[15] Just a Friend to You

1908 Words
"Iya, paham, kalau kita cuma berteman." —Dibalik selimut, ketika hendak tidur. NADINE'S POV Aku menatap Aldric penuh harap setelah pertanyaan itu meluncur, merusak suasana memang, namun aku terlanjur penasaran. Lelaki itu melepas pelukan dan mengusap wajah, terlihat menghela napas. "Kamu deket sama dia?" tanyaku pelan. "Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia kalau itu maksud pertanyaan kamu." "Dia siapa, Al?" "Temen." "Keliatan nggak baik buat dijadiin temen," balasku tanpa pikir. "Sejak kapan kamu bisa nilai orang gitu?" Aku seketika menoleh, apa tadi katanya? "Kamu belum kenal dia, Nad. Orang-orang di kantor juga pada jauhin dia, mereka cuma nggak tau gimana Amira sebenernya." "Berarti kamu tau banyak dong tentang dia?" "Nad, cuma aku temennya di kantor." "Emangnya dia nggak bisa berbaur sama yang lain? Al, dia kerja di lingkungan luas, dimana dia harus sanggup buat bersosialisasi. Mustahil kalau cuma kamu temennya." "Kalau emang gitu kenyataannya gimana? Dari awal dia dateng, orang-orang udah mandang dia sebelah mata, Nad." "Kalau nyatanya kamu yang terlalu buta gimana? Kalau orang-orang yang nggak suka sama dia ternyata emang bener? Satu individu kalau dijauhin, berarti ada masalah sama dia." "Kamu nggak tau Amira, Nad." "Terus?" "Berhenti ngejudge dia." Aku langsung saja memaksakan tawa, menatap pria di depanku dengan kekesalan luar biasa. Napasku menderu seketika, dan tanpa berkata lagi, aku berjalan menjauh. Meninggalkan balkon dan masuk ke kamar. Kularikan diri menuju kamar mandi, membasuh wajah dan menepuk pipi. Sebenarnya siapa Amira? Kenapa Aldric begitu peduli padanya? Suara ketukan pintu kamar terdengar, dan aku sama sekali tidak berniat membuka pintu. Baiklah, lebih baik aku tidur. *** Sudah seminggu sejak kejadian malam itu, aku memilih mengabaikan Aldric. Ini demi kesehatanku. Satria berkata bahwa dengan tidak bertemu Aldric dulu, emosiku akan lebih stabil. Aku juga tidak tau kenapa mulutku begitu semangat mengatakan bahwa Amira bukanlah orang baik. Aku memang belum mengenalnya, dan itu mengapa aku memilih pergi saat itu, agar emosiku tidak kian terpancing dan nantinya malah terus bersuara buruk terhadap Amira. Sedikit, Aldric memang benar, aku tidak mengenal perempuan itu. "Mbak?" Aku tersentak saat Reva menggoncang tubuhku. "Eh?" "Mbak kenapa?" "Enggak, nggak apa-apa." "Yaudah ayo, Mbak." "Kemana?" "Ya, pulang. Kan Mbak yang ngajak tadi." Bodoh. Bisa-bisanya aku bertingkah seperti ini. "Eh, sorry-sorry. Yaudah ayo." Aku berdiri lebih dulu, berjalan keluar dari tempat yang nantinya akan menjadi butikku. Setelah terus mencari, akhirnya juga atas bantuan teman Reva, aku mendapatkan lokasi yang bagus. Selanjutnya mengurus hal lain yang juga sama pentingnya. Aku dan Reva segera menuju tempat lain untuk bertemu dengan tante Ana. Menurut rencana, kami akan mulai melangsungkan kerja sama. Tante Ana dan tenaga kerjanya akan membantuku untuk merealisasikan kumpulan designku ke dalam bentuk nyata. Ini juga berkat mama, karena mama dan tante Ana berteman baik. Juga, untuk mempercantik butik di bagian dalam maupun luar, aku menghubungi Sean. Mencoba meminta bantuannya berharap dia memiliki kenalan. Dan pria gila itu dengan santainya menyebut nama Aldric. "Gue butuh designer interior, mas ganteng," tuturku sebal. "Kali aja dia bisa nolongin, atau mungkin bisa ngenalin lo ke orang yang ngerti hal-hal gituan." "Elo dong, bantuin gue." "Kok gue? Lo tinggal ngehubungin Azka, cantik." "Lagi males." "Emang ya lo, lagi ada masalah aja sama dia selalu ke gue. Coba lagi seneng, lupa." "Iya, nggak lupa lagi. Tolong ya." Kuputuskan langsung sambungan telpon dan mulai menyibuki diri dengan sketchbook di depanku. Aku kembali mengingat obrolan singkat dengan Sean semalam. Sepertinya kepala pria itu memang sedikit terbentur sehingga dia bersifat mengesalkan seperti itu. Aku menghela napas, memilih fokus pada jalanan di depan. "Bangunan tadi bagus ya, Mbak. Gede luas gitu di dalemnya." "Makasih banget sama temen kamu, Rev. Aku bahkan nggak kepikiran buat nyari bangunan di lokasi itu." "Semoga ke depannya semuanya lancar deh." "Model-model itu udah kamu kontak?" "Udah semalem, cuman baru sekitar lima orang. Yang lain belum jawab." "Ketemu kapan?" "Makan malem ini." Aku menoleh cepat pada Reva. "Malem ini?" "Iya harus gerak cepet, Mbak." "Nggak bisa besok apa ya?" "Pada bisa malem ini, ya malem ini." Aku menatap Reva dan hanya bisa menghela napas. Aku cinta perempuan ini, percayalah. *** Setelah menghabiskan waktu siang di tempat tante Ana, aku hanya berhasil mendapat waktu istirahat selama satu jam. Dan kali ini, aku dan Reva sibuk bercengkrama dengan lima perempuan cantik di depan kami. Kuakui, mereka akan cocok menjadi model-model untuk designku. Ketika tengah membicarakan perihal kontrak dan bayaran, ponselku bergetar. Aku menatap layar ponsel dan menemukan satu pesan baru dari Aldric. From: Aldric. Sean bilang kalau kamu butuh designer interior? Aku punya lumayan banyak kenalan. Aku memutuskan untuk tidak membalas dulu pesan tersebut. Kumatikan ponsel dan fokus pada meeting kali ini. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, meeting itu selesai. Aku menghembuskan napas lega juga lelah. Aku sangat butuh tidur. Reva tengah membereskan barang-barangnya, sedangkan aku memilih untuk memejamkan mata sebentar. "Mbak." "Sebentar, Rev. Lima menit aja." Tidak lagi kudengar suara Reva. Syukurlah, dia mengerti. Mungkin nanti, aku akan meminta Reva saja yang menyetir. Karena aku sudah tidak kuat. Tidur di sofa tempat ini hanya dapat menampung sedikit rasa lelahku. Tuhan, untuk berjalan ke mobil saja sepertinya aku membutuhkan tenaga baru. "Udah lima menit, Nad." Aku membuka mata, dan Aldric sudah duduk tepat di seberangku. Reva tidak lagi terlihat. Kenapa perempuan itu tidak memberi tau padaku? Aku menghela napas, memilih berdiri. Berjalan sempoyongan menuju pintu keluar. Ketika berhasil keluar dari restaurant, sialnya aku tidak menemukan mobilku. "Reva aku suruh pulang duluan." Aku membalik cepat. Kali ini menahan kesal. "Nggak usah aneh-aneh. Ngapain coba kamu nyuruh Reva pulang duluan?!" "Ya kamunya pulang sama aku." Aku tertawa pelan, sepertinya pria di depanku memang sangat pandai dalam hal menghibur. "Aku bisa pulang pake taksi." Ujarku datar. Aku memegangi kepala yang benar-benar terasa berat. "Nad!" Kupikir aku akan terjatuh, namun ternyata Aldric lebih cepat menangkap dan menahan pundakku. Aku berontak, namun sialnya, Aldric ternyata membawaku ke mobilnya. Ketika pintu penumpang bagian depan terbuka, samar-samar kulihat wujud perempuan. "Lo pindah ke belakang ya, Ra." Apa? Siapa tadi? Ra? Amira? Aldric menuntunku masuk mobil dengan perlahan. Setelah itu, tidak dapat kupingkiri, jantungku berdetak tidak karuan ketika Aldric mendekat, harum parfumnya membuatku seketika gila. Sesaat kemudian, kurasakan sandaran kursi lebih menurun, membuatku lebih nyaman. Pipi Aldric masih berada dekat denganku, dan entah keberanian dari mana, kukecup pelan pipi itu. Aldric menatapku, dan dengan cepat kututup kembali mata mencoba untuk menghilangkan degub jantung yang menggila. Aku membiarkan Aldric keluar, terdengar dari suara pintu mobil yang ditutup. Baru ketika yakin dia sudah masuk dan duduk di balik setir, aku memberanikan diri untuk membuka mata. Ketika mobil sudah bergerak, Aldric mulai memecah hening di antara kami. "Aku anterin kamu ya," kata Aldric saat mobil mulai bergerak. "Anterin temen kamu aja dulu," balasku langsung. Mana mungkin aku sanggup membiarkan mereka berdua di dalam mobil setelah aku tiba di rumah nanti? Kulepas higheelsku dan mulai memposisikan diri senyaman mungkin. Hanya nyanyian dari radio yang membuat suasana disini sedikit lebih hidup. "Tinggal dimana, Nad?" Aku menaikkan alis ketika mendengar tanya Amira, berpikir sebentar. "Kenapa?" balasku bertanya. "Pengen tau aja." "Oh." Sudah. Hanya itu. Lagipula, aku tidak akan memberi tahukan alamatku padanya. Aku berusaha memejamkan mata, namun lantunan nada yang berasal dari radio membuatku kembali membuka mata. Why you gotta hug me? Like that every time you see me? Why you always making me laugh? Swear you're catching feelings. I loved you from the start. So it breaks my heart.... When you say I'm just a friend to you. Cause friends don't do the things we do. Everybody knows you love me too. Tryna be careful with the words I use. I say it cause I'm dying to. I'm so much more than just a friend to you.... Hei, lagu macam apa ini? Aku membuang muka untuk melihat suasana malam dari kaca sampingku. Membiarkan lagu itu terus menghapus sepi yang tercipta disini. When there's other people around. You never wanna kiss me. You tell me it's too late to hang out. And you say you miss me. And I loved you from the start. So it breaks my heart.... When you say I'm just a friend to you. Cause friends don't do the things we do. Everybody knows you love me too. Tryna be careful with the words I use. I say it cause I'm dying to. I'm so much more than just a friend to you.... Aku segera menekan radio tersebut agar salurannya terganti. Membuat Amira tidak terima sedangkan Aldric menatapku bingung. Lagunya terdengar menyakitkan, sungguh. Saluran lain ternyata tengah menghibur pendengar dengan lagu islami, ini lebih baik. "Kenapa diganti deh?" kata Amira terdengar tidak suka. "Bagusan ini. Inget dosa sekali-kali," jawabku pun dengan nada tidak senang. "Nggak tidur?" tanya Aldric kemudian, seakan bermaksud menengahi kami. "Udah ilang ngantuknya." Aku menatap Aldric, berpikir sebentar. "Tadi kamu darimana? Kok bisa tau aku disana." "Aku SMS Reva, soalnya kamu nggak bales pesan aku." "Tadi lagi sibuk. Terus kok bisa tau nomor Reva?" "Aku minta Sean." "Sean melulu." "Kamu juga ke Sean terus, tentang designer interior itu juga minta ke Sean, kan? Padahal kamu bisa minta tolong ke aku." "Males." "Aku punya banyak kenalan, Nad. Aku jamin kerja mereka bakalan bikin keadaan butik kamu makin bagus, nggak bakal ngecewain." Aku menggigit bibir karena bingung. Sebenarnya aku begitu ingin menerima tawaran tersebut, tapi rasa gengsi masih menyelimutiku, ditambah karena Amira ada disini. Lalu aku harus menjawab apa? "Gimana?" tanya Aldric lagi. "Aku suruh Reva aja nanti." "Reva udah minta ke aku, tapi kayaknya belum bilang kamu." Tuhan.... "Yaudah ntar aja," jawabku pelan. "Kita bahas sambil makan?" "Kamu belum makan?" "Al, gue juga belum makan." Aku memutar kepala, mengernyit bingung pada Amira. "Yaudah makan berdua aja," celetukku tanpa pikir. "Nanti nyokap lo nyariin lagi gimana?" Dalam hati aku bersyukur. Sebab tidak ada lagi jawaban dari Amira selain keributan yang berasal dari penyiar radio. Sekitar sepuluh menit kemudian, kami tiba di depan rumah Amira. Perempuan itu turun dan aku mengernyit saat Aldric juga ikut turun. Kuperhatikan dari dalam mobil Aldric dan Amira yang berjalan mendekati pintu rumah. Terlebih ketika ibu Amira tertawa terbahak dan memeluk Aldric santai. Mungkin lima menit, akhirnya Aldric kembali. Aku memandang lelaki itu bingung, dan dia tampak mengusap bagian tengkuk. "Sedeket itu ya sama mamanya?" "Aku juga nggak tau kenapa bisa kayak gitu." Aku diam, malas bersuara. "Mau makan dimana?" "Terserah kamu." "Nad?" "Kenapa?" "Aku nggak mau lagi dicuekin kamu semingguan. Aku sama Amira cuma temen, Nad. Mamanya juga baik." "Kalau mamanya mau kamu jadi anaknya juga gimana?" Dan sialnya, Aldric tidak menjawab pertanyaan itu. Dia diam, terus menatap ke depan. "Makan disini aja, ya?" Belum memberi persetujuan, Aldric sudah memarkirkan mobil di pondok makan yang menjual nasi goreng dan kawan-kawannya. Aku menghela napas, mengikuti langkah pria itu. Kutinggalkan Aldric yang berhenti di dekat si penjual, dia memesan dan aku mencari tempat duduk. Aku hanya makan sedikit tadi, karena terlalu sibuk. Reva juga sudah memarahiku, dan hanya kuanggap angin lalu. "Kamu ceplok, kan?" Aku mengangguk. Menatap Aldric yang mengambil tempat di seberangku. Aku menunduk, memijit kepala yang terasa berat. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan Amira. "Nadine! Nadine!" Aku merasakan genggaman Aldric di lenganku, dan pria itu dengan cepat sudah berpindah posisi di sampingku. Aku menarik napas, dan membuangnya perlahan. Dan kulakukan beberapa kali. Aldric menuntun kepalaku untuk bersandar pada bahunya. Aku tidak menolak, bahkan ini terasa lebih nyaman. "Ini di minum dulu." Aku menerima uluran gelas yang Aldric beri, setelah meneguk habis setengah air putih, aku masih berusaha bernapas dengan baik. "Nadine?!" Aku mendongak, dan terpaku pada dua pria di depanku. Langsung saja kularikan sebelah tangan ke dahi. Satria. Razza. Aldric. Apa ada situasi yang lebih parah lagi? ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD