[21] Pindah

2795 Words
Aku benci kamu. Ya, melihatmu dengannya, aku benci. —Pukul 10.00, memeluk sketchbook. NADINE'S POV "Saya milik perempuan di samping saya, tante." Aku menggigit bibir sambil sibuk memainkan jari. Memang benar aku tersanjung saat Aldric mengatakan hal tersebut. Namun sialnya, kenapa aku menjadi khawatir mengenai tanggapan dua perempuan beda generasi di belakangku? Aku tersentak saat Aldric menggenggam tanganku dan membelainya lembut. Dia menatapku penuh tanya, yang hanya kubalas dengan gelengan pelan. "Kamu nggak apa-apa?" Tanya Aldric sambil sesekali menoleh ke jalanan di depan. "Nggak kok." Aku mencoba tersenyum. "Jadi nak Azka sama nak Nadine, pacaran?" "Iya, tante." Jawab Aldric tepat ketika mobil berbelok dan aku dapat melihat jelas rumah Amira. Ketika mobil Aldric berhenti, aku memilih menyalakan radio. Kubiarkan Aldric keluar dan dengan sigap membantu tante Jingga. Aku berpikir sebentar, memilih keluar atau tetap duduk diam disini sambil memperhatikan ketiga orang tersebut berjalan menuju rumah. Aku akhirnya memilih keluar, kupijakkan kaki di aspal dan menyusul dengan berjalan pelan di belakang. Kulihat Aldric yang mendudukkan tante Jingga perlahan di kursi roda. Aku pernah bertanya sekali pada Kiya mengenai kondisi sebenarnya tentang tante Jingga. Dan jawabannya membuatku paham mengapa hingga kini tante Jingga masih harus duduk di kursi roda dan tidak bisa banyak bergerak. Ya, salah satunya karena tante Jingga memang lemah fisik sejak lama. "Nggak mau mampir dulu?" Tanya tante Jingga sambil melihatku dan Aldric bergantian. Amira sendiri sudah berdiri di belakang kursi roda tersebut. "Kita langsung aja, tante. Juga saya harus cepet-cepet anterin Nadine pulang." "Gitu ya?" Raut wajah itu tampak kecewa. Lalu mau bagaimana lagi? Ini sudah larut malam. "Ka, lusa gue nebeng lu ya?" Ketika suara tanya Amira terdengar, aku memilih berjalan lebih dekat kepada Aldric dan berdiri di belakangnya. "Gue harus jemput Nadine, Ra." "Oh, gitu." "Yaudah, kalau gitu kita pamit, tante. Ra gue balik." "Mari, tante. Bye, Ra." Ucapku lalu berbalik bersama Aldric, kembali menuju mobil. Sepertinya jawaban Aldric bahwa kami memang memiliki hubungan tidak didengar dengan baik oleh Amira. Apa maksud perempuan itu ingin pergi bersama Aldric di hari senin nanti? Ayolah, apakah harus di depanku? Aku masuk ke mobil dan langsung mencari ponsel serta headset. Jangan harap aku akan melupakan kesalahan Aldric sebelumnya. Aldric menyusul masuk dan sudah duduk di belakang kemudi. Kudengarkan musik di ponsel dengan volume full, membiarkan telingaku mendengarkan tiap lirik dan musik yang menghentak. Aku kembali tersentak saat Aldric mencabut salah sati headset dari telingaku. Dengan kesal kucabut pula sebelah lainnya dan menatap Aldric tanpa ekspresi. "Mau makan dimana? Tadi Sean bilang mau makan apa?" "Aku masih marah lho sama kamu." "Iya, kamu boleh marah. Tapi jawab dulu, kalau udah dijawab, marah sama aku lagi juga nggak apa-apa." "Apaansih kamu." Semprotku akhirnya. "Kamu sadar nggaksih kalau salah? Taukan salah kamu apa? Aku nggak lagi bercanda sama kamu." "Aku minta maaf." Aku menggeleng, memilih membuang muka pada jendela sampingku. "Mama Amira nggak mau pergi ke rumah sakit kalau nggak sama aku, Nad." "Kamu bilang bakalan balik sebelum acaranya dimulai." "Nad—" "Sampai kapan kamu bakal prioritasin Amira sama mamanya?" "Kamu sama mama prioritas aku, Nad. Bukan Amira atau mamanya." "Tapi omongan kamu sama apa yang kamu lakuin itu beda, Al." "Aku nggak mungkin tiba-tiba nolak Amira waktu dia lagi kesusahan kayak gini." Kuhela napas, memilih menggunakan kembali headsetku. Dan ketika mobil Aldric berhenti di salah satu warung makan pinggir jalan, aku hanya diam di dalam mobil sementara Aldric pergi membeli makanan. Aku memejamkan mata, ingin tidur walaupun sulit rasanya. Kurang lebih sepuluh menit berlalu, Aldric kembali masuk ke mobil. Rasa khawatir mengenai apakah pria ini sudah makan atau malah melewatkan makan malamnya terlintas di kepalaku. Aku mengubah posisi agar dapat melihat Aldric yang fokus menyetir. Kuperhatikan terus pria ini, dan kembali kusebut syukur dalam hati karena bagaimanapun, dia ternyata memilihku. "Al." Panggilku padanya, sambil mengulurkan jari telunjuk dan menggambar abstrak di lengan atas kemejanya. "Hm?" Aldric bergumam sambil menoleh sebentar padaku. "Kamu udah makan?" Tidak kudapatkan jawaban apapun dari Aldric, sehingga aku mengerti, bahwa sebenarnya pria ini memang melewatkan makan malamnya. "Cerewet nyuruh aku makan, tapi kamu sendirinya nggak makan." "Itu aku beli makanannya juga buat aku makan." "Yaudah di rumah aja. Ada Sean juga." "Nggak kemaleman?" "Kan makan sebentar doang. Jadi nanti kalau udah sampe di rumah tinggal bersih-bersih terus istirahat." Ujarku mengulang kalimat Aldric. Pria itu tertawa, membuatku mengernyit bingung. "Kok ketawa?" "Kamu ambil kata-kata aku." "Biarin. Makanya jangan bisanya cuma ingetin terus nyuruh, taunya sendirinya juga belum." "Masih marah?" Pertanyaan Aldric membuatku —yang sedang sibuk bermain dengan kemejanya— reflek memukulnya. "Diem deh." Jawabku tidak suka. Kujalankan jari menuju daun telinganya, lalu menekannya beberapa kali. "Jangan kayak gitu lagi, Al." Ucapku dengan nada berharap. Aldric mengambil tanganku yang masih sibuk dengan telinganya, dan ketika pria itu mengecupnya sekilas, aku hanya dapat tersenyum. "Kamu capek?" "Banget." "Besok jam berapa mau liat rumahnya? Mau aku temenin?" "Sean yang nemenin. Tapi pengennya ditemenin kamu." "Yaudah bertiga." "Abis itu Seannya kita buang di tepi jalan." Aku tertawa pada guyonanku. Aldric sendiri juga ikut tertawa. Sialan, tawaku makin tak terkendali. Membayangkan wajah kesal milik Sean entah kenapa menjadi hiburan tersendiri untukku. "Kamu tau kalau Sean lagi deketin Kiya?" Aku perlahan menghentikan tawa, menatap Aldric sambil mengangguk. "Heem. Aku bingung sama mereka. Sean tiap diajakin ngobrol tentang topik begituan alesan melulu. Jadi males." Aku menghidupkan ponsel, mengirim pesan pada Sean agar dia berjalan keluar untuk membuka pagar. Karena saat larut seperti ini, penjaga rumah tentu sudah pulang. "Sean cerita banyak ke kamu?" "Semuanya." "Kok sama aku nggak mau?!" Tanyaku tidak terima. Kutegakkan punggung, dan tidak lama, kulihat Sean yang keluar dari pagar lalu dengan tidak tau malunya melambaikan tangan pada kami. Pria sakit jiwa. "Terus Kiya nggak mau nerima ajakan jalan dia." Ujar Aldric lagi. "Kiya takut diserang fans Sean." "Serius?" "Katanya gitu." "Menurut kamu mereka cocok?" "Banget." "Kayak kita?" Aku mencibir menatap Aldric yang tengah sibuk tertawa. Namun tidak lama aku ikut tertawa, "Enggaklah, kita jauh di atas mereka." Ujarku berikutnya. "Tapi beneran deh, bujukin Kiya buat jalan bareng Sean itu susah. Alesannya kerja capek kerja capek." Aldric menatapku tersenyum, lalu membunyikan klackson untuk menyapa Sean. Ketika mobil sudah terparkir sempurna, aku turun. Tidak lupa mengambil tas dan kardigan sebelum menutup pintu mobil. Kutinggalkan Sean dan Aldric yang tampak sibuk berbincang dan memilih masuk ke rumah lebih dulu. "Dek." Sapaku ketika melihat Aqila yang fokus ke layar televisi. Dia merespon dengan melambaikan tangan. Aku dengan segera melewatinya, berjalan menuju kamar mandi untuk memperbaiki kembali keadaanku. Lima menit kemudian, aku keluar. Rambut yang kucepol asal sehingga tidak akan mengganggu wilayah wajah. Aku berjalan mencari beberapa piring untuk membawanya ke meja makan. Terlihat Aldric, Sean, dan Aqila yang kini sibuk bertengkar memperebutkan siaran. Sean dengan dukungan Aldric yang ingin menonton pertandingan bola, dan Aqila yang teguh pendirian dengan acara audisi bernyanyi. "Makan dulu." Aku berteriak memanggil, dan kemudian duduk lebih dulu. "Udah cocok jadi istri. Tinggal resmiin." Aku mencebik kesal menatap Sean. "Urusin Kiya sana." Dan ucapanku sukses membuat pria itu terdiam. *** "Pagi, ma." Sapaku saat tiba di dapur. Kulihat mama yang sedang sibuk dengan berbagai macam bahan makanan. Niatku pagi ini adalah, membantu mama menyiapkan sarapan. "Pagi. Kok belum mandi?" "Pengen bantu mama dulu." "Bikin s**u buat kamu minum aja. Abis itu mandi. Bakal pergi cek rumahkan? Siap-siap buruan. Weekend gini macet." Aku menggigit bibir bagian dalam, menyetujui kalimat mama. Langsung saja kucari gelas dan berjalan mencari tempat dimana bubuk s**u diletakkan. "Lah, ma? Kok nggak ada?" Tanyaku bingung saat tidak menemukan apapun. "Abis kayaknya. Itu semalem mama sama papa ke swalayan abis pulang dari butik, belanjaan lupa diturunin." Aku hanya menggelengkan kepala, lalu meninggalkan dapur untuk mencari kunci mobil papa. Setelah kudapatkan, aku kembali menuju dapur. "Dikeluarin semua ya belanjaannya." Teriak mama saat aku berjalan menuju pintu di sudut ruangan. Setibanya di dalam garasi, aku dengan cepat mengeluarkan belanjaan. "Mama ini kenapa banyak banget?" Keluhku saat meletakkan semua belanjaan di atas meja makan. "Niatnya biar kamu bawa buat ngisi kulkas di rumah sana." "Iyakan aku bisa beli sendiri." "Itu papa yang ambil lho, Nad. Kalau mama utamain dulu bahan dapur sama alat mandi, baru yang lainnya nyusul. Eh tapi waktu balik taunya troli yang dibawa papa kamu udah penuh sama yang begituan." Aku terdiam menatap barang-barang di depanku. "Ini senter buat apa?" "Tanyain papa." "Batre buat apa?" "Tanyain papa." "Ini seriusan, ma? Ini kenapa coklatnya banyak banget?" Tanyaku takjub. Aku mengerjapkan mata beberapa kali saat menggenggam kurang lebih sepuluh batang coklat yang tentunya diambil papa dengan cara asal. "Kalau Sean tau aku makannya yang ini bisa diceramahin, ma." Aku memilih memasukkan coklat tersebut ke lemari pendingin karena keadaannya terasa meragukan, tentu saja karena terlalu lama berada di dalam mobil. "Terus ini?" Aku memegang sebuah benda berukuran lumayan besar dengan dahi mengernyit sempurna. "Itu tongkat baseball, Nad." Aku tersentak saat suara papa terdengar. Tentu saja aku tau bahwa benda yang kupegang adalah tongkat baseball, maksudku, untuk apa benda ini? "Buat apaan, pa?" Tanyaku bingung. "Biar anak papa aman." "Pa, ya ampun." Ujarku sambil memijit dahi. "Ditinggal aja ya?" "Dibawa atau pindahannya batal?" Aku menelan saliva susah payah, mencoba menerima apa saja keinginan papa. Apapun. Agar aku dapat pindah. "Diikutin aja udah, Nad. Udah sana mandi, susunya biar mama yang bikin." Aku menghela napas, lalu mengangguk sedangkan papa terus saja tersenyum. "Hari pertama kamu pindah nanti papa nginep, Nad." Aku yang baru saja menginjakkan kaki pada anak tangga langsung saja menoleh. Menatap papa yang tengah terkekeh terhadap kalimatnya. "Papa!" Tuturku memelas. *** "Banyak banget ya, Yan, yang tinggal disini." Ujarku sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Terlihat seperti masyarakat pada umumnya. Kutatap seorang penjual dengan gerobak dorongnya sudah dikelilingi oleh ibu-ibu rumah tangga yang akan memasak. Kulihat pula banyak anak-anak bersepeda, dan remaja yang terlihat berolahraga. Lingkungan seperti ini terlihat, entahlah, seperti normal. Dan aku suka. "Gue tau lo bakalan suka." "Yang mana rumahnya?" Aldric bertanya, sehingga akupun ikut melihat ke depan. Menebak-nebak yang mana rumah itu. "Itu, cat hitam putih." Dan retinaku langsung saja menangkap bangunan minimalis yang berada di sisi kanan. Rumah itu tepat berada di sebelah rumah berukuran besar dengan pagar lumayan tinggi. Aku dengan cepat turun agar dapat melihat rumah ini dengan lebih jelas. Rumah bertingkat dua ini tampak nyaman. Teras kecil dengan halaman kecil di depannya. Bagian di depan garasi setidaknya lebih besar, muat untuk mobilku. Aku membuka pagar, memilih melihat dengan jarak lebih dekat. Rumah ini akan menjadi tempatku dan Sean. Walaupun hanya aku yang akan tinggal disini. Sean tidak ingin tinggal, takut tetangga berpikir macam-macam walaupun status kami sepupu. Selain itu, dia masih ingin tinggal di rumahnya. "Ini orang baru ya?" Aku tersentak saat suara lembut terdengar, membuat aku, Aldric, dan Sean menoleh. Kulihat wanita paruh baya yang kini tersenyum ramah. "Eh iya, buk." Jawabku pelan sambil berjalan mendekat. "Akhirnya dateng juga mas-mas sama mbaknya. Orang-orang disini soalnya penasaran sama tetangga baru." Aku tersenyum, tidak menyangka bahwa akan mendengar kalimat seperti itu. "Tinggal bertiga?" "Oh, enggak, buk. Yang tinggal disini itu dia." Jawab Sean sambil menatapku. "Kita berdua cuma anterin." "Oh, iya, nama ibuk, Fitri." Aku tersenyum, lalu mengulurkam tangan, "Saya Nadine." "Sean." "Azka." Dua pria itupun ikut melakukan hal yang aku lakukan. "Disini alhamdulillah aman, mbaknya pasti nyaman tinggal disini. Tiap hari minggu biasanya ada senam, abis itu gotong royong." Aku hanya tersenyum membayangkan bagaimana serunya kegiatan tersebut. "Mulai tinggal kapan ini mbaknya?" "Kemungkinan besok udah disini, buk. Hari ini difokusin pindahin barang-barang dulu." "Ooh gitu. Yaudah ya, ibuk permisi dulu kalau gitu. Kalau ada apa-apa tanya ke tetangga sebelah aja nggak apa-apa." "Oh, iya, buk. Hati-hati." Tuturku pelan. Aku kemudian berbalik, mengikuti Sean yang tengah membuka pintu rumah. Keadaan di dalam ternyata lebih nyaman. Senyumku lagi-lagi mengembang, Sean mempersiapkan semua fasilitas dengan baik. "Gue liat kamar ya." Ujarku sambil berjalan menuju anak tangga. Mataku menyisir tiap benda yang ada di kamarku. Aku berjalan ke dinding, karena kutemukan banyaknya rak yang ditempel. Sean memang pengertian. Kamar mandi yang bersih, dan itu adalah permintaan utamaku pada Sean. Aku berjalan melihat pemandangan melalui jendela, dan suasana di sebelah rumah tertangkap oleh sepasang mataku. "Okekan?" "Banget." Jawabku pada Sean tanpa menoleh ke belakang. "Itu belanjaannya gimana? Kamu belanja kapan sebanyak itu?" Aku berbalik, melihat Aldric yang tengah memperhatikan detail bagian kamar. "Papa yang belanja sebanyak itu." "Tongkat baseball?" "Juga papa." "Kocak bangetsih om Tyo. Lo milih tinggal di London aja ga segitunya, lah ini cuma beda tiga puluh menit heboh banget." "Nggak tau ah papa." "Yaudah gue turunin dulu bentar." Belum sempat melarang, Sean sudah menghilang dibalik pintu. Dan kini tersisa aku dan Aldric. Aldric sejak tadi selalu fokus terhadap bagian-bagian rumah, membuatku memilih duduk pada kursi dorong sambil menunggu pria itu selesai. Kunyalakan ponsel, segera menuju aplikasi chat. Nadine Sava: Rev. Reva Syaira F: kenapa mbak? Nadine Sava: udah buka butik? Reva Syaira F: udah dong, emangnya kenapa? Mbak jadi liat rumah? Nadine Sava: jadi, ntar kalau sempet aku ke butik ya. Reva Syaira F: okey. Aku mematikan ponsel, menatap Aldric yang ternyata masih sibuk sendiri. "Al." Panggilku memelas, dan pria itu menoleh. "Kenapa?" Aldric menatapku lalu berjalan mendekat. "Nyapa aja." Pria itu mengernyit, sedangkan aku tersenyum. "Kamu yakin tinggal sendiri?" "Yakin." "Kamu mau aku sama Sean temenin?" "Nggak ah. Nggak perlu." Menjelang siang, kami memilih makan siang bersama-sama dengan masak bersama. Dan aku harus menerima saat Aldric dan Sean yang berperang dengan bahan-bahan masakan tersebut. Aku tersentak saat Aldric memelukku dari belakang, sedangkan Sean menggerutu tidak terima. "Oh, gue nggak bakalan terima jadi nyamuk." Ujar Sean sambil memegang satu siung bawang putih. "Eh-eh letakin woi." Ujarku tidak terima melihat bawang tersebut dilambungkan lalu kembali ditangkap terus-terusan. Aku sudah mengulurkan keduan tangan, namun pelukan Aldric pada pinggangku membuatku tidak dapat bergerak. Aku tersentak saat Aldric menyurukkan kepalanya pada bagian leherku, dan mencium kulit terbukaku beberapa kali. Sialan, aku kegelian. "Heh, kambing!" Aku sukses tersentak lagi kala bawang putih tersebut terlempar dan tepat mengenai kepala Aldric. Aldric mengangkat kepala, mengusap kepalanya. Aku sendiripun ikut membalikkan badan dan ikut memeriksa. "Astaghfirullah! Makin-makin aja lu berdua. Gue bilangin tante Rika sama tante Sela biar lu berdua dipingit aja." "Nikah dong." Balasku sambil mengusap kepala Aldric. "Kalau kita nikah, lo makin merana, Yan." Tambah Aldric. Aku pikir Sean akan membalas dalam bentuk ucapan, namun ternyata, aku merasakan genggaman di pergelangan tanganku dan dengan cepat terbawa arus Sean. Hei, kenapa Aldric tidak membantu? "Udah ah, gue laper." Ujar Sean sambil memberikan pisau pada tanganku. "Lo nerusin masak, gue sama Aldric siapin piring." Kuhela napas, sudah dari tadi kukatakan pada mereka agar menyusun piring untuk makan, namun tidak sekalipun didengar. "Yaudah sana buruan. Ini juga bentar lagi selesai." "Untung kita bantuinkan, jadinya cepet." "Kalau kalian nggak ganggu, ini makanan udah jadi lima belas menit sebelumnya." "Oh." Jawab Sean enteng. Sialan, dia memang mengesalkan. Dan selanjutnya, kami menghabiskan waktu dengan mengobrolkan segala hal. Perencanaan masa depan, liburan, Sean-Kiya, Aqila-Leo, apapun, termasuk masa lalu. *** Senin pagi, awalan untukku akan tinggal di rumah baru. Barang-barang yang dibawapun sudah tidak banyak lagi, hanya tersisa dua koper berukuran kecil. Aku berjalan ke bawah dengan perlahan, dan melihat papa yang menyusul ke arahku, kemudian mengambil alih dua koper tersebut. "Papa yang anter?" "Nadine dijemput Aldric, pa." "Papa boleh nginep?" "Iya, tapi nggak sekarang ya, pa." "Anak papa udah gede." Ujar papa sambil membawaku ke pelukannya. "Papa sayang kamu." "Nadine juga." Tidak lama kami berpelukan, bel rumah berbunyi, dan aku memilih untuk membuka  pintu. Sepertinya Aldric. Saat pintu utama kubuka, benar saja, Aldric berdiri sambil tersenyum. "Udah siap?" "Udah kok. Ambil koper dulu." Aldric menyusul masuk, mengambil koper-koperku. Setelah berbincang sesaat bersama mama juga papa, kami akhirnya berpamitan. "Hati-hati." Teriak mama di depan pintu ketika aku keluar pagar. "Iya, ma." Jawabku sambil melambaikan tangan. Aldric memasukkan koper ke bagasi sedangkan aku memilih masuk ke kursi penumpang depan. Awalnya terasa biasa, dan setelah itu aku hanya fokus ke ponsel. Namun saat sebuah suara terdengar, aku seketika menoleh ke belakang. "Kok bisa ada disini?" Tanyaku tiba-tiba karena kaget. "Dijemput sama Azka." Perempuan ini tersenyum, dan aku sangat tidak menyukai senyumannya. Seolah-olah mengejekku. "Oh." Tepat setelah jawabanku, Aldric masuk ke mobil. Dia menatapku dan aku dengan cepat membuang wajah. Setiap Aldric berbicara, hanya kutanggapi seadanya. Biar pria itu paham bahwa aku tengah menahan kekesalan. Tiga puluh menit yang dilalui dengan Aldric dan Amira yang sibuk membahas pekerjaan. Sedangkan aku seperti nyamuk disini. Ketika mobilnya tiba di depan rumahku, dengan cepat aku memilih turun. Beralih menuju bagian belakang mobilnya. Ketika hendak mengambil koper, tangan Aldric lebih dulu mendapatkan. Aku memilih mengambil koper lainnya, namun Aldric malah memegang pergelangan tanganku, yang tentu saja dengan cepat kutepis. "Apaansih." "Nad.." "Makasih udah nganterin. Tau gitu mending aku ngeiyain tawaran papa buat nganter, biar kamu nggak susah-susah jemput aku." Aldric diam, memilih menurunkan koper yang tadi hendak kuturunkan. Aku membuka pagar, ketika menutupnya kembali, kulihat Amira yang keluar dari mobil dan memperhatikan rumahku. "Ini rumahnya." Perempuan itu bergumam kecil. Namun masih dapat kudengar. Dengan tidak peduli, aku berjalan cepat ke dalam tanpa menoleh. Meninggalkan mereka berdua. Tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD