[20] Grand Opening

3099 Words
Aku marah. Namun pada akhirnya, aku selalu kau buat luluh lantak. —Di sampingmu. NADINE'S POV "Sana dulu." Usirku untuk kesekian kalinya pada pria di serong kananku. Dia sepertinya berubah menjadi manusia keras kepala sejak aku menolak keras makanan yang ia bawakan. Bukan, sebenarnya bukan menolak, hanya mengatakan bahwa aku akan memakannya nanti. Namun pria ini langsung saja menuduhku menolak makanan tersebut. Dan sekarang, di tengah aku yang sibuk bekerja meratapi kertas penuh tulisan, pria ini seenaknya duduk di atas meja sambil mengarahkan sepotong bakso padaku. Tuhan! Bisakah kalian bungkus Aldric lalu membawanya pergi sejauh mungkin dari sini? Baiklah, aku berubah pikiran. Jangan lakukan hal tersebut karena aku akan berubah menjadi gila hanya dalam hitungan detik. Kutatap Aldric memohon. "Satu doang, Nad. Kamu belum makan dari siang, kan?" Tanyanya terlihat menuntut. "Sok tau banget sih. Orang aku makan." "Keripik? Reva udah bilang sama aku. Kamu bilang sama Reva kalo malem mau makan bakso, ini dibawain terus disuapin tapi masih nolak." "Aku sibuk banget, Al. Abis ini aku janji makan baksonya." "Makan, Nadine." "Al.." Aldric berdiri, meletakkan bakso tersebut di atas meja lalu menjauh. Aku sendiri sudah akan bernapas lega sampai akhirnya Aldric kembali datang dengan membawa kursi dorong dan duduk di dekatku. Seketika memutar kursiku agar menghadap padanya. "Aku nggak mau kamu sakit lagi. Kamu boleh kerja, tapi nggak boleh kalau lupain makan." Aku mendesah pelan, akhirnya mengalah pada Aldric. "Tapi aku harus tetep liatin ini ya." Ujarku sambil mengangkat sedikit tumpukan kertas yang sejak tadi aku tekuni. "Asal kamu makan." Balasnya tersenyum. Ini sudah tiga minggu sejak aku menghempas pintu di depan Aldric malam itu. Dan tentu saja tidak terjadi apapun di bulan ini karena Aldric memang tidak akan bertunangan. Aku mengingat ketika pria ini sibuk meneleponku namun tak sekalipun kugubris panggilannya. Keesokan harinya, setelah pulang kerja, dia menemuiku di rumah. Sialnya bahwa aku tidak tau pria itu datang, karena dia tiba-tiba saja muncul di ruang kerja ketika aku tengah sibuk membuat design baju untuk klien. Dia duduk di depanku tanpa banyak bicara. Aku yang awalnya ingin mendiamkan Aldric pada akhirnya berujung gagal. Kuhela napas kasar di hadapannya, sedangkan Aldric tetap menatapku tenang. Baru ingin bersuara untuk kembali mengusirnya, pria itu mendahului. "Aku pengen liburan bareng kamu." Tuturnya malam itu. Aku tentu saja mengernyit bingung. Apa maksudnya? "Keliling dunia ditemenin kamu." "Terus?" Tanyaku tenang. "Kamu maukan nemenin aku?" "Ogah kalo sekarang. Ntaran aja kalo udah ada uangnya. Nabung dulu." Aku kembali mengalihkan pandangan ke sketchbook di depanku. "Kamu nggak usah ajak ngobrol lagi ya, aku masih marah." "Kalau aku ajak Dimi, terus kamu ajak Lulu, gimana? Tempatnya kamu yang pilih." Lagi-lagi Aldric bersuara. Aku membiarkannya karena begitu malas menanggapi. "Al, aku sibuk." "Dulu inget nggak, waktu kita ngobrol sampai tengah malem, terus rencanain liburan ke luar negri. Cuma kita berdua, nggak ada orang lain." "Aku lupa." "Kamu nggak mungkin lupa. Jepang. Kamu bilang Jepang." "Enggak." "Terus kamu bilang mau main salju disana." "Udah pernah main saljunya." "Tapi nggak bareng aku." "Nggak perlu bareng kamu. Sendirian juga bisa." Balasku terus setiap Aldric bersuara. "Kalau sendiri nanti kamu hilang." "Apaansih gajelas." Jawabku sedikit lebih keras. "Katanya nggak mau diajak ngobrol lagi. Tapi dari tadi omongan aku dijawab terus." Aldric tertawa, sedangkan aku melemparnya dengan pulpen yang berada di atas meja. Sialan, harusnya aku sadar dia tengah merayu. Aku menghela napas, pada akhirnya bertanya. "Gimana mamanya Amira?" "Sejauh ini baik, semoga seterusnya." "Kiya bilang tabrak lagi." "Malem waktu kita bertiga di mobil, waktu aku anterin dia pulang, kamu liat mamanyakan? Mamanya keluar rumah sebentar nggak lama waktu kita pergi. Di sekitaran situ juga tabrakannya." Aku diam, tidak lagi ingin tau. "Nad? Nadine?" Aku tersentak saat Aldric memanggil dan tangannya tetap setia memegang garpu dengan bakso berada disana. "Eh?" "Kamu ngelamunin apa?" "Nggak, bukan apa-apa." "Yaudah makan dulu." Kuhela napas, membuka mulut untuk menerima suapan bakso. "Aku nggak mau mienya, baksonya aja ya?" "Iya yang penting ada yang masuk." Aku menatap ponsel yang berbunyi, mama memanggil. Langsung saja kugeser layar untuk menerima panggilan mama. "Hallo, ma?— sebentar lagi. Iya. Iya. Ini bareng Aldric kok. Lagi liatin mereka ngedekor, ma.— iya yaudah nanti dicariin. Dah, tutup ya." Aku tidak meletakkan ponsel setelah panggilan mama terputus. Jariku sibuk mengetikkan huruf-huruf dan ketika Aldric kembali memanggil, tidak kugubris. "Nad." Panggilnya lagi. Aku membaca tiap kalimat hasil pencarianku dengan serius, dan lagi-lagi tidak mempedulikan suara Aldric. Namun beberapa saat kemudian, kurasakan sesuatu mendarat di pelipisku. Membuatku dengan cepat menatap Aldric dengan jantung melompat riang. Kuperhatikan sekitar, sialan, ternyata ada yang melihat kegiatan tidak sopan yang baru saja Aldric perbuat. "Harus dicium dulu ternyata baru mau liat aku. Yaudah nggak apa-apa." "Ada yang liat, tau." Semprotku kesal. "Terus kenapa?" "Kan nggak sopan kamu kayak gitu disini." "Yang aku cium itu kamu, Nadine. Bukan orang lain." "Iyakan harusnya tau tempat juga—" Dan seketika, aku benar-benar diam karena Aldric dengan beraninya mencium sudut bibirku. Tidak lama memang, tapi berhasil membuatku sulit bernapas. "Mau ngomong apa lagi? Kamu kebanyakan ngomong dari tadi, padahal aku cuma suruh kamu makan." Aku menggigit bibir, tidak berani menatap sekitar. "Mulut kamu digunain buat makan dulu, ngomongnya nanti." Aldric kembali menyuapkan bakso padaku. Ya Tuhan, kenapa pria ini suka bertindak sesuka hatinya? Dia gila. Seratus persen gila. Aku menuruti kemauan Aldric untuk makan dalam diam. Tidak lama, semua bakso tersebut berhasil masuk ke perutku dan hanya tersisa mie. Aldric berdiri, meletakkan mangkuk itu ke meja lain. Aku sendiri pun juga beranjak dari kursiku, memilih melihat kerja para orang-orang disini. Sepertinya tidak lama lagi selesai. Hasil kerja Nathan sendiri juga memang patut kuacungi jempol. Butikku tampak sempurna dan sangat memuaskan. Aldric benar, Nathan tidak akan mengecewakan. Dan besok malam, akan menjadi hari dimana butikku resmi dibuka. Dan setelah semua selesai, aku dapat memfokuskan diri untuk pindah. "Rev." Panggilku pada Reva yang terlihat begitu sibuk. Dia mengontrol segalanya sejak sore, karena bagianku dari pagi hingga sore. "Kenapa, mbak?" Tanya perempuan itu. "Aku pulang duluan ya? Mama soalnya nitip minta dibeliin sesuatu. Mesti masuk mall. Takutnya kalo terus disini mama makin ribut." "Yaudah, mbak. Hati-hati. Ini dikit lagi juga finish kok. Mbak tenang aja. Pokoknya besok malem semuanya pasti lancar." Aku tersenyum mendengar kalimat Reva dan tidak lupa mengamininya. "Kita pamit ya, Rev." Teriakku keluar butik dengan Aldric yang menggenggam tanganku erat. *** "Aldric jangan ganggu dulu dong." Teriakku frustasi. Sekarang sudah pukul enam lebih lima belas menit. Dimana satu jam lebih lima belas menit lagi, acara pembukaan butik akan dimulai. Dan tingkah Aldric tiba-tiba saja berubah semakin mengesalkan daripada semalam. Aku yang sudah datang dari pagi dan sibuk dengan segalanya bersama para orang yang membantuku. Dan demi Tuhan, aku kewalahan walaupun aku merasa begitu bahagia karena impian ini selangkah lagi terwujud. Aldric, pria ini tiba pukul lima sore karena aku yang memaksanya. Jika tidak, dia pun akan datang sejak pagi. Dan dari kedatangannya, dia tidak memberiku waktu untuk bekerja dengan lancar. Dia begitu sibuk mencuri segala perhatianku dengan tingkah anehnya. Ketika aku tengah sibuk memeriksa kembali pakaian yang dikenakan para model, dengan tidak tau malunya, Aldric memelukku dari belakang. Membuatku sulit bergerak karena ruang gerakku sudah di block semua. Kemudian saat aku melihat kembali tatanan dekor, Aldric sibuk bermain dengan rambutku. Mengikatnya, lalu kembali dilepaskan. Begitu terus hingga tiga kali berturut-turut. Dan sekarang, saat aku tengah memeriksa para model lain yang sedang di make up, Aldric kembali berulah dengan terus menyebut namaku. Kutatap Aldric kesal, dan dia tersenyum. "Harusnya kamu nggak diundang aja kali ya?" Semprotku sambil keluar dari ruang make up dan masuk ke ruanganku. "Kamu nggak ngundang juga aku bakalan dateng." "Dihadirin security aja biar kamunya nggak masuk." "Masih aja kejam." "Biarin ih kamunya ngeselin. Orang lagi sibuk." Aku membuka pintu ruanganku dan segera mencari handuk. Kulirik Aldric yang diam tidak lagi menjawab kalimatku. Dia tengah duduk tenang di sofa sambil sibuk dengan ponsel. "Kamu disini? Aku mau mandi dulu." Ujarku sudah lebih tenang dari tadi. "Nad." Aldric mengalihkan pandangannya dari ponsel. Raut wajahnya tampak serius. "Aku ada urusan di luar sebentar. Aku janji sebelum acaranya mulai aku bakalan balik." Gerakan tanganku yang sibuk mencari sesuatu di dalam tas seketika terhenti. Kutatap Aldric penuh tanya. "Mau kemana?" Tanyaku penasaran. "Mau ketemu temen sebentar, di deket sini juga." "Yaudah." Jawabku tenang. Toh Aldric hanya akan bertemu di sekitar sini dan dia berjanji akan kembali. Pria dengan kemeja hitam itu berdiri, berjalan mendekat ke arahku. Dan tanpa permisi mencium sekilas pelipisku. "Aku pergi dulu." "Bye." Kulambaikan tangan padanya walaupun dia tidak membalas, karena sudah lebih dulu keluar ruangan. Dan dengan helaan napas kasar, aku memilih segera bersiap-siap. Entah kenapa, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. *** Welcome to the Grand Opening Boutique de Espérer. Kalimat itu menyambut tiap tamu yang tiba. Ya, nama yang akhirnya kupilih bersama Reva setelah berdiskusi kurang lebih satu jam. Boutique de Espérer. Awalnya, aku memiliki ide untuk memberi butik ini dengan namaku dan Reva. Tetapi Reva sendiri ternyata memiliki ide lain, dengan menggunakan arti dari namaku. Dalam bahasa Perancis, Nadine berarti berharap. Dan Reva langsung bersuara, butik harapan. Reva berkata semoga butik ini akan jadi harapan setiap orang. Dan tentu saja aku menyetujuinya. Kuperhatikan tiap wajah yang hadir. Senyumku merekah sempurna walaupun rasa gelisah karena Aldric belum tiba masih memelukku. Pria itu, pun tidak menjawab panggilanku. "Nad!" Aku menoleh, dan menatap Kiya yang tengah tersenyum lebar padaku. "Ciye, congrats, kodok!" Aku mendelik sebal pada Kiya yang kini sibuk tertawa. "Laki lo mana?" "Heh tu mulut." Balasku cepat. "Iya, Azka dimana?" "Gatau." Jawabku pelan sambil kembali melihat sekitar. Kulihat mama, papa, sedang sibuk berbincang dengan orang lain. Aqila dan Leo pun sibuk berdua. Reva sendiri masih sibuk mengkoordinasi situasi. Aku tersenyum menatapnya. Dan sudah kuputuskan, butik ini tidak hanya milikku tetapi juga Reva. Perempuan pecinta acara gossip itu, sudah kuanggap seperti adik sendiri sama seperti Aqila. Lima belas menit berlalu dan tentu saja acara akan dibuka oleh Kiya. Jantungku berdegub kencang merasakan euforia detik-detik berharga seperti ini ketika Kiya mulai bersuara. Sesekali masih kulirik kanan kiri untuk mencari keberadaan Aldric. Bukannya melihat Aldric, mataku ternyata menangkap Satria juga Razza. Kedua pria itu sibuk memperhatikan Kiya. Ponselku bergetar, awalnya kupikir Aldric yang menghubungi. Namun tidak, nama Step, temanku ketika di London menghubungiku lewat social media. Senyumku merekah tiba-tiba, dengan segera kujawab panggilannya. "Congratulations, darling!" Ujar Step terdengar semangat saat panggilan baru saja kuterima. "Thankyou so much, Step." Balasku tak kalah semangat. Kami sibuk berbincang hingga aku tersentak kala Kiya memanggil namaku agar segera naik ke pentas untuk menyusulnya. "Promise?" "Promise." "Ok, bye, Step. Miss you." "Me too. Bye." Aku mematikan ponsel, lalu dengan langkah pasti, berjalan menuju tempat Kiya kini berdiri. Jantungku tetap berdegub tidak karuan kala aku sudah mulai menyapa tiap tamu. Kuucapkan terima kasih atas semua pertolongan dan partisipasi mereka semua. Mataku sesekali terfokus pada pintu masuk, berharap Aldric datang. "Nah, jadi kita akan masuk ke acara peresmian Boutique de Espérer dengan gunting pita oleh Nadine dan Reva. Baru setelah itu tanda tangan oleh Nadine dan juga Reva pada poster grand openingnya." Bahkan setelah selesai semua kegiatan itu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aldric akan tiba. Aku mendesah pelan. Apa dia marah karena emosiku tadi? Tapi jelas-jelas pria itu pergi untuk menemui temannya. Dan pertanyaan yang tiba-tiba melintasi kepalaku, siapa teman yang tengah Aldric temui? "Dan sekarang saatnya, kita lihat design Nadine Sava lewat model-model cantik ini." Musik langsung saja terdengar. Dan satu-satu model mulai keluar, berjalan dengan begitu percaya diri. Ini luar biasa. Dalam hati, kembali kuucapkan syukur. Tanpa mereka semua, aku tidak akan pernah merasakan euforia semacam ini. *** Aku menarik napas, lalu membuangnya perlahan. Kuistirahatkan badan dengan berbaring di sofa. Semuanya telah selesai. Tentu saja, aku lega luar biasa. Reva sendiri masih berbincang dengan beberapa tamu yang masih setia ada di sini. Kantuk menyerangku, hingga saat pintu ruangan dibuka, aku memilih mengabaikan. Aku memutuskan untuk menutup mata, tidur beberapa saat. Namun ketika wangi yang amat kukenal menyapa indra penciumanku, mataku kembali terbuka. Pria di depanku menatapku dengan pandangan yang entahlah. Kududukkan badan, setelah itu dengan cepat berdiri menuju tas. Bukankah wajar jika aku marah padanya? Sungguh, aku tidak mengharapkan apapun selain dia yang melihat seluruh acara itu tanpa melewatkannya barang sedikitpun. Dia ternyata ikut berdiri, berjalan mendekat padaku. "Ketemuan sama temennya sebentar kok." Ujarku sambil tersenyum menatapnya. "Sebentar banget." Tawaku berikutnya. "Nad—" "Siapasih temen kamu itu?" Tanyaku memotong suaranya. "Emang nggak bisa kalau dianya diajak aja kesini terus ngobrolnya disini kalo emang selama itu? Kamu bilang kamu bakalan balik. Iya, emang balik. Tapi waktu acaranya udah selesai. Jujur deh ya sama aku, kamu kemana?" Aku kembali bertanya dengan nada terkontrol. Demi Tuhan, kekesalan ini begitu sulit kutahan. "Gamau jawab? Yaudah gausah ngomong lagi sama aku." Pintu ruangan terbuka, diikuti suara lantang Kiya memanggil namaku. Namun ketika Kiya menatap kami, dia berhenti. "Eh? Gue ganggu ya?" "Ki lo mau balik?" Tanyaku cepat. "Iya ini mau ngajak lo. Gue kirain Azka nggak ada." "Emang. Emang nggak ada." "Kayaknya lo berdua butuh ngobrol serius deh." Aku menggeleng cepat. "Nggak kok. Kita udah selesai." Aku meninggalkan Aldric, berjalan cepat menuju Kiya dan langsung menariknya keluar. Kulihat Reva yang tengah tertawa bersama kenalannya. "Rev." Panggilku dan Reva seketika menghentikan kegiatannya. "Aku balik duluan ya?" "Ok, mbak. Jangan lupa istirahat." "Kamu juga. Bye, Rev." Kakiku yang hanya ditemani sandal jepit hitam berjalan cepat meninggalkan butik, menuju mobil Kiya. Dan aku tentu saja tidak salah orang, ketika kulihat Amira berdiri di luar mobil Aldric sambil bermain dengan ponselnya. Jadi karena perempuan itu? Kenapa Aldric selalu berhasil membuatku terlihat bodoh? Kenapa pria gila itu sering sekali memposisikan diriku di bawah Amira? "Nad?" Aku tersentak, menatap Kiya yang terlihat khawatir. "Lo kayaknya nggak baik deh. Azka ngapain lo?" "Kayaknya Amira emang lebih penting ya Ki dibanding ama gue?" Tanyaku sambil tertawa sinis lalu segera masuk mobil. Kiya cepat menyusul, dan setelah itu menyerbuku cepat dengan berbagai pertanyaannya. Kuputar kepala perempuan itu agar dia dapat melihat mobil Aldric. Dan seketika mata perempuan itu membesar. "Ini nggak lucu banget." Ujar Kiya ikut tersenyum menatapku. "Dia bilang dia mau ketemuan sama temennya di sekitar sini, dan bakalan balik sebelum acara dimulai. Tapi apaan?" "Bentar deh." "Kenapa?" "Kayaknya gue tau mereka kemana." Aku diam, menatap Kiya dan membiarkannya melanjutkan ucapannya. "Kalau gue nggak salah ya. Ini tu hari buat mamanya Amira cek ulang kondisi gitu ke rumah sakit. Tapi masa harus bareng Azka sih?" Entah kenapa, keadaan di mobil terasa begitu menyesakkan. "Lo pulang duluan aja." Aku memilih keluar membawa tas, dan kulihat Aldric yang berjalan cepat mendekatiku. "Aku pulang sama kamu." Ucapku cepat. Pria di depanku mengangguk, lalu ketika Aldric ingin meraih tanganku, aku dengan cepat menghindar. "Nggak usah megang, sadar aja dulu sama kesalahan kamu." Amira menatapku yang berjalan mendekati mobil. Dia tersenyum. Oh Tuhan, sadarkah perempuan itu bahwa aku begitu membenci cara mainnya? Aldric membukakan pintu penumpang depan untukku. Dan saat aku masuk, seorang wanita berumur menatapku penasaran. Wanita itu tersenyum, dan aku dengan senyum tipis membalas. "Tante mau makan dulu?" Tanya Aldric ketika dia sudah duduk di belakang setir. "Nggak usah. Tante udah kenyang. Juga kamu mau nemenin tante periksa lagi ke rumah sakit udah buat tante seneng. Makasih ya, nak Azka." Aku sibuk menatap pemandangan di luar. Jadi benar apa yang Kiya katakan. "Ini temennya nak Azka?" Aku reflek langsung menoleh pada mama Amira yang tepat duduk di belakang Aldric. "Namanya siapa?" "Nadine, tante." Balasku sambil mengulurkan tangan. "Nama tante Jingga." Wajah pucat itupun tersenyum kian lebar. "Kerja di butik tadi?" Aku hanya tersenyum, bingung harus menjawab seperti apa. "Dia pemiliknya, tante." Aldric bersuara, dan ekspresi tante Jingga ternyata diluar dugaanku. "Pemiliknya?!" Tanya tante Jingga lagi dengan wajah kian berseri. Kenapa dia terlihat begitu bahagia? "Berarti bisa dong ya tante belanja disana terus dapet diskon?" Astaga... Aku hanya memaksakan tawa, menganggukkan kepala agar terlihat sopan. "Mama apaansih." Tegur Amira kepada tante Jingga. "Ih nggak apa-apa." Aku mengernyit samar. Membenarkan saja segala tuturan tante Jingga. "Nak Nadine tinggal dimana? Masih bareng orang tua?" "Sampai sekarang masih, tante. Tapi mungkin lusa udah tinggal sendirian." Jawabku lancar. "Kenapa pisah sama orang tua?" Aku menggigit bibir. Dan entah kenapa, aku tidak menyukai ekspresi tante Jingga kala bertanya mengapa aku tinggal berpisah dengan orang tua. Raut wajahnya seakan-akan mengatakan bahwa mama dan papa telah bertindak tidak baik padaku, sehingga membuatku tidak betah dan memilih pindah. "Papa awalnya nggak ngasih, tante. Soalnyakan baru pulang juga—" "Pulang dari mana?" Aku menelan saliva susah payah saat tante Jingga memotong ucapanku dengan penuh semangat. "London, tante." "London?" "Iya, tante." "Gimana? Ada oleh-oleh nggak buat tante?" Tuhan, dapatkah aku menjelaskan dulu hingga tuntas mengenai orang tuaku? Aku begitu tidak suka jika tante Jingga memikirkan hal buruk tentang mereka. "Ke rumah aja tante." Jawabku kikuk. "Terus gimana? Papa kamu awalnya ngelarang? Terus?" "Ya pokoknya papa bujukin supaya aku tinggal di rumah aja. Soalnyakan aku cuma dua bersaudara, terus juga adik aku di rumah itu kadang. Karna dianya lebih sering di Jogja. Jadi ya rumah emang sepi." "Kamu udah makan?" Aku menoleh cepat pada Aldric yang bertanya. "Nggak nafsu." Jawabku terdengar berbisik, namun aku tau Aldric mengerti. "Mau makan dulu?" "Nggak usah." "Nad, kan udah aku bilang, kamu boleh kerja, tapi makannya jangan ditinggal." Aku diam, tidak menanggapi ucapan Aldric. "Nad?" Panggil Aldric lagi dan aku sukses menghela napas. "Iya ntar aku masak." "Udah malem gini masih masak?" "Emang kenapa?" "Dibeli aja ya? Biar bisa langsung makan, terus kamu istirahat." "Yaudahlah terserah kamu." Jawabku cepat. Ponselku bergetar, nama Sean tertera di layar. Aku berpikir sebentar sebelum mengangkat panggilan Sean. "Hm, kenapa?" "Bareng siapa? Dimana?" "Bareng Aldric. Ini di jalan mau pulang." "Nitip makan dong." "Lu delivery aja emang nggak bisa?" "Nggak ah. Sama lo aja." "Yaudah ntar kita pergi berdua aja nyarinya." "Sekalian lo jalan pulang nggak bisa? Laper banget nih." "Lo nginep?" "Yes, sister." "Kenapa nginepsih? Bikin susah aja. Pulang lo!" "Kalo gue nggak nginep, berarti besok lo liat rumah barunya sendirian." "Idih." "Yaudahlah buruan aja pulang bawain makanan. Love you." "Benci gue ama lo." Kuputuskan sambungan dan memasukkan ponsel ke dalam tas. Sepertinya kekesalanku terhadap Aldric terlampiaskan kepada Sean. Kasihan sepupu tampanku. "Sean?" Tanya Aldric dan hanya kubalas dengan anggukan. "Kenal sama Azka dari kapan, nak Nadine?" Aku kembali melihat tante Jingga. "Dari SMA, tante." Jawabku. "Oh, kalau Amira waktu kerja. Pantesan ya kamu betah temenan sama nak Azka, orangnya baik perhatian. Amira juga beruntung bisa deket sama nak Azka. Tante sempet mikir dulu kalau mereka pacaran. Abisnya cocok. Tante suka. Apalagi nak Azka selalu ada buat tante sama Amira." Aku terdiam, sungguh. Tidak tau harus merespon bagaimana. Kulirik Aldric sesekali, dan kembali menatap tante Jingga karena dia lagi-lagi bersuara. "Nak Azka kapan nih mau diresmiin hubungannya sama Amira?" Ya Tuhan... "Mama!" "Perempuan di samping saya, tante." "Maksudnya?" "Saya milik perempuan di samping saya, tante." Dan demi Tuhan, hatiku menghangat saat Aldric mengucapkan kalimat singkat tersebut. Tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD