[13] Flashback

2235 Words
"Aku bahagia, karena semesta memberi kamu." —Tertanda, perempuan dengan bagian hidup abu-abunya. NADINE'S POV "Hei." Sebuah suara terdengar, disusul dengan keberadaan seorang lelaki yang tidak kuketahui mengambil tempat di sebelahku. Aku menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada games di ponsel. "Kelas berapa? Lo nggak masuk?" Dia—lelaki asing tersebut—bertanya. Aku hanya memilih diam, takut konsentrasiku buyar saat menjawab pertanyaannya. Aku sudah sampai pada level terakhir dan sangat tidak lucu jika akhirnya gagal karena lelaki ini. Namun sesaat kemudian aku tersentak, sialan, ponselku tidak lagi berada dalam genggaman. Aku menoleh geram, sedangkan lelaki itu menatapku sambil menunjukkan senyumnya. Dengan cepat kurebut kembali ponselku, dan lelaki itu tampak tertawa ringan. Apa ada yang lucu? "Azka Aldric." Dia menjulurkan tangan mengajakku berkenalan, sedangkan aku masih terpaku pada tangannya. Mungkin karena lama menunggu balasanku, lelaki itupun menarik tanganku, dan kamipun berjabat tangan. Aku langsung saja menarik tanganku, lalu menatap lelaki itu bingung. Ada apa dengannya? "Nama lo siapa?" tanyanya, aku lagi-lagi menatapnya tanpa ekspresi. "Nadine," jawabku pendek. "Kelas berapa?" Kali ini aku diam, tidak berminat menjawab pertanyaannya. Aku kembali fokus dengan games di ponsel tanpa peduli apa yang akan dilakukan oleh lelaki di sampingku. "Lo nggak nyari kelas?" Aku menghela napas saat dia lagi-lagi bertanya. Ayolah, tidak bisakah dia pergi? Lagipula aku begitu malas menjawab pertanyaannya. Jangankan untuk mencari kelas, duduknya aku disini seharusnya menjadi hal yang patut diabadikan. Satu informasi, bukan sekolah ini tujuanku. Sewaktu pendaftaran, aku memilih SMA negeri dan bahkan semua tes untuk masuk telah aku lalui. Aku lulus, tentu saja. Tapi pada akhirnya, mama menghambat keinginanku. Aku pikir, setelah mama menemaniku mendaftar di hari pertama, mama telah memberikan izinnya. Tapi ternyata aku salah. Mama memohon padaku, agar aku mau belajar di Cakrawala. Tanpa mengatakan apapun lagi, aku mengangguk menjawab pinta mama. Mama tersenyum. Tapi, apakah mama akan tetap tersenyum saat tau bahwa ia terus saja menoreh luka di hatiku? "Gak nyari kelas?" Pertanyaan itu terus saja diulang, membuatku kesal. Aku menatapnya sambil menghela napas kasar lalu memilih berdiri, berjalan meninggalkan lelaki itu di belakangku. Aku menatap jam di pergelangan tangan, lima menit lagi semua junior harus sudah kembali berbaris di lapangan. Aku berjalan menuju mading besar yang kini hanya tampak beberapa orang di sekitarnya. Kutatap kertas putih yang tertempel disana. Satu persatu, kuteliti deretan nama yang sudah dikelompokkan menurut kelas. Sudah dua kelas aku lihat, dan namaku belum ditemukan. Kemudian, di deretan kelas berikutnya, jariku terhenti. Azka Aldric. Aku menggeleng perlahan karena melihat nama lelaki tersebut. Lanjut kubawa jariku untuk menelusuri deretan nama hingga ke bawah. Nadine Sava Fredella. Sialan. Namaku berada di satu deretan dengan lelaki tersebut, itu tandanya kami satu kelas. Aku hanya dapat menghela napas lalu beranjak dari sana, berniat mencari letak kelas tersebut. Kusebrangi lapangan agar sampai ke gedung kelas satu, yang kalau tidak salah disebut gedung utas. Sesampainya disana, bel dengan lantang berbunyi. Membuat anak-anak baru berlarian dan berteriak tidak terima karena lagi-lagi disuruh berbaris. Aku dengan tenang menyusuri koridor, tidak peduli jika disuruh kembali ke lapangan. Aku hanya ingin duduk sekarang dan meneruskan gamesku. "Eh-eh utas." Aku menoleh saat suara bass terdengar. Kutatap bingung lelaki tersebut. "Jangan lelet, ke lapangan buruan." Aku tetap diam, melihatnya tidak peduli lalu kembali berjalan. "Woi, yang hormat sama agit!" Aku hanya berdehem saat suara lantang itu terdengar, entah lelaki yang mengaku agit tersebut mendengar atau tidak. Lelaki yang mengajakku berkenalan tampak keluar dari sebuah kelas, nah disana kelasku, batinku bersyukur. Aku mempercepat langkah untuk menuju kelas tersebut, memilih mengabaikan agit gondrong yang tadi berteriak tidak jelas. "Eh-eh." Aku mengernyit bingung saat—baiklah, sepertinya ingatanku sedikit bermasalah, karena aku tidak ingat namanya—lelaki tadi berteriak sambil menatapku panik. Dia kenapa? Baru ingin menoleh ke belakang, kurasakan sesuatu menarik kerah bajuku. Dan kekehan langsung saja terdengar. "Jangan songong! Utas dilarang songong." "Apaansih?! Lepasin!" Semprotku langsung, sialan. Kenapa harus dengan cara seperti ini? "Makanya jangan songong." "Gue gak songong." "Ngelawan lagi?" "Lepasin." "Nggak akan." "Eh, Kak, jangan kasar sama cewek." Aku mengernyit ketika lelaki itu bersuara, baiklah, sebentar, ah ya, namanya Aldric, bukan? Dia mendekati agit yang masih berdiri di belakangku dengan berani. Meminta agit tersebut melepaskan tangannya dari kerah bajuku. "Kalian berdua temuin gue waktu istirahat." "Ogah," semprotku seketika. Memangnya dia siapa? Sehingga aku dan Aldric harus rela membuang tenaga hanya untuk menemuinya. "Udah, Nad, ikutin aja," balas Aldric santai. "Tuh, cowok lo aja nurut." Aku seketika menatap agit tersebut tidak suka. Benar-benar. "Jaga mulut lo." "Dimana?" Aku menatap Aldric tidak setuju, apanya yang dimana? Demi Tuhan, aku sama sekali tidak ingin mengikuti keinginan agit gondrong ini. "Perpus. Sekarang, lo berdua buruan ke lapangan kalau gamau gue bilangin ke pembina osis." Aku langsung saja menarik diri agar tangan agit tersebut terlepas dari kerahku. Setelah itu berjalan cepat menuju kelas. "Nad, tungguin gue." "Kenapa, lo?" tanyaku bingung. "Nggak ada embel-embel makasih gitu?" "Ha? Oh. Makasih banyak ya, Aldric," tuturku sambil menunjukkan senyum terpaksa. "Aldric?" ucapnya pelan dan tampak bingung. "Nama lo Aldric, kan?" tanyaku skeptis, jangan-jangan salah lagi, Nadine bego, umpatku dalam hati. Namun setelah itu, mataku menangkap sebaris nama miliknya. Benar, Azka Aldric. "Iya, ada Aldricnya. Tapi lo orang pertama yang manggil gue begitu. Orang-orang pada manggil Azka soalnya." "Oh," jawabku pendek. Aku menggelengkan kepala perlahan, menatap barisan kursi kosong yang masih tersisa. "Duduk bareng gue aja," tawarnya. "tuh disitu." Aku menatap satu kursi kosong yang berada di belakang dan dekat dengan dinding. Bagus. "Gue yang di dinding, ya?" "Yaudah, nggak apa-apa." Aku dan Aldric memilih keluar kelas dan segera menuju lapangan. Sudah bisa dipastikan, kami terlambat. Sedangkan yang lainnya sudah berbaris menurut kelas masing-masing. "Barisan kita yang mana, deh?" tanyaku bingung. Sedangkan Aldric masih sibuk menolehkan kepala kanan dan kiri. "Ah, itu," tutur Aldric sambil menunjuk ke satu titik. "Yakin lo?" tanyaku sangsi, hanya memastikan. "Iya, itu ada temen SMP gue soalnya, kita sekelas, tadi gue liat ada nama dia di daftar kelas." Aku mengangguk paham, lalu dengan cepat mengikuti langkah Aldric untuk menuju ke salah satu barisan dimana teman sekelas kami berada. Beruntung memang, karena barisan laki-laki dan perempuan diletak berdampingan. "Eh-eh itu, yang berdua baru masuk barisan." Sialan. Aku menggigit bibir bagian dalam sambil berdoa dalam hati, kuputar kepala untuk melihat seorang yang tadi bersuara. Terlebih, saat aku dan Aldric menjadi objek perhatian dari siswa-siswi di sekeliling. "Kesini. Yang lain perhatiin ke depan. Kalian berdua ikut kakak." Aku mengumpat kesal, bisa-bisanya hal konyol seperti ini terjadi. Aku dan Aldric mengikuti langkah seorang anggota OSIS tadi menuju sebuah ruangan. Dan bertambah sial karena ruangan itu dipenuhi oleh beberapa anggota OSIS lainnya, sekitar enam orang. "Lah, kenapa ini berdua, Re?" Aku menatap seorang perempuan berambut ikal tanpa ekspresi. Keinginanku sekarang hanya satu, keluar dari ruangan ini. "Telat masuk barisan, mana berdua." "Kok bisa?" "Tadi kita ngobrol sebentar sama senior lain, Kak." Aku menoleh cepat pada Aldric yang bersuara. Ah, agit gondrong tersebut. "Siapa?" "Dianya gondrong, kak," tambahku. "Yang gondrong banyak." Balas salah satu perempuan lainnya. "Bohong, ya?" "Eh?" Suara lain terdengar. "Lo berdua ngapain disini? Kan gue suruh baris di lapangan, bukan main ke ruangan OSIS." Aku langsung saja bernapas lega, kala agit gondrong yang tadi menarik kerahku tampak muncul dari pintu. "Nah ini dia, Kak. Kita ngobrol bareng senior yang ini." "Olly? Ngapain kalian ngobrol sama Olly?" "Gue yang ajak mereka ngobrol. Udahlah, mereka telat juga gak nyampe sepuluh menit. Lo aja pada lebay kepengen banget ngehukum utas. Biarin mereka pergi kenapa, sih?" "Olly lo pergi sana. Kehadiran lo nggak dibutuhin disini." "Kenapa gue harus pergi? Emang benerkan lagian? Mereka juga nggak telat sejam, udah lo berdua balik lapangan sana." Aku mengangguk cepat, dan langsung memilih keluar dari ruangan sialan itu. "Gue kirain tu agit gondrong monster tau nggak?" ujarku ketika berjalan di lorong bersama Aldric. "Abisan enak aja main narik kerah baju gue. Taunya baik." "Hm." "Lo dari SMP mana, sih?" tanyaku tiba-tiba. Aldric yang tengah mengacak rambutnya menatapku, lalu tersenyum. "Kenapa emangnya?" "Ya, emang pengen tau doang nggak boleh?" "Biasanya orang yang pengen tau tentang gue, pengen banget jadi temen gue." Aku mengernyit, lelaki ini sakit jiwa sepertinya. "Dan kalau gue jawab pertanyaannya, tandanya gue juga mau temenan sama dia." "Gue nggak mau jadi temen lo," semprotku langsung. "Tadi lo nanya," balasnya cepat. "Nggak sengaja." "Garuda. Gue dari Garuda," jawabnya dan untuk satu detik, aku terpaku pada senyumnya. "Jadi artinya kita temenan." Aku tersentak, saat lelaki itu kembali bersuara. Sialan. "Nggak." "Lo nggak mau jadi temen gue?" "Cari orang lain sana." "Gue maunya elo." "Sinting." Aku mempercepat langkah—meninggalkan lelaki itu di belakangku. *** Selepas mendengarkan kalimat panjang yang aku sama sekali tidak tau apa manfaatnya, aku memilih masuk kelas. Setelah sampai, dapat kulihat teman-teman sekelasku yang sudah duduk membentuk organisasi masing-masing. Beritahu aku, kenapa mereka bisa dekat dalam waktu singkat? "Eh, sorry gue nggak sengaja." Aku menoleh cepat, dan mendapatkan seorang perempuan dengan badan besar tengah tersenyum padaku. "Gue Mere," ujarnya sambil mengulurkan tangan. "Nadine." "Duduk dimana, Nad?" "Itu di belakang, deket dinding." "Oh. Lo nggak mau makan?" "Kantin rame, ya?" "Lumayan, sih. Tapi masih ada tempat kosong kok buat makan." "Oh, yaudah gue kantin dulu deh." "Mau gue temenin?" Aku baru saja ingin menjawab, namun suara Aldric lebih dulu terdengar. "Lo nggak lupa buat ke perpus, kan?" Sial. Padahal cacingku meronta sejak tadi. Aku menghela napas, kesal karena terpaksa mengikuti langkah Aldric menuju perpustakaan. Sesampainya kami di perpustakaan, ternyata kak Olly juga tengah menunggu kami. Dia tampak berbincang bersama guru yang sedang duduk di balik meja coklat berukuran lumayan besar. "Eh, kalian, sini," ujarnya pelan, setelah itu memberi tanda pada kami agar mendekat ke arahnya. Aku dan Aldric-pun bergerak mendekat. "Ini Buk Siti." Kak Olly memperkenalkan. "Nah, gue mau lo berdua bantuin gue buat nyusun tu buku-buku yang di meja, diletakin ke tempatnya." Aku mengernyit bingung, apa tadi? Membantu menyusun buku? "Susun buku doang, kak?" Suara Aldric terdengar. "Lo mau yang berat?" "Eh?" "Udah buruan." Aku lagi-lagi menghela napas, pikiranku dipenuhi oleh makanan sekarang. Dengan langkah pelan, aku mendekati kumpulan buku yang sudah dikelompokkan menurut judulnya. Baiklah, tugasku hanya meletakannya ke tempat semula. Aku memulai tugasku, begitupun Aldric. Kak Olly yang tadinya masih berbincang bersama buk Siti akhirnya ikut membantu kami. "Kakak deket sama buk Siti?" tanyaku santai. "Iya gitulah, gue sering main ke perpus. Inget ya, main, bukan baca buku." Dia mulai memindahkan buku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Saat akan meletakkan tiga buku terakhir ke bagian yang lebih tinggi, tidak sengaja benda itu terlepas, dan sialan, kenapa buku itu bisa jatuh tepat di kepalaku? "Eh, Nad? Lo nggak apa-apa?" ujar Aldric terdengar panik. "Eh, enggak. Gue nggak apa-apa." "UKS aja." "Gila, gue nggak apa-apa, ngapain ke UKS." "Lo laper?" "Banget." "Yaudah ayo kantin." "Ngapain gue ke kantin bareng lo?" "Kan kita temen." "Gue nggak ngeiyain ajakan lo buat temenan ya, inget." "Judes banget." "Suka-suka gue," balasku cepat. Lalu memilih pamit pada Bu Siti dan keluar dari perpustakaan. Aku memasuki kantin yang dipenuhi oleh banyak makhluk hidup, menatap ke beberapa sudut tempat untuk mencari tau makanan apa yang tengah dijual. Aku mendekat ke arah penjual batagor, menatap sebentar lalu memesan. Tidak lama, pesanan milikku selesai dan waktunya mencari meja kosong. Semuanya terisi. Sepertinya aku harus menerima saat melihat sedikit bagian kosong pada meja yang kini dipenuhi oleh segerombolan senior perempuan. Aku berjalan mendekat, dan setelah itu, "Permisi, Kak," ujarku pelan dan setelah itu memilih langsung duduk. "Eh, kok duduk disini, sih? Ke meja lain sana." "Kan meja umum, Kak, bukan pribadi." "Ye, kan kita duluan. Sana lo, nggak sopan banget." "Nggak sopan di bagian mana, Kak? Saya udah bilang permisi, kan?" "Bacod banget, sih, kalau disuruh sana, ya sana." Aku menghela napas kasar, memilih berdiri dan membawa piring batagor milikku ke tempat lain "Nad." Aku menoleh cepat, dan mendapatkan Aldric yang sedang menatapku bingung. "Nyari meja? Bareng gue aja." "Dimana?" Aku mengikuti langkah Aldric ke sudut kantin, dan terlihat satu meja berukuran sedang dengan dua kursi yang tersisa. Aku tanpa sadar menghembuskan napas lega. "Gimana?" "Apa?" tanyaku bingung ketika hendak mulai makan. "Jadi temen gue?" Mulutku spontan terbuka, lelaki ini sepertinya tidak akan putus asa untuk memintaku menjadi temannya. Dan selanjutnya, aku tersenyum, mengangguk padanya. "Iya, Aldric, iya." "Aldric lagi?" "Gue manggil Aldric aja, ya?" "Silahkan. Lagian gue suka kok." *** Tiga bulan sudah aku menjalani status sebagai anak SMA. Dan ya, hubungan pertemananku dan Aldric terbilang baik. Namun satu fakta yang masih tidak bisa kuhindari, segala perhatian lelaki itu, sukses membuatku nyaman. Salah satunya, dia tidak membiarkanku untuk pulang sendiri dan selalu mengantarkanku. Kali ini, mobil Aldric tengah terjebak di tengah kemacetan kota. Suasana di mobil hening sejak tadi. Aldric bertanya padaku dan hanya kutanggapi singkat. Bukan, bukan berniat mengabaikannya, hanya saja, pikiran dan hatiku sedang dalam keadaan tidak baik. Aku mengeluarkan ponsel, melihat deretan nomor dengan ragu. Kuputuskan untuk menguhubungi nomor tersebut dan mulai meletakkan ponsel di telinga. Dering pertama, kedua, ketiga, dan diangkat. "Hallo, Ma?" "Nad, maaf ya, Mama sibuk." "Ma," panggilku lebih keras. "Iya, Nad?" "Mama kapan pulang?" "Besok udah berangkat ke Jakarta lagi, kok. Nad, Mama tutup ya?" "Hm," jawabku terpaksa sambil menahan sesak. Kurasakan mataku yang memanas, dan dengan cepat kuusap. Takut lelaki di sebelahku sadar. "Nad? Lo nggak apa-apa?" "Mama gue sayang gue nggak, sih?" tanyaku begitu saja. "Nad, lo kenapa?" "Sedih aja kenapa mama lebih sayang sama kerjaan daripada sama gue." "Nad...." "Gue lebay, ya? Gue pengen nangis doang kok. Boleh nggak?" Saat melihat respon mengangguk dari Aldric, air mataku akhirnya mengalir. Dan tak mampu kutolak saat Aldric menarikku dalam dekapannya. "Gue janji bakalan selalu ada, bakalan jadi orang yang selalu nerbitin senyum di wajah lo, Nad." Deg! ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD