Keith segera menyambar pinggang Rachel, ditarik tubuh Rachel, dibawa kedua kaki Rachel menapak di lantai menara ini. Napasnya memburu, kedua matanya menatap Rachel dengan cemas sekaligus lega.
Sedangkan Rachel tampak shock, terheran melihat Keith. Dia merasa pernah bertemu Keith.
“Maaf Nona,” Keith bersuara lebih dulu, “Aku membuatmu kaget, dan nyaris mencelakaimu.” Dia meminta maaf membuat Rachel terkaget dan nyaris terjatuh dari menara ini.
Rachel tidak menanggapi, hanya mengatur napasnya yang menderu, berusaha memulihkan kesadarannya yang terpecah akibat hampir jatuh dari menara ini. Dia juga mengamati Keith.
Keith pun mengamati Rachel, tidak berkata apa pun lagi, seolah tahu kesadaran Rachel belum pulih seutuhnya saat ini.
‘Alam semesta,’ bisik hati Keith, ‘Baru kali ini aku bertemu perempuan sangat cantik dan menarik seperti ini,’ kembali dia merasa Rachel sangat cantik dan menarik, ‘Apalagi dia sangat wangi.’ terendus olehnya harum tubuh Rachel yang berbaur harum deodorant dan colonge. Keith merasa hatinya berdebar penuh lagu cinta romantis. Dipikirannya bermunculan berjuta puisi cinta. Dipandangannya Rachel itu bidadari dari khayangan. Semua itu tidak mampu diucapnya, hanya berbaur dalam raganya.
Rachel mulai pulih kesadarannya, merasa tangan Keith memeluk pinggangnya. Cepat dia menjauh dari Keith, hendak meninggalkan Keith, tapi cepat tangan Keith menangkap lengannya, ditarik lagi oleh Keith agar menghadap Keith. Rachel mengamati Keith.
‘Siapa pria ini?’ tanya hati Rachel, ‘Kenapa aku kembali bertemu dia di saat aku sedang bergalau?’ terus diamati Keith, ‘Apakah dia salah satu direksi di sini?’ dilihat penampilan Keith yang meski bersahaja, tapi menunjukan Keith itu direksi.
“Jangan takut,” Keith bersuara lagi, “Aku Keith.” diperkenalkan namanya, “Kamu Rachel kan?” dia menyebut nama Rachel.
Rachel memandang Keith dengan heran, dari mana Keith tahu namanya.
“Tadi sewaktu aku menegurmu yang menangis di sebelah lift,” Keith melanjutkan perkataannya, “Kamu pergi begitu saja, melupakan ember yang berisi peralatan kebersihan yang kamu taruh di sisimu.” dijelaskan kronologi awal mengapa dia tahu nama Rachel, “Aku mengenali ember itu milik Carter Oil Company yang ada di divisi cleaning service. Aku ke sana mengembalikan ember, dan bertanya ke Bu Sundari, siapa kamu.”
Jreng, Rachel terkaget mendengar ini, lalu teringat memang ada membawa ember berisi peralatan kebersihan, sebab rencanannya membersihkan lift Direksi.
“Sudah ingat?” Keith merasa Rachel ingat kejadian itu.
Rachel pelan menganggukan kepala, wajahnya tampak kecut,
“Maaf pak, saya teledor saat itu.” Dia minta maaf ke Keith, merasa Keith mengoreksi dirinya, “Maaf juga, saya membuat bapak mengembalikan ember itu ke divisi cleaning service.”
Keith tersenyum mendengar ini, ingin rasanya menjawil hidung mancung Rachel, sebab dipandangannya saat ini Rachel sangat menggemaskan saat tersadar berbuat salah.
“Tidak mengapa.” Keith masih tersenyum, “Aku tahu kamu tidak sengaja berbuat teledor, sebab pikiranmu sedang kalut.”
“Terima kasih, pak.” Rachel sedikit lega, “Pak, kalo begitu, saya pamit kembali ke divisi cleaning service. Saya masih ada pekerjaan.” Dia segera berpamitan ke Keith, sebab merasa risih berdua Keith di menara ini.
Keith mau menanggapi, tapi,
KRING.
Terdengar ponsel Rachel berdering. Rachel segera mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya, dan menjawab panggilan masuk.
“Hallo.” Rachel menyapa di ponsel.
“Acha,” terdengar suara Pak Sukro dari ponsel Rachel, “Acha.”
“Kakek kenapa, Pak?” Rachel langsung tegang wajahnya, “Apa terjadi sesuatu sama Kakek?” dia feeling terjadi sesuatu yang buruk atas Muria, sebab Pak Sukro terdengar berat bicara hanya menyebut namanya saja.
Keith di dekat Rachel, menyimak pembicaraan itu, sambil mengawasi Rachel.
“Huh,” Pak Sukro menghela napas pendek, “Acha, kakekmu malam ini juga harus operasi pemasangan ring di jantungnya. Kalo tidak kondisinya akan semakin melemah.”
Jreng, Rachel terhuyung mendengar ini.
“Rachel!” pekik Keith segera menahan tubuh Rachel, lalu cepat mengambil ponsel dari tangan Rachel, bicara sama si penelpon Rachel, “Hallo.” disapa Pak Sukro. Tangan lainnya mengunci pinggang Rachel.
Pak Sukro terdiam, merasa heran kenapa disapa pria. Tapi bukan Anto mantan kekasih Rachel.
“Maaf, saya Keith,” Keith melanjutkan perkataannya, “Saya rekan Rachel di kantor tempatnya bekerja.” diperkenalkan dirinya sebagai teman Rachel di Carter Oil Company. Diliriknya Rachel yang bersandar di dadanya.
“Oo begitu.” Pak Sukro paham, “Maaf, mana Rachel, Pak Keith?”
“Baiknya bapak katakan ke saya, ada apa sama Kakeknya Rachel saat ini?” Keith tidak mengatakan kalo Rachel shock.
“Baik Pak Keith.” desau Pak Sukro feeling Rachel shock, sebab langsung Keith mengambil alih pembicaraan ini. “Begini Pak Keith, Pak Muria kakeknya Rachel, kondisi jantungnya kian melemah. Maka dokter memutuskan malam nanti melakukan pemasangan ring kedua.”
Jreng, Keith terkesiap mendengar ini, melirik ke Rachel, baru paham kenapa Rachel shock.
“Pak Keith!”
“Lalu apa ada masalah dengan hal itu?”
“Pak Keith, kami tidak berani memutuskan setuju operasi dilakukan malam nanti. Lalu juga biaya operasi belum ada sampai saat ini. Saya baru meminta sekretaris RT untuk menggalang dana untuk operasi tersebut.”
Keith menghela napas,
“Baik, saya paham, Pak.” Keith paham kesulitan Pak Sukro yang tidak bisa mewakili Rachel menyetujui dokter melakukan operasi atas Muria malam ini. “Saya segera telpon bapak kembali. Mohon bapak tetap menunggui Pak Muria.” dia meminta Pak Sukro tetap menunggui Muria.
“Baik Pak Keith.” Pak Sukro setuju, “Maaf, saya mohon bapak menguatkan Rachel. Jadi dia bisa tenang menghadapi situasi ini.”
“Pasti saya lakukan, Pak.” Keith paham permintaan Pak Sukro, “Baik Pak, saya ke Rachel ya.” Diakhiri telpon Pak Sukro, lalu perlahan membawa Rachel duduk di batu tempat Rachel tadi duduk. Diarahkan pandangan Rachel ke dia, “Rachel!” dipanggilnya Rachel, “Rachel, kamu dengar suaraku?” tanyanya cemas, sebab tampak Rachel shock. “Rachel!” dia sedikit menepuk salah satu pipi Rachel.
Rachel tersadar dari shocknya, memandang Keith.
“Rachel,” Keith melihat hal ini, kembali mencoba berkomunikasi dengan Rachel, “Kamu mendengar suaraku?”
Pelan Rachel menganggukan kepala.
Keith menghembuskan napas, sedikit lega.
Rachel lalu berdiri, meski masih sedikit sempoyongan akibat tubuhnya melemas mendengar kabar dari Pak Sukro. Keith cepat berdiri, menopang tubuh Rachel dengan merangkul pinggang Rachel dari belakang.
“Kamu istirahat ya di ruanganku.” Keith bertambah cemas melihat Rachel seperti ini.
Rachel menggelengkan kepala, “Tidak, terima kasih Pak.” Dia melepas pelukan Keith ini, “Saya permisi, Pak.” Dia memutuskan meninggalkan Keith, “Boleh saya minta kembali ponsel saya?” tanyanya menunjuk tangan lain Keith yang memegang ponselnya. Dia meski shock, tahu Keith mengambil ponselnya tadi. “Terima kasih.” Diucap terima kasih saat Keith memberikan ponsel ke tangannya.
“Kamu mau kemana? Ke rumah sakit?” tanya Keith menahan kepergian Rachel.
“Saya permisi, Pak.” Rachel tidak memberi jawaban, bergegas pergi.
Keith menghela napas, segera mengeluarkan Ponselnya, menghubungin Jack,
“Jack!” disebut nama Jack, saat panggilan telponnya direspon Jack.
“Maaf Tuan muda,” Jack langsung bicara ke Keith, “Saya tidak berani menemui anda untuk membawakan kemilan dan minuman yang anda pesan. Tapi saya berjaga di pintu menara.”
Tuing-tuing, Keith mengerucutkan bibirnya, ‘Kamu ketularan Veron lagi ini. Belum aku bicara, kamu bicara duluan.’
“Tuan muda.”
“Siapkan mobil saya di basement sekarang juga!” Keith langsung bicara to the point kenapa menelpon Jack.
“Tuan muda mau kemana?”
“Ke rumah sakit!”
+++
Rachel menahan napas, kedua matanya memandang pintu ruang kerja Robert HRD Direktur di Carter Oil Company ini. Dia mau mencoba meminjam dana dari Robert. Kenapa ke Robert? Sebab dia ingat Robert selama ini baik ke dia, dan dengan mudah menjadikan dia bekerja di Carter Oil Company.
Meski dia tidak pasti, apa Robert berkenan membantu meminjamkan dana itu, dan bisa memotong berapa persen dari gajinya setiap bulan untuk mengembalikan pinjamannya. Tapi dia harus mencoba, sebab Muria butuh malam ini di operasi. Dia tadi kembali menelpon Pak Sukro, minta detail kejadian kenapa dokter memutuskan Muria di operasi malam ini.
Robert di dalam ruangan, menyadari ada orang di luar ruangannya. Dia mengalihkan pandangan keluar, dan melihat Rachel berdiri di depan pintu.
“Acha?!”
Rachel mendengar suara Robert, memasang senyum, dan pelan tangannya mengetuk daun pintu.
“Masuk lah, Cha!” kekeh Robert tersenyum geli melihat ulah Rachel yang mengetuk pintu, mohon izin boleh menemuinya.
Rachel segera masuk, berdiri di hadapan meja kerja Robert, diamati Robert.
Robert tersenyum, “Duduk, Acha.” ditunjuk kursi di dekat Rachel.
Rachel menggelengkan kepala, “Biar saya berdiri saja, Pak.” Dia segan untuk duduk, sebab meski Robert baik ke dia, tapi Robert adalah HRD Direktur. Robert lebih tinggi pangkatnya dari Sundari.
Robert menghela napas, lalu berdiri, perlahan mendekati Rachel.
“Ada apa Acha?” tanyanya sopan ke Rachel. “Bicaralah.” Dia minta Rachel bicara, sebab melihat Rachel berat bicara saat ini.
Rachel menahan napas, lalu dilepasnya,
“Pak, maaf, apa saya boleh memohon sesuatu ke bapak?”
“Memohon sesuatu?” Robert terheran mendengar pertanyaan Rachel ini. “Kamu kenapa? Apa Sundari memarahimu?” dia berpikir Sundari memarahi Rachel. “Atau ada rekanmu yang tidak baik bersikap ke kamu?” dia pun berpikir ada rekan kerja Rachel yang bersikap tidak baik ke Rachel.”
Rachel menggelengkan pelan kepalanya.
“Lalu?”
“Pak, kakek saya anfal, sekarang di ICU rumah sakit.”
Jreng, Robert tersentak kaget mendengar ini.
“Kapan beliau anfal, Cha? Apa Anto sudah kamu beritahu?”
“Tadi pagi, Pak.” Rachel memberi jawaban, “Anto sudah diberitahu, tapi dia memutuskan hubungan kami.”
Jreng, Robert tersentak kaget lagi, “Anto memutuskan pacaran kalian?”
Rachel menganggukan kepala.
“I see.” Robert paham, “Apa kamu menemui saya untuk minta dibantu membiayai kakekmu itu?”
Jreng, Rachel terkaget mendengar ini, dipandangi Robert dengan sorot mata bertanya.
“Acha,” Robert tersenyum, “Saya mengenal Anto lebih lama dari kamu mengenalnya. Saya tahu Anto sering membantumu untuk pembiayaan pengobatan jantung kakekmu itu. Bahkan terakhir Anto meminjamkanmu sejumlah uang untuk biaya operasi pemasangan ring pertama di jantung kakekmu.”
Rachel menghembuskan napas, ‘Astaga Anto!” jerit hatinya, ‘Jadi kamu tukang rumpi juga ya? Masalah kakekku sampai ke telinga pak Robert klien di tempat kerjamu!’ dia merasa kesal sebab Anto mengatakan persoalan Muria ke Robert. Dikira Rachel, Anto menyimpan hal itu, sebab ini kan wilayah pribadi kehidupan Rachel.
“Jangan salahkan dia.” Robert tersenyum melihat Rachel kesal mendengar perkataannya.
Rachel menghela napas.
“Lalu sekarang dokter menyarankan apa untuk menolong Kakekmu yang anfal itu?” Robert mengalihkan pembicaraan.
“Malam ini kakek harus operasi pemasangan ring kedua.”
Jreng, Robert tersentak kaget, lalu,
“Berapa biaya untuk itu?”
“Empat puluh juta, Pak.”
“Dan kamu bermaksud meminjam ke saya?”
“Iya Pak. Saya bersedia dipotong gaji sekian persen untuk menyicil mengembalikan pinjaman tersebut.”
Robert menghela napas, diamatin Rachel.
‘Hmm,’ desisnya merasa Rachel bertambah cantik, ‘Kamu bertambah cantik sejak kerja di Carter Oil Company, meski hanya jadi Office Girl.’ Lalu tersenyum licik, ‘Sepertinya ini kesempatanku mendapatkanmu.’
Rachel merasa risih diamatin Robert.
“Pak.”
“Oke,” Robert bicara lagi, “Saya bersedia meminjamkannya, tapi kamu harus penuhin syarat dari saya.”
“Syarat, Pak? Syarat apa?”
“Kamu temui saya di Hotel saat jam kerja berakhir.”
Jreng, Rachel tersentak mendengar ini, dipandangin Robert.
+ Bersambung +