiklah, aku tidak tau siapa perempuan yang sedang duduk di sampingnya. Oh Tuhan, jangan katakan bahwa dia adalah— "Nadine gue kangen banget sama lo." Aku tersentak saat, ah ya, Adel, memelukku. Demi Tuhan, aku rindu padanya. "Lo kemana aja, Nad?" Tanya Adel lagi kala pelukannya terlepas. "Hai, semua. Iya, ini gue. Gue nggak kemana-mana." "Bohong nggak kemana-mana. Buktinya lo nggak pernah keliatan. Semua akun sosmed lo ngilang. Lo kemana, Nad? Terakhir gue liat lo cuma waktu prom tujuh tahun lalu. Bayangin ya, tujuh tahun. Dan sekarang tiba-tiba lo dateng terus bilang kalau lo nggak kemana-mana." Aku menatap Dirma, kalian ingat? Sang ketua kelas. Kurasakan elusan lembut disekitar telapak tangan, dan dengan cepat menoleh menatap Satria. "Gue bareng Sean tujuh tahun ini." "London?" "Hm. Gue minta maaf karena nggak pernah ngabarin kalian apa-apa tentang gue," tuturku mencoba tenang. "Gue nggak bisa waktu itu. Ada alesan yang nggak bisa gue ucapin gitu aja." "Lo baik-baik ajakan, Nad?" "Kayak yang lo liat, Yo," jawabku pada Cio. "Gue baik." Aku kembali menyisir padangan pada wajah teman-temanku sambil tersenyum. Dan keberadaan Razza membuatku panik seketika. Satria yang sepertinya sadar gerak-gerikku langsung saja mendudukkan tubuhku pada kursi. Dan mulai membisikkan beberapa kalimat di telingaku. "Tenang, Nad. Kamu bakalan baik-baik aja. Percaya sama aku." Aku mengangguk. Merasa bahwa aku akan baik-baik saja. "Ini siapanya Nadine? Pacar?" "Bukan, saya Satria, temennya Nadine." "Nadine sama Azka kok diem-dieman?" Langsung saja kutatap Aldric setelah ucapan Aksa terdengar. "Ka, tuh Nadine. Samperin." Dan perempuan di samping Aldric juga ikut menatapku. Diakah tunangan Aldric? "Tau, Azka." "Kalau boleh jujur nih ya, gue pikir kalian dulu bisa banget pacaran." "Eh bentar deh. Ka, itu cewek di samping lo siapa?" "Gue kenalin ke kalian ya, ini Amira." Jawab Aksa. Kenapa dia yang memperkenalkan? "Tadi kita baru kenalan." "Gue ke toilet dulu." Ujarku buru-buru, takut mendengar jawaban Aldric tentang siapa sebenarnya perempuan di sampingnya sekarang. "Aku temenin?" Tawar Satria dan dengan cepat kujawab dengan gelengan. Aku berdiri, mengabaikan panggilan Kiya dan dengan cepat meninggalkan meja. Namun langkahku terhenti saat sebuah tangan menyekal lenganku. Aku menoleh cepat dan menemukan Sean yang menatapku dengan pandangan penuh tanya. "Lo kenapa?" "Lepasin, Yan." "Nad?" "Gue kebelet, ok?" "Ok." Aku berjalan cepat menuju toilet, masuk ke salah satu bilik kosong dan mencari obat disana. Entahlah, mungkin lima menit aku menenangkan diri, akhirnya aku memutuskan untuk bangkit. Kutatap pantulan diri di cermin beberapa saat dan selesai, lalu keluar. Aku membeku, saat melihat siapa orang yang tengah berdiri di depanku. Aku menunduk, malu terhadap perkataanku semalam. Kehadiran perempuan tadi seperti menamparku keras, membuatku sadar bahwa aku bukan lagi siapa-siapa. Memintaku menerima kenyataan dimana posisiku sekarang. "Kenapa disini? Nanti pacar kamu nyariin." "Nad—" "Aku minta maaf buat kata-kata aku semalem. Harusnya aku sadar posisi aku." "Nadine kamu dengerin aku—" "Apalagi, Al? Fakta kalau kamu yang mau tunangan udah cukup nyakitin aku. Terus aku harus dengerin apa lagi?" "Aku nggak akan tunangan, Nad. Nggak bulan depan, nggak dua bulan lagi, atau kapanpun yang kamu pikir. Tujuh tahun aku nyesel karena terus jadi pengecut, kamu pikir aku masih punya waktu buat mikirin perempuan lain padahal cuma kamu satu-satunya perempuan yang sukses narik perhatian aku?" Aku terdiam. Kutatap pria di depanku dengan perasaan melambung tinggi. Terlebih ketika Aldric menarikku ke dalam pelukannya, dan caranya menyurukkan kepala ke dalam lekuk leherku. Pipiku memanas. Tuhan, apa kami memiliki kesempatan itu? Tapi, siapa Amira? Siapa perempuan itu? ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD