"Kenapa Tuhan begitu baik kepadaku? Memberikan kalian semua sebagai bagian cerita indah yang melengkapi tiap alur kehidupanku." —Pagi ini, aku bersyukur.
NADINE'S POV
"Tadi ngobrolin apa sama mama?" Aldric bertanya sambil menoleh kepadaku sebentar. Kurang lebih satu jam kami berada di rumah Aldric, karena Tante Sela juga meminta kami sarapan terlebih dahulu. Dan sekarang kami sudah berada di perjalanan, menuju butik.
"Nggak ngobrolin yang serius, biasa aja. Tante kebanyakan nanya tentang gimana Inggris." Aku diam setelah itu, berpikir sebentar apakah akan baik-baik saja jika aku menanyakan sesuatu pada Aldric. "Al."
"Kenapa?"
"Pernah, sekali aja, kamu ada inisiatif buat nyusul aku ke London?"
"Aku mikirin ini bahkan setiap hari, Nad."
"Terus, kenapa nggak berangkat?"
"Aku nggak siap, Nad. Kamu boleh bilang aku pengecut. Bahkan Razza lebih berani buat nyusul kamu. Pernah sekali aku udah beli tiket dan udah ada di bandara, tinggal masuk pesawat, tapi abis itu aku angkat tangan, aku nggak bisa. Maaf karena selalu buat kamu kecewa, Nad."
"Al."
"Hm?"
"Nggak jadi, deh." Aldric menoleh sebentar padaku, menatapku dengan pandangan bingungnya. Dan sebagai balasan, aku hanya tersenyum. Sebenarnya, aku ingin sekali memberi tahukan padanya bahwa sore ini aku akan bertemu Razza. Tapi, haruskah Aldric tahu?
"Kamu nanti selesai jam berapa?" tanya Aldric ketika mobil berhenti karena lampu lalu lintas sedang merah.
"Kayaknya sore, deh."
"Mau aku jemput?"
"Nanti ngaret lagi? Nggak usahlah. Lagipula aku ada janji sore ini." Good, Nadine. Kenapa bisa-bisanya mulutku dengan santai berkata kalau aku memiliki janji? Beruntung aku tidak menyebut nama Razza.
"Janji sama siapa?" Ghost....
Haruskah aku berbohong? Atau lebih baik jujur? Kutarik napas sebelum menjawab, "Razza." Tuturku jujur pada akhirnya. Pria di sampingku tentu saja menoleh, ekspresinya menjelaskan sekali bahwa ia tengah kebingungan. "Ada yang mau dia omongin. Dan kayaknya bener-bener serius."
Aldric hanya diam. Padahal aku berharap pria ini akan menunjukkan reaksi tidak sukanya. Seperti aku yang selalu tidak suka jika Aldric terlalu sibuk bersama Amira. "Kamu nggak marah?" Tanyaku memastikan.
"Kenapa harus marah?" Hanya itu? Hanya tiga kata itu? Sebenarnya ada apa dengan pria ini?
Mungkin memang aku yang terlalu berlebihan, namun kekesalanku benar-benar sulit untuk ditahan. Karena Aldric memilih diam setelah bersuara tadi, akupun ikut berdiam diri. Begitu malas berbicara jika pada ujungnya, aku yang terus sakit hati.
Mobil Aldric kembali bergerak. Aku memilih membuka ponsel dan melihat beberapa foto design yang dikirim oleh Nathan—designer interior yang akhirnya bekerja sama denganku—beberapa saat lalu. Reva yang tentu saja membantuku mengurus semuanya. Dan itu mengapa segala perihal mengenai kelangsungan butik bergerak cepat, karena Reva benci menunda. Jika bisa dilakukan secepatnya mengapa tidak? Dan pada akhirnya, kita akan bisa duduk santai sambil menikmati gossip sore dengan segelas teh hangat. Ujar wanita tepat waktu tersebut saat kami sedang mengobrol ringan.
"Nanti aku yang anterin. Kamu tungguin aku." Aku langsung menoleh. Namun Aldric tetap fokus melihat ke depan.
"Jangan ngaret ya tapi?"
"Iya."
"Kalau ngaret gimana?"
"Hukum aja akunya, nggak apa-apa." Aku mengangguk setuju sambil tersenyum lebar, setelah itu kembali fokus pada ponsel.
Ketika mobil Aldric telah sampai di tempat yang nantinya akan menjadi butikku, aku segera bersiap turun. Beruntung sekali memang karena butikku dan kantor Aldric searah, membuat pria ini tidak perlu mengantar jauh jika saja butikku terletak berlawanan arah.
"Nathan belum dateng?"
"Mungkin sebentar lagi."
"Itu Reva?" Aku mengangguk, dan ikut melihat arah pandangan Aldric ke mobil yang dikendarai Reva tadi. Perempuan itu sudah tiba lebih dulu. "Yaudah hati-hati."
"Iya. Kamu juga. Bye."
Baru akan membuka pintu mobil, gerakan Aldric pada lenganku membuatku kembali menoleh. Dan tubuhku seketika membeku, ketika Aldric mencium tepat bagian sudut bibirku. Dia tersenyum tipis setelah itu. Sedangkan jantungku menggila luar biasa.
"Al?" ujarku gugup.
"Aku cinta kamu, Nad."
Tuhan, kemana semua oksigen di dalam mobil ini? Kenapa tiba-tiba menghilang dan aku seketika menjadi sesak.
"Aku nggak tau kapan pastinya, tapi ini udah lama banget. Maaf karena jadi pengecut selama ini." Jantungku kian menggila kala Aldric menggerakkan tangannya untuk mengatur keadaan rambut dan menyelipkannya dibalik telingaku.
Mataku memanas. Akhirnya. Kutatap Aldric dengan perasaan campur aduk. "Kenapa baru sekarang?" tanyaku sedikit kesal.
"Aku takut kamu diambil yang lain. Aku nggak mau lagi sia-siain kesempatan ini."
"Jadi dulu nyesel dong?" tanyaku lagi sambil menahan senyum dan membiarkan air bening itu mengalir pada pipiku.
"Hm. Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Nggak bales cinta aku?"
"You're mine." Ujarku dan kali ini benar-benar tersenyum.
***
"ANJIR LO KAMPRET DEMI APA? INI KITA GAK BISA KETEMUAN APA YA?" Aku langsung saja menjauhkan ponsel karena suara teriakan Kiya.
"Makanya sih sibuk mulu."
"GUE SIBUK BANGET INI, NAD. LO KESINI DONG. GUE BUTUH CERITANYA LENGKAP NIH. YA RABB, ANDAI GUE BISA KABUR."
"Udah, ah, kerja lo. Malem nanti ke rumah aja."
"YAUDAH NTAR KESANA. GUE KERJA DULU YA."
"Bye." Aku memutuskan sambungan dan memyesap lagi minumanku.
"Kenapa senyum-senyum mulu sih, Mbak? Kenapa, sih, sebenernya? Cerita dong!" Reva yang baru saja kembali dari toilet langsung saja menyerbuku dengan ekspresi penasarannya. Seperti yang aku duga, perempuan ini tentu saja akan curiga tentang perubahan drastisku hari ini.
Kalian tau rasanya terbang? Ini bukan lagi jatuh cinta. Karena ketika aku terjatuh, hanya sakit yang akan aku rasa. Ini terbang. Benar-benar terbang karena aku merasakan sesuatu yang membuatku benar-benar melayang. Pria itu, milikku. Ya, memang lucu jika kami berada dalam hubungan dengan judul pacaran di umur sekarang. Lalu apalagi yang aku harap? Menikah? Tidak, itu belum terpikirkan. Sudah terciptanya fakta bahwa pria itu memang menjadi pacarku sejak tadi membuatku bahagia luar biasa.
Pacar.
Entah kenapa satu kata itu terdengar konyol. Lucu saja.
"Mbak!" Aku tersentak saat Reva kembali bersuara. "Cerita dong!"
"Aku pacaran."
"Apa....?"
"Iya, pacaran...."
"Mbak, aku serius lho."
"Iya aku juga...."
"MBAK BENERAN DEMI APA SAMA SIAPA?"
"Aldric. Apasih, ah, norak kamu."
"Idih, Mbak berdua tuh yang norak. Umur segini masih aja judulnya pacaran."
"Terus apalagi dong?"
"Nikahlah!" Aku reflek memukul tangan Reva, membuat perempuan itu meringis karenanya.
"Ah, udah balik butik ayo," ujarku segera sambil mengipas wajah yang tiba-tiba terasa panas. Aku berdiri, memilih meninggalkan tempat dan suara gerutuan Reva terdengar di belakang.
"Mbak cerita dong kok bisa jadian gini."
"Males ah sama kamu. Nggak dibayar."
"Mbak ih serius."
"Iya nanti."
"Kapan?"
"Kapan-kapan."
"Mbak!" teriak Reva tidak terima sedangkan aku tertawa dan segera membuka pintu mobil. Kembali menuju butik.
Setibanya kami di butik, aku segera duduk di kursiku dan kembali mengecek segala hal yang telah disetujui bersama Nathan sebelumnya. Kemungkinan besok dia akan mulai bekerja dengan beberapa tenaga kerjanya. Tidak ada yang bisa kulakukan setelahnya, selain mengistirahatkan diri di kursiku dengan mengangkat kaki ke meja.
"Mau pulang, Mbak?"
"Enggak, ah, ntar Aldric jemput disini."
"Asem, ya." Aku terkekeh kala Reva berujar dengan mimik wajah lucu.
"Kamu mau pulang?"
"Niatnya sih gitu."
"Yaudah duluan aja."
"Terus Mbak sendirian?"
"Aku mau tidur."
"Mending di rumah kalo gitu, mbak."
"Dibilangin juga, Aldric jemput."
"Pait, ya." Aku terbahak, membiarkan Reva keluar dan meninggalkanku disini sendirian. Aku berpindah, menuju sofa dan membaringkan diri. Sepertinya beberapa jam ke depan dapat kugunakan untuk tidur.
***
Aku tersentak, dan seketika membuka mata. Kututup mulut karena sesekali menguap. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Ketika aku menoleh ke samping, kutemukan Aldric yang tengah berjongkok sambil mengetuk lantai keramik. Dia, bagaimana bisa masuk? Oh tidak, aku lupa mengunci tempat ini.
"Udah bangun?" Aku menatap Aldric yang kini tersenyum. "Kenapa nggak dikunci tempatnya?" Aku meringis, lalu beranjak dari tidurku. Berjalan mendekati Aldric. "Kamu selalu cantik kalau bangun tidur."
Sialan. Kenapa jantungku berlompatan lagi? Pipiku sukses memanas karena kalimat itu. "Gak ada yang cantik tau kalo bangun tidur. Iler dimana-dimana, belekan. Aku bukan Snow White atau Aurora, yang kalo tidur tetep cantik. Pernah nonton Frozen? Semua perempuan kebanyakan kayak Anna kalau lagi tidur." Aldric tertawa, dan seketika aku kaget karena pria ini menarikku dalam pelukannya.
"Buat aku kamu tetep cantik, Nad."
Aku tidak membantah lagi dan hanya tersenyum. Kulepaskan pelukan tersebut dan kembali menatap Aldric. "Kamu jadi anterin aku, kan?" tanyaku sambil berjalan menjauh, menuju kamar mandi.
"Iya. Janjian dimana?"
"Belum tau, dia belum ngasih tau lokasinya."
"Gimana sama Nathan?"
"Sampai disini aman."
"Kerjaan dia nggak bakal ngecewain kamu."
"Hm, aku juga ngarep gitu."
Aku keluar kamar mandi, mencari handuk kecil dan berjalan menuju kaca. Kembali kurias sekilas wajahku hingga akhirnya selesai. Aldric yang sejak tadi fokusnya sudah terserap semua dengan tumpukan majalah sepertinya tidak sadar bahwa aku telah sudah siap.
"Al, ayo."
"Udah?" Pria itu mendongak untuk menatapku.
"Hm." Aku berjalan keluar terlebih dahulu, menunggu Aldric yang juga ikut keluar. Lalu mengunci tempat ini.
"Disini, taukan?" Aku menyodorkan ponselku pada Aldric ketika kami sudah duduk di dalam mobil. Pria itu mengambil ponselku dan sambil terus memegang, mobil inipun mulai bergerak. Menjauhi butik.
"Gimana? Udah dapet nama butiknya?"
"Bingung banget harus milih yang mana. Takutnya jelek."
"Yaudah Azka's boutique aja."
"Enak aja. Nggak mau."
"Terus apa?"
"Nggak tau, ah, masih bingung. Ntar malem aja mikirin gituan."
Aku sibuk mengganti saluran radio, hingga akhirnya lagu All We Know yang diputar salah satu stasiun radio menghentikan gerakan jemariku. Aku kembali menyandarkan punggung pada jok, membiarkan alunan lagu tersebut mengisi ruang kosong di antara kami.
Aku tersentak saat Aldric mengembalikan ponselku dan dengan gerakan cepat mengangkat panggilan yang masuk pada ponselnya. Kulirik pria ini sesekali, rasa penasaran pada si penelepon tiba-tiba saja muncul.
"Gue kan udah bilang jangan sendirian. Lo dimana?"
Tebakanku sepertinya benar. Itu Amira. Rasa tidak suka seketika terbit. Membuatku reflek menyebut nama Aldric karena kesal. Dan tentu saja Amira mendengarnya. "Al!" Panggilku sedikit keras. Membuat Aldric menatapku penuh tanya. "Kalo ngendarain kendaraan itu gaboleh telfonan, ntar kenapa-kenapa." Aldric sepertinya tidak peduli terhadap perkataanku. Sialan.
"Lo tunggu disana. Ntar gue jemput kita pergi sama-sama." Aku sungguh sedang menahan kekesalanku. Apa sekarang keberadaanku tidak terlihat? Bukan, bukan maksudku ingin menjadi protective atau apapun orang menyebutnya. Tapi bukankah ini aneh? Disini ada aku dan pria di sampingku dengan entengnya berbicara bahwa dia akan menemui perempuan lain.
Baiklah. Aku menghembuskan napas perlahan. Mencoba berpikir positif bahwa ini mungkin saja berhubungan dengan pekerjaan mereka. Aldric kembali meletakkan ponselnya, lalu menatapku sesekali.
"Aku nanti harus jemput Amira, Nad."
"Kalau aku larang gimana?" Feelingku terhadap perempuan ini benar-benar tidak baik.
"Dia lagi butuh pegangan buat sekarang, Nad."
"Dan kamu yang jadi pegangannya? Nggak bisa yang lain?"
"Nad...."
"Yaudahlah terserah kamu aja," ujarku akhirnya.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, mobil Aldric berhenti pada salah satu restaurant tradisional. Aku menyalakan ponsel dan mulai menghubungi Razza. Kulirik Aldric yang kini tengah menatapku.
"Makasih. Nanti aku pulang sendiri aja. Kamu lagi sibuk bangetkan? Bye." Aku langsung keluar mobil tanpa menunggu balasan Aldric.
Panggilanku ternyata dijawab. Suara Razza terdengar menyapa.
"Dimana, Za?—Ok." Tanpa berniat menoleh untuk melihat apakah Aldric sudah pergi atau belum, aku memilih segera masuk. Berjalan terus mencari keberadaan Razza.
Dia disana. Di sisi outdoor dan sedang duduk lesehan di gazebo. Pria itu tampaknya telah memesan, karena meja disana sangat penuh dengan makanan. Dia melihatku, membuatku mempercepat langkah.
"Telat, ya?"
"Enggak, kok." jawab Razza dan aku tersenyum sambil mengambil tempat di seberangnya. "Pergi sendiri?"
Aku menggeleng, "Tadi dianter Aldric," jawabku pelan takut-takut menatap Razza. Namun wajah pria itu tetap terlihat tenang. "Kamu nggak kerja?"
"Hari ini sengaja minta izin sebentar."
"Mau ngomong apa?" tanyaku akhirnya. Sepertinya berlama-lama bersama Razza bukanlah pilihan baik.
"Mungkin kamu emang udah nggak mau denger lagi. Tapi semua yang udah kita lewatin bareng-bareng nggak bisa aku lupain gitu aja, Nad." Razza diam sesaat, kemudian kembali bersuara. "Kamu, perempuan pertama yang nyapa aku waktu di café itu. Pertemuan kedua kita waktu di mall, dan kamu bareng sama Aqila. Aku cuma kaget, ternyata kamu kakaknya. Aku juga nggak bisa ngomong apa-apa lagi ke kamu karena Aqila buru-buru ngajak kamu pulang. Dan menurut aku, nggak bakal apa-apa kalau kamu gatau tentang aku sama Aqila. Karna emang waktu itu kita belum terlalu kenal. Tapi waktu kita sekelas, dan mulai banyak habisin waktu bareng, terus aku yang mulai beraniin diri buat anter kamu pulang. Iya, Nad. Kamu bener, kamu emang nggak pernah bilang alamat kamu ke aku. Itu karena aku udah tau alamat kamu lama sebelum kita saling kenal.
"Aku terlanjur buat bohong. Karena aku takut kamu bakal jauhin aku kalau tau aku deket sama Aqila. Persis kayak kamu yang selalu bohongin diri sendiri karena tau Azka suka sama Aqila. Aku nggak mau kamu ikutan mikir kayak gitu juga dan akhirnya pergi. Kotak musik Aqila yang pernah kamu liat, emang bener itu dari aku. Tapi aku lagi-lagi malah bohong ke kamu. Aku sendiri nyaman karna bohong, Nad. Sampai lupa kapan waktunya berenti. Ketakutan aku waktu itu cuma satu, kamu tau aku bohong dan abis itu pergi. Ternyata benerankan? Ketakutan aku itu bener-bener jadi kenyataan.
"Aku minta maaf, Nad. Buat semua kesalahan aku di masa lalu sama kamu." Aku menggeleng, merasa bersalah pada pria ini.
"Za." panggilku pelan. "Lupain semuanya, ya?"
Pria itu tampak mengangguk perlahan, "Aku mungkin bakal lupain itu, Nad. Tapi nggak lupain kamu." Aku menggigit bibir, bingung harus menanggapi apa. Razza tampak berdiri, dan memutari meja untuk mendekat padaku. "Aku tau, sampai sekarang kamu mungkin masih ngarepin Azka. Sama kayak aku, aku masih ngarepin kamu. Aku cuma nggak mau nyesel, Nad." Jantungku berdetak kencang karena tidak nyaman. Perasaan takut menyelimutiku seketika.
Mulutku sukses melebar kala Razza mengeluarkan kotak kecil berwarna maroon. Dibukanya kotak itu dan benda mungil berkilau terlihat. Ya Tuhan, kenapa harus aku yang menjadi perempuan pilihan pria ini? Sedangkan di luar sana, tentu saja banyak yang menanti perlakuan seperti ini dari Razza.
"Nadine, kamu mau nikah sama aku?" Tanganku gemetar, napasku menderu dan sebisa mungkin kusembunyikan semuanya. "Aku terima apapun jawaban kamu, Nad. Yang harus kamu tau, aku cinta sama kamu."
...tbc...