Kutunggu ia di balik pintu sembari tak henti-henti membujuknya agar bersedia membukakan pintu untukku. Namun apa daya, aku terkunci di luar sini, tanpa diberi izin masuk olehnya. Bunda hanya mengamatiku dari jauh. Hampir tiga jam itu aku menunggu di luar. Kuminta Bunda menghubungi Bima yang kiranya bisa membujuknya. Sambil menunggu kedatangan Bima, aku bujuk lagi ia. “Setidaknya izinkan aku tahu kamu baik-baik saja, Btari.” Tak ada jawaban. Kuketuk pintu kamarnya, berkali-kali, bahkan kini nyaris seperti gedoran. “Btari.” Masih belum ada jawaban. Tepukan seseorang pada pundakku sontak mengalihkan perhatianku. Aku berbalik, melihat Bima yang mengangguk padaku memintaku menyingkir sedikit. Aku bergeser memberinya ruang. Begitu ia melarikan telunjuknya pada lapisan pintu, muncullah sebuah

