"Jika saja memilih dan mengalihkan perasaan itu mudah, sudah sejak lama aku akan berlabuh pada orang yang bukan kamu." —Tertanda, malaikatmu.
NADINE'S POV
Aku menatap lagi Satria dan Razza dengan pikiran berkecamuk. Tanpa bertanya terlebih dahulu, dua pria itu mengambil tempat di depan kami—aku dan Aldric. Aku sedikit merasa tenang karena Aldric berada di sebelahku.
"Kamu nggak apa-apa?" Satria bertanya sambil menatapku panik.
"Gapapa, kok," jawabku pelan.
"Kalian abis dari mana?" Satria kembali bersuara.
"Nggak kemana-mana. Gue jemput Nadine, terus kesini."
"Mobil kamu udah di rumah?" Kali ini aku menoleh pada Razza, mengernyit bingung. Untuk apa dia peduli pada mobilku? "Waktu itu aku yang mecahin kacanya supaya bisa ngeluarin kamu, Nad." Aku mengerjap beberapa kali. Pria itu menampilkan senyum yang bisa kunilai tulus.
Ketika ingin menanggapi Razza, penjual nasi goreng ternyata tiba dengan piring pesanan kami. Aku menerima piring yang Aldric ulurkan. "Makasih buat itu." Aku menatap Razza sebentar, lalu mengalihkan pandangan pada sebotol saus.
Aku memilih sibuk dengan nasi goreng di depanku. Membiarkan tiga pria ini sibuk dalam obrolan mereka. Jika saja aku bisa menghilang, pasti hal itu sudah kulakukan. Suasana ini benar-benar tidak nyaman. Terasa aneh. Hal yang membuatku tidak habis pikir, kenapa mereka bertiga bisa-bisanya terlihat santai? Seperti tidak ada hal yang harus dikhawatirkan.
"Nad." Aku tersentak saat Razza memanggil. "Kamu lagi butuh designer interior? Temen aku ada yang bisa bantuin kamu." Aku menatap Razza dan berusaha untuk tidak terlihat bingung.
"Tau darimana?" tanyaku pelan.
"Aku yang bilang, niatnya mau bantuin kamu." Aku menahan diri untuk tidak menghela napas ketika Satria bersuara. "Kamu belum dapet orangnya, kan?"
"Udah." Aldric menjawab. "Kenalan gue juga banyak, jadi Nadine setuju."
Aku memperhatikan Razza sebentar. Bayangan tentang percakapan kami di tempat makan saat itu kembali terputar dalam kepalaku. Jujur saja, kekesalan terhadap pria itu memang kian bertambah ketika kami terlibat obrolan dengan Aldric sebagai topiknya. Namun Razza juga tidak sepenuhnya salah mengenai kalimat bahwa Aldric yang akan bertunangan. Walaupun semuanya sudah jelas, Aldric tidak akan bertunangan.
Mengetahui bahwa Razza yang menolongku hari itu, setidaknya membuat tingkat kekesalanku berkurang. Ya, harusnya aku sadar mengapa Razza bersikap seperti itu. Karena perasaan tersebut masih tetap ada, bukan? Jika aku tidak bisa menerimanya, setidaknya aku bisa menghargai pria ini.
Aku tengah mencoba menghabiskan makananku hingga akhirnya, "Aqila apa kabar, Nad?" Pertanyaan Razza sukses membuatku terpaku. Sepertinya Razza sudah tidak lagi menutupi fakta bahwa dia dan Aqila memang saling mengenal.
"Baik," jawabku jujur.
"Boleh minta tolong?"
"Apa?"
"Tanyain dia, kenapa ngehindarin aku?"
"Nggak lo aja, gue juga." Aku menoleh menatap Aldric yang ikut bersuara.
"Aku nggak mau ikut campur sebenernya, tapi nanti bakal aku coba tanyain ke dia."
"Dia sama Leo punya hubungan?" Aldric kembali bertanya.
"Tau darimana?" tanyaku bingung.
"Reuni kemarin, aku ngeliat mereka berdua kemana-mana selalu bareng."
"Leo juga udah dua kali ngelamar Aqila. Walaupun terus ditolak." Aku memberitahu mereka dengan tenang. Reaksi Razza dan Aldric memang tampak biasa saja, namun aku tahu kalimat yang baru saja aku katakan mampu membuat mereka terpaku.
"Ngelamar?!"
"Hm."
"Aqila nolak? Kenapa?" Aku mengernyit menatap Razza.
"Belum siap nikah," jawabku asal. "Banyak yang dipertimbangin sama Aqila, termasuk dia yang masih tinggal di Jogja."
"Terus kamu, gimana London?"
"Baik."
"Kamu beneran nggak pernah pulang dalam tujuh tahun ini?"
"Males."
"Padahal aku selalu ngarep kamu balik, Nad." Aku menelan saliva susah payah. Apa maksud pria ini? Apa dia pikir kalimat tersebut akan mendatangkan situasi yang baik? Dengan adanya Aldric serta Satria, ini benar-benar tidak lucu.
"Za—"
"Dua tahun lalu aku kesana, buat nyari kamu. Aku liat kamu, Nad. Tapi aku nggak berani deketin kamu."
Tuhan, pria ini kenapa?
"Kamu udah selesei makan, Nad?" Aku menoleh kaget pada Aldric. Kutatap nasi goreng yang masih termakan separuh, tanpa menunggu jawabanku, Aldric berdiri, lalu berjalan menuju kasir.
"Za, ini nggak lucu," ujarku menatapnya sambil menahan kekesalan.
"Aku boleh minta nomor kamu?"
"Kayaknya kamu nggak butuh nomor aku."
"Aku mohon, Nad."
Kuhela napas lalu memberi ponselku pada Razza. Membiarkan pria itu menyelesaikan urusannya. Bertepatan dengan Aldric yang kembali, Razza mengembalikan ponselku.
"Kamu pulang sama aku?" Satria yang sejak tadi diam rupanya kembali mengeluarkan tanya. Aku tidak menjawab, tawaran Satria tidak mungkin aku terimakan? "Aku ada perlu sama Sean, kebetulan dia lagi di rumah kamu."
"Nadine pulang sama gue." Aldric bersuara sambil menggenggam pergelangan tanganku. Lalu tanpa suara, dia menarik tanganku menjauh, berjalan menuju mobil.
Setelah duduk dan keadaan jok yang juga membuatku nyaman, aku memilih untuk tidur. Aku hanya takut jika Aldric memulai percakapan mengenai Razza. Dan menurutku, tidur adalah opsi yang bagus saat ini.
***
Aku mengerang perlahan, lalu mulai membuka mata. Aldric terlihat tenang di sebelahku. Rumahku juga sudah tidak jauh lagi. Entah berapa lama aku tertidur dan membiarkan pria ini sendirian.
"Al," panggilku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Eh? Udah bangun?"
"Kasian kamu sendirian."
"Kamu nyenyak banget tidurnya." Aku memilih diam setelah mendengar kalimat Aldric. Menatap pemandangan di luar. Mobil Aldric mulai memasuki gerbang perumahanku. Membuatku harus menahan helaan napas yang akan keluar. Jujur saja, aku belum ingin pulang.
Beberapa saat kemudian, mobil Aldric tepat berhenti di depan rumahku. "Makasih, ya, udah nganterin." Ujarku sebelum membuka pintu mobil. Namun gerakanku terhenti karena Aldric memegang lenganku.
"Aku mau bilang sesuatu, Nad."
"Yaudah, bilang aja."
"Aku—" Jantungku yang sudah berdetak kencang ternyata dikejutkan oleh suara ponsel milik Aldric. Pria itu menatapku seakan-akan tengah meminta izin. Dan aku perlahan hanya mengangguk.
"Halo, Ra?"
Ra, lagi? Tuhan, ada apa dengan wanita itu sebenarnya?
"Dimana? Lo dimana sekarang?" Aku tersentak, saat Aldric berbicara dengan nada lebih kuat daripada sebelumnya. "Gue nyusul kesana, lo jangan panik. Amira jangan ngomong kayak gitu! Semuanya bakal baik-baik aja." Aldric memutuskan panggilan dan kembali menatapku.
Jika kalian berada di posisiku, apa yang akan kalian lakukan?
Aku hanya memaksakan senyum, sebelum Aldric kembali bersuara, aku memilih keluar mobil.
"Nad," panggilnya ketika kedua kakiku sudah menapak jalanan.
"Pergi aja, mungkin dia lebih butuh kamu." Kututup pintu mobilnya dan setelah itu berjalan menuju rumah.
Pemandangan Aqila, Reva, serta Sean—demi Tuhan pria ini bukan sepupuku—yang kini sedang menggunakan masker menyambutku ketika baru tiba di ruang keluarga. Malas menuju kamar, aku memilih bergabung bersama mereka.
"Gimana ngedatenya? Sukses?" tanya Aqila setelah aku duduk berselonjor kaki.
"Makanannya mana? Nggak dibungkus?" Kakiku reflek menyapa bahu Sean, membuat pria itu meringis.
"Sukses dong pasti, ya?"
"Emang ada ngedate tiga cowok satu cewek?"
"Maksudnya?!" tanya mereka nyaris serempak.
"Gue, Aldric, Razza, Satria."
"Demi apaan, gila?" teriak Sean dengan raut wajah lebay.
"Nggak ada kerjaan banget gue kalo boong. Terus bukannya lo ada janji ketemu sama Satria?"
"Nggak jadi, tu orang tiba-tiba bilang ada urusan lain. Makanya gue mau ikut maskeran. Kan nggak lucu kalau misalnya gue lagi maskeran terus Satria tiba-tiba dateng." Aku hanya menahan ngeri mendengar tuturan Sean. Sekali lagi, pria ini bukan sepupuku.
"Kenapasih, Kak? Kok uring-uringan?" Tepat setelah pertanyaan dari Aqila terdengar, suara petir terdengar menggelegar. Sepertinya akan hujan. Dan seketika perasaan khawatir menyergapku, berharap bahwa Aldric akan baik-baik saja. "Kak!" Panggilan Aqila yang keras membuatku tersentak. Kutatap Aqila yang sekarang tengah melihatku penasaran.
"Tadinya Aldric mau ngomong sesuatu sama gue, tapi kepotong karena Amira nelfon."
"Amira siapa?"
"Nggak tau siapanya dia. Katanya temen. Tapi tadi mukanya Aldric panik banget gatau kenapa. Terus yaudah, dia gajadi ngomong. Gue suruh pergi aja." Aku mendesah pelan, tiga manusia di depanku diam tidak berkomentar.
"Temen kali, Mbak?"
"Tau, deh," jawabku sambil memejamkan mata dan memijit kepala.
"Lo nggak apa-apa?" Suara panik Sean langsung saja membuatku membuka mata lalu tersenyum kecut. Dia terus saja panik tiap melihatku seperti ini.
"Nggak apa-apa." Aku menoleh pada Aqila. "Kenapa ngehindarin Razza? Aldric juga."
"Ha?"
"Mereka tadi ngomong."
"Ngapain juga aku mesti deket sama Kak Razza lagi? Aku udah cukup pinter, kak. Nggak ada gunanya deket-deket lagi sama orang yang nggak pernah ngehargain kitakan? Kalo Kak Azka netral, sih, dia ngomong ya aku tanggepin. Dia diem ya aku diem."
"Seenggaknya, buat temenan?"
"Nggak minat."
"Nggak boleh cuekan gitu, Dek."
"Liat siapa yang dulunya cuek ke aku, Kak. Liat siapa yang nggak pernah peduli sama aku. Kenapa sekarang malah ngemis balik? Udahlah, aku udah nyaman sama keadaan sekarang."
Aku tidak lagi membantah, membiarkan Aqila tetap teguh pada keputusannya. Jika memang itu pilihannya, tidak apa-apa. Toh, Aqila yang menjalani, bukan?
"Mama papa belum pulang?"
"Iya masih di rumah opa."
Aku mengangguk. Bersamaan dengan aku yang berdiri, hujan menyerbu menuju bumi. Aku langsung saja berjalan menuju deretan anak tangga. Aku benar-benar butuh istirahat.
Aku berjalan menuju kamar mandi, membersihkan badan secepatnya. Setelah selesai dan sudah mengenakan daster putih bercorak buah pisang, aku berjalan mematikan lampu, membiarkan lampu tidur tetap hidup. Aku beralih pada benda persegi panjang, memutar lagu secara acak. Setelah itu naik ke tempat tidur dan mulai memejamkan mata.
Dua puluh menit sudah waktuku terbuang. Aku tidak bisa tidur. Hal yang ingin Aldric sampaikan masih membuatku penasaran.
Sialan.
***
What you need to know is you tried, let it go, let it go. What you need to find is someone who will never let you go.
No, and sunshine and city lights. Will guide you home. And no, yeah you gotta know. That I’ll never let you go.
Suara indah milik Greyson menyapa telingaku ketika mataku terbuka. Keadaan kamar yang masih gelap membuatku malas untuk bangun. Sepertinya hujan masih setia turun di luar sana. Kurapatkan selimut dan kembali memejamkan mata, membiarkan satu lagu ini terputar habis.
Ketika lagu lain mulai terputar, aku akhirnya memilih bangun. Kumatikan lagu tersebut dan berjalan menuju kaca. Kusingkap gorden hitam tersebut, dan pemandangan titik-titik air menyapa indra penglihatku.
Kubuka kaca yang juga berfungsi sebagai pintu, angin pagi yang benar-benar dingin menyapu wajahku begitu saja. Kuhirup udara menyegarkan kepunyaan hujan. Ini benar-benar luar biasa. Kulihat satu-satu mobil yang berlalu lalang. Seperti biasa, aktivitas hari ini telah dimulai.
Aku kembali masuk, mengecek ponsel dan tidak mendapatkan pesan apapun dari Aldric. Namun gerakan jariku terhenti, saat nama Razza tertera pada layar.
From: Razza.
Bisa kita ketemu? Aku butuh bicara sama kamu.
Kugigit bibir sembari berpikir, pria ini tidak akan berhenti sebelum aku mengiyakan ajakannya. Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, aku menyetujui keinginan Razza.
Kuletakkan ponsel dan memilih masuk ke kamar mandi. Aku harus segera bersiap-siap karena kegiatanku cukup banyak hari ini. Sekitar dua puluh menit kuhabiskan waktu dan setelah itu keluar. Bunyi yang berasal dari ponsel membuatku mengernyit. Siapa yang menelepon pagi-pagi begini?
Jantungku kembali berdetak tidak karuan saat nama Aldric terlihat. Kutarik napas sebelum menggeser layar.
"Hallo?"
"Kamu kesini?"
"Nggak usah, aku bisa pergi bareng Reva."
"Nggak usah, Al. Nanti kamu telat. Al?"
Aku hanya dapat menghela napas ketika Aldric tidak mau menerima penolakan dariku. Kembali kuletakkan ponsel dan mulai bersiap-siap.
***
Aku membuka pintu mobil dan seketika kaget. Pria di depanku, pulangkah dia semalam? Jika melihat bajunya, sepertinya tidak. Lalu kemana Aldric semalaman?
"Nad." Aku tersentak ketika Aldric bergerak menggapaiku, memintaku cepat masuk karena hujan masih turun walau gerimis.
Aku masuk dengan cepat dan masih menatap Aldric berniat meminta penjelasannya.
"Seriously?" Ujarku begitu saja mengenai tampilannya.
"Aku mesti nemenin Amira semaleman. Mamanya kecelakaan, Nad."
"Harus banget kamu yang nemenin?"
"Aku udah bilangkan kalau cuma aku temennya?" Tidak ada yang bisa kulakukan selain menahan diri. Aku tidak ingin salah bicara. Tenagaku harus kusimpan untuk pekerjaanku. "Nad, dia nggak punya siapa-siapa lagi. Yang dia punya cuma mamanya, juga aku." Aku seketika menoleh.
"Kenapa nggak sekalian aja kamu ajak dia nikah biar semuanya jelas? Biar kamu juga enak jagain dia. Ngelakuin sesuatu gausah setengah-setengah, Al." Aldric tampak kaget, namun aku sungguh tidak peduli. Kalimatnya beberapa saat tadi sukses membuatku lepas bicara.
Keadaan hening setelah itu, tidak ada lagi yang bersuara diantara kami. Aku memilih membuang pandangan pada jendela di sampingku. Sekuat tenaga menahan air mata. Entah kenapa fakta bahwa Amira hanya memiliki mamanya dan juga Aldric membuatku tidak terima. Bisakah kuteriakkan sekarang juga bahwa Aldric milikku? Baiklah, pria ini memang belum menyatakan apapun, dan aku akan cukup bersabar untuk itu.
Jujur saja, dengan adanya Aldric di sampingku sudah membuatku bahagia. Aku tidak pernah berharap tentang judul status yang seharusnya kami pakai. Namun karena Amira, aku menjadi takut. Takut kalau Aldric bisa pergi meninggalkanku kapan saja. Jika orang yang sudah berstatus jelas bisa saling meninggalkan, apa kabar dengan kami?
Entah berapa lama, kami akhirnya tiba di depan rumah Aldric. Rumah yang sudah begitu lama tidak kukunjungi. Apa kabar Tante Sela?
Mesin mobil yang sudah mati membuatku segera turun. Meninggalkan Aldric di belakang dan berjalan lebih dulu. Kubuka pintu rumah dan seketika tersenyum.
"Ma." Aldric yang ternyata sudah masuk berteriak memanggil tante Sela.
"Di dapur." Jawaban itu terdengar.
Aldric berjalan sambil menggenggam jemariku, yang sayangnya tidak ingin kutolak. Kami berjalan menuju dapur dan terlihat tante Sela yang tengah sibuk memotong sesuatu.
"Ma." Panggil Aldric lagi, tante Sela menoleh, dan tatapan kagetnya sukses membuatku tersenyum.
"Nadine?! Ya Allah, Sayang, apa kabar?" Tante Sela bergerak memelukku, dan kubalas dengan senang hati. "Tante kirain Azka boong bilang kamu ada disini." Aku menggeleng, mengusap mata yang terasa basah. "Gimana sekarang?"
"Yang kayak Tante liat."
"Bener jadi designer?" Aku tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Caaa!" teriak tante Sela, dan seorang perempuan tampak datang dari pintu samping. "Ca tolong lanjutin ya, Ibuk mau kangen-kangenan dulu sama calon mantu, nih." Aku mengerjap, tidak berani melirik Aldric yang tetap berdiri di sebelahku.
"Nadine bantuin masak yuk, Tan?" tawarku.
"Eh, nggak usah. Tante bener-bener kangen sama kamu. Yuk pindah ke ruang tv aja. Ca, buatin minum ya."
"Siap, Buk."
Aku tidak membantah, membiarkan tante Sela membawaku.
"Ma, anaknya pulang bukannya disapa."
"Salah siapa semalem nggak pulang?"
"Ma, kan udah Azka kabarin."
"Udah sama kamu ntaran aja, Mama masih nggak mau bicara sama kamu."
Aku melihat Aldric yang memilih mengundurkan diri dan berjalan menuju tangga. Sepertinya akan menuju kamar dan bersiap-siap.
"Ayo, Nad, duduk."
"Gimana keadaan Tante sekarang?" tanyaku ketika kami sudah duduk.
"Baik alhamdulillah. Kamu gimana ceritanya bisa disini?"
"Bosen, Tante, disana." Aku tertawa.
"Tante pikir kamu nggak bakalan pulang lho, Nad. Tante sendiri udah takut sama keadaan Azka waktu itu."
"Maksud Tante?"
"Dia berubah, Nad. Tante inget waktu dia pulang terus keadaannya acak-acakan. Tante tanyain dari mana, dia jawab bandara. Tante tanya lagi, ngapain ke bandara? Terus dia jawab, Nadine pergi, Ma. Pertama kalinya Tante liat dia nangis di umur segitu, karena Tante paling tau dia. Dia jarang nangis. Besoknya Tante pikir dia baikan, ternyata enggak, dia sakit tiga harian seinget Tante. Dan buat seterusnya, dia berubah sama orang-orang, kecuali sama Tante."
"Dia selalu ngarepin kamu, Nadine. Sejauh apapun kamu mikir kalau dia ninggalin kamu, percaya sama Tante, dia nggak pernah ngejauh. Kalau dia udah sayang, dia bakalan setia. Maafin dia karena mungkin nggak pernah jujur sama kamu. Tapi Tante mohon, pegang erat anak Tante, Nad. Tante nggak mau liat Azka hancur lagi." Aku menghapus air mata yang ternyata sudah meluncur di pipi. Kubalas usapan tangan tante Sela pada jemariku. Aku mengangguk perlahan, mengiyakan pinta tante Sela. Tanpa dikatakanpun, niatku sudah bulat, aku tidak akan pernah melepas Aldric.
"Nadine sayang Aldric, Tante."
...tbc...