Dave dan Rae melotot bersamaan melihat orang yang berdiri di hadapan mereka. Jamie, dan pacarnya yang berambut pirang seperti golden retriever itu saling berpelukan pinggang dengan mesra.
“Apa yang kau lakukan di sini, Dave?” Tanya Jamie dengan heran. Matanya menatap tangan Dave yang masih menggenggam tangan Rae. Rae mencoba menepiskannya, tetapi Dave menggenggamnya terlalu kuat.
“Kurasa itu bukan urusanmu!”
“Menjadi urusanku karena kau mendekati Rae-ku!” Jamie berteriak gusar.
“Apa maksudmu, Sayang?” Si pirang bertanya dengan mata menyipit tajam pada Jamie.
Rae menunduk. Apalagi ini. Selalu Jamie berkata seperti itu pada setiap pria yang dekat dengannya. Ya, walaupun dulu memang Rae tidak pernah berniat mencari kekasih. Namun bukan berarti dia ingin menjadi kekasih Dave. Menjadi kekasih singa tua pemarah ini adalah hal terakhir yang diinginkannya di dunia ini.
Rae hanya tidak ingin hatinya kembali berharap. Dulu, setiap Jamie berkata seperti itu, dia selalu berharap suatu saat pria itu akan melihatnya sebagai wanita. Bukan sebagai adik kecilnya. Akan tetapi harapan hanya tinggal harapan. Jamie hanya beralasan bahwa dia tidak ingin Rae mendapat kekasih yang salah.
“Rae-mu?”
Pertanyaan itu membuat Rae menatap Dave yang juga menatapnya tajam.
“Ya, dia memang Rae-ku.”
“Jamie, cukup!” Rae membentak Jamie untuk pertama kalinya selama mereka kenal.
Jamie menganga menatapnya. “Rae, kau...”
“Aku sudah dewasa. Aku sudah bisa memilih mana yang baik atau tidak untukku.”
“Tetapi, Rae...”
“Tidak! Cukup sudah semuanya, Jamie. Aku tahu bagaimana perasaanmu padaku. Dan aku menyerah. Mulai saat ini, kita bebas. Kau tidak perlu lagi menganggapku adik kecilmu!” Rae meninggalkan mereka bertiga dan segera masuk ke flat-nya. Hatinya sakit. Dia tidak bisa lagi menerima semua perlakuan Jamie yang seolah-olah menginginkannya itu. Dia lelah terus menerus dipermainkan.
Sebuah lengan besar memeluknya dari belakang hingga membuat Rae semakin terisak. Bagaimana tidak, Dave, pria galak dan pemarah yang selalu membuatnya kesal, justru yang selalu ada untuknya. Pria itu yang memeluknya di saat dia butuh sandaran seperti saat ini.
“Maafkan aku,” bisik Rae kemudian.
“Kenapa kau meminta maaf?”
Rae merasakan embusan napas Dave di belakang rambutnya, membuatnya merinding oleh sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa itu.
“Karena kau harus melihat kejadian tadi. Aku tidak pernah membentak Jamie selama ini.”
Dave terkekeh. “Aku suka itu. Kau terlihat lebih seperti singa betina daripada kelinci kecil.”
Rae menyodok perut Dave pelan dengan sikunya. “Kenapa kau ini selalu merusak momen melankolis dengan mulut jahilmu itu, Sir?”
Dave tertawa dan menarik rambut Rae pelan. “Karena kau tidak pantas melankolis. Mana ada momen melankolis untuk gadis barbar sepertimu.”
Rae bangkit dari sofa dan berdiri bersedekap menatap Dave. Matanya mendelik sewot pada pria itu. “Aku tidak barbar!”
Dave tertawa hingga membuat tubuhnya bergetar. Rae melongo menatapnya. Bagaimana pria ini bisa terlihat sangat tampan?
Pria ini tampan. Salah, sangat tampan. Dengan rambut berwarna tembaga dan mata hazel yang selalu bersinar dan terlihat penuh intimidasi. Dave benar-benar tipikal pria yang selalu diidamkan para wanita. Kecuali dirinya mungkin.
Rae tidak pernah melihat pria selain Jamie. Tidak ada pria tampan selain Jamie. Baginya, Jamie adalah yang nomor satu. Di hatinya dan di manapun juga.
“Sudah selesai mengamatiku, Nona?”
Muka Rae bersemu merah. Dia melangkah pergi dengan salah tingkah. Dave bangkit dan meraih pinggangnya.
“Rae, berjanjilah padaku kau tidak akan menangis lagi karena Jamie.”
“Dave...”
“Aku tahu. Kau sudah menyukainya seumur hidupmu kan? Apa tidak ada pria lain yang menarik hatimu? Aku misalnya.”
Rae mendorong Dave hingga pria itu kembali terduduk di kursi. “Mimpi saja kau!” Ujarnya sambil meraih belanjaannya dan menuju dapur.
Sial! Kenapa jantungnya berdebar-debar?
*****
Bagi Dave, ini adalah hari libur terindah untuknya. Berdua bersama gadis kecil yang pemarah itu di dapur rumahnya. Menyaksikan gadis kecil itu memasak untuknya. Dave tahu bagaimana perasaan gadis itu. Dia pasti sakit hati dengan perlakuan Jamie. Jamie seolah tampak tidak peduli dengan Rae. Dave yang baru mengenalnya saja tahu bagaimana Rae begitu mencintai Jamie. Bagaimana sorot mata Rae yang begitu terluka saat melihat Jamie dan pacarnya tadi. Bagaimana Rae mati-matian menahan air matanya saat Jamie dengan entengnya mengatakan 'Rae-ku', seolah gadis itu adalah miliknya.
Dave tahu, mungkin Jamie hanya ingin melindungi Rae dari pria b******k seperti dirinya. Namun seharusnya Jamie bisa menjaga perasaan Rae. Seharusnya Jamie masih memiliki sedikit hati untuk tidak membuat Rae berharap lagi padanya. Dave juga tahu, Rae takut berharap lagi pada Jamie. Gadis itu seolah ingin move on dari cintanya pada Jamie, tetapi dia sendiri merasa ketakutan tidak ada pria seperti Jamie di luar sana. Ya, pria tidak peka seperti Jamie memang tidak ada duanya. Bagaimana Dave baru sadar bahwa ternyata Jamie seegois itu?
Jamie tidak ingin menjadikan Rae kekasihnya, tetapi pria itu juga takut kalau Rae akan menjauh darinya jika gadis itu memiliki kekasih suatu saat nanti. Bahkan sebrengsek-brengseknya dirinya pun, Dave tidak pernah seperti itu. Dia akan membiarkan gadis yang dia cintai pergi jika ternyata gadis itu menemukan orang lain yang lebih ia cintai. Seperti Angel misalnya. Angel. Bagaimana kabarnya sekarang?
“Dave!”
Dave tergagap oleh panggilan Rae.
“Ponselmu berkedip sejak tadi.” Mata Rae menunjuk ponsel Dave yang berkedip-kedip. Dave tersenyum dan meraih ponselnya.
“Hai, baby kitty.”
“Kakak di mana?”
“Aku di rumah Rae. Ada apa?”
“Bawa Rae kemari. Aku ingin bertemu dengannya sebelum aku pulang.”
“Rae sedang memasak, Sayang.”
“Apa yang dia masak?”
Dave menatap Rae yang asyik di depan kompor. “Apa yang kau masak, Rae?”
Rae berbalik dan mengerutkan alisnya sebelum menjawab. “Sunday Roast.”
“Dia membuat Sunday Roast.”
“Bawa dia dan masakannya kemari!”
“Tapi...”
Tut...tut...tut...
Selalu Abby dan hormon kehamilannya yang pemaksa membuatnya tidak bisa berkutik. Bagaimana jika Rae menolak?
Rae tampaknya menangkap kegelisahannya dan bertanya, “ada apa, Dave? Apa Abs yang menelepon?”
Dave mengangguk dan mengutarakan maksud Abby padanya. Rae tersenyum lembut dan segera mengambil container kecil untuk memasukkan hasil masakannya hari itu. Dave ikut tersenyum melihatnya. Ia tidak menyangka Rae akan menyetujuinya. Tadinya, dia pikir mereka akan berdebat dulu seperti biasanya sebelum akhirnya dia -tentu saja- akan memenangkan perdebatan itu. Namun rupanya gadis itu langsung menyetujui tanpa membantah sedikit pun.
“Ayo, Dave! Kenapa kau bengong saja dari tadi? Daydreaming huh?”
Dave bahkan tidak sadar gadis itu sudah berganti pakaian. Rae terlihat cantik seperti tadi pagi dengan pakaian kasualnya. Hanya saja kali ini dia memakai rok pendek motif bunga-bunga berwarna peach dan mengikat tinggi rambut coklatnya hingga membuat leher jenjangnya tampak seksi. Dave kembali meneguk ludahnya dengan susah payah. Sial! Sial! Sial! Lagi-lagi gadis itu membuat bagian bawahnya menegang. Bagaimana gadis itu bisa sangat mempengaruhinya?
“Dave! Ayolah!” teriak Rae dengan tidak sabar dari ambang pintu.
Dave mengerang dan bangkit dengan menahan rasa sakit di selangkangannya. Yang ingin dia lakukan saat ini hanyalah mengunci gadis kecil itu di kamarnya dan memasukkan miliknya ke dalam bagian tubuh seksi itu.
“Ada apa?” tanya Rae saat mereka sudah berada di dalam mobil. Dave menoleh dengan heran. Tidak mengerti maksud pertanyaan Rae.
Rae memutar bola mata dan meraih tisu dari dalam tasnya dan mengusap dahi Dave yang Dave sendiri tak sadar jika dirinya berkeringat.
“Kau sakit? Mukamu memerah dan berkeringat. Padahal AC sudah kau nyalakan,” gadis itu bertanya dengan suara lembut.
Dave menganga. Si barbar ini bisa bersikap lembut juga ternyata?
“Dave?”
Suaranya bahkan terdengar sangat seksi!
Dan Dave tidak peduli lagi pada hal lainnya. Dia meraih tengkuk Rae dan melumat bibirnya dengan kasar. Menyesap rasa manis dari lipbalm yang dipakai gadis itu. Rae mengerang dan Dave menyusupkan lidahnya ke dalam mulut mungil Rae yang selalu membantahnya itu. Rasanya bahkan lebih nikmat daripada ciuman pertama mereka.
Gadis ini, entah bagaimana telah mempengaruhi dirinya. Dave merasa seperti bukan dirinya jika sedang bersama Rae. Rae selalu membuatnya melakukan sesuatu hal yang di luar kontrol dirinya. Namun Dave menyukai itu. Bersama Rae, membuat hidupnya terasa berbeda dan lebih hidup. Membuatnya kembali merasa seperti berumur dua puluhan.
Mungkin Abby benar. Dirinya dan gadis itu dipertemukan bukan karena kebetulan. Ada alasan lain di baliknya yang Dave sendiri belum tahu apa itu. Akan tetapi, satu hal yang Dave tahu dan dia yakini saat ini. Dia tidak akan pernah melepaskan gadis itu. Tidak akan pernah.