bc

Di Penghujung Waktu

book_age12+
5
FOLLOW
1K
READ
BE
family
fated
heir/heiress
drama
like
intro-logo
Blurb

Terlahir dari ibu berbeda, diperlakukan tidak adil oleh keluarga, dicintai abang sendiri, orang yang dia suka dijodohkan dengan saudarinya, mengidap penyakit leukimia stadium akhir. Sakit mana lagi yang tidak ia rasakan?

Tidak disangka, saat Nayra pasrah dengan hidupnya, Tuhan mengirimkan satu laki-laki yang mencintai nya, mengijinkannya melahirkan buah hati mereka walau dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Akahkan Nayra bertahan untuk menjalani hidup yang lebih baik?

Dan siapakah pria itu?

chap-preview
Free preview
Bab1
Seorang pemuda menaiki tangga secara perlahan di tengah keheningan malam. Mengendap seperti seorang pencuri. Suasana gelap dari lampu yang tidak dinyalakan semakin membuat curiga. Semua orang tengah tertidur lelap di kamarnya masing-masing. Kenapa dia masih terjaga? Langkahnya terhenti di sebuah pintu kamar tertutup, celingukan memastikan situasi. Tangannya bergerak menyentuh gagang pintu. Satu tangan yang lain merogoh saku celana untuk mengambil kunci. Trek Suara kunci yang terbuka terdengar nyaring, terlalu sunyi hingga membuat pemuda itu mulai panik. Tidak ingin mengulur waktu, ia segera membuka pintu dan masuk kedalam kamar tersebut. Dia terlalu terburu-buru hingga lupa menutup rapat pintu, menyisakan celah yang cukup untuk seseorang menjadi saksi. Cahaya remang-remang dari jendela yang tidak ditutup gordennya memberikan sedikit pencahayaan. Terlihat seorang gadis tengah meringkuk di atas ranjang, begitu nyenyak. Pemuda itu tersenyum lembut, berjalan mendekati ranjang dengan santai. Sedikit gerakan dari gadis di depannya membuatnya terhenyak. "Kamu cantik sekali," puji pemuda yang kini duduk di sebelah gadis yang tengah tertidur itu. Tangannya dengan perlahan membelai kepala sigadis, tidak terusik, masih terlelap. "Kamu baik, perhatian, hingga cinta yang seharusnya tidak ada, malah tumbuh secara perlahan." Bisiknya dengan suara serak. Dia, laki-laki yang mulai beranjak dewasa. Usia yang masih labil untuk sebuah cinta. Masa yang sulit untuk dilewatkan. "Entah siapa yang salah disini. Tapi, aku benar-benar gak bisa berpaling dari kamu." Lanjutnya menyentuh pipi. "Aku mau kamu." Tambahnya seraya mengigit bibirnya kuat. Menahan sesuatu yang muncul sebagai lelaki normal. "Enghh" pemuda itu menegakkan badan kala sigadis mulai tidak nyaman. "Andai, saat yang lain memaksa aku untuk menjadi pemenang dan kamu ikut seperti mereka, mungkin hal ini tidak akan terjadi." Katanya. Sebuah bayangan melintas, seorang gadis datang memberikan sebuah s**u juga cemilan, duduk menemaninya yang dikelilingi buku-buku tebal, dipaksa belajar untuk mendapatkan nilai sempurna di ujian terakhir nanti. Nilai yang akan membuatnya masuk sekolah negeri. "Abang yang semangat belajarnya. Apa yang abang mau, nanti aku ambilin. Aku juga bakal nemenin abang belajar, supaya gak kesepian dan merasa tertekan." Ujar gadis itu sambil tersenyum tulus. "Abang jangan ambil hati ucapan Abi. Abi mau abang masuk sekolah negeri supaya bisa masuk perguruan tinggi yang abang mau. Ya berarti nilainya harus tinggi juga kan?" Gadis itu menatap nya penuh harap dan percaya. Dia hanya bisa mengangguk. "Aku percaya sama abang." Kembali pada kenyataan, pemuda itu menatap lekat gadis yang sama "Kamu percaya, di saat yang lain enggak." "Andai kamu bukan bagian dari keluarga ini. Andai kamu bukan seorang adik, akan aku jadikan kamu seseorang yang lebih dari apapun." Gemuruh di d**a mulai memanas, sesuatu yang nekat muncul. Rasa ingin memiliki tidak bisa terbendungnya lagi. "Kamu harus jadi milik aku, Nayra. Akan aku buat, orang lain, termasuk keluarga kita tidak bisa menolak apapun yang menjadi keputusanku." Rafka, mendekati wajah Nayra. Nafasnya mulai terasa berat, degup jantung memompa begitu cepat. "Hubungan kita, tidak akan menjadi batas atas cinta yang aku miliki." Ucapnya begitu memaksa. Melupakan hubungan antara adik dan kakak diantara mereka. Hubungan yang seharusnya tidak ada. Cinta yang tidak seharusnya. Rafka luluh dengan sikap Nayra. Perhatian tulus itu tidak bisa menyembunyikan rasa senang dihatinya. Tuntutan Abi dan umi yang mengharuskannya belajar tanpa henti, tapi Nayra mampu membuat desakan itu menjadi sesuatu yang bisa dibawa santai. Obrolan dan candaan ringan menemani pembelajaran yang terasa berat menjadi ringan. Hembusan nafas Rafka diwajah Nayra, membuat nya bangun. Trek Lampu kamar milik Nayra menyala secara tiba-tiba. Menampakkan posisi yang tidak wajar. Nayra menatap Rafka dengan terkejut, wajah mereka terlalu dekat. Mata Rafka membola karena lampu yang menyala. Sedangkan Naura, berdiri mematung melihat Rafka dan Nayra berada di ranjang yang sama. "ABANG NGAPAIN DI KAMAR AKU?" Teriak Nayra yang langsung menjauh dari Rafka. Turun dari ranjang seraya menutupi tubuhnya dengan selimut. Rasa terkejut belum hilang. Rafka menunduk seraya memijat kening. "Kalian ngapain? Dalam satu kamar, diranjang yang sama?" Tanya Naura penuh curiga, Rafka menoleh, menatap tajam Naura. "Tutup pintunya Naura." Titah Rafka penuh penekanan. Adik kedua, dari Rafka itu menggeleng. Naura menatap Nayra dan Rafka bergantian. Melangkah masuk lebih dalam tanpa menutup pintu. "Sebenarnya abang ngapain di kamar aku?" Tanya Nayra sedikit takut. Tangannya dengan kuat menggenggam selimut. Rafka menatap Nayra sendu, dia berdiri "Tenang Nay, abang _" Rafka gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa. "Kamu berusaha goda abang, kan Nay?" Tuduh Naura pada Nayra. Naura menggeleng dengan cepat sambil menyugingkan bibir. Rafka seketika memelotot ke arah adik keduanya "Jaga bicara kamu, Naura!" Tegas Rafka membuat Naura kaget. "Gak ada yang menggoda dan digoda disini." Lanjut Rafka meyakinkan. "Terus Abang ngapain di kamar Nayra? Tengah malam? Kalau aku gak liat abang waktu mau ambil air, mungkin kalian udah melakukan sesuatu yang tidak wajar." Ungkap Naura marah. "Jangan Fitnah kak. Aku aja gak tahu bang Rafka ada dikamar aku. Aku yakin, aku udah kunci pintu dari dalam." Nayra berusaha membela diri. Dia tidak mau sampai ada kabar tidak mengenakkan tentang hal yang tidak benar. Ada Rafka di kamarnya saja Nayra benar-benar tidak tahu. Nayra melirik Rafka "Gimana caranya abang bisa masuk ke kamar aku?" Tanya Nayra setengah emosi. Rafka mengalihkan pandangan "Abang, Abang hanya khawatir." Jawabnya tidak jelas. "Bukan itu jawaban yang aku mau. Aku tanya gimana cara Abang masuk ke kamar aku, sedangkan pintunya aku kunci dari dalam?" Ulang Nayra, meminta jawaban yang benar. Naura berdecih "Jangan berusaha salahin abang,Nay! Mungkin kamu nya aja yang lupa kunci pintu." Nayra menatap Naura tidak terima "Sekali pun gak di kunci, ngapain bang Rafka masuk ke kamar aku? Aku udah biasa dengan Abang yang datang ke kamar hanya untuk duduk merenung di sini, aku gak akan larang kalau itu pagi atau siang, ini malem Nau?" Jelasnya. "Aku gak suka ya kamu kayak menyudutkan abang." Nayra menggeleng tidak setuju dengan ucapan Naura barusan "Kamu yang liat, kamu juga menyaksikan, kan?" Naura terdiam. "Ini salah abang!" Rafka membuka suara. Menunduk dalam. Naura dan Nayra memandang pemuda itu secara bersamaan. Rafka membalas tatapan Nayra dengan lembut, mengabaikan Naura yang masih bertanya-tanya. Rafka berjalan sedikit demi sedikit mendekati Nayra, berusaha membujuk untuk tidak marah atau berpikiran buruk tentang prilakunya barusan. "Jangan-jangan kalian ada hubungan? Kalian sadar gak sih, kalian itu adik kakak?" Celetuk Naura dengan suara yang tinggi. "Aku bakal kasih tahu Abi." Putus nya seraya berjalan keluar dari kamar. Rafka panik, segera menyusul Naura. Nayra yang masih bingung pun ikut keluar. Rafka mencekal tangan Naura erat "Jangan macam-macam Naura. Abang dan Nayra gak ada hubungan apa-apa. Jangan bikin Abi marah tanpa sebab. Kamu hanya salah paham." Bisik Rafka. Tidak sadar cekalan di tangan Naura semakin kencang, membuat adiknya itu meringis kesakitan. "Apanya yang salah paham? Liat tatapan Abang ke Nayra aja itu udah jadi bukti, ada apa-apa diantara kalian." "Lepas. Lepasin tangan aku." Pinta Naura menatap tajam Rafka. Nayra datang menghampiri keduanya, cekalan tangan pun terlepas. Rafka tidak ingin di cap kasar oleh Nayra. Naura semakin kesal, "Ikut aku!" Tangan itu menarik Nayra dengan cepat. Penolakan dari Nayra membuat keduanya terjatuh menuruni tangga secara bersamaan. Mata Rafka membelalak. Lampu rumah menyala seketika. "Ada apa ini?" "Astaghfirullah!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.3K
bc

Too Late for Regret

read
345.4K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
147.5K
bc

The Lost Pack

read
457.9K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook