Pada akhirnya memang selalu sama, bahwa aku akan selalu tersenyum dan tertawa hanya untuk menutup luka. —Di meja makan, tersenyum hampa di hadapan nasi padang.
NADINE'S POV
Aku merenggangkan badan, menatap jam di dinding. Ini pukul 6 dan hujan kembali menemani pagi ini. Aku menoleh ke sebelah, dan mendapati Kiya dengan mata masih terpejam. Aku memilih beranjak untuk menggeser gorden. Lalu berlalu menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit kuhabiskan waktu di kamar mandi. Setelah itu keluar dan segera mencari baju. Kaus hitam lengan panjang high-neck yang membentuk badanku. Lalu kupadu dengan ripped overall jeans yang sedikit longgar. Aku terlalu malas untuk menggunakan pakaian rumit hari ini. Juga, hujan sebenarnya membuatku malas untuk melakukan aktivitas. Jika saja bisa memilih, aku begitu ingin kembali tidur dan bergulung bersama selimut. Sebelum keluar kamar, kuambil terlebih dahulu sepatu hitam dengan lambang ceklis putih sebagai penghiasnya.
Kukenakan tas selempang dan segera turun. Kulihat Kiya yang masih mengenakan pakaian semalam tengah menikmati sarapan serealnya. Sepertinya hubungan Kiya dengan Aqila sudah membaik, terlihat dari cara mereka yang saling bertukar kalimat.
"Pagi," sapaku lalu menyusul duduk di samping Kiya.
"Udah rapih aja."
"Belom." Aku menggeleng. "Rambut sama muka belom gue apa-apain."
"Kagak diapa-apain aja cakep, Neng."
"Oh, makasi."
"Dih!"
"Pagi-pagi udah ribut aja." Aku menoleh menatap mama yang datang dari dapur dengan semangkuk besar nasi goreng.
"Yah, Tante. Kirain nggak ada nasi gorengnya. Kalau gini ya Kiya dobel makannya."
"Kingkong lo," ejekku sambil mengetik pesan di ponsel untuk Reva.
"Diem lo."
"Kak Kiya sama Sean, ya?" Perempuan di sebelahku seketika tersedak, ditatapnya Aqila dengan mata membesar dan wajah tidak terima.
"Siapa bilang?"
"Sean yang bilang."
"Enggak. Nggak ada apa-apa."
"Terus Sean ngaku-ngaku dong?" tanya Aqila mengernyit.
"Kasian sepupu kita emang," tuturku ringan sambil beranjak menuju ruang TV. Memilih mengurus rambut sambil melihat acara cartoon pagi.
"Tabrak lari." Aku menggelengkan kepala perlahan, saat suara Kiya kembali berputar dalam kepalaku. Semalam, saat pulang, aku mencoba bertanya pada Kiya tentang apa yang terjadi pada mama Amira. Dan Kiya hanya menjawab sebatas itu. Setelah itu kucoba memejamkan mata supaya pikiranku tidak kemana-kemana, namun yang terjadi ternyata sebaliknya. Aku memikirkan segalanya malam itu, termasuk apa saja yang sedang Aldric lakukan bersama Amira saat aku memilih pulang.
"Oi, Nad." Aku tersentak, menatap Kiya yang sedang berdiri di belakangku. "Dipanggil berkali-kali nggak dijawab."
"Kenapa?" tanyaku kemudian.
"Bokap lo tuh. Mau ngomong kayaknya." Aku mencondongkan sedikit badan ke kanan, dan terlihat papa yang sudah duduk di rapih di kursi makan. Aku menghela napas, memilih berdiri dan kembali menuju meja makan.
Kuambil piring dan setelah itu aku isi dengan beberapa sendok nasi goreng. Papa yang tengah sarapan tetap diam, membuatku juga malas bersuara. Lima menit kurang lebih kami tidak bersuara, sampai akhirnya papa menyebut namaku.
"Kamu yakin mau tinggal sendirian?" tanya papa menatapku dengan tatapan yang entahlah, sulit dibaca.
"Apa yang salah sih, Pa? Nadine cuma pengen coba. Nadine cuma mau lakuin cara baru supaya Nadine bisa sembuh."
"Papa kasih izin. Dengan catatan, kamu harus hati-hati." Mataku terbelalak, kutatap papa tidak percaya.
"Papa serius?"
"Jangan buat Papa berubah pikiran."
"Nadine janji bakal hati-hati." Aku berdiri, kemudian memeluk papa seerat mungkin. Sungguh, mendapatkan izin dari papa benar-benar membuatku bahagia.
***
Aku memasuki butik bersama dengan Reva. Sekarang pukul 8. Setidaknya masih tersisa waktu tiga puluh menit lagi sebelum Nathan dan tenaga kerjanya mulai merombak butik. Aku berjalan menuju kursiku, mengecek ponsel sembari berpikir, kenapa Aldric belum menghubungiku.
Chat Kiya muncul tiba-tiba, dia memberi tahu bahwa sore ini tidak bisa menemaniku menuju lokasi rumah baruku karena sibuk sekali. Aku paham. Aku tidak mungkin memaksa Kiya. Setelah memberikan jawaban padanya, aku beralih mengirim chat pada Sean. Menanyakan pada pria tersebut apakah dia bisa mengajakku melihat rumah tersebut. Dan sepertinya aku cukup beruntung, karena Sean dengan senang hati menemani.
Aku meletakkan ponsel, memilih membuka sketchbook dan fokus disana. Sesekali, aku kembali memainkan ponsel berharap terdapat panggilan atau pesan dari Aldric. Namun kosong, tidak ada apa-apa.
"Mbak?" Reva memanggil. Kulihat perempuan itu tengah sibuk terduduk di lantai dengan beberapa kertas di sekitar dan benda persegi panjang di depannya.
"Ya?"
"Nanti malem bisa ketemu model yang lain nggak? Soalnya pada yes katanya kalau malem ini."
"Boleh, sih," jawabku pelan sambil memainkan pensil pada ruas-ruas jari. "Jam berapa?"
"Tujuh?"
"Kalau kamu duluan yang nemuin mereka gimana? Aku kepengen liat rumah dulu soalnya bareng Sean. Nanti aku nyusul, kok. Kamu bawa aja mobilnya."
"Ok," jawab Reva lalu kembali fokus dengan benda-benda di sekitarnya.
Tidak lama, Nathan datang bersama dengan tenaga kerjanya. Aku berdiri, memilih menyambut mereka. Yang kutau tentang Nathan, sepanjang pengamatanku terhadapnya, dia adalah pria yang tidak suka membuang waktu. Lebih senang langsung bekerja dan menunjukkan kemampuannya. Dan aku suka hal itu.
Setelah bercakap sebentar, Nathan dan pekerjanya memulai kegiatan mereka. Dengan barang-barang yang juga mulai berdatangan. Reva sendiri membantu mengecek segala barang yang datang dan menandakannya di dalam buku pegangannya.
Menurut hasil diskusiku, Reva, dan Nathan, butik ini akan menggunakan tema arsitektur modern dan lokal. Aku meminta Nathan membuatnya seindah mungkin. Juga, aku menginginkan agar di beberapa bagian tertentu butik akan dihias dengan corak batik khas Indonesia. Namun tetap memegang satu point, yaitu elegant.
Selain itu, Nathan juga merekomendasikan adanya arsitektur rococo untuk bagian anak-anak. Dimana warna pastel dan tampilan kasual akan bersatu. Beruntung karena butik ini memang cukup luas. Jika untuk pola susunan, aku lebih setuju untuk menggunakan pola vertikal. Agar nanti terlihat lebih rapih dan pada bagian tengahnya dapat kuisi dengan sofa dan beberapa meja kaca.
Entah sudah berama lama kegiatan berlangsung karena aku sendiripun terlalu serius memperhatikan. Sehingga kala ponselku berdering, aku sukses terkejut. Nama Aldric tertera di layar, sebelum menggeser layar ponsel, kusempatkan untuk melihat jam di pergelengan tangan. Baiklah, ini pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.
"Halo, Nad," sapa pria itu ketika panggilannya kuterima.
"Hm," gumamku pelan. Lalu terfokus pada Nathan yang kini tengah melihatku. Dia memberi kode agar aku segera memberinya selembar kertas dan pena. Aku segera memberikan kedua benda tersebut. Setelah itu memilih keluar dari butik dan menemukan Reva yang sibuk sendirian.
"Kemana aja?" tanyaku akhirnya.
"Ada meeting tadi. Lagi sibuk sama butik?"
"Banget. Nathan lagi kerja."
"Nanti lunch bareng?"
"Kamu yakin?"
"Kenapa enggak."
"Aku nggak niat makan jauh-jauh. Mungkin bakal delivery aja."
"Yaudah, biar aku yang bawa makanan kesana. Mau makan apa?"
"Kepengen nasi padang."
"Nasi padang?"
"Iya."
"Yaudah. Nanti kamu bilang berapa banyak."
"Semalem pulang jam berapa?" tanyaku memulai topik lain.
"Nggak lama kamu pulang, aku juga pulang." Kumainkan jari, perasaan lega membanjiri.
"Gimana keadaan mamanya Amira?"
"Baik, tadi pagi udah siuman."
"Syukurlah. Oh iya, ntar sore aku mau liat rumah baru bareng Sean. Papa akhirnya kasih izin aku tinggal sendiri di lingkungan baru."
"Mau aku temenin juga?"
"Terserah kamu kalo itu."
"Mau mulai pindah kapan?"
"Mungkin waktu butik selesai. Pengen selesein satu-satu dulu. Biar nggak sibuk ini itunya."
"Yaudah, nanti aku usahain juga ikut nemenin kamu. Aku balik kerja dulu, oke? Nanti siang aku ke butik."
"Iya, dah. Bye, Al." Kuputuskan panggilan sebelum mendengar lagi balasan Aldric. Sepertinya hujan membuat moodku dalam keadaan jauh dari kata bagus. Aku kembali masuk, menjatuhkan tubuh pada sofa panjang dengan tangan mengambil salah satu majalah.
Baiklah, sepertinya aku butuh tidur. Dan aku tidak akan bisa tidur di tempat ini. Aku mengambil kunci mobil, mengatakan pada Reva bahwa aku akan pulang sebentar untuk beristirahat. Tanggapan setuju Reva membuatku mengernyit. Dia mengatakan bahwa seharusnya aku tidak datang hari ini, lebih baik beristirahat dan menonton acara gossip pagi. Tipikal Reva, tidak jauh-jauh dari gossip.
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menuju mobil. Dan menancap gas untuk segera pulang. Kuambil ponsel dan mengirim pesan pada Aldric.
To: Aldric.
Kamu nggak usah ke butik. Soalnya aku lagi jalan pulang, nggak enak badan.
Tanpa menunggu balasan, aku mematikan ponsel dan fokus pada jalanan di depanku.
Setengah jam kemudian aku sampai di rumah. Langsung saja kukubur diri di dalam selimut setibanya aku di kamar. Mama yang tengah berbincang bersama Aqila serta mbak Hike sepertinya terkejut saat melihat kedatanganku. Mama menyerangku dengan berbagai pertanyaan, dan hanya kujawab sekilas lalu memilih masuk kamar.
"Nad." Panggilan terdengar diikuti suara ketukan pada pintu. Aku menjawab malas, kepalaku pusing entah karena alasan apa. "Nad." Lagi-lagi mama memanggil. Dan setelah itu terdengar suara pintu terbuka. "Kamu kenapa? Sakit?"
"Pusing, Ma," jawabku ogah-ogahan.
"Diganti dulu bajunya. Mana nyaman tiduran pakai celana monyet kayak gitu." Aku diam, tidak menjawab kalimat mama. Sungguh, aku begitu malas berjalan menuju lemari hanya untuk mengambil satu celana yang membuatku lebih nyaman.
Masih kudengar celotehan khas mama memenuhi ruang kamarku. Seperti biasa, aku disalahkan karena tidak menjaga kesehatan. Disalahkan karena makan tidak teratur dan selalu bergadang. Hei, aku tidak seperti itu.
"Ini, bangun dulu." Mama mulai menarik selimut yang menutupi hampir seluruh badanku. "Nad, denger nggak? Kalau kayak gini yang ada papa nggak bakal kasih kamu izin buat tinggal sendirian." Aku seketika duduk, menatap mama sedikit tidak terima.
"Kok mama mainnya ngancem gitu, sih?" ujarku seraya berdiri, kubuka celana monyetku dan menggantinya dengan celana piyama panjang berwarna hitam yang mama ambil sebelumnya.
"Bajunya nggak mau diganti sekalian?"
"Yang ini aja nggak apa-apa," jawabku lalu kembali masuk ke dalam selimut.
"Mbak Hike lagi buatin bubur jagung. Kamu mau makan yang lain?"
"Tadi Aldric juga nanya aku mau makan apa, aku jawab nasi padang."
"Jadinya?"
"Iya, aku mau itu."
"Yaudah tidur aja dulu." Mama memungut celana monyet yang tadinya kulepas, membuatku meringis karena merasa bahwa mama tidak pantas melakukan hal ini. Ketika mama keluar dan hendak menutup kembali pintu, aku bersuara.
"Minta Satria kesini dong, Ma," tuturku kemudian.
"Iya, nanti Mama telfon. Istirahat dulu. Jangan mikirin apa-apa dulu." Aku mengangguk dengan mata terpejam. Lalu membiarkan mama berlalu dan aku memilih tidur.
***
Kurasakan sentuhan pada pipi, sambil berusaha membuka mata untuk melihat siapa yang melakukan hal tersebut. Ketika berhasil, tertangkap oleh retinaku wajah Satria yang tengah menunjukkan cengirannya. Kulirik jam di dinding dan aku sukses terbelalak. Kenapa aku tertidur lama sekali?
Demi Tuhan, sekarang sudah pukul lima. Aku langsung saja teringat dengan janjiku sore ini bersama Sean dan meeting malam nanti. Kuambil ponsel yang terletak di nakas, dengan segera menghubungi Reva. Berniat mengatakan bahwa badanku tidak enak dan sepertinya kegiatan hari ini terpaksa aku cancel semua.
"Kamu udah makan?" Satria bertanya sambil mengambil tempat di tepi tempat tidurku. Sebenarnya ini begitu aneh, kenapa mama membiarkan Satria masuk ke dalam kamarku. Dan pada akhirnya, aku memilih duduk dan dengan berat hati melepaskan diri dari selimut.
"Ke ruang kerja aku aja, yuk," ajakku pada Satria dan berjalan lebih dulu. Satria mengikuti langkahku menuju ruangan yang terletak di bagian ujung. Ketika tiba, Satria langsung saja menjatuhkan diri pada kursi di seberang kursi milikku.
Aku mengusap wajah karena kantuk masih melekat. Kutatap Satria yang kini tersenyum tenang. "Jadi, kenapa?" tanyanya tenang.
Aku menghela napas, memutar kursi yang aku duduki ke kanan dan ke kiri. Setelah berpikir beberapa saat, aku bersuara. "Kamu pernah punya perasaan nggak enak ke orang lain?" tanyaku dengan jari yang saling bertautan.
"Ada orang yang kamu nggak suka?"
"Aku nanya kamu lho, Sat. Kenapa nanya balik," ujarku sedikit kesal.
Pria itu tertawa kecil. "Aku pernah," jawabnya kemudian.
"Terus yang kamu lakuin?"
"Diem. Karena buat aku itu nggak penting. Kalau orang itu nggak ngerugiin aku sama sekali, ya nggak apa-apa. Walaupun perasaan aku ke dia lagi nggak enak." Aku menggigit bibir, kembali berpikir. "Siapa orangnya, Nad?"
"Nggak," jawabku cepat. "Bukan siapa-siapa. Cuman pengen nanya itu. Kamu bener juga, sih, seharusnya aku nggak terlalu mikirin hal ini. Tapi karena hal yang dia lakuin, aku ngerasa takut. Awalnya aku nggak suka sama dia, terus aku sadar kalau nggak seharusnya aku kayak gitu. Tapi anehnya, nggak lama waktu aku mutusin buat damai sama dia, perasaan nggak enak itu dateng gitu aja. Aku takut dia ambil sesuatu yang nggak seharusnya dia ambil," ujarku lirih pada kalimat terakhir.
"Benda atau seseorang, itu nggak akan selamanya jadi milik kamu kalau cara jaga kamu itu lemah. Tapi jangan juga terlalu kuat, karena bisa aja nyakitin. Ambil tengah, tapi juga hati-hati."
"Maksud kamu?"
"Aku nggak tau apa hal yang nggak seharusnya diambil sama orang ini. Tapi, Nad, kalau kamu lengah, dia bisa ambil benda itu gitu aja. Dan catatannya, kamu nggak boleh marah. Karena kesalahan kamu kenapa lengah. Dan yang aku mau, jaga benda itu hati-hati. Terlebih kalau benda itu udah mutlak jadi milik kamu."
"Dan perasaan nggak suka ini menurut kamu gimana?"
"Normal."
"Normal?"
"Malah ada manusia yang nggak suka sama manusia lain karena alasan yang nggak jelas. Intinya dia gak suka. Itu aja. Ditanya kenapa, manusia ini cuma jawab 'Gatau, pokoknya gue nggak suka aja. Udah jangan ditanya-tanya lagi." Sesederhana itu. Apalagi sama orang yang punya alasan, kan?"
Ponsel yang kubawa bergetar, nama Aldric terdapat disana. Kutatap Satria sekilas lalu memilih menggeser layar. "Hallo?" sapaku pelan. "Pengen, sih, yaudah kesini aja. Kalau lama mending gausah abisnya udah laper banget. Mama bilang kalau Mbak Hike juga buatin bubur jagung. Tapi bentar deh aku tanya Mama dulu."
Aku berdiri, menatap Satria sebelum keluar. "Aku keluar sebentar ya cari mama," ujarku pelan.
Kuturuni anak tangga dengan cepat sambil mendengarkan Aldric yang sibuk berbicara. Kulihat mama yang tengah duduk sendiri sambil menonton acara TV. "Ma." Mama menoleh ketika aku memanggil. Aku berjalan mendekat, mengambil tempat di sebelah mama. "Mama jadi beliin aku nasi padang?"
"Jadi juga? Tadi mama pengen beliin, tapi kamunya tidur. Jadi pengen nunggu kamu bangun dulu."
"Bubur jagungnya jadi dibuat?"
"Itu disana. Tadi mama ke kamar bawain buburnya, kamu gak bangun padahal udah dibangunin. Yaudah mama bawa ke dapur lagi."
"Masih baguskan, Ma?" teriakku ketika sedang berjalan menuju dapur.
"Bagus," jawab mama juga berteriak. "Coba dipanasin lagi."
"Di dinginin gapapakan, ya?"
"Lagi sakit gitu makannya yang anget gimanasih kamu."
"Udah nggak sakit," jawabku sambil memindahkan semangkuk bubur ke dalam kulkas. Setelah itu berjalan kembali ke ruang keluarga.
"Eh, Satria. Si Nadine bener-bener! Masa kamu ditinggalin di atas sendirian." Aku meringis lalu kembali meletakkan ponsel ke telinga.
"Halo, Al. Mama belum beli," ujarku kembali duduk di sebelah mama. "Mama mau nitip?" tanyaku lagi pada mama.
"Mama kepengen pempek." Aku mengernyit, manahan gelengan pada kepala. Kenapa selera manusia harus berbeda-beda? "Nitip Azka dong, Nad. Mau nggak dianya?"
Baru ingin bersuara, Aldric menjawab bahwa dia akan mencarikan pempek untuk mama. Setelah berbincang kembali sekitar lima menit, kami memilih menyudahi panggilan. Aku meletakkan ponsel di sampingku, lalu menatap layar kaca lebar di depan mata.
"Terus gimana, Sat, kerjaannya?" Mama bertanya. Aku menoleh pada Satria yang sedang duduk santai tidak jauh dariku.
"Sejauh ini lancar, Tante."
"Papanya Nadine udah ngasih izin buat Nadine tinggal sendiri. Nanti Tante minta tolong kamu juga ya jagain dia." Sebentar, apa maksud mama? Jelas sekali aku akan tinggal sendirian, lalu bagaimana caranya Satria menjagaku? Apa dengan meninggalkan rumahnya—yang aku tidak tahu dimana—dan pergi menuju rumahku lalu menghabiskan waktu disana? Hei, Satria tentu saja tidak dibayar untuk hal seperti itu.
"Apaansih, Ma," ucapku tidak setuju.
"Apanya yang kenapa?" Aku tidak menjawab, hanya menggeleng lalu kembali fokus pada film di depanku. Membiarkan mama mengobrol bersama Satria.
Entah sudah berapa lama karena aku terlalu fokus menatap kecantikan Lily Collins dan ketampanan Sam Claflin ketampanan sehingga ketika mama memanggilku, aku langsung terkejut. "Itu Satrianya mau pulang."
"Eh?"
"Kalau ada apa-apa lagi kamu bisa langsung telfon."
"Yes, Sir," jawabku cepat sambil tersenyum. "Thanks buat yang tadi ya."
Pria itu mengacak rambutku sebelum akhirnya berlalu dari ruang keluarga.
"Dianterin, Nad, ya ampun." Aku meringis ketika mama memukul pahaku pelan. Dan tanpa banyak bicara, aku segera berdiri, menyusul Satria keluar.
"Hati-hati, Sat!" teriakku sambil melambaikan tangan menatap mobil Satria yang kian menjauh.
***
Aku baru saja selesai mandi, kembali turun ke bawah dan sudah menemukan Reva berbaring di bed sofa.
"Capek, ya?"
"Banget, Mbak."
"Istirahat ke kamar sana." Aku baru saja ingin mendaratkan tubuh di sebelah Reva ketika bunyi bel terdengar. Aku kembali menyuruh Reva agar segera bersih-bersih dan istirahat, lalu dengan cepat berjalan menuju pintu utama.
Kubuka pintu dan wajah tersenyum Aldric menyambutku. Dia terlambat, tentu saja. "Aku muter-muter buat cari pempeknya. Kamu gimana, udah minum obat?" Aku mengangguk asal. Kuterima bungkus plastik dari Aldric sambil meringis hebat, menatap Aldric bersalah. Mamaku benar-benar.
Kuajak Aldric masuk, namun pria itu bergeming. "Kenapa?" tanyaku bingung.
"Aku mau ke rumah sakit dulu, Nad. Ngecek gimana keadaan mama Amira." Salivaku tiba-tiba saja sulit ditelan. Belum lima menit kami bertemu, dan Aldric ternyata kembali ingin pergi.
"Kalau kayak gini mending kamu nggak usah kesini. Aku sama mama bisa beli sendiri."
"Aku kangen kamu."
"Bohong," balasku cepat.
"Nad...."
"Belum lima menit kita ketemu dan kamu ternyata mau pergi lagi." Kuhela napas sebelum kembali bersuara. "Yaudahlah sana. Abis dari rumah sakit langsung pulang. Tapi jangan pernah datengin aku dulu kalau nyatanya kamu masih sibuk sama yang lain." Aku tersenyum, tanpa aba-aba, kututup pintu tepat di depan Aldric. Baru ingin beranjak, aku tersadar karena belum mengucapkan terima kasih untuk makanan yang dia bawakan. Kuhidupkan ponsel, dengan gerakan jari cepat kuketik pesanku.
To: Aldric.
Makasih buat nasi padang sama pempeknya. Kita ketemu bulan depan aja, aku marah sama kamu.
...tbc...