[18] Sadar dan Paham

3074 Words
"Karena hanya satu pilihan abadi, tempatku mengadu dan pulang, itu kamu." —Terimakasih, karena sudah mau membersihkan wajahku. NADINE'S POV Napasku masih menderu, jantungku berdegub kencang karena hal seperti ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah hampir dua puluh lima tahun aku hidup. Razza. Pria pertama yang berani melakukan ini padaku. Pria-pria lain di luar sana hanya berani untuk menjadikanku pacar mereka. Tidak sedikit pria yang secara blak-blakkan menyatakan cintanya padaku. Termasuk Aldric. Ya, dia. Namun pada akhirnya, memang hanya Aldric yang kuterima. Apa yang harus aku jawab? Jika Razza sendiri mengetahui dengan pasti bahwa bukan dialah yang aku inginkan. Melainkan pria b******k yang kini sedang bersama perempuan lain. Tuhan, pria seperti Razza terlalu baik jika Engkau sandingkan bersama perempuan jahat sepertiku. Razza masih diam, sabar menantikan jawabanku. Semoga saja keputusan ini tidak salah, Tuhan. Kugerakkan tangan menuju kotak mungil yang masih Razza pegang. Perlahan, dengan perasaan campur aduk luar biasa, kututup kembali kotak itu. Mataku memanas karena perbuatan ini. Kenapa aku begitu jahat? "Bukan aku, Za. Bukan aku perempuan beruntung itu. Ada yang lebih pantes buat dapetin keberuntungan ini, Za." Razza terlihat tersenyum samar, dengan tetap menatapku dalam. Seharusnya kukubur saja diriku di dalam laut mati. Setelah itu bergabung bersama tumpukan garam yang tercipta. "Aku emang nggak punya kesempatan lagi, ya, Nad?" Aku menggigit bibir, bergeming. "Kenapa kamu nyiksa diri kamu sendiri, Za? Apa yang kamu harepin dari perempuan yang udah nyuekin kamu selama bertahun-tahun?" "Boleh aku bilang kalau Azka beruntung?" "Aku yang beruntung, Za," ujarku sambil menghapus air bening yang menyapu pipi. "Aku minta maaf. Maaf banget." "Aku terima semua jawaban kamu, Nad. Jangan nangis." "Kamu bakalan dapet yang jauh lebih baik dari aku. Yang bisa ngehargain setiap rasa sayang kamu jauh dibanding aku. Yang bakal selalu bahagia karena rasa cinta kamu. Aku berdoa buat itu, Za." "Aku sayang kamu, Nad." Aku berusaha mengangguk. Lalu tersenyum. "Bisa kita temenan lagi?" "Kamu bakalan jadi temen terbaik aku, Za." Ketika Razza bergerak makin dekat, aku tidak bisa melakukan apapun. Membiarkan pria ini mendekapku erat dalam pelukannya. "Aku bakal ingetin Azka buat baik-baik jagain kamu. Dia nggak boleh bikin kamu nangis. Kalau sampai dia ngelakuin itu, dia harus siap-siap kehilangan kamu." "Za...." Kulepas perlahan pelukan tersebut. Perasaanku campur aduk. Setelah itu, aku memilih duduk di tepi gazebo dan membiarkan kakiku berayun. Razza mengikuti pergerakanku. "Izinin aku buat bilang kalau Azka emang pengecut, Nad." Aku menatap Razza bingung. Kenapa lagi? "Seharusnya dia bisa lebih dewasa buat langsung ngelamar kamu, bukan cuma ngajak kamu jalin hubungan dengan judul pacaran." "Za?" Darimana dia tau? "Kiya keceplosan tadi. Kebetulan kita lagi lunch bareng waktu kalian telfonan." Aku hanya dapat menghela napas, tidak dapat juga menyalahkan ulah Kiya. "Munafik kalau aku bilang aku baik-baik aja. Tapi seenggaknya kamu bahagia. Mungkin emang kayak gini, kalau aku gak akan pernah bisa samain langkah Azka. Baik-baik sama dia ya, Nad. Bahagiain diri kamu sendiri. Aku mau liat kamu sehat lagi. Bebas dari obat-obat itu. Maaf karna aku buat kamu panik, Nad." Aku menggeleng, "Aku bakalan pindah." Karena Razza menyinggung kesehatanku, maka reflek aku menyebut kalimat tadi. "Satria udah ngomong ke papa. Mungkin kalau tinggal di lingkungan baru, aku juga lebih bisa bersosialisasi sama orang baru. Dan itu bagus buat kesehatan aku. Papa awalnya ngelarang, tapi kayaknya udah luluh." "Kamu tinggal sendirian?" "Kemungkinan besar, iya." "Udah liat rumahnya?" "Belumsih. Tau lokasinya doang. Masih nggak sempet kesana." "Aqila gimana, Nad?" "Oh tentang itu. Dia keliatannya udah angkat tangan sama yang lalu, Za. Aku juga nggak bisa maksa dia. Mungkin kamu masih bisa ajak dia ngomong berdua." "Nanti aku coba." "Kayaknya aku harus pulang sekarang." Aku melirik jam di pergelangan tangan. "Aku anter, ya? Untuk kali ini aja, Nad." Akhirnya, aku mengangguk, membuat pria yang sedang duduk di sampingku ini tersenyum. *** "Gila ya lo berdua. Parah. Akhirnya tau nggak?" "Tau kok," jawabku tenang sambil terus memainkan pensil di atas lembaran sketchbook milikku. "Nggak usah dijawab juga," gerutu Kiya dan aku hanya tertawa geli. Perempuan itu mengambil tempat di sampingku yang kini sedang bertelungkup. Kiya berbaring, menatap langit-langit kamar. "Lo bahagia, Nad?" "Nggak pernah sebahagia ini kayaknya." "Anjir, kayaknya lo bener-bener disihir sama Azka." "Heeh." "Terus kok nggak telfonan?" "Nggak tau. Dari sore dia udah nggak ngabarin gue apa-apa." "Apa? Dari sore? Becanda lo?!" "Lo liat nggak muka gue sekarang gimana? Ada muka-muka becandanya emang? Amira siapasih, Ki?" Tanyaku menatap Kiya memelas. "Amira? Yang kemarin." "Hm." "Kenapa?" "Aldric lagi bareng dia." "HA?! AMA AMIRA? GILA TU ORANG?" "Gue harus apa dong, Ki? Ditelfon ga aktif. Di chat ya pasti ga dibales." "Demi apa kalo gue ketemu Azka, langsung gue siram itu orang." "Udahlah mungkin emang sibuk." "Lo selalu gitu. Nerima aja." "Gue mau bilang ini deh, Ki." Aku menutup sketchbookku dan menatap Kiya lebih serius. "Jangan buat gue takut, lo!" "Bukan. Tapi janji jangan kaget ya?" "Iya buruan!" "Razza ngelamar gue tadi," ujarku cepat. Dan mulut Kiya sukses terbuka. Posisi berbaringnya terganti dengan duduk menghadapku. "Lo—serius?" "Hm." "Dan lo tolak dong?" "Hm," anggukku perlahan. "Gila-gila. Lo udah diajak nikah lah gue masih begini-begini aja." "Sean tuh." "Apaansih lo, ga lucu." Jawaban seketika membuatku memutar bola mata. "Sean beneran nggak ngapa-ngapain?" "Bahas yang lain aja dong. Sumpah, ya, Nad, gue pengen banget cerita ini tapi malu." "Kenapa-kenapa?" "Sean ngajakin gue jalan." "DEMI APAAN?" "Demi dewa-dewa ganteng turunan yunani, gue nggak boong! Tapi gue tolak, sih, soalnya nggak enak." "Nggak enak gimana?" "Dia ngechatsih, dari minggu lalu. Cuma, ya, gue ngerasa aneh aja. Takut, Nad. Sepupu lo kan banyak yang ngincer. Ntar yang ada gue malah jadi korban kekerasan fansnya Sean." "Sarap lo, Ki. Begok." "Kenapa malah gue?!" "Diiyain aja. Ah lo. Kalau gue jadi elo nih ya, Sean ajakin jalan pasti gue iyain. Abis itu peres dompetnya." Aku tertawa lepas, ekspresi Kiya terlihat menahan kesal. "Lo yang sarap, Udin!" "Lagian kenapa nggak dicoba dulu? Gue bocorin ya, Sean itu baiknya kelewatan, Ki, kalau udah sayang sama orang. Makanya lo jangan sia-siain yang baik. Ntar diambil kucing lain baru nyesel." "Woi, gila! Kenapa jadi guruin gue? Kan tadi bahas elo, kodok betina." Aku tertawa, wajah Kiya terlihat merah. Sepertinya dia tengah menahan malu. Lucu sekali. Jika sahabat dan sepupuku memiliki hubungan, aku berjanji akan berlari mengelilingi monas sambil meneriaki nama mereka. Sungguh. *** Aku mengikuti langkah Kiya memasuki gedung rumah sakit. Jantungku berdegub kencang karena berlari hanya untuk meyamakan langkah dengan Kiya. Aku berhenti, kubiarkan Kiya melanjutkan langkahnya. Ini semua karena telepon mendadak dari rumah sakit yang meminta Kiya segera datang. Setelah menerima panggilan tersebut, raut wajah Kiya seolah berubah. Dia langsung pamit padaku. Aku menyusul, karena tidak akan kubiarkan perempuan itu berkendara seorang diri dalam keadaan panik. Aku berjalan menuju toilet. Mematut sebentar penampilan ala kadarku sekarang. Rambut yang poninya kutahan dengan bantuan bandana. Daster baby blue sepanjang lutut dengan corak jerapah yang hanya kulapisi dengan kardigan putih. Dan aku bersyukur, karena di mobil terdapat converse putih kesayanganku. Sengaja aku tinggal, hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan mendesak dan aku hanya memakai sandal jepit dari rumah. Setelah memperbaiki keadaan rambut, aku memilih keluar dari toilet. Berkeliling untuk sekedar melihat-lihat. Perkaranya, aku lupa membawa ponsel. Jadi akan sangat membosankan jika aku hanya duduk termangu seperti orang bodoh. Ingin pergi menuju cafeteria di seberang rumah sakit, tapi kesialan lagi, aku tidak membawa dompet. Biasanya aku tidak pernah melupakan benda-benda penting seperti itu, minimal, aku memegang dompet dan ponsel. Namun tadi, karena melihat Kiya yang sudah berlari lebih dulu membuatku harus segera menyusulnya. Aku tidak tau Kiya berada dimana sekarang. Entah ruang operasi dan sedang membantu jalannya operasi atau di tempat lain. Ingin bertanya ke resepsionis tapi aku terlalu malas untuk memutar. Kuhela napas beberapa kali, kantuk mulai menyerang, membuatku harus menutup mulut karena menguap. Aku bosan. Jika aku keluar, sama saja, angin malam akan semakin membuatku tertidur. Beberapa saat kemudian, mataku terbuka lebih lebar. Lebih baik aku menunggu di mobil saja, bukan? Setidaknya aku bisa tertidur menjelang Kiya datang. Ya, kenapa baru terpikirkan olehku ide cemerlang tersebut? Aku menatap sekitar, sepertinya aku sudah berjalan terlalu jauh. Kuputar badan dan langsung tertangkap oleh retinaku tulisan yang lumayan besar. Nama yang menandakan sebuah ruangan. Ruang operasi. Namun setelah itu, tubuhku seketika membeku, kala pandangan mataku menangkap sesuatu yang tidak asing. Pria dengan kemeja biru navi, memeluk erat seorang perempuan yang sedang terisak. Oh Tuhan, aku begitu berharap bahwa ini hanya kebetulan yang terjadi pada kesamaan warna kemeja yang terakhir kali kulihat sore tadi. Tidak mungkin pria itu Aldric, kan? Aku memutuskan untuk berjalan mendekat. Berdoa dalam hati kalau aku memang salah orang. Namun saat aku berhasil berjalan lebih dekat, langsung saja seperti mendapat tamparan keras dari semesta. "Al...," Panggilku gemetar. Pria itu mendongak, dan terlihat jelas ekspresi kaget di wajah yang sudah menanggung lelah tersebut. Dia langsung berdiri, melepaskan perempuan yang sejak tadi ia dekap erat. "Nadine?" Kutatap perempuan -yang memang benar, dia Amira- penasaran. Rasa kecewa berkecamuk dalam diriku. Aku salah berpikir positif sejak tadi. Karena ini bukan lagi tentang pekerjaan. Balik kutatap Aldric, ketika pria itu ingin menggapai tanganku, aku reflek menghindar. "Nad aku bisa jelasin." "Apa? Jelasin apa?" tanyaku tenang. Karena bagaimanapun, ini rumah sakit. "Dia butuh kamu buat jadi pegangan? Yaudah, lakuin apa yang mau kamu lakuin." Kuhela napas sebelum berbalik, berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut sambil menghapus air mata sialan yang entah atas suruhan siapa, keluar begitu saja. Teriakan Aldric terdengar memanggilku sesekali. Kupercepat langkah agar pria itu tak bisa menyusulku. Namun Aldric tetaplah pria, tenaganya tentu saja berlebih walaupun ia terlihat begitu lelah. Tepat ketika aku berada di sekitar parkiran, Aldric mendapatkan lenganku. Dia membalikkan badanku agar dapat melihatnya. "Kenapa nyusul aku?" Tanyaku langsung. "Nad, aku nggak punya maksud lain." "Tau kok. Kamu cuma mau jadi pegangan buat dia, kan? Do it." Aku masih mencoba menampilkan senyum. "Kenapa kamu masih mau nungguin aku? Bahkan dalam kurun waktu tujuh tahun, kamu bisa dapetin siapapun yang kamu mau. Kalau niat kamu cuma mau bunuh aku pelan-pelan, kenapa harus nunggu waktu tujuh tahun?! Aku pikir aku punya kesempatan buat sembuh, Al. Aku pikir aku bakalan lepas dari rasa takut aku selama ini karna sekarang aku yakin kalau kamu ada di samping aku! Tapi sekarang apalagi permainan kamu? Amira? Ya Tuhan, Al. Kamu tau apa enggaksih konsekwen kalau kamu selalu kayak gitu ke dia?" Aku menatap Aldric tajam, menumpahkan segala rasa tak berdaya sambil terisak. "Itu kejahatan, Al. Disaat kamu bisa buat perempuan jatuh cinta sama kamu karna semua perhatian kamu, dan setelah itu, kamu malah biarin dia jatuh sendirian. Mustahil kalau Amira nggak jatuh ke kamu. Dia perempuan, Al. Gitu juga sama aku. Dan udah jadi sifat lahiriah buat perempuan manapun, perjuangin laki-laki yang buat dia jatuh cinta!" "Nad, biarin aku ngejelasin dulu semuanya." Aku tertawa hambar dengan masih mencoba menghapus air mata. "Tujuh tahun aku coba pahamin semuanya, Al. Kenapa aku masih ngarepin kamu, kenapa aku nggak pernah bisa lupain kamu. Bahkan walaupun banyak laki-laki lain yang deketin aku, aku udah stuck di kamu. Satria, orang yang berlutut dan terang-terangan nyatain perasaannya ke aku lima tahun lalu waktu musim dingin di kota Oxford. Tapi harus aku tolak karna aku udah di penjara sama jeruji yang dibuat lewat kenangan-kenangan kita, Al. Kamu tau? Satria, masih nunggu aku di ujung jalan yang sama, Al. Dan nggak pernah nuntut apa-apa." Raut wajah Aldric seketika tak terbaca, dia melangkah untuk mendekat, dan aku memilih melangkah mundur untuk menjauh. "Satu lagi. Hari ini, waktu kamu lebih milih jadi pegangan buat perempuan lain, hati aku hampir diambil orang lain, Al. Dia minta aku buat jadi istrinya. Minta aku buat jadi temen hidupnya sampai tua. Dia minta aku buat nikah sama dia, Al. Dan lagi-lagi aku harus nolak satu malaikat baik kiriman Tuhan, karna perasaan ajaib yang udah kamu ciptain di hati aku. Kamu mau aku ngertiin kamu di bagian mana lagi, Al? Kalau kamu sendiripun nggak pernah paham gimana susahnya aku jalanin ini sendirian? Aku cuma mau kamu, Aldric. Persetan sama orang-orang yang bilang aku berlebihan. Karna aku gamau lagi boongin diri aku sendiri. Aku gamau nyesel lagi. Iya, aku nggak suka liat kamu deket sama perempuan lain. Aku cemburu, Al. "Dan kamu, cuma dengan pernyataan singkat kalau kamu cinta aku, kamu berhasil nerbangin aku ke titik tertinggi kebahagiaan perempuan. Cara sederhana kamu berhasil bikin aku nerima kamu sambil senyum kayak orang gila." Aku menunduk, menatap converse putihku dengan mata kabur tertutupi cairan bening. Kulihat langkah Aldric yang mendekat, dan ketika tubuhnya membawaku dalam pelukan hangat itu, aku makin terisak. Rasa tidak rela berkibar karena dekapan hangat ini tidak hanya milikku tapi juga Amira. "Aku nggak pergi, Nad." Suara Aldric terdengar tenang. "Aku disana. Liat Razza ngelamar perempuan aku. Aku liat dia meluk kamu." Tubuhku seakan beku, aku tak lagi bergerak. Bukankah Aldric pergi setelah aku masuk ke dalam restaurant itu? Aku melepaskan diri dari pelukannya. Menatap Aldric menuntut penjelasan. "Waktu kamu pergi bareng Razza, aku juga milih pergi ke tempat lain. Inget lapangan luas itu, Nad? Aku kesana. Lapangan itu nggak lagi sepi. Udah banyak banget yang main disana. Aku juga sengaja matiin HP biar nggak ada yang ganggu. Pikiran aku kalut dan aku nggak tau harus apa. Aku juga lupa sama janji buat jemput Amira, Nad. Aku baru dateng dua puluh menit lalu karna ada 29 missed call dari Amira dan spam minta aku supaya cepet dateng. "Bukan karena pengen bikin Amira jatuh cinta ke aku. Semua ini aku lakuin karna bentuk tanggung jawab, Nad. Dia butuh temen buat ngelaluin semua masalahnya. Kalau faktanya dia cuma punya mama, terus dia punya siapa lagi kalau mamanya sendiri lagi perang buat bertahan hidup di ruang operasi, Nad? Aku cuma mau kamu nggak kemakan sama omongan orang lain tentang gimana buruknya Amira. Semua orang punya sisi baik sama burukkan? Aku nggak mau kamu ikut-ikutan jadi jahat, Nad. Aku nggak mau perempuan yang selama ini aku perjuangin, yang selama ini aku pikir beda dari yang lain, ternyata sama aja kayak manusia-manusia yang cuma bisa bahas keburukan orang lain. Dan gimana kalau nanti dia kehilangan? Orang jahat pasti bakalan terus bilang dia berlebihan. "Siapa orang yang bakalan kuat kalau dia lagi ada di fase kehilangan, Nad? Bahkan Diana, adik kecil aku, bisa buat aku nangis sampai hancurin barang-barang yang ada di kamar." Aku terdiam seribu bahasa. Perasaanku campur aduk. Kutatap Aldric dengan air mata yang terus saja mengalir tanpa henti. Siapa yang akan kuat ketika kehilangan? Bahkan kepergian eyang mampu membuatku tidak makan seharian dan hanya melamun. Diana, mampu membuat Aldric menjadi kalap dan hilang kendali. Lalu Amira, jika nanti dia kehilangan seorang ibu, apa yang akan terjadi? "Aku nggak minta kamu ikut perhatian sama Amira. Cuma jangan pernah mikir hal jelek ke orang lain, Nad." Ujar Aldric lagi. Aku memilih berjongkok, memeluk erat kedua lututku dan membenamkan wajah. Aku malu, Tuhan. Kenapa aku begitu jahat? Kurasakan jemari Aldric membelai lembut tanganku. "Aku malu." Ujarku terisak. "Aku mau minta maaf, tapi aku malu." "Aku temenin." "Tetep malu." "Ada aku, Sayang." Tuhan, kalimat singkat itu lagi-lagi membuat jantungku menggila. Aku mengangkat wajah, menatap Aldric. Pria itu memberikan telapak tangannya padaku. Dan perlahan, kuterima ulurannya. Aldric berdiri, membuatku juga ikut berdiri. Lalu mengajakku menuju mobil. Aldric mengambil kunci mobil di tanganku dan tanpa suara kubiarkan pria itu. Dia membukakan pintu bagianku dan dengan cepat aku masuk. Aku masih sangat malu. Terlebih penampilanku sekarang pasti sangat mengenaskan. "Jangan nangis lagi," tutur Aldric lembut saat dia sudah masuk dan duduk menatapku. Tangannya mengambil tisu dan dengan terampil membersihkan wajahku. "Aku sayang kamu, Al." Pria itu tersenyum, lalu mendekat dan tanpa permisi, mengecup lama bagian sudut mataku. "Jangan nangis lagi." Lagi-lagi dia mengatakan hal serupa. *** Aku berjalan di belakang Aldric sambil terus memegang tangannya. Pria itu mengajakku menuju tempat sebelumnya, di depan ruang operasi. Terlihat olehku Amira yang hanya duduk seorang diri di kursi tunggu. Rasa bersalah memelukmu kian besar. Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter berumur keluar dari sana. Amira terlihat berdiri dan segera mendekati sang dokter. Aku memberi kode pada Aldric agar dia mendekati Amira untuk ikut mendengar kalimat dokter. Aku memilih tetap berdiri pada posisi aman, tidak berniat mendengar walau sekilas kudengar bahwa operasi berjalan lancar. Tak lama, mama Amira yang sedang terbaring lemah dibawa keluar dari ruang operasi. Aku melihat Kiya yang juga ikut mendorong brankar. Perempuan itu menatapku dan hanya bisa kubalas dengan anggukan kecil sambil tersenyum tipis. Dokter itu berlalu, meninggalkan kami bertiga. Aldric berjalan kembali mendekatiku. Lalu menarik tanganku untuk segera menyusul langkah Amira yang sudah pergi lebih dulu. Perempuan itu, pasti berat menjalani hari-harinya. "Kamu ngantuk?" Aku menggeleng menanggapi tanya Aldric. "Mau minta maaf," ujarku pelan. Kami memasuki tempat pasien dimana Amira tengah duduk sambil mendekap tangan sang mama. Aku memperhatikan Amira tanpa suara. Lagi-lagi membiarkan Aldric berdiri di sebelahnya. "Ma, Ra harus apa biar mama bangun?" isak perempuan itu. "Ma, Amira janji bakalan bawa mama liburan kayak yang mama impiin selama ini. Amira janji, Ma. Tapi Mama janji bangun dulu, ya. Amira yang bakalan dorong Mama pake kursi roda kemanapun mama mau pergi. Amira juga bakalan gendong Mama kalau nanti Mama bosen di kursi roda. Cepet bangun, ma." Aku membuang wajah, mengusap air mata. "Nyokap lo pasti bakalan bangun, Ra. Mending lo istirahat dulu." Amira baru menoleh saat Aldric bersuara. Dia melihatku, lalu kembali menatap Aldric dan tersenyum samar. "Makasi, Al," ujarnya pelan. Hei, bukankah juga terdapat aku disini? "Lo juga, Nad. Makasih karena ada disini." Aku terpaku, perasaanku terhadap perempuan ini semakin campur aduk. "Gue mau minta maaf sama lo." Aku bersuara tanpa berpikir panjang. Karena kenyataannya, aku memang harus segera meminta maaf. "Buat?" "Ya, semuanya." "Gue nggak ngerti." Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan aku memeluk lengan Aldric makin erat. "Intinya gue minta maaf." "Gue nggak maafin." "Ha?" "Lo nggak salah apa-apa. Apa yang mau dimaafin?" Aku sedikit lega, lalu samar tersenyum. "Semoga nyokap lo cepet siuman." "Aamiin." "Kamu pulang ya?" Aku menoleh pada Aldric, pria itu menatapku berharap agar aku segera mengiyakan pintanya. "Balik, Nad?" Kiya datang dari arah belakang. Dia melihat keadaan mama Amira dan setelah itu menyuarakan beberapa kalimat pada Amira. "Nad, lu balik sama guekan?" Kiya lagi-lagi bertanya. "Iya, Ki. Dia pulang bareng lo. Lo yang ngendarain bisa?" Aku seketika mendengus kala Aldric menjawab. "Kenapa?" Kiya bertanya bingung. "Udah ah. Aku pulang dulu." Aku menatap Aldric lalu beralih pada Amira. "Gue duluan ya, Ra." Setelah itu memilih keluar lebih dulu dari ruangan ini. "Nad, tungguin!" Aku menoleh, menatap Kiya yang berjalan cepat menyusulku. "Kenapa tadi sama Azka?" "Nggak tau." "Gue cuma minta supaya lo hati-hati." "Hati-hati kenapa lagi, sih, Ki?" Kiya tampak ragu, namun pada akhirnya dia putuskan untuk memberitahuku. "Amira, dia mau supaya Azka nggak pernah ninggalin dia. Baiklah, oksigen disekitarku seakan menipis. ...tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD