Sungguh, permainan apalagi ini? —Di depan pintu, pukul 6.30.
NADINE'S POV
Hari sabtu, dimana aku memilih tetap bangun setelah salat subuh dan mulai membersihkan rumah. Kuputar lagu pada ponsel dan mulai menggunakan headset. Setelah itu, mulai bekerja.
Sebelum mulai menyapu, aku memilih menyingkap gorden dan membuka jendela. Membiarkan udara bersih masuk ke rumah. Kusapu setiap inci bagian rumah dan setelah itu berlanjut dengan mengepel. Merapikan lagi letak barang-barang yang belum sempat disusun rapih.
Ketika hari semakin naik, aku memilih menuju balkon. Memperhatikan tiap orang yang mulai berlalu lalang. Kuperhatikan rumah besar yang tepat berada di sebelah rumahku. Hingga tidak sengaja, retinaku menangkap seseorang yang sudah begitu lama tidak kulihat. Hal ini menimbulkan beberapa fakta baru dan membuatku tentu saja mengernyit sempurna.
Aku pasti tidak salah lihat. Pria paruh baya yang tengah duduk santai pada kursi sambil membaca koran, tentu saja aku mengenalnya. Aku memang tidak sempat menyapa tetangga baru karena kesibukan butik selama seminggu ini.
Om Abram.
Dia pria paruh baya tersebut. Pria yang kini menyesap minuman dalam cangkir putih yang terletak pada meja kecil di sebelahnya. Aku menggigit bibir, apa ini sebuah kebetulan, atau memang diatur oleh Sean aku tidak mengerti. Aku langsung saja meninggalkan balkon, menuju kamar dan mencari ponsel.
Kucari kontak Sean dan langsung kuhubungi. "Iya. Kenapa?" Suara pria itu saat menjawab panggilanku.
"Nggak. Gue cuma kaget sama yang tinggal di sebelah." Tidak mungkin aku menyebutkan nama om Abram, karena Sean tentu saja tidak tau.
"Oh, lu udah ketemu Satria ya?" Ha? Apa katanya? "Iyasih, dia juga baru pulang semalem karna semingguan ini ada acara di luar kota."
"Maksud lo?"
"Iya, kan Satria tinggal di rumah sebelah."
"Kanan apa kiri?"
"Yang gede itu."
Sebentar. Jadi, apa maksudnya? Sean bercanda?
"Yan, maksud lo apa?!" Kini aku sedikit berteriak padanya. "Niat lo yang sebenernya tu apaansih?"
"Sumpah, Nad, gue nggak maksud apa-apa. Itu rumah emang Satria yang nawarin, karna yang punya kepepet butuh uang. Kan itung-itung kita juga nolongin orang."
"Yan, lo nggak lucu. Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Nggak kepikiran, Nad. Maaf ya." Suara pria itu terdengar memohon. Tanpa aba-aba, kuputuskan sambungan. Agar Sean sadar bahwa apa yang ia lakukan sebenarnya tidak lucu. Pantas saja mama mengatakan kepada Satria untuk juga ikut menjagaku hari itu. Karena mama sudah tau.
Dan fakta lain seketika menamparku keras. Aku tiba-tiba saja mengingat potongan potongan kecil percakapanku bersama om Abram beberapa tahun silam. Tentang perceraiannya, tentang anaknya yang mengikuti sang ibu dan kuliah di London karena ingin menjadi psikiater. Sialan. Jadi selama ini Satria adalah putra om Abram? Oh Tuhan.
Aku memilih keluar, memperhatikan sebentar penampilan di cermin. Tidak terlalu buruk jika hanya berkunjung ke rumah tetangga. Kuturuni anak tangga dan memilih keluar dari rumah. Perlahan, aku berjalan menuju rumah besar di sebelah.
Karena pagar ini bermodel tertutup rapat, membuat siapapun yang jika berdiri pada posisiku tidak akan dapat melihat ke dalam. Aku menoleh ke kanan, dan menemukan bel rumah. Dengan cepat aku berjalan dan menekannya.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang sedang memegang kemoceng tampak membuka pagar. Aku tersenyum, dan wanita itupun sama. "Saya orang baru disini, yang tinggal di rumah sebelah itu." Tunjukku pada balkon rumah yang terlihat.
"Oh gitu, ada perlu apa ya?"
"Saya mau ketemu pak Abram, bisa?"
"Tuan Abram? Sebentar ya saya tanya dulu." Aku mengangguk samar, membiarkan wanita itu pergi lalu tak lama kembali lagi.
"Tuan Abramnya disini lagi baca koran, masuk aja, mbak." Aku tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih.
Aku berjalan masuk perlahan, dan dapat kulihat raut kaget di wajah om Abram. Dia berdiri, membuka —sepertinya— kacamata baca yang sejak tadi dikenakan.
"Nadine?!"
"Apa kabar, om?" Tanyaku sambil tersenyum.
Om Abram mendekat, mengajakku berpelukan sesaat. "Sudah tua." Jawabnya ketika pelukan kami terlepas sambil terkekeh pelan. "Kamu apa kabar?"
"Baik, om."
"Duduk-duduk." Ucap Om Abram padaku. "Wi! Dewi!" Om Abram berteriak, dan tidak lama, wanita paruh baya yang tadinya membukakan pagar kembali datang. "Bikinin minum ya. Kamu mau apa?" Tanya om Abram menatapku.
"Apa aja, om."
"Ok. Terus bangunin Satria, semalem dia bilang mau cuci mobil pagi ini. Bawain cemilan juga, Wi, jangan lupa." Jantungku tiba-tiba saja berdetak tak karuan ketika om Abram menyebutkan nama Satria.
"Jadi Satria anak, om?"
"Kenapa?"
"Aku kenal sama dia." Dan ekspresi om Abram terlihat makin terkejut. "Aku tinggal di London selama ini, om. Kurang lebih tiga bulan aku disana, sepupuku yang ternyata temen baiknya Satria saling ngenalin kita. Selama ini aku emang nggak tau apa-apa tentang Satria. Buktinya aku baru tau tadi, kalau Satria itu anaknya, om."
"Om nggak nyangka."
"Apalagi aku."
"Terus kerja apa sekarang?"
"Designer mode."
"Oh ya?"
"Hm."
"Kerja dimana?"
"Baru-baru ini ngediriin butik, om. Grand openingnya baru aja minggu lalu."
"Jadi butik kamu yang Satria bilang waktu itu. Soalnya dia pamit bilang buat dateng ke grand opening temennya." Aku menganggukkan kepala, dan om Abram kembali bersuara. "Itu Satria." Ujar om Abram sambil menatap ke arah lain.
Aku memutar kepala, melihat Satria dengan kaus putih dan celana sepanjang lutut berjalan keluar dari garasi dan menuju keran air disudut halaman. Sepertinya dia belum melihat keberadaanku.
Entah kenapa, mengenai perasaan Satria terhadapku, mengingatkanku pada perasaan om Abram terhadap mama. Takdir itu memang unik, kuakui. Tapi jika pada akhirnya mama bertemu papa dan meninggalkan om Abram, sedangkan aku yang tetap memilih Aldric dan menolak Satria. Bukankah takdir itu menyakitkan bagi mereka? Lagi-lagi aku merasa jahat. Kenapa Satria harus suka padaku? Pertanyaan itu kerap kali terlintas di kepala.
Dan aku benar-benar tidak mau jika nanti keluarga kecil Satria berujung perpisahan seperti om Abram dan istrinya. Aku tidak ingin anak-anak Satria kelak harus hidup dengan keadaan orang tua terpisah. Aku tidak tau apa yang Satria rasakan selama ini, karena itu tentu saja suatu hal yang berat. Walaupun aku tidak tau bagaimana keadaan di masa depan nanti, setidaknya aku bisa berdoa dan berusaha.
"Hai, tetangga!" Sapaku dan sukses membuat Satria yang tengah berjongkok menoleh. Aku melambaikan tangan sembari tersenyum, lalu berjalan mendekatinya.
"Kangen aku ya?" Aku mencebik kesal, sedangkan Satria terkekeh. "Udah berapa hari?"
"Hampir seminggu."
"Aku ada kerjaan makanya nggak bisa bantu. Sorry."
"It's ok. Lagian aku punya dua pembokat lain kok." Satria tersenyum. "Aku bantu cuci mobil ya?"
"Beneran?"
"Iya. Tapi aku bagian siram mobilnya."
"Ok, bentar."
Selanjutnya waktuku habis untuk menemani Satria mencuci mobil. Om Abram sendiri sudah memilih masuk rumah dengan alasan harus mengurus pekerjaan. Aku sejak tadi sudah siaga jika saja om Abram bertanya tentang mama. Namun ternyata, tidak ada. Dan aku bersyukur untuk itu.
Aku menyiram mobil walaupun sesekali menyirami Satria. Membuat pria itu bersuara karena dongkol. Aku tidak ambil pusing, terus saja kusirami Satria dan selanjutnya berujar bahwa aku tidak sengaja.
"Nad, udah."
"Nggak. Enakan nyiram kamu daripada mobilnya." Tawaku sambil menyirami Satria dan mobil bergantian. Dapat kulihat dengan jelas bentuk tubuh Satria karena bajunya yang basah sempurna. "Eh-eh, kamu mau ngapain? Nggak usah ngedeket!" Teriakku takut. "Satria, no!" Pintaku padanya namun pria itu tetap berjalan ke arahku, dan setelah itu, Satria merebut slang di tanganku. "Aaaaaaa!" Aku berlari, bersembunyi di balik mobil. Sialan, jantungku berdegub kencang karena ketakutan.
"Nad!!!"
"Aaaaaaa!" Aku meletakkan kedua telapak tangan untuk menutup wajah karena Satria berhasil menyiramku. "Satria udah! Nggak boleh kayak gitu sama cewek, dosa." Bukannya berhenti berulah, Satria malah tertawa karena kalimat asalku.
"Kan kamu duluan."
"Iya, tapikan nggak sengaja."
"Aku juga nggak sengaja." Aku meringis, sialan, dia meniru alasanku.
"Udah ah." Kali ini aku berjalan mendekat pada keran yang tersambung dengan slang di tangan Satria. "Lanjutin itu cuci mobilnya."
"Kamu mau kemana?" Aku yang sedang berjalan menuju meja kecil untuk mengambil ponselpun berbalik badan.
"Pulang." Jawabku enteng.
"Kenapa pulang?"
"Dingin. Bye, Sat." Tanpa menunggu jawaban Satria, aku berjalan cepat keluar pagar.
Namun tiba-tiba langkah cepatku menjadi langkah ragu, saat aku melihat Aldric bersandar pada mobilnya sambil menunduk menatap ponsel, lalu tak lama, meletakkan benda persegi panjang itu di telinga.
Ponsel yang kupegang seketika berbunyi lumayan kuat, membuat pria itu sukses menoleh ke samping, tepat ke arahku. Aku menolak panggilannya dan dengan tangan mendekap tubuh, aku berjalan menuju rumah.
Sejak Aldric mengantarku hari itu, dia tidak pernah lagi datang. Pesan-pesannya pun kujawab singkat agar dia mengerti maksudku lalu datang membujukku seperti kebiasaannya. Tapi tidak, dia tidak melakukannya. Aku sendiripun berusaha berpikir positif dan beruntung, sibuknya suasana butik membuat perhatianku sedikit teralihkan selama seminggu ini.
Aku membuka pagar, tetap mengabaikannya. Namun suara teriakan dari arah samping menarik perhatianku. Satria, yang tanpa alas kaki, dalam keadaan basah kuyup, berjalan sambil membawa toples yang entah apa isinya.
"Dari papa." Ucapnya sambil menyodorkan toples tersebut. Sepertinya karena melihat Aldric, sikap Satria menjadi berubah.
"Oh, makasih." Aku tersenyum, Satria mengangguk padaku dan Aldric bergantian, lalu berbalik badan, kembali menuju rumah.
Aku lanjut masuk rumah dengan memeluk toples yang ternyata berisikan bakpia. Dapat kurasakan Aldric yang menyusulku di belakang.
"Kamu abis ngapain?"
"Bantuin Satria cuci mobil." Jawabku cepat sambil membuka pintu rumah. Kuletakkan toples tadi di atas meja bersamaan dengan ponselku. Kubuka lemari kecil yang terletak di sudut ruang, mengambil salah satu handuk kecil dari sana.
"Sampai kalian berdua basah-basahan kayak gitu?"
"Ya kalo kering namanya jalan di gurun pasir." Jawabku asal, lalu masuk kamar mandi. Tidak lama, aku keluar, memilih menuju kamar untuk segera membersihkan diri.
Kurang lebih tiga puluh menit, aku kembali turun. Dengan kaus oversize berwarna hijau tua dan celana longgar berwarna hitam sepanjang betis. Kususul Aldric yang tengah duduk di sofa dengan berbagai camilan di sekitarnya. Aku memilih duduk di karpet berbulu yang menutup lantai, mencolokkan kabel hair dryer dan segera mengeringkan rambut.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau Satria tinggal di sebelah?" Aku menghentikan gerakan jari jemari pada rambut, berpikir haruskah kujawab atau tidak pertanyaannya. "Kegiatannya seru banget sampai panggilan aku nggak bisa dijawab?"
Aku menghela napas, berbalik menatap Aldric. "Pertama, aku baru tau tadi kalau Satria tinggal di rumah sebelah. Kedua, iya, kegiatan cuci mobilnya emang kelewatan seru sampai-sampai aku nggak bisa jawab telfon kamu."
"Nad—"
"Al, aku nggak suka kalau perhatian kamu kebagi. Kalau kamu mau tau, itu satu-satunya cara aku supaya bisa pertahanin kamu. Aku nggak suka liat kamu bareng Amira. Kamu selalu kayak gini, marah kalau aku deket sama yang lain, tapi aku nggak pernah boleh marah liat Amira deket-deket kamu. Selalu aja kamu kasih alesan ke aku supaya Amira tetep bisa deket sama kamu."
Aku berdiri, memilih menuju dapur agar emosiku menjadi lebih stabil. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tanganku tiba-tiba saja bergerak tak karuan diikuti napas yang menderu. Ketakutan terhadap Amira yang dapat mengambil milikku kapan saja, Aldric yang dapat pergi kapanpun dia ingin menguasai pikiranku.
Aku terduduk di lantai dapur, memegang d**a dan berusaha menormalkan napasku. Senyuman Amira hari itu entah kenapa membuatku sulit bernapas normal. Senyuman itu lain, seperti menyimpan sesuatu yang besar untukku. Dan aku benar-benar takut. Air mataku meluncur, kupukul d**a berulang-ulang namun tidak sekalipun ada perubahan.
"NAD? NADINE?"
"Jangan tinggalin aku." Ucapku susah payah dengan suara hilang timbul. Dan berikutnya, kurasakan lengan Aldric membawaku dalam dekapannya. Kutumpahkan tangisku di d**a pria ini, dan seperti sihir, pernapasanku berangsur membaik.
"BURUAN KESINI, SIAPAPUN, PANGGIL SIAPAPUN! BURUAN, b******k!" Kupeluk erat pinggang Aldric saat dia berteriak. Dan berikutnya, kurasakan gelap menarikku dalam.
***
"Kalau menurut kalian Nadine emang baik-baik aja, dia nggak akan ngalamin hal ini." Itu Satria. Aku tau itu. Aku sudah sadar beberapa saat lalu, namun mataku masih malas untuk terbuka. "Dia jarang panik akhir-akhir ini. Tapi tadi? Mustahil kalau dia baik-baik aja."
"Terus kita harus ngapain, Sat?" Suara Sean terdengar.
"Cari tau apa masalah dia, itu yang pertama. Dan sama-sama bantu dia lewatin masalah itu."
"Tadi lo sama dia kenapa, Ka?"
"Kita berantem."
"Lo bales ucapan Nadine?"
"Nggak, gue diem. Cuma abis itu Nadine pergi ke dapur. Awalnya gue pengen biarin dulu, biar dia tenangin emosinya. Tapi yang ada gue malah khawatir, terus nyusul ke dapur. Ngeliat Nadine udah duduk di lantai dapur sambil mukulin d**a. Gue panik. Pertama kalinya gue liat dia kayak gini." Suara itu terdengar sendu, kemudian, kurasakan genggaman hangat pada telapak tanganku.
"Dan Nadine nggak bakalan marah sama lo, kalau lo nggak buat kesalahan. Lo apain sepupu gue, Ka? Udah cukup gue liat dia nanggung beban berat selama ini. Nahan egonya supaya nggak pernah bahas apapun tentang lo. Kalau lo nggak sanggup bahagiain sepupu gue, mending lo ngejauh. Karna kalau lo ngeliat tiap perjuangan dan gimana dia sabar selama ini, lo nggak bakalan punya nyali buat ngelukain dia." Suara Sean terdengar, dan penjelasannya membuatku harus mampu menahan air mata.
"Nad..." Panggil Aldric pelan. "Aku sayang kamu. Aku nggak mau siapapun, Nad. Aku cuma mau kamu. Kamu harus percaya kalau kamu prioritas aku. Bukan orang lain, Nad." Oh Tuhan, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan air mata.
"Aku sayang kamu, Nad." Lagi-lagi Aldric mengucapkan hal tersebut.
Perlahan, kubuka mata dan wajah-wajah khawatir milik ketiga pria di sekitarku menjadi hal pertama yang kulihat. "Nadine?" Panggil mereka hampir bersamaan. Kutatap wajah tersebut satu persatu, merasa beruntung karena memiliki mereka.
Kulihat Sean menuangkan air putih untukku, dan Aldric yang perlahan membantuku duduk. Ketika sedang meminum air dari gelas yang Aldric pegang, pintu kamar terbuka. Dan berikutnya, seorang gadis dengan camera di tangan menampakkan diri. Lulu.
"Om, Lulu masuk nggak apa-apa ya?" Aku memberi kode dengan gerakan tangan agar Lulu duduk di sampingku. Dan kemudian, kuminta ketiga pria ini meninggalkanku bersama Lulu. Mereka tidak melawan, melainkan mengangguk.
Tidak bisa kutolak ketika Aldric mencium lama keningku. Lulu berteriak heboh, membuatku memukul d**a Aldric karena malu. Kuhela napas saat Aldric sudah hilang dibalik pintu.
"Kata papa, kalau orang cium kening itu tandanya sayang, tante."
"Papa bilang gitu?"
"Iya. Soalnya Lulu liat papa sering cium kening bunda waktu mau berangkat kerja, jadi Lulu tanya deh." Aku tersenyum, mengelus pipi gembilnya. "Berarti om tadi sayang dong sama tante." Aku hanya mengangguk samar, mengamini dalam hati.
"Lu." Panggilku pelan.
"Iya, tante?"
"Lulu mau nggak nolongin tante?"
"Mau. Emangnya Lulu harus ngapain, tante?"
"Suruh semua om-om itu pulang dong, Lu. Biar kita berdua aja di rumah. Tante banyak film bagus buat kita nonton berdua."
"Beneran tante?"
"Iya beneran."
"Ok, Lulu turun dulu ya."
Aku tersenyum, menatap punggung gadis itu yang berjalan meninggalkan kamar. Lima menit kemudian, entah dengan cara seperti apa, Lulu kembali dengan senyum mengembang di wajah.
"Selesai, tante."
"Yaudah, kamu duluan ke bawah nanti tante nyusul."
"Yah, tante. Lulu capek naik turun tangga." Rengek Lulu dan sukses membuatku tertawa. Dengan wajah memelas, Lulu meninggalkan kamarku. Setelah memperbaiki rambut, kutinggalkan ponsel di kamar dan segera memilih keluar.
Menjelang makan malam, Lulu kubiarkan bermain di ruang TV dengan aku yang memasak. Gadis itu ingin mengajakku makan di luar, yang sayang sekali harus kutolak karena takut salah tempat. Alhasil, aku membujuknya dengan makanan lezat buatanku. Beruntung dia setuju.
"Tante, ini gordennya emang dibiarin kebuka?" Teriakan Lulu seketika membuatku tersadar bahwa aku lupa memperbaiki gorden saat bersih-bersih pagi tadi.
"Enggak, Lu. Tante lupa, tolong ditutupin ya."
"Iya tante." Teriaknya lagi, dan entah kenapa aku tertawa. Tidak lama, kulihat Lulu yang berjalan menuju dapur tetap dengan camera kesayangannya.
" Tante, Lulu nginep ya?" Aku menatap Lulu sedikit bingung, aku pikir setelah makan Lulu akan merengek agar segera diantar pulang.
"Udah bilang sama bunda?" Gadis lucu itu menggeleng. Aku tersenyum mengerti.
"Tante bilangin dong." Aku tertawa kecil lalu mengangguk.
"Yaudah, bentar tante ambil HP ke kamar. Lulu duduk dulu." Dia menurut, sedangkan aku beralih cepat menuju kamar. Kulihat gorden jendela yang masih tersingkap, dan dengan segera menggesernya agar menutupi jendela. Sepertinya aku memang lupa memperbaiki kembali semua gorden ketika bersih-bersih tadi.
Aku segera turun, melihat Lulu fokus dengan camera di tangannya. "Lu?" Panggilku dan gadis kecil itu seketika kaget. Aku mengernyit bingung, kenapa bisa sekaget itu? Apa yang Lulu lihat di dalam cameranya? "Serius bangetsih. Tadi fotoin apa aja?"
"Eh, enggak tante. Lulu nggak foto-foto apa. Jalan-jalan doang liatin rumahnya." Aku diam. Sepertinya Lulu berbohong. Terlihat jelas dari raut wajahnya, dan entah kenapa, dia terlihat pucat.
Aku hanya tersenyum setelah itu, sepertinya nanti aku butuh memeriksa isi camera Lulu. Aku takut dia memotret sesuatu yang tidak-tidak di dalam rumah ini. Sialan, kenapa aku merinding?
"Tante, Lulu kalau tidur nggak bisa kalau nggak pake musik gede."
"Nanti kita nyalain musik." Jawabku sambil mencari kontak kak Riri. Setelah itu segera menghubunginya.
"Halo, kak." Sapaku saat panggilan terjawab.
"Iya Lulu baik-baik disini. Ga nakal."
"Nah jadi gini, kak. Tadinya aku yang mau nganterin dia pulang abis dinner, tapi Lulunya bilang mau nginep disini. Boleh ya, kak?— Nggak ngerepotin kok. Malah aku seneng ada temennya gini. Juga besok liburkan? Thank you, kak." Aku memustuskan panggilan sambil tersenyum menatap Lulu. Mengedipkan sebelah mata dan gadis itu seketika tertawa. Raut wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Yaudah, Lu. Makan dulu ayo." Lulu mengangguk lalu mulai membalikkan piring, memulai makan.
"Tante nggak takut tinggal sendirian?"
"Kenapa harus takut?"
"Enggak, Lulu cuma nanya kok." Dan dia tidak akan bertanya jika tidak melihat sesuatu yang mengusik kepalanya. Aku benar-benar takut jika Lulu melihat sesuatu yang tidak-tidak.
Setelah itu, aku mengajak Lulu membahas hal lain. Mengenai sekolah dan seperti apa teman-temannya. Bahkan ketika selesai makan, Lulu tetap bersuara. Menceritakan segala hal yang ia alami.
Ketika hendak tidur, aku tidak lupa menyalakan musik seperti permintaan Lulu sebelumnya. Dan sekarang malah sebaliknya, aku yang diminta bicara panjang lebar oleh gadis yang sedang berbaring di sebelahku. Aku tersenyum, mulai bercerita panjang lebar. Dan ketika gadis itu tertidur, aku pun mencoba untuk tidur.
***
Paginya, kutemukan Lulu yang tengah memeluk erat guling, nyenyak sekali tidurnya. Sedangkan aku memilih membuka jendela dan membiarkan udara pagi masuk. Ketika ingin keluar kamar, mataku menangkap camera milik Lulu yang terletak di meja kecil di sebelah tempat tidur. Rasa penasaran tiba-tiba saja memintaku untuk mengambil camera tersebut. Dan perlahan, kutinggalkan kamar sambil melihat hasil potret Lulu.
Gerakan tanganku langsung saja berhenti pada gambar pertama. Kucek gambar lainnya, ada tiga gambar dengan jendela ruang tengah sebagai objeknya. Namun bukan jendela itu yang menarik perhatianku. Tapi yang lainnya. Seseorang. Jelas sekali bahwa ada orang yang berjalan melewati samping rumahku semalam.
Jantungku bergemuruh. Dengan cepat aku berjalan mencari kunci dan segera menuju pintu utama. Dan ketika kubuka pintu, mataku sukses terbelalak. Kuletakkan cepat tangan kanan di mulut juga hidung. Ya Tuhan, apa ini?
Bau amis menyergap indera penciumanku. Bangkai kucing dengan lumuran darah. Sialan, siapa orang jahat yang telah membunuh kucing lucu ini? Dan kertas yang ditulis dengan darah membuat perasaanku makin tidak enak.
Hallo, Nadine!
Ya Tuhan, siapa yang melakukan ini semua?
Tbc...