"Ada hal yang indah daripada sahabat? Coba beritahu aku." —Sabtu malam, dibalut tawa dan kenangan.
NADINE'S POV
"Azka?"
Aku tersentak saat sebuah suara lembut terdengar, menginterupsi kegiatan kami. Aku segera melepaskan pelukan Aldric dan menatap perempuan yang kini menatap kami dengan tatapan bingungnya.
"Kalian ngapain?" tanya perempuan itu sambil melirikku dan Aldric secara bergantian.
"Lo ngapain disini, Ra?" Aldric bersuara.
"Gue yang harusnya nanya sama lo. Lo ngapain di toilet cewek?"
Aku mengernyit. Pertanyaan itu memang masuk akal. Tapi, tidak bisakah perempuan ini diam dan masuk saja? Lagipula, ini sama sekali bukan urusannya.
Baiklah. Izinkan aku jujur. Aku hanya tidak suka melihat keberadaan perempuan ini disini. Ya, katakan aku jahat. Terserah. Aku tidak peduli. Karena kenyatannya, aku memang tidak menyukainya. Terlebih, caranya tersenyum kepadaku saat di meja tadi. Terlihat aneh.
"Bukan urusan lo, Ra."
"Setelah apa yang kita lewatin selama ini? Dan lo bilang kalau ini sama sekali bukan urusan gue?" Ujarnya lagi. Sebentar, apa maksudnya? Aku benar-benar penasaran mengenai hal yang tengah dibicarakan oleh perempuan bernama, siapa tadi? Ya, Amira. Apa yang mereka lewati selama ini?
"Nggak lucu, Ra." Aldric merespon sambil mengusap wajahnya.
"Azka gue nggak lagi ngelucu," bentak Amira, dan entah kenapa, aku semakin tidak menyukainya. "Maaf nih ya, kita belum kenalan, kan? Gue Amira." Dia menatapku, mengulurkan tangannya sambil tersenyum, menyeramkan.
"Nadine," balasku pelan sambil menerima uluran tersebut.
"Jadi lo orangnya." Aku mengernyit, maksudnya? "Gue harap kita bisa jadi temen dan kapan-kapan bisa jalan bareng."
Aku hanya tersenyum tipis, tidak menolak ataupun menerima. Aku takut salah bicara pada orang baru seperti Amira. Lagipula, jika memang nantinya kami menjadi teman kenapa tidak. Hanya sebatas teman, tidak akan sampai sahabat. Menurutku, teman dan sahabat itu berbeda.
"Buruan, Ka, nyokap gue udah nelfon suruh balik, nih."
"Sekarang?"
"Iya."
"Bukannya lo mau ke toilet?"
"Nggak jadi. Buruan."
Aku tanpa sadar menghela napas, apa Aldric akan pergi secepat ini? Aku menoleh padanya, bersamaan dengan dia yang juga ikut menatapku. Aku memaksakan senyum. Berteriak dalam hati supaya Aldric tidak pergi.
"Ayo, Ka." Amira menarik lengan Aldric, membuat pria itu menjauh dariku. "Kita duluan ya, Nad," ujarnya lagi sambil tersenyum lebar, dan setelah itu mereka pergi, meninggalkanku sendirian seperti orang bodoh di depan toilet wanita ini.
Sialan.
Sebenarnya siapa perempuan itu?
Aku menghela napas, memilih untuk kembali ke acara. Ketika sampai, dapat kulihat om Rega yang tengah memberikan satu dua patah katanya, lalu tak lama, dia memanggil nama Sean.
Dari sini, kuperhatikan Sean yang berjalan pasti mendekati om Rega. Bersalaman sebentar, sebelum akhirnya om Rega meninggalkan tempat. Pandanganku dan Sean bertemu, aku tersenyum sambil mengangguk kecil.
"C'mon," ucapku, walau Sean tidak mendengar, tapi setidaknya dia paham.
Kuhela napas lega saat Sean bersuara. Menyapa tiap orang disini dengan senyum menawan miliknya. Dulu sekali, tidak akan pernah kusangka lelaki seperti Sean akan mau melakukan hal seperti ini. Aku ingat, ketika kami SD, Sean pernah memberi tahuku perihal cita-citanya. Dia ingin menjadi seseorang yang tidak terlihat oleh banyak orang, namun diakui. Dia ingin bekerja dibalik layar daripada menunjukkan wajahnya pada dunia. Namun ternyata, semua tidak sesuai sebagaimana keinginannya. Mungkin memang seperti ini yang terbaik.
Aku menyisir pandangan dan berhenti pada meja tempat teman-temanku berkumpul. Mereka semua tampak serius memperhatikan Sean. Seseorang yang kuharapkan ternyata sudah tidak ada disana. Benar saja, pria itu sudah pergi.
Seharusnya aku menahan kepergiannya, bukan? Tidak seharusnya aku mengalah. Padahal, aku memiliki banyak cara untuk membuat Aldric tetap berada di sisiku. Tapi sebentar, bukankan perempuan itu menyebutkan tentang mamanya? Dan kemungkingan besar, Aldric memang berpamitan pada orang tua Amira. Tuhan, kenapa aku makin tidak suka?
Fakta tersebut entah mengapa seperti mencekikku. Membuatku susah untuk bernapas hanya karena membayangkan mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
Aku tersentak ketika tepukan meriah terdengar. Kulihat Sean yang sudah berjalan turun dan kembali ke meja teman-temannya. Aku pun memutuskan untuk kembali ke mejaku. Tapi ternyata, jalanku dihalang oleh beberapa lelaki. Mereka tersenyum padaku, dan kubalas dengan tatapan bingung. Baiklah, siapa yang tidak akan kebingungan ketika jalan mereka dihalang oleh tiga pria yang tidak ia kenal?
"Nadine Sava, kan?" Tanya salah satu diantara mereka. Aku mengangguk lambat, mengiyakan.
"Mau foto bareng lo dong." Aku mengerjap. Bayangan beberapa tahun silam kembali berputar dalam kepalaku.
Mereka keterlaluan tadi. Kalau lo gak sadar, salah satu di antara mereka ada yang megang lo.
Dulu sekali, Aldric pernah mengatakan itu. Dan entah kenapa, aku reflek menggeleng pada ketiga lelaki di depanku. "Maaf ya, gue buru-buru." Setelah itu aku menjauh, biarlah mereka bingung dengan alasanku. Buru-buru? Hah, untuk apa? Alasan bodoh.
Aku mengambil tempat di sebelah Satria, membuat pria itu menoleh ke arahku. Kutatap Satria sekilas lalu kembali melihat ke arah lain. Dan Razza, pria itu juga menatapku sesekali.
"Lah Azka tadi kemana? Bukannya nyusulin lo, Nad?" Dimar bersuara. Kutatap pria itu sambil menyesap minumanku. Rasanya begitu malas membahas pria yang sekarang tengah menghabiskan waktunya dengan perempuan lain.
"Amira temennya juga ikutan ilang," tambah Aksa.
"Kemana deh, Nad?"
"Hm? Nggak—nggak tau."
"Masa ngilang tu makhluk berdua."
"Ya kali aja sibuk, lo kayak nggak tau Amira aja." Kini tatapanku teralih kepada satu perempuan yang sama sekali tidak kukenal. "Di kantor juga begitu tu orang, kemana-mana bareng Azka. Kayak nenek-nenek, Azka nyuekin dikit langsung mewek. Makanya banyak yang nggak suka sama dia. Termasuk gue," jelasnya lagi.
"Lo sekantor sama Azka, Sas?" tanya Kiya dengan tatapan penasarannya.
"Lah, kemana aja lo?" respon perempuan yang dipanggil 'Sas' tersebut. "Juga pernah punya proyek bareng kita, gue sama Azka."
"Terus si Amira juga sekantor dong?"
"Iyalah. Jadi kalo diurutin, gue sama Azka bisa dibilang masuk bareng. Nggak bareng jugasih, kayak beda dua-tiga mingguan. Nah dua bulan kemudian, baru deh tu nenek-nenek gabung. Itu sumpah kocak banget gila, ngapain ke kantor pake dress coba? Jadi ya waktu kita lagi gosipin dia karna saltumnya, si Azka gak ikutan, ya taulah kalo tu orang cueknya kebangetan. Nah, taunya kayak Amira ngobrolnya lebih ke Azka. Karna kebanyakan kita males nanggepin dia. Besides, sifatnya emang ngeselin sih. Gue aja bingung kenapa Azka bisa mau."
"Mereka ada hubungan apa kalo boleh tau?" ujarku tiba-tiba.
"Hubungan?" Perempuan yang kutanya itu tertawa.
"Iya katanya jugakan Azka bakalan tunangan bulan depan." Aku menatap Razza yang kini bertanya.
"Tunangan?" Dan tawanya makin menjadi. "Nah gue punya ceritanya." Dia tampak semangat. Dia meneguk habis minuman berwarna yang tersisa sedikit, dan setelah itu memposisikan duduknya senyaman mungkin.
"Jadi, gue lupa kapannya, kayaknya desember deh. Kita-kita lagi makan malem bareng karna si bos lagi ulang tahun. Judulnya ditraktirin nih. Terus—" Perempuan itu berhenti. "Muka lu semua kenapa pada begini amatsih? Penasaran banget?"
"Setan! Buruan aja dilanjut kenapa, sih?!" teriak Kiya tak sabaran.
"Tai lo!" balas perempuan itu lagi.
"Saskia buruan anjir." Ah, jadi namanya Saskia. Seingatku, tidak ada diantara kami yang memiliki nama Saskia, dan bisa dipastikan, dulunya Saskia merupakan anak kelas lain.
"Terus, si Azka nggak sengaja ngeluarin kotak kecil dari sakunya. Kayaknya nggak sengaja jatuh. Gue juga awalnya nggak ngeh sama itu kotak. Tapi si Amira langsung nyemprot gini 'Eh itu cincin buat gue? Azka lo mau ngelamar gue, ya?' Parah nggak, sih? Padahal kayaknya itu cincin bukan buat dia." Raut wajah Saskia berganti-ganti seakan dia tengah menirukan ekspresi Amira.
"Terus terus gimana?"
"Nggak tau, soalnya abis Amira ngomong gitu, HP-nya Azka bunyi, mukanya keliatan panik banget, jadi milih pamit duluan. Terus si Amira ikutin Azka, nah disitu gue nggak tau lanjutannya. Tapi besoknya, Amira ngomong kalo Februari mereka bakalan tunangan. Gue sama yang lain kagetlah parah. Terus Azka nyambung datar gitu 'tunangan sama kecoak sana.' Kocak banget gila. Gue aja ampe hampir mati karna ketawa. Untung aja masih idup sekarang."
"Terus kita juga dapet pesen gitu dari Azka langsung tau, Sas." Ujar Adel kemudian.
"Dibajak sama si nenek kali," balas Saskia santai, sambil meneguk minum baru yang entah milik siapa. Aku kembali memikirkan hal tadi, aku tau cerita Saskia pasti mengandung kebenaran. Karena Aldric sendiri berkata bahwa dia memang tidak bertunangan. "Emangnya kenapasih kok penasaran banget?" Tanya Saskia tiba-tiba.
"Nggak sih, tapi kayaknya dia protective banget ya," jawab Kiya sambil menatapku, membuatku membalasnya dengan tatapan bingung. Kenapa? Ujarku dalam hati.
"Iya gitulah. Btw, dulu Nadine sama Azka banyak shippernya di kelas gue." Aku menatap Saskia seketika, dan dia tersenyum padaku. "Kalian sebenernya pacaran apa enggak, sih?"
"Ya lo taulah ego sama gengsi masing-masing kalau digabung jadinya gimana. Sama-sama malu nggak mau ngakuin, diakhir baru nyesel." Kiya bersuara, membuatku menatapnya kesal tidak terima.
"Apaansih, Ki," semprotku padanya.
"Mau sembunyiin apa lagi sih emangnya? Biarin aja kali semuanya tau kalau lo sama Azka emang saling suka dari dulu."
Aku memejamkan mata. Perasaan tidak enak menyapaku, Satria dan Razza. Jika aku tidak bisa menerima mereka, setidaknya aku tidak melukai mereka seperti ini. Aku hanya ingin menghargai perasaan mereka terhadapku, yang kuharap, suatu saat nanti, ada orang lain yang dapat merubahnya.
"Jadi kalian berdua beneran nggak pernah pacaran?"
"Bahas yang lain aja gimana?" pintaku sambil menyeruput minumanku.
"Ih lagi asik ini," jawab Saskia.
"Anjir lo, Sas. Kebiasaan gossip lo nggak ilang-ilang," tutur salah satu temanku.
"Ye, lo juga tiap gue tawarin gossip selalu paling semangat."
Aku hanya dapat menggelengkan kepala, membiarkan mereka saling menjawab kalimat satu sama lain.
"Eh, eh, inget nggak sama Sofia?"
"Sofi musuhnya Nadine?"
Aku sedikit kaget saat Saskia memukul meja. "Bener banget! Noh dia, makin cantik aja, ya? Denger-denger sih dia kerja di bank, gue lupa bagian apa, lumayansih posisinya." Aku bingung kenapa banyak sekali informasi yang diketahui oleh perempuan ini. "Dia beneran udah berubah tau karna masalah kalian. Waktu tau Nadine sebenernya cucu siapa, dia bener-bener nggak berani ngapa-ngapain. Kocak sih, biasanya dia rajin ngebully, tapi waktu itu udah enggak lagi."
Aku hanya tersenyum, memaksakan tawa kecil agar terlihat lebih terhibur dengan penjelasan Saskia. Walaupun sebenarnya, aku tidak peduli. Setidaknya Sofi tidak mengganggu hidupku lagi, terlebih Aldric. Fokusku hanya terhadap Amira sekarang.
Entah sudah berapa lama acara ini berlangsung, aku terlalu sibuk menikmati orang-orang yang sejak tadi curhat di atas panggung secara bergantian diselingi dengan acara lainnya. Kini giliran angkatan kami mendapat kesempatan untuk maju dan mencurahkan segala hal yang mereka rasakan. Katakan apa yang ingin dikatakan. Bahkan sebelumnya, ada beberapa orang yang jujur tentang perasaan mereka.
"Gue, oi." Kami refleks menatap Derby yang sedang mengangkat tangannya. Ingat Derby? Dia temanku.
"Lanjut," ujar sang mc sambil memberi isyarat tangan agar Derby maju.
Pria itu berdehem beberapa kali hingga akhirnya tertawa, dan semua orang disini juga ikut tertawa.
"Selamat malam."
"Malam," jawab kami serempak.
"Eh Derby gantengan." Aku tertawa kala teriakan itu terdengar. Entah suara siapa dan berasal darimana.
"Iya, dari lahir gue juga udah ganteng. Telat nyadar lo," balas Derby mengenai teriakan tadi. Lagi-lagi mejaku dipenuhi tawa dan sumpah serapah.
"Udah berapa tahun, ya? Tujuh? Delapan? Sembilan? Sepuluh? Lama juga. Jujur aja, awalnya gue bener-bener nyesel masuk Cakrawala. Gue inget duduk sama Obet waktu pertama kali, tu orangnya tuh." Lelaki manis berbehel itupun berdiri, melambaikan tangan sambil sesekali membungkukkan badan. "Wali kelas pertama Buk Tati dan sumpah, gue ketakutan setengah mati waktu itu. Tapi walaupun gue rada kesel sama sekolah, gue ternyata dapetin temen-temen wow yang gak bisa dilupain walaupun lo kena amnesia sekalipun. Jijik ya? Sama. Naik kelas sebelas, kita dapet wali kelas pak Jamil, dan gue sering banget dihukum ama ni guru ganteng. Parahlah, nilai ulangan mtk gue juga nggak pernah nyampe kkm. Padahal wali kelas gue guru mtk.—"
Fokusku terpecah saat ponselku bergetar. Dan nama Reva tertera di layar. Kugeser layar ponsel berniat menjawab panggilan.
"Iya, Rev?" tanyaku dengan suara lebih keras.
"Iya. Yaudah kamu ke rumah aja. Nanti darisana pergi bareng. Udah hampir jadi jugasih, walaupun detailnya belum aku selesein sempurna. Tapi kayaknya besok cocok buat ketemu, biar dijelasin lagikan? Kamu yang atur ya, lagi rame nih. Oke, bye."
"—Nah sebelum turun saya juga mau minta maaf dulu sama om, tante, kakak-kakak semua. Kalau omongan saya sebelumnya rada ngeselin karna pake lo-gue, mungkin nggak sopan. Buat om tante maaf kalau manatau, anak-anaknya pernah jatuh cinta sama saya tapi saya tolak. Sekian!" Tepuk tangan terdengar diselingi tawa, Derby kembali duduk dan langsung mendapat pukulan dari Dirma, lalu mereka makin tertawa. Apa aku melewatkan sesuatu?
"Kamu capek?" Suara Satria terdengar, membuatku menoleh padanya.
"Nggak, nggak kok." Aku menggeleng, namun setelah itu menghela napas. "Tapi aku mau pulang." Jawabku berbisik. Jika disini ada Aldric, maka akan dengan senang hati aku terus disini.
Satria berdiri, mengulurkan tangannya padaku. Kutatap sebentar uluran tersebut dan menerimanya. Aku melipat bibir ke dalam, lalu tersenyum pada Satria. Setelah itu aku berdiri, membuat semua pasang mata menatap kami—aku dan Satria—ingin tau.
"Gue kayaknya harus balik sekarang deh," kataku berpamitan.
"Yah, kok buru-buru?" tutur Dimar tampak kecewa.
"Lo nggak apa-apa, Nad?" Aku menatap Cio dengan senyum tipis, lalu menggeleng. Ekspresi pria itu, bahkan setelah sekian lama, Cio tetaplah Cio. Fisiknya memang berubah, namun tidak dengan hal lainnya. Dia tetap pendukung hubunganku dan Aldric.
"Gue banyak kerjaan, sorry banget ya. Next time kita ketemu lagi."
"Jarang-jarang tau Nad beginian, ini juga pertama kali kita ketemu lo lagi."
"Jangan sedih lo, ah, gue juga nggak kemana-mana lagi."
"Sosmed lo kasih tau kita-kita dong."
"Iya nanti gue kasih tau lewat group. Gue balik ya. Have fun, kalian!"
"Bye, Nad." Aku tersenyum saat mereka semua dengan serempak bersuara.
Aku berjalan dengan masih memeluk lengan Satria erat. Kantuk menyerangku, dan tanpa permisi, kuletakkan kepala pada bahu Satria. Memejamkan mata dengan kaki yang masih melangkah maju.
"Ngantuk?"
"Hm."
"Buka matanya, Nad. Nanti jatoh. Tunggu di mobil dulu." Aku menurut, kubuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali.
"Kamu nggak ngantuk?"
"Kalau aku ikutan ngantuk yang bawa mobil siapa?"
Aku tertawa, bodoh sekali pertanyaanku.
***
"Hallo?"
"Jadi gimana?"
"Bisa, besok gue ke tempat lo apa lo yang ke tempat gue?"
"Oke. Sore selesai kerja gue ke tempat praktek lo."
Aku melirik sekilas pada Satria yang kini tengah berbicara dengan seorang di seberang telpon. Dia memutuskan panggilan dan keadaan di dalam mobil kembali menjadi sunyi. Sebenarnya, aku begitu malas untuk berbicara. Sedangkan kantukku sudah menguap entah kemana. Dan jika keadaan diam ini bertahan, itu akan semakin membuatku teringat pada Aldric.
"Sat," panggilku pelan. "Besok kenapa?" tanyaku asal, hanya agar kami saling mengeluarkan kalimat.
"Oh, besok ada janji sama temen aku."
"Emangnya ada apa?"
"Biasa, ngebahas pasien, tuker-tukeran pikiran."
"Oh," balasku singkat.
"Kamu tau nggak?"
"Apa?"
"ADHD."
"ADHD?" ujarku bingung dengan mengulang ucapan Satria.
"Attention Deficit Hyperactivity Disorder, hiperaktivitas. Banyak orang yang mikir kalau itu penyakit. Mereka ngira kalau anak-anak yang terkena hal kayak gitu berarti anak nakal. Tapi sebenernya, hiperaktivitas itu sendiri adalah sebuah potensi terpendam yang harus diarahkan dengan baik. Albert Einstein, Thomas Edison, Michael Jordan, bahkan pebisnis Bill Gates juga ngalamin itu. Waktu kecil juga, mereka sering dicap anak nakal. Yang harus orang-orang diluar sana tau, kalau anak ADHD sukses mereka arahin dengan baik, anak-anak itu bakal jadi orang besar. Nggak sedikit aku liat kalau banyak banget orang tua yang nyalahin anak karena sikap mereka yang katanya nakal. Mereka nggak tau apa yang anak butuhin. Padahal kuncinya cuman satu, perbanyak komunikasi. Anak-anak emangnya tau apa? Kalau bukan orang di sekitar yang mereka jadiin contoh."
Aku terpaku. Aku suka tiap kali Satria menjelaskan hal-hal baru yang tidak terlalu aku ketahui. Aku suka tiap kali Satria berbicara dengan gayanya yang lugas. Jari-jarinya yang santai memegang kemudi atau bergerak di atas pahanya sendiri seakan-akan dia sedang memikirkan sesuatu.
Lagi-lagi aku berpikir, kenapa aku tidak bisa menyukai pria ini. Dia sempurna, menurut penilaianku. Walaupun pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna. Namun ya, dia sempurna untuk pria seumurannya.
"Kamu suka anak-anak, Sat?" tanyaku begitu saja.
"Mereka lucu, Nad."
"Bener. Keponakan aku lucu semua."
"Aku suka Lulu sama Lala." Tuturan Satria membuatku tersenyum.
"Kamu kenapa mau jadi psikiater?"
"Panggilan hati, mungkin?"
"Sentimental banget alesan kamu."
"Kalau kerja nggak ada panggilan dari hati, ya bakalan kepaksa, Nad. Jadinya nggak tulus."
"Iyasih." Aku mengangguk sambil memperhatikan kendaraan lain diluar sana.
"Kamu kenapa mau jadi designer?"
"Karena aku suka gambar sih dasarnya. Tapi kalau dipikir-pikir, misalnya, nanti waktu aku punya anak, aku masih bisa kerja di rumah. Masih bisa ngurusin anak-anakku dengan baik. Aku nggak mau ngulangin kesalahan yang mamaku bikin, ya mungkin nggak kesalahan kalau menurut orang-orang. Tapi buat aku itu kesalahan. Mungkin aku baru bakalan sibukin diri waktu anak-anakku remaja, waktu mereka udah mulai sering ninggalin rumah karna lebih banyak habisin waktu bareng temen-temennya."
"Kamu udah mikirin hal itu? Anak?"
"Emangnya apalagi? Umur segini semuanya harus udah diatur, Sat."
"Anak kamu nanti pasti bangga punya kamu."
Aku tidak menjawab, melainkan mengamini dalam hati kalimat tersebut. Jujur saja, aku sedikit merasa bersalah. Membahas hal yang lebih menjurus pada masa depan pada Satria. Seakan-akan, dialah yang akan menjadi teman hidupku. Nadine bodoh.
Beberapa saat kemudian, mobil Satria berhenti di depan pagar rumah. Aku tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih.
"Thanks banget buat hari ini."
"Langsung istirahat, Nad. Jangan begadang. Kalau ada kerjaan kamu lanjutin besok aja."
"Seharusnya kata-kata itu juga buat kamu."
"Night, Nad."
Aku lagi-lagi membalasnya dengan senyum tipis. Membuka pintu mobil dan keluar. "Hati-hati." Peringatku padanya. Kulihat kepergian mobil Satria sebentar dan setelah itu memilih masuk.
Keadaan di dalam rumah tampak gelap, dan aku memutuskan untuk segera naik menuju kamar. Kubaringkan badan sambil menyalakan ponsel. Dan satu pesan baru dari nomor asing membuatku penasaran.
From: unknown number.
Maaf buat yang tadi. Goodnight, Nad.
...tbc...