[14] Berdua

3057 Words
"Bukankah hati itu seperti dadu yang dilempar? Tidak dapat ditentukan akan jatuh kemana dan memperlihatkan apa. Dia jatuh begitu saja, dengan sangat mudah." —Di bawah langit malam. NADINE'S POV "Mau minum apa?" "Apaan, sih, Mbak, pakai nawarin, nanti aku yang ambil sendiri." Aku tersenyum, lalu mengambil tempat di seberang Reva. Kami tengah berada di ruangan lain dari rumahku, dulunya kamar, namun aku meminta agar ruangan ini dapat aku pakai dulu untuk kegiatan kerja sementara waktu. Karena setelah ini, aku memutuskan untuk pindah. Sean memberi tahu padaku bahwa dia akan membeli rumah. Aku sungguh kaget saat pria itu menghubungiku dan mengatakan bahwa ada seseorang yang menawari rumah padanya. Mungkin dalam minggu ini, Sean dan orang itu akan bertemu untuk membahas perihal harga rumah. Karena Sean mengajakku untuk tinggal disana, akupun memutuskan untuk membayar separuh dari harga rumah itu. Aku tentu saja tidak menolak, terlebih saat Sean berkata bahwa suasana disana nanti dapat membantu kesehatanku. Bersosialisasi dengan orang sekitar, pasti akan menyenangkan. "Jadi pas makan siang?" "Iya, Mbak. Nggak jauh dari sini tempatnya." "Rev, Menurut kamu, kalau aku buka butik gitu gimana? Tapi aku tetep mau kamu bantuin aku." "Jadi mbak serius nih?" "Ya iya, masa becanda sih. Tapi akunya masih cari-cari tempat yang lokasinya strategis jugasih." "Kayaknya aku bisa minta bantuan ke temen aku buat cariin tempat yang lokasinya bagus, mbak. Nanti juga kalau butuh model-model, aku tau minta tolong ke siapa. Juga mbak, itu beneran yang tawaran-tawaran kerja kemarin gamau di acc?" "Biarin itu jadi rezeki orang lain aja," ujarku pelan sambil tersenyum. "Sampai nanti semuanya selesai, aku mau ngisi waktu luang sambil ngedesign dulu. Kalau temen-temen kamu ada yang butuh kerjaan, nanti kasih tau mereka. Tapi jangan sekarang, nanti aja kalau rencananya udah rampung 90%." Bel rumah berbunyi, aku baru saja ingin berdiri, tetapi Reva lebih cepat. Tanpa suara, perempuan itu berjalan keluar kamar. Setelah itu, aku memilih ke kamar mandi, bersiap sebentar sebelum pergi. Setelah selesai, aku turun ke bawah dibalut dengan baju lengan panjang high neck berwarna maroon serta jeans putih, dan higheels maroon menghias kaki. Aku mendapati mama serta Reva tengah sibuk dengan barang-barang yang baru mama beli. Aku mendekat, ikut penasaran dengan barang-barang tersebut. "Abis ngeborong dimana deh, Ma?" tanyaku sambil mengamati sebuah tas. "Tadi niatnya kepengen beliin sesuatu buat Aqila, eh malah kalap." "Makanya ajak Nadine, jadinya nggak kalap, ada yang ingetin." "Mama insaf kalau belanja sama kamu. Yang ada kebanyakan duduknya." "Enggak juga," elakku cepat. "Apanya yang enggak? Baru belanja satu langsung ajak makan." Memang benar.... "Yakan capek jalan terus. Dari lima toko, barang yang dibeli cuma dari satu toko. Mending dudukkan, abisan kaki mudah pegel." "Tua kamu, mudaan mama berarti." "Yee mama, sadar umur aja kalau itu mah," ujarku cepat lalu memilih ke dapur, mengambil minum. "Udah ah, ma. Nadine sama Reva pergi dulu ya." Aku bersuara saat sudah kembali ke tempat semula. "Yah nggak makan siang dulu?" tanya mama sambil berdiri. "Meetingnya sekalian makan siang, Ma." "Gitu ya? Yaudah kalau gitu hati-hati. Abis itu langsung pulang?" "Nggak tau." "Mama denger dari tante Ine, kamu sama Sean mau beli rumah?" Aku menoleh pada mama, menggigit bibir sambil berpikir. Niatku sebenarnya akan memberi tau pada mama hal itu nanti, tetapi tante Ine—mama Sean—ternyata sudah bersuara lebih dulu. "Hm." "Kamu pindah? Buat apasih, Nad?" "Kita bicarain ini nanti ya, ma? Nadine udah telat. Ayo, Rev," pamitku akhirnya dan setelah itu berjalan keluar rumah. Setelah berada di mobil dan Reva yang akhirnya pun datang menyusul, aku segera melaju meninggalkan rumah. Harusnya aku mengerti, bahwa mama tidak akan semudah itu memberiku izin untuk tinggal terpisah. Tetapi, kupikir akan banyak hal positif yang kudapati ketika tinggal di lingkungan baru nanti. "Mbak nggak apa-apa?" Aku menoleh pada Reva sekilas dan menggeleng pelan. "I'm good." "Ibuk mungkin cuma takut kesepian lagi, Mbak." "Aku tau. Makanya aku lagi mikirin gimana caranya supaya mama mau ngelepas." "Kasih tau apa aja positifnya kalau Mbak pindah nanti, mungkin ibuk bisa ngerti." "Iya, Rev, iya." *** "Nah jadi detailnya bakal aku kerjain secepetnya. Kalau udah selesai, nanti langsung aku kabarin." "Kalau bisa secepetnya banget ya, Nak Nadine." Aku tersenyum sembari mengangguk. "Oh iya, nanti kalau acaranya udah deket, undangannya pasti sampai ke kamu." "Aku usahain buat dateng, Tante." "Makasih lho, Nad." Aku tertawa pelan menatap Aries, perempuan yang sebentar lagi akan menyandang status istri tersebut terlihat sangat manis dengan kacamatanya. "Selamet ya, aku doain semuanya lancar." Setelah itu, aku menerima uluran tangan istri Pak Adam—yang lebih ingin dipanggil Tante Ori—dan Aries. Kurang lebih satu jam sudah kami berdiskusi mengenai apa yang Aries inginkan. Semuanya berjalan lancar hingga kini. Dan nanti malam, waktuku akan tersita untuk design ini. Aku menatap kepergian Aries dan tante Ori lalu kembali mengalihkan pandangan pada sketchbook di genggaman. Reva yang sedang sibuk dengan benda persegi panjang di depannya terlihat sangat serius. Aku tersenyum tipis, merasa beruntung karena memiliki Reva sebagai rekan kerja. "Eh, Mbak?" Aku tersentak, dan Reva langsung saja memutar laptopnya sehingga layarnya terarah padaku. "Ini orang mau ketemu sama Mbak sore ini." Aku mengernyit, ketika Reva menunjukkan sebuah pesan terbaru padaku. Dan ketika kulihat alamat email miliknya, mataku seketika membesar. "Kenapa, Mbak?" "Kamu nggak baca alamat emailnya? Itu lho, itu laki-laki yang kemarin kenalan sama kamu, di Bali." "Jadi ini Azka omnya Dimi itu?!?" Aku mengangguk cepat, dan mulut perempuan di depanku sukses terbuka. "Kok? Kok bisa? Kok mau ketemuan sama Mbak? Saling kenal emangnya?" "Ha? Eh...." "Saling kenal, Mbak?" "Ya ... yagitudeh." "SERIUS?" "Yakan waktu di Bali kemarin kamu liat aku ngobrol bareng kakaknya, ayahnya Dimi." "Oh iya bener juga." "Ya emang bener." "Terus-terus, sekarang kontakan?" "Hm." "Berarti punya nomornya, kan?" "Kenapa?" "Boleh aku minta nggak, Mbak? Dia juga lagi kosong, kan?" "Eh?" "Kenapa, Mbak? Dia udah ada yang punya? Siapa, mbak? Mbak tau?" Baiklah. Apa yang akan kalian lakukan saat berada di posisiku? Mungkin memang salahku, karena tidak mengatakan pada Reva siapa Aldric sebenarnya. Yang Reva tau hanya sebatas, aku terluka akibat sahabatku sendiri. Dia tidak tau tentang siapa Aldric, dan apapun yang berhubungan dengan pria itu. Karena aku sendiripun tidak ingin memberi tau. Aku menghela napas, menatap Reva sambil memaksakan senyum sebelum bersuara. "Aku—" Baiklah, katakan apa tidak? Jika iya, aku sendiripun akan lega, bukan? Dan jika tidak, tentu saja banyak hal yang akan terjadi, aku rasa. "—aku tau." Suaraku lagi. "Siapa, Mbak?" "Aku, Rev." Dan mulut perempuan di depanku sukses terbuka lebar. Baiklah, aku dan Aldric memang belum berada dalam suatu hubungan. Namun perkataan pria itu semalam cukup jelas, bukan? Siapapun yang mendengar pasti akan mengerti maksudnya. Ya, katakan aku jahat. Namun aku hanya ingin mempertahankan sesuatu yang selama ini sudah lama kusia-siakan. "Rev, kayaknya aku harus cerita sama kamu." Reva tetap diam, entah karena tidak terima, atau malah karena kaget, aku tidak tau. Namun tanpa menunggu balasannya, aku kembali bersuara. "Azka itu, sahabat yang pernah aku ceritain ke kamu. Dia orangnya, Rev. Dia masa lalu aku selama ini. Dia orang yang dalam tiga tahun itu selalu nemenin aku. SMA itu masa abu-abukan? Tapi karena dia, itu nggak lagi jadi abu-abu. Masa itu jadi penuh warna, Rev. Mungkin kesalahan aku karena nggak pernah cerita sama kamu. Tapi aku nggak tau kalau ternyata situasi ini bakalan kejadian. Aku minta maaf." Reva yang sejak tadi diam, pelan tampak tersenyum. Namun aku tau bahwa dia sedikit tidak rela. "Harusnya aku yang minta maaf, Mbak." "Kamu mau nomornya?" "Eh? Enggaklah, M. Aku nggak segila itu. Lagipula aku turut seneng, kalau mbak bisa lagi punya hubungan sama dia." "Sebenernya belum sih—" Akupun mengaku. "Susah dijelasin." "Ya kalau belum berarti akan." Aku tersenyum, mengamini dalam hati. "Eh tapi, Mbak—" "Kenapa?" "Kok dia nggak ngehubungin Mbak langsung? Kenapa malah kesini?" "Aku juga bingung." "Yaudah tunggu apalagi, Mbak hubungin sana tanyain mau ketemuan dimana." Aku mengernyit karena perkataan Reva ada benarnya. Kukeluarkan ponsel dan mencari kontak Aldric. "Buruan, Mbak. Greget nih." Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya kuhubungi pria tersebut. Jantungku kian berdetak cepat ketika tiap dering bergantian terdengar. Dan entah pada dering ke berapa, panggilanku terjawab. "Nad?" "Hm, ini aku." "Kenapa?" "Kamu bener mau ketemu?" Kugigit bibir setelah menanyakan hal tersebut. Sialan, aku malu. "Kamu udah baca emailnya?" "Hm." "Kamu bisa?" "Aku lowong kok sore ini." "Aku jemput kamu ya nanti, kamu lagi dimana?" "Aku lagi diluar, sih, soalnya tadi meeting sama klien. Tapi ini udah mau pulang juga sebenernya." "Aku jemput di rumah, ya." "Oke." "See you, Nad." "See you." Aku memutuskan sambungan lebih dulu. Merasakan detak jantung yang kian menggila akibat suara Aldric. Tuhan, aku butuh oksigen tambahan. Reva tampak menahan sesuatu, aku hanya menatapnya dengan bingung. "Gimana, Mbak?" "Dia jemput nanti." Jawabanku sepertinya menimbulkan reaksi berlebih dari Reva. Dia membuka mulut layaknya orang berteriak, namun tidak bersuara. Tangannya memukul meja berkali-kali. "Gila-gila. Sumpah aku nggak nyangka. Pengen teriak kenceng nih, greget." "Tadi itu bukan teriak?" "Tapikan nggak pake suara." "Yaudah ulang aja." "Yang ada aku dikatain sinting sama orang-orang." Aku tertawa, lalu berdiri. "Udah yuk, pulang." Reva mengangguk cepat, membereskan barang-barangnya lalu menyusulku yang sudah berjalan lebih dulu ke mobil. Tidak lama, Reva menyusul masuk. "Enak makan siangnya gratis," ujar perempuan di sampingku tiba-tiba. "Yang gratis yang nggak enak emangnya ada?" tanyaku skeptis, Reva terbahak. Aku menggeleng pelan dan mulai menjalankan mobil. Jalanan lumayan lancar, membuatku mengucap syukur dalam hati. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di rumah. Aku menyusul Reva yang sudah lebih dulu masuk. Perempuan itu sudah kutemukan tidak berdaya di atas bed sofa di depan televisi. Tangannya tampak bermain di atas remote, sibuk mengganti saluran. "Cuci muka sana," ujarku sambil melewatinya, berjalan menuju tangga dan memilih masuk kamar. Setelah bersih-bersih terhadap wajah dan lainnya, tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu, aku keluar kamar, segera menuju kamar lain tempatku bekerja. Jika aku bisa merampungkan design ini sebelum Aldric datang, maka nanti waktu luangku bersama Aldric akan lebih banyak, bukan? *** Entah sudah berapa lama tanganku sibuk dengan benda panjang yang terapit di antara jariku. Aku terlalu sibuk menorehkan kumpulan ide di kepala dalam bentuk gambar. Dan tanpa sadar, ketika melirik jam, jarum pendeknya ternyata sudah menunjukkan angka lima kurang lima belas menit. Tetapi Aldric tak kunjung tiba. Ya, aku mencoba berpikir positif. Entah Aldric yang memang belum kembali atau jalanan yang pasti dipadati oleh banyaknya orang-orang yang juga pulang kerja. Aku kembali melirik pada sketchbook, melihat hasil kerjaku dalam beberapa jam. Aku tersenyum sebentar lalu memilih berdiri, meninggalkan benda-benda itu di meja dan memilih keluar. Kuturuni anak tangga dan dapat kulihat Reva serta Aqila kini sibuk bercengkrama di depan televisi sambil mengunyah, entahlah. Mungkin keripik. Aku mendekat, menjatuhkan badan di samping Reva. Menjulurkan tangan untuk mengambil sesuatu yang mereka makan dari dalam toples. Benar saja, ini keripik. Kulirik dengan malas siaran gossip sore di depan, apa tidak ada acara lain? "Ini mesti banget acara sorenya ginian?" "Ih, Mbak. Ini seru," balas Reva cepat. "Acara gossip males, ah, yang lain aja." "Asal Mbak tau ya, ini tuh bukan sembarangan acara gossip." "Itu perempuan bukannya yang bawain gossip itu, apasih lupa namanya." "Silet." "Nah. Kenapa bisa pindah kesini?" "Ya kontraknya disitu mau gimana lagi." Aku tidak lagi bersuara, memilih mengikuti alur program tersebut. Lebih baik seperti ini, setidaknya membuatku sedikit lupa pada Aldric yang hingga kini belum datang. "Dia kok belum dateng, Mbak?" "Tau." "Siapa?" Aku dan Reva serempak menatap Aqila yang sejak tadi diam santai sambil berselonjor kaki. "Aldric." Jawabku pelan, dan Aqila sukses menatapku. "Seriusan?" Aku mengangguk pelan. "Aku pikir kata-kata aku ke kakak waktu itu ada gunanya. Kayaknya enggak." "Lo sendiri yang bilang kalau hati nggak bisa kita kontrolkan? Iya, gitu juga sama hati gue, Aqila." "Jadi dia bakalan kesini?" Aku menghela napas saat tau Aqila sedang mengalihkan topik. "Katanya gitu, tapi sampe sekarang juga nggak muncul." "Macet kali, Mbak." "Iya kali aja." "Telfoninlah!" Aqila berseru keras. "Males, ah." *** Aku baru saja selesai mandi dan bahkan akan turun ke bawah untuk makan malam. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa Aldric akan tiba. Ponselku ternyata tertinggal di ruang kerja. Setelah kunyalakan, terdapat beberapa missed call dari Aldric dan juga pesan baru. Segera kubuka pesan tersebut, dan aku hanya dapat menghela napas. Pria itu terjebak macet. Setelah berpikir beberapa kali, aku memilih untuk menghubunginya. Menanyakan kepastian kami bertemu. Lebih baik langsung bertemu di suatu tempat bukan, daripada menjemputku seperti ini. Tampaknya menghabiskan banyak waktu. Saat panggilan terhubung, jantungku kembali berdetak tak tentu. Namun kenyataan bahwa panggilanku ditolak membuatku makin kebingungan. Dia kenapa? "KAK!!" Aku tersentak, dan buru-buru keluar. "KAK, ADA TAMUNYA NIH." Aku kian mempercepat langkah, berbagai dugaan mengenai siapa yang datang memenuhi kepalaku. Benar saja, pria itu tampak bersalaman dengan mama dan baru berbalik badan. Menatapku. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menetralkan degub jantung. "Kok pakai daster?" tanya mama tampak tak terima. Aku melirik pada daster putih dengan corak buah semangka yang tengah aku kenakan. "Niatnya abis makan malem mau tidur," jawabku asal. "Taunya ada tamu." "Yaudah ajak tamunya kamu makan malem bareng." Aku mengernyit, tidak terima dengan suruhan mama. Mama sendiri sudah berdiri lebih dulu, menuju dapur. Sampai sekarang, aku masih bingung bagaimana hubungan mama papa dengan Aldric sebenarnya. Entah dalam kondisi aman atau malah siaga. Aku tidak mengerti. Aku menghela napas, mendekati Aldric. "Belum makan, kan?" tanyaku, tanpa menunggu jawaban, aku menarik tangannya, berjalan menuju meja makan bersamaan. Mama, Reva, dan Aqila sudah duduk lebih dulu. Sedangkan aku meminta Aldric duduk lalu menyusul di sampingnya. "Papa belum pulang, Ma?" tanyaku setelah meneguk air putih. "Sebentar lagi kayaknya." "Nggak ditungguin?" "Papa minta makan duluan. Yaudah kalian makan dulu aja." Aku mengangguk paham, lalu tanpa diminta, kugerakkan sendok berisi nasi ke arah piring Aldric. "Cukup?" Dia mengangguk, "mau pakai apa?" Setelah memberi apa yang Aldric inginkan, aku baru mengambil milikku. Dan setelah itu makan dalam diam. Pun tidak lama, terdengar suara pintu terbuka dan ucapan salam dari papa. Mama beranjak dari duduknya, menghampiri papa. "Udah makan duluan? Iya lanjutin aja. Lanjut, Azka." Papa tersenyum, ke arah Aldric sepertinya. "Malem, Om." Sapa Aldric. "Malem." "Papa makan dulu, Pa," tuturku pelan. Dan beruntung, papa mengangguk lalu duduk pada bagian ujung meja. "Udah dari tadi?" "Baru kok, Pa," jawab Aqila. "Nginep, Rev?" "Iya nih, Pak." "Sibuk banget ya kalian?" "Iya dong, Pak. Besok aja ada tiga klien yang bakal kita temuin." Reva terkekeh, sedangkan aku hanya tersenyum. "Bakalan pindah, Nad?" Gerakan tanganku pada sendok terhenti. Kutatap papa sesekali. "Satria bilang nggak apa-apa," jawabku pelan. "Kalau Papa larang, gimana?" "Emangnya kenapa?" "Kamu nggak bisa tinggal sendirian kayak gitu, papa juga nggak yakin." "Bareng Sean, Pa," ujarku lagi. "Nad, kalau kamu lagi nggak disini, wajar tinggal sendirian. Tapi masa satu kota gini kamu juga mau tinggal sendirian? Papa nggak ngasih." "Pa, Satria bilang nggak apa-apa. Juga malah bagus." "Satria emang psikiater kamu, Nad. Tapi Papa, papa kamu." Aku tiba-tiba terpaku, tadi papa mengatakan apa tentang Satria? Tuhan! Aku dengan cepat menundukkan kepala untuk menahan emosiku. Haruskah di depan Aldric? Haruskah di depan Aqila? Tidak cukupkah selama ini aku selalu terlihat menyedihkan? Dan papa tanpa sadar menambah lagi bebanku. "Iya! Karena Satria psikiater aku makanya aku percaya sama dia. Seenggaknya dia lebih tau keadaan aku, kan?" teriakku akhirnya. Aku berdiri, memilih meninggalkan meja makan dan berlari ke kamar. Kuhempas pintu ketika menutupnya. Kujatuhkan badan pada ranjang sambil memijit kepala. Aku benar-benar tidak mau jika Aldric mengetahui keadaanku selama ini. Bahkan Aqila juga tidak tau apa-apa tentang itu. Dan papa, oh Tuhan, bagaimana papa bisa dengan mudahnya mengatakan hal itu? Suara ketukan terdengar, dan aku tidak mempunyai satupun motivasi untuk membuka pintu tersebut. Biarlah, siapapun yang mengetuk, aku tidak peduli. "Nad." Suara itu. "Nggak mau buka pintunya?" tanyanya pelan. Aku memilih duduk, kepalaku benar-benar terasa berat. Dan pelan, aku berjalan menuju pintu. Wujud Aldric menjadi hal pertama yang kulihat ketika pintu terbuka. "Mau jalan-jalan sebentar?" tawarnya, dan aku memilih keluar kamar lalu menutup pintunya. Kulewati Aldric lebih dulu dan berjalan menuju balkon, aku hanya butuh angin yang mungkin saja dapat menghilangkan beban pikiranku. "Kamu lucu pakai baju itu." Jika dalam situasi biasa, pasti aku akan terbang melayang. Namun rasa tidak terima terhadap kalimat papa membuat semangatku hilang entah kemana. "Maaf, Nad. Tadi keluar kantor baru setengah enam, lagi di jalan ternyata udah azan, terus aku nyari masjid dulu buat salat. Jalanan juga macet." Aku mengangguk perlahan. "Kamu kenapa ajak ketemu?" tanyaku langsung. "Kangen." Aku terdiam, terkunci pada tatapannya. "Aku serius, Al." "Aku juga." "Kenapa lewat email? Kenapa nggak langsung SMS?" "Takut nggak dibales kamu. Kalau lewat emailkan kamu bisa mikir kalau aku pengen bicarain sesuatu tentang kerjaan. Taunya kamu malah nelfon." Bolehkah aku tersanjung? Aku menggigit bibir berusaha menahan senyum. "Senyum aja, nggak apa-apa. Kan cuma aku yang liatin." "Apaansih, Al." Dia tertawa, membuatku makin sebal. "Sean bilang kamu mau buka butik?" "Dia cerita apa ajasih ke kamu tentang aku?" "Semuanya. Kecuali bagian tadi." Aku terdiam. Bagian yang tidak diceritakan oleh Sean tentu saja mengenai keadaanku dan siapa Satria. "Aku tau kalau dia psikiater. Tapi aku pikir kalian emang cuma temenan. Tanpa ada hubungan dokter-pasien." Aku mengalihkan pandangan. "Maafin aku, Nad. Karena nggak pernah tau hal itu." "Emang baiknya kamu nggak tau, Al." "Maaf karena jadi pengecut selama ini. Dan nggak pernah usaha buat kamu." Mataku memanas seketika. Ayolah, aku sedang tidak ingin menangis. "Tujuh tahun itu nggak sebentar, Nad. Dan aku dengan bodohnya nyia-nyiain waktu sebanyak itu. Selama kamu di London dan tinggal bareng Sean, aku bener-bener nggak berani nanya apa-apa tentang kamu. Tapi waktu pertama kali kita ketemu lagi, aku langsung ngontak Sean. Dan mulai bahas kamu. Selama kamu di London juga, aku sering nanyain kabar kamu ke Mario. Jangankan buat kasih tau kabar kamu, kalau aku berani ngetik nama kamu di roomchat itu, dia bakalan langsung block aku. Dia megang janji banget ya, Nad?" "Waktu liat kamu sama Satria di Bali, harusnya aku sadar. Gimana kamu butuh banget sama Satria. Maafin aku, Nad." "Al, udah," ujarku terisak. Dan tersentak ketika Aldric memutar badanku dan membawa ke dalam dekapannya. "Jangan nangis, aku nggak suka liat kamu nangis." "Aku nggak nangis." Kurasakan jemarinya mengangkat daguku, membuatku mendongak. "Senyum dong, biar cantik." Kalimat itu.. Aldric tersenyum, kembali membelai lembut rambutku. "Aku cemburu, Nad." "Cemburu gimana?" tanyaku bingung dalam keadaan jantung berdegub kencang. "Cemburu sama Mario, sama Sean. Mereka beruntung bisa ngeliat muka lucu kamu kalo lagi pake beanie." Apa? "Kamu mau aku pakai beanie di depan kamu?" "Hm." "Kalau aku nggak mau?" "Aku nggak lepas pelukannya." "Yaudah, kalau gitu aku nggak mau pake beanie." Aku kembali mendongak, menatap Aldric yang kini terlihat dengan ekspresi sulit dibaca sukses membuatku tertawa. "Al." "Hm?" "Amira sebenernya siapa?" Dan akhirnya, pertanyaan itu dapat kusuarakan. ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD