Chapter 14

1733 Words
“Rae, bisa kau menemaniku?” Rae menoleh dari pekerjaannya dan menatap Dave heran. “Ke mana?” “Temanku baru datang dari Indonesia. Aku akan menjemputnya ke bandara. Bisa tolong temani aku?” Bibir Rae mengerucut, siap memuntahkan suaranya yang pasti akan membuat mereka bertengkar seperti biasa. Dave langsung mendorong Rae ke kamar mandi pribadinya sebelum gadis itu bisa menolak, dan menyerahkan sebuah kantong kertas berwarna biru pada Rae. Bukan Dave namanya jika tidak suka memaksa. Hari ini, Johan, teman dan juga rekan bisnisnya dari Indonesia, akan datang untuk membicarakan kembali kerjasama mereka di Jakarta. Dave berencana menjemputnya ke bandara. Namun dia tidak ingin ke sana sendirian. Dia bisa memang mengajak sekretarisnya daripada mengajak Rae, tetapi Dave lebih tertarik untuk mengajak Rae. Bahkan Dave sangat ingin menjadikan gadis itu asisten pribadinya. Dave tahu gadis itu mampu. Hanya saja Rae terus menolaknya. Dave sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya tidak bisa jauh dari gadis itu. Seolah ada magnet yang menariknya untuk selalu mendekat. Apa ini hanya kegilaan sementara? Terlebih setelah peristiwa mereka berciuman di mobil minggu lalu. Rae bahkan membalas ciumannya. Shit! Bagian bawahnya selalu mengeras setiap dia mengingat ciuman itu. Ini pasti gara-gara dirinya terlalu lama selibat, sehingga melihat gadis kecil tidak seksi seperti Rae pun, dia langsung turn on. Salah, Rae itu seksi. Hanya saja dia menutupi keseksiannya dengan celana jeans dan kaos oblong kedodoran yang selalu dipakainya. Andai Rae menjadi kekasihnya, dia akan... Dave menggelengkan kepala, menghalau pikirannya yang melantur. Menjadikan gadis barbar itu kekasihnya? Hah, lemparkan saja Damian ke Samudra Atlantik. Pintu kamar mandi terbuka membuat Dave menoleh dan tertegun. Rae tampak sangat cantik dengan blus sutra tanpa lengan berwarna putih dengan aksen renda di dadanya. Kakinya yang jenjang tertutup rok pensil hitam sebatas lutut. Baju itu tampak sangat pas membentuk lekuk tubuh Rae yang aduhai. Dave tidak bisa berpaling dan berkedip. Rae terlalu indah. Gadis itu pastilah seorang bidadari. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Rae menggerutu sambil berjalan mendekati Dave. Dave menutup mulut yang tidak dia sadari telah terbuka. Tangannya sigap meraih pinggang ramping Rae. “Da...Dave...apa yang kau lakukan?” Rae mencoba meletakkan tangannya di d**a Dave untuk menghalau pria itu lebih dekat lagi dengannya. Akan tetapi, Dave justru makin mempersempit jarak mereka. “Kau tahu kalau kau sangat cantik, Rae?” Bisik Dave sambil menatap lurus mata biru Rae. Rae menggeleng pelan. “Kau cantik,” ulangnya lagi sambil menghirup aroma leher Rae yang memabukkan. Rae mendesah pelan saat Dave mengecup lehernya. “Apa yang kau lakukan padaku?” Dave terus berbisik sambil membelai wajah Rae dengan hidungnya. Menghirup aroma khas gadis itu. “Da...Dave...”  Dan sebelum Rae menyelesaikan perkataannya, Dave sudah mengecup lembut bibir mungil itu. Bibir mungil yang entah sudah berapa kali diciumnya. Bibir mungil yang selalu membuatnya ketagihan untuk selalu menciumnya lagi. Bibir Rae telah menjadi candu untuknya. Gadis itu membalas ciumannya. Membuat Dave semakin menipiskan jarak hingga tubuh mereka menempel seperti potongan puzzle. Dave merasa tidak bias melepaskan diri. Rae terlalu nikmat untuk dilepaskan. Gadis ini serupa h****n pribadinya.  “Apa yang kalian lakukan?” Dave dan Rae sontak melepas ciuman mereka dan mendapati Jamie menatap tajam ke arah mereka berdua. Rae menunduk salah tingkah menghindari tatapan Jamie yang penuh intimidasi. Mukanya memerah. “Tidak bisakah kau mengetuk pintu, Jamie?” Tanya Dave kesal. Jamie menaikkan kedua alisnya. “Sejak kapan kau memberlakukan aturan itu padaku, Dave? Dan Rae, baju apa yang kau pakai itu?” Dave memandang tak suka pada Jamie yang seolah menelanjangi Rae. Dia berdiri dengan sigap di depan Rae. “Ada perlu apa kau kemari?” Jamie beralih dari pandangannya ke Rae dan memandang Dave. “Aku harus mengantar Julia ke Wales siang ini, bisakah aku pamit keluar sekarang?” Dave mendengar Rae terkesiap kecil di belakangnya saat mendengar nama Julia. “Pergilah.” Jamie mengangguk dan kembali memandang ke balik bahu Dave. “Urusan kita belum selesai, Rae.” “Tidak ada urusan apa-apa lagi di antara kalian berdua!” Tukas Dave dengan tajam. “Dave...” “Kau diam saja, Rae!” Rae menggerutu di belakang Dave, hingga membuat Dave ingin terkekeh. “Dia adikku, Dave! Tentu saja semua urusannya adalah urusanku!” Dave menatap Jamie dengan sinis. “Jika dia punya kekasih, tentu saja urusannya adalah urusan kekasihnya, bukan urusanmu lagi. Iya kan?” Mata Jamie melebar menatap mereka berdua. “Jangan bilang kalau...” Dave menarik pinggang Rae, menariknya mendekat. “Ya, dia kekasihku sekarang.” Mata Rae dan Jamie sama-sama melebar. Berbeda dengan Dave yang tampak santai. Jamie menatap tajam ke arah Rae sebelum akhirnya keluar dari ruangan Dave tanpa bersuara lagi. “Apa-apaan kau ini!” Ucap Rae ketus sambil menyingkirkan tangan Dave dari pinggangnya. Dave terkekeh dan mencubit hidung Rae. “Bukankah kau ingin lepas dari sifat over protektif Jamie? Aku hanya membantumu saja.” Rae mencibir. “Kau bukannya membantu tetapi menambah masalah baru!” Dave tertawa dan memakai jasnya. “Ayo kita berangkat, gadis cerewet!” Dave berjalan di depan Rae dan baru akan membukakan pintu saat matanya melirik ke arah sepatu Rae. “Gosh! Apa yang kau pakai itu!” Rae menunduk melihat sepatu kets-nya dan menyeringai pada Dave. “Sepatunya ada di kamar mandimu. Aku tidak mau memakai sepatu neraka itu!” “Rae, kau memakai rok, dan rok itu jodohnya dengan heels, bukan sepatu kets!” Rae menggeleng keras kepala membuat Dave gemas pada gadis itu. “Lepas sepatumu!” Lagi-lagi Rae menggeleng. Dave berdecak dan meraih kaki Rae untuk melepas sepatu kets itu. Kaki Rae bergerak-gerak untuk melepaskan diri, tetapi cekalan Dave membuatnya tidak bisa bergerak. “Aku tidak mau memakai sepatu itu!” Teriak Rae setelah Dave berhasil melepas sepatunya. Tanpa suara, Dave membopong tubuh Rae di dadanya. “Dave! Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!” Rae memberontak di gendongan Dave. “Kate! Bukakan lift ke basement.” Kate mengangguk patuh walaupun matanya melebar karena kaget. Untung saja tidak ada orang lain di sini. Jika ada, mereka pasti akan menjadi bahan gosip paling panas. “Jaga mulutmu kalau kau masih menyayangi pekerjaanmu!” Ucap Dave tegas sebelum pintu lift menutup. Dia melirik Rae yang mukanya sudah memerah. Membuat Dave tidak tahan untuk mencium pipinya. “Kenapa kau suka sekali menciumku?” Tanyanya sambil bersungut-sungut. “Karena kau begitu menggemaskan, little bunny!” Dave menggendong Rae hingga gadis itu duduk bersamanya di kursi belakang mobil mewahnya. Dave memerintahkan sopirnya membawa mereka ke butik sepatu. Dan sama seperti tadi, Dave kembali menggendong Rae masuk ke toko. Setelahnya, Dave mendudukkannya di sofa dan pria itu memilihkan seperti sepatu untuknya. Tidak lama, pria itu membawa sebuah kotak berwarna hitam dan mengeluarkan sepasang sepatu berwarna hitam yang tampak sederhana. Mata Rae membulat. Ya Tuhan, itu Chanel! Pria itu menarik kaki kanan Rae dan memakaikan sepatu itu untuk Rae hingga menimbulkan suara uh oh di sekeliling mereka. Dave tersenyum puas menatap Rae dan mengulurkan tangannya. Mereka berjalan keluar butik dengan bergandeng tangan membuat para wanita di sana memandang mereka dengan iri. Rae hanya tertunduk malu sepanjang perjalanan mereka ke bandara. Dave sendiri sangat menikmati melihat muka Rae yang memerah. Tampaknya Dave benar-benar sudah gila. ***** Rae sibuk menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan. Mulai dari ciuman mereka, hingga perlakuan Dave yang menurutnya sangat manis. Seumur hidup, Rae tidak pernah berani bermimpi akan ada seorang pria yang memakaikannya sepatu. Bagaimana pria ini bisa menjadi begitu penuh perhatian? Rae mencuri pandang ke arah Dave yang duduk tenang di sampingnya. Pria itu selalu tampil memukau seperti biasa dengan setelan jas mahalnya. Bagaimana bisa ada pria sesempurna ini? Selama ini Rae tidak pernah melihat orang lain selain Jamie. Dan sekarang, saat perasaannya pada Jamie perlahan-lahan mulai terkikis, dia baru menyadari bahwa ada banyak orang lain di luar sana. Selama ini Rae selalu tidak peduli setiap ada pria yang mendekatinya. Pertama, karena ia adalah gadis yang tidak punya apa-apa dan tidak menarik sehingga ia tidak pernah percaya diri jika ada pria yang mengutarakan perasaan padanya. Kedua, dan alasan yang paling utama, adalah karena dia selalu berharap Jamie akan mencintainya. “Mau sampai kapan kau ada di dalam sana?” Rae menatap sekelilingnya dan baru sadar mereka sudah ada di bandara. Dia meraih tangan Dave yang terulur untuk membantunya turun. “Tahukah kau jika kau lebih cantik berpakaian seperti ini daripada memakai seragam office girl?” Rae memutar bola matanya. Tahu ke arah mana pembicaraan pria itu. Sepasang pria dan perempuan berparas Asia menghampiri mereka. Dave memeluk sang pria sekilas dan menyalami wanita cantiknya. Rae melirik Dave yang sedikit tertegun saat menatap wanita itu. “Dia asistenmu, Dave?” Tanya si pria padanya. Dave tersenyum dan meraih pinggang Rae. “Kenalkan, dia Rachel. Dan Rachel, ini Johan, dan sekretarisnya, Angel.” Rae mengulurkan tangannya pada si pria tampan bernama Johan dan kemudian pada wanita cantik di sebelahnya. Mereka menuju mobil Dave. Rae dan Angel duduk di kursi belakang, sedang Johan dan Dave duduk di tengah membicarakan bisnis mereka. Rae hanya terdiam di belakang. Dia bingung harus membicarakan apa dengan wanita cantik yang tampak pendiam ini. Dave membawa mereka berempat ke restoran di sudut kota. Sebenarnya Rae agak canggung duduk bersama mereka. Dia kan hanya seorang office girl, tempatnya bukanlah di sini. Namun karena Dave meminta, ia tidak bias menolaknya. Jadilah hari itu dia hanya mengikuti saja ke mana Dave membawa mereka. Termasuk saat Dave mengajak mereka ke Calton Hill. Rae mengernyit heran saat mengetahui Dave membawa mereka ke sana. Bukankah tadi Dave bilang mau mengajak mereka beristirahat di apartemennya? Tapi kenapa pria itu membawa mereka ke sini? Calton Hill  terletak di sebelah timur Princess Street dan merupakan kantor pusat pemerintahan Skotlandia yang bergedung di St Andrews House. Keistimewan tempat ini, yakni kita berada di ketinggian yang memungkinkan untuk melihat jelitanya Edinburgh dari atas. Rae juga belum pernah ke tempat ini sebelumnya. “Kau lelah, Rae?” Perjalanan ke tempat ini memang sangat melelahkan karena jalannya yang menanjak. Jadi karena inikah Dave membelikannya flat shoes? Rae tersenyum dan menggeleng. “Mereka sedang bertengkar. Johan memintaku untuk membantu mereka berdamai,” jelasnya kemudian tanpa Rae minta. “Jadi karena itu kau membawa mereka kemari?” Dave mengangguk. “Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tempat ini indah bukan? Sejak dulu, aku selalu bermimpi bisa membawa wanita yang aku cintai ke tempat ini.” Rae mengikuti mata Dave yang menatap punggung Angel yang berjalan di depan mereka bersama kekasihnya. Jadi Dave mencintai perempuan itu? Entah kenapa pemikiran itu membuat hati Rae terasa sakit.                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD