"Astaghfirullah!" Umi dan Abi menghampiri Naura dan Nayra yang terjatuh dari tangga. Rafka menuruni tangga dengan khawatir.
"Kalian ngapain sih sebenarnya?" Tanya umi panik, Naura meringis kesakitan.
"Aduh!" Naura mengaduh kesakitan saat umi mencoba membantu membangunkan puterinya.
Naura menghindar saat umi ingin kembali menyentuh tangannya "Jangan disentuh umi, sakit."
Umi melirik Abi yang kini ikut berjongkok "Kayaknya keseleo." Ucap Abi.
"Bawa ke puskesmas aja ya?" Tawar umi pada Naura, gadis itu mengangguk.
Rafka tidak bergeming, hanya menyaksikan. Sedang Nayra diam tidak berkutik. Dia juga terjatuh, tapi sepertinya dia tidak terlihat. Nayra bangkit sambil menutupi hidung yang mulai mengucur mengeluarkan darah. Sakit di badannya tidak seberapa dibanding sakit karena sikap kedua orang tuanya yang acuh. Nayra memilih menaiki tangga untuk kembali ke kamar, hal itu tidak lepas dari perhatian Rafka.
"Ayo sayang?" Umi dengan hati-hati membantu Naura untuk berdiri "Tahan sebentar ya?" Naura mengangguk.
"Jaga rumah, kami tidak akan lama." Ucap Abi pada Rafka yang masih setia berdiri di ujung tangga.
"Nayra gak sekalian di bawa? Dia juga jatuh." Ucap Rafka mengingatkan. Seketika mereka mencari keberadaan Nayra.
"Kayaknya dia baik-baik aja, buktinya dia udah gak ada." Kata Abi dingin.
"Ayo!" Ajaknya pada umi dan Naura.
***
Darah masih mengucur dari hidung Nayra, benturan keras saat jatuh dari tangga tadi cukup membuat nya pening dan linu di bagian batang hidung. banyak lembar tisu penuh darah bercecer di lantai.
"Masih keluar." Ucapnya seraya menutupi lubang hidung dengan tisu.
Nayra menatap cermin di kamarnya, rambut yang berantakan juga memar di pelipis semakin memperburuk keadaannya.
"Kenapa harus kayak gini sih?" Keluhnya.
Nayra berdiri, melangkah mendekati meja belajar, membuka laci dan mengambil sebuah plester untuk menutupi luka kecil di pelipisnya. Kembali ke meja rias, memasang plester tersebut melalui cermin.
Nayra menatap pantulan dirinya di cermin dengan tajam, tisu di hidung masih menempel "Lemah banget sih jadi orang. Jatuh begitu aja sampai berdarah-darah."
Jam di dinding menunjukan pukul sepuluh malam. Dingin mulai terasa di kulit "Belum tengah malam." Nayra mulai memunguti tisu yang berceceran. Membuangnya ke tempat sampah yang ada di kamarnya.
"Nayra?" Panggil Rafka yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar Nayra. Gadis itu terkejut dan berbalik seketika.
Rafka menatap Nayra dalam "Kamu gak papa?" Tanyanya basa-basi. Padahal Rafka tahu bahwa Nayra terluka, terlihat dari hidung yang disumpal tisu, juga pelipis yang diplester.
"Gak papa." Jawab Nayra singkat. Gadis itu berdiri kaku, mulai tidak nyaman dengan kehadiran abangnya tersebut. Tubuh Nayra menegang saat Rafka berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Sebaiknya, abang tidak perlu ke kamar aku lagi. Aku gak mau ada pikiran buruk tentang kita berdua." Ujar Nayra. Rafka hanya tersenyum tanpa membalas.
Tangan Nayra saling bertautan, mulai takut dengan gelagat Rafka yang tidak bisa di tebak. Mimik wajahnya menunjukan sebuah rencana.
Semakin dekat Rafka kearahnya, mata Nayra mulai berkaca-kaca "Jangan masuk bang. Aku gak mau Abi sama umi salah paham."
Rafka berhenti, tatapan itu begitu sendu "Aku memang ingin kesalah pahaman itu terjadi, Nayra." Ucap Rafka jujur.
"Mereka tidak akan menghalangi niatku." Kata Rafka begitu yakin.
"Niat apa bang?" Tanya Nayra. Gadis itu menggeleng kan kepalanya sebagai tanda untuk Rafka tidak melakukan sesuatu hal "Jangan lakukan apapun. Aku mohon. Jangan buat Abi semakin benci sama aku." Pinta Nayra. Rafka termenung, kemudian melirik Nayra sekilas "Masih ada aku."
Setitik bulir bening turun dari mata Nayra "Abang dekat sama aku aja udah buat Naura cemburu. Abang terlalu memperlihatkan berbedaan saat memperlakukan aku dan Naura."
Nayra memberanikan diri menatap Rafka yang kini sudah benar-benar ada dihadapannya "Kasihani aku, bang!"
***
"Bagaimana keadaan puteri saya, dok?" Tanya umi khawatir. Tangannya gemetaran karena panik, Abi duduk santai di samping umi untuk mendengarkan penjelasan.
Seorang pria dewasa duduk tegap penuh wibawa, tersenyum ramah kepada orang tua pasien.
"Puteri ibu tidak kenapa-napa. Hanya keseleo sedikit di pergelangan tangan karena menahan, besok juga sembuh. Saya kasih obat nyeri, dimakan setiap kali terasa sakit. Kalau sudah tidak sakit, tidak perlu diminum lagi." Jelas dokter seraya memberikan selembar obat pereda nyeri.
Naura terlihat turun dari ranjang puskesmas, tersenyum lemah pada umi dan Abi. Umi bergegas menghampiri Naura untuk membantunya, menggandeng gadis itu kemudian membiarkan puterinya duduk di tempat yang beliau duduki sebelumnya.
"Merasa lebih baik?" Tanya dokter pada Naura. Gadis berhijab instan itu mengangguk "Ada bagian lain yang sakit? Mungkin ada hal yang terlewat dan baru terasa sekarang?" Tanya Dokter memastikan kembali kondisi pasien nya.
"Tidak ada." Jawab Naura singkat.
***
"BERHENTI!"
Plak
Sebuah tamparan mendarat diwajah Rafka membuatnya berpaling seketika. Tangan yang tadinya berada di bahu Nayra, kini beralih menyentuh pipi kirinya. Aksinya terhenti.
Nayra terisak "Aku ini adik kamu. Tega kamu lecehin aku kayak gini." Ungkap Nayra penuh kecewa. Satu kancing teratas baju tidurnya terlepas karena perbuatan Rafka. Entah apa yang membuat sosok yang dianggap abang itu berbuat sesuatu yang kotor.
Nayra menutupi dadanya dengan kedua tangan, rambutnya acak-acakan juga pipi yang basah karena air mata.
Gadis itu masih tidak menyangka, permohonan nya dianggap angin lalu. Rafka, abang terbaik bagi Nayra itu kini membuat Nayra jijik sendiri. Rafka dengan tega mencium bibirnya, mencium pipinya bahkan lehernya. Berkali-kali teriakan yang ia keluarkan tidak di dengar, goresan di leher Rafka karena cakaran dari Nayra sebagai cara melindungi diri pun tidak dihiraukan.
Nayra menutup matanya dalam, berusaha menghilangkan bayangan beberapa menit lalu.
"Apa salah aku sampai kamu lakuin itu?" Rafka menatap Nayra tajam, walau hati terasa sakit karena melihat perempuan yang ia sukai itu menangis karena ulahnya sendiri.
"AKU INI ADIK KAMUU." Teriak Nayra sekuat yang ia mampu. Emosinya sudah tidak bisa dibendung. Tangisnya kembali pecah. Tubuhnya ambruk ke lantai. Menangis sejadi-jadinya karena merasa dirinya telah kotor.
"Aku lakuin ini karena aku gak mau kehilangan kamu." Ujar Rafka masih berdiri, kepalanya menunduk dalam menatap Nayra.
"Aku cinta sama kamu."
Nayra mendongak menatap Rafka dengan mata membulat hebat. Apa katanya, cinta?
"Cinta?" Bisik Nayra dengan nada marah.
"CINTA KAMU BILANG? AKU ADIK KAMU. ADIK." Rahang Nayra mengeras menahan diri ingin mencaci. Kembali mengingatkan Rafka kalau Nayra adalah adiknya. Adik yang tumbuh bersama, dirumah yang sama, dalam lingkungan yang sama pula.
"AAAAAKKHH. AAaaa__" Nayra berteriak, mengacak rambutnya kesal, memukul kepalanya berkali-kali hingga membuat Rafka panik. Pemuda itu duduk berlutut dihadapan Nayra, mencoba menghentikan amukan Nayra yang menyakiti dirinya sendiri.
"Jangan lakukan itu Nay, jangan." Ucap Rafka masih berusaha.
"MUNDUR." Mata Nayra berubah gelap, tatapan benci kini muncul membuat Rafka terdiam.
Tangan gadis itu menggapai benda keras, sebuah kotak kayu tempat Nayra menyimpan kertas agenda harian. Dilemparnya begitu ringan ke arah pemuda di depannya hingga membuat pemuda itu mengadu kesakitan.
Dugh
Brak
"Aaaww." Rafka menyentuh keningnya yang terkena lemparan keras dari kotak kayu tersebut. Darah segar menetes, lukanya tidak besar, tapi cukup dalam. Esok hari akan berubah menjadi sebuah benjolan besar.
"LO UDAH BUAT GUE KOTOR. DASAR BINATANG." Nayra mengungkap rasa kecewanya. Rasa benci yang kini menggebu. Rafka memutuskan hubungan antara kakak adik dengan cara yang tidak baik.
"JANGAN SALAHIN GUE KALAU GUE GAK SUDI ANGGAP LO ABANG LAGI." Ungkap Nayra, Rafka tertegun. Ada desiran sakit terasa di ulu hatinya. Matanya terarah memandang Nayra yang tampak buruk dengan sendu.
Suara deru mobil memasuki pekarangan rumah terdengar, Rafka gelagapan. Dia berdiri dengan tergesa "Abang anggap kamu gak ngomong apa-apa barusan. Sekarang, tenangin diri kamu dan cepat tidur. Jangan bilang apa-apa ke Abi." Ujarnya memberi arahan membuat Nayra jengkel. Rafka kemudian pergi dan menutup pintu kamarnya rapat.
"Gue gak bilang ke Abi bukan karena gue nurut sama b******n kayak Lo. Tapi karena gue gak mau abi buang gue."