Rachel terhenyak mendengar keterangan dari petugas administrasi mengenai biaya perawatan Muria di ICU dan operasi pemasangan ring kedua. Dia merasa dunianya semakin hancur. Kemana dia mendapatkan uang sebesar 40 juta secepat mungkin?
Rachel memutar badannya, melangkah gontai meninggalkan loket administrasi rumah sakit ini. Dia kembali ke lantai 4, menemui suami istri Sukro yang ikhlas menemaninya menunggui Muria. Suami istri Sukro saat melihat Rachel, saling berpandangan sejenak, lalu berbarengan menghela napas. Mereka sudah tahu lebih dulu mengenai pembiayaan berobat Muria.
Bu Sukro mendekati Rachel, digandengnya lengan Rachel, dibawa duduk di kursi bersamanya dan Pak Sukro.
“Acha.”
“Bu, darimana saya mendapatkan uang sebanyak itu secepatnya?” Rachel bicara dengan nada putus asa, “Anto tidak berkenan meminjamkan uangnya. Bahkan Anto memutuskan hubungan kami.”
Suami istri Sukro kembali menghela napas bersama, lalu Pak Sukro bicara ke Rachel.
“Acha,” Pak Sukro menegur Rachel, “Kami akan menggalang dana untuk pembiayaan kakekmu.”
Rachel memandang suami istri ini.
“Apa bisa hal itu dilakukan, Pak?”
“Kita berusaha untuk bisa, Acha.”
“Betul, Cha.” Bu Sukro memberi semangat ke Rachel, “Baiknya sekarang kamu segera kembali ke kantormu. Biar kamu tidak kehilangan pekerjaan.” disarankan agar Rachel segera kembali ke Carter Oil Company. “Saya yakin kamu kali ini juga lupa minta izin ke pimpinanmu untuk kemari kan?”
Jleb, Rachel terkesiap mendengar ini, bagaimana Bu Sukro tahu hal itu?
“Tadi pimpinanmu telpon ke ponselmu.” Pak Sukro bicara, “Ibu terpaksa menjawab telpon itu,” dijelaskan kenapa Bu Sukro bicara seperti tadi ke Rachel. “Jadi lekas kembali ke kantormu. Temui pimpinanmu, bicara baik-baik mengenai kepanikanmu itu. Kalo perlu, ajak kemari untuk melihat kakekmu.”
Rachel menghela napas, hal yang tidak akan mungkin terjadi, sebab pimpinan kebanyakan tidak perduli kemalangan stafnya. Kecuali staf tersebut ada orangtuanya yang meninggal. Baru pimpinan menyempatkan diri melayat.
“Ayo Acha.” Bu Sukro membujuk Rachel mengikutin perintah mereka.
“Tapi bagaimana dengan kakek?”
“Kami masih di sini, Acha.” sahut Pak Sukro, “Sudah sana lekas kembali ke kantormu.”
Rachel menghela napas, lalu disalami tangan suami istri itu, baru berpamitan pergi. Dia tidak ada pilihan lain saat ini. Kalo dia memaksa tetap menunggui Muria, dia sangat mungkin kehilangan pekerjaan, sebab sudah tiga kali dia lupa minta izin Sundari.
Saat dia melangkah keluar dari pintu utama, masuk Veron. Veron dengan mudah tahu dimana Muria dirawat, dan segera ke rumah sakit ini untuk mendapatkan selengkap-lengkapnya mengenai sakit yang diderita Muria.
+++
Sundari mengamati Rachel yang menghadapnya. Dia sebenarnya kasihan ke Rachel, sebab saat Rachel berusia 17 tahun sudah menopang kehidupan Muria. Rachel hanya bersekolah hingga SMU saja, lalu bekerja.
“Bu,” Rachel memberanikan diri menegur Sundari, “Saya tahu bersalah. Saya bersedia menerima hukuman apa pun.” dia mengakui kesalahannya.
Sundari menghela napas, ‘Kamu memang bersalah, dan seharusnya dikeluarkan dari perusahaan ini. Namun Tuan Keith memutuskan kamu tetap bekerja di perusahaan ini.’ bisik hatinya, ‘Aneh juga ini, sebab selama aku bekerja di sini, Tuan Keith tidak perduli staf bawah seperti Rachel. Yang penting bagi Tuan Keith, para pekerja mengerjakan tugas dengan disiplin dan bertanggungjawab. Tapi kenapa sekarang Tuan Keith perduli ke kamu? Apa karena kamu cantik? Kapan Tuan Keith bertemu kamu?’
Dia merasa ada yang janggal dengan sikap Keith yang memanggilnya, lantas pria itu memintanya tetap membiarkan Rachel bekerja di Carter Oil Company, kedati dia tahu Rachel sudah tiga kali melanggar peraturan perusahaan dimana pergi tanpa izin pimpinan di jam kerja.
“Bu.”
“Sudahlah,” Sundari menghela napas, “Karena kamu sudah menghadap saya, persoalan yang kamu bikin sudah selesai. Sekarang kamu boleh istirahat makan siang.”
“Ibu tidak menghukum saya?”
“Kamu mau saya hukum, hmm?”
Jleb, Rachel menelan salivanya, lantas menggeleng pelan.
“Ya sudah, saya tidak menghukum kamu.” Sundari tersenyum, “Sudah sana istirahat makan siang, biar kamu tidak masuk angin, dan nanti malam jagain kakekmu di rumah sakit.”
“Baik, Bu.” Rachel paham, “Terima kasih banyak ibu mengampunin saya.”
Sundari tersenyum mendengar ini, ‘Sebenarnya yang mengampuninmu Tuan Keith presiden direktur perusahaan ini.’
+++
Rachel duduk sendiri tidak jauh dari tepi dinding menara gedung Carter Oil Company. Dia tidak memakai waktu makan siang untuk memakan bekal yang dibikinnya di rumah. Dia masih memikirkan dari mana mendapatkan uang untuk berobat Muria. Kedua matanya memandang ke langit, seolah di sana ada Emily yang selalu menjadi tempatnya bersandar selama ini.
“Ibu,” Rachel bicara pelan, kedua sudut matanya mulai meleleh kristal-kristal bening, “Bantu Acha dengan doa Ibu dari surga ya. Agar Acha bisa segera mendapatkan uang untuk berobat kakek.” Dia bicara ke Emily, mohon didoakan Emily. Dia selalu yakin Emily tetap bersamanya.
Sementara di lantai 3, Keith datang ke divisi cleaning service ditemanin Jack. Keith bermaksud mengajak Rachel untuk makan siang di luar. Saat Keith datang, Sundari dan beberapa staf yang sedang makan siang terkaget, segera berdiri,
“Kalian duduk saja!” sergah Keith cepat minta mereka kembali duduk, matanya mencari Rachel di antara mereka.
Para staf terpaksa duduk kembali. Sundari berdiri, mendekati Keith.
“Tuan.” Sundari menegur Keith, “Anda perlu sesuatu kah?”
“Ikut saya sebentar.” Keith sedikit memainkan jari telunjuk tangan kanannya ke udara, isyarat agar Sundari ikut dia yang mau bicara pribadi.
Keith segera berjalan lebih dulu keluar dari ruangan ini. Baru Sundari dan Jack menyusul dibelakang.
“Sundari,” ditegurnya Sundari saat mereka sudah diluar ruangan, “Mana Rachel? Saya tahu dia sudah kembali kemari, sudah menemuimu pula.”
Sundari melongo mendengar perkataan Keith. ‘Tuan Keith menanyakan Acha? Tuan Keith mengawasi Acha? Apakah Tuan Keith kesemsem sama Acha? Atau hanya untuk jadi target pemuas hasrat saja?’
“Sundari!” Keith menegur Sundari, suaranya sedikit keras, sebab Sundari tampak melongo melihatnya, “Dimana Rachel Espanola?” diulang pertanyaannya saat Sundari tersadar.
“Anu Tuan Keith, saya tidak tahu. Karena saya menyuruhnya makan siang, setelah menemui saya tadi. Tapi saya tidak tahu kemana dia pergi makan siang.”
“Coba tanyakan ke staf kamu, apa ada yang tahu Rachel kemana.”
“Baik Tuan.” Sundari menganggukan kepala, lalu bergegas kembali ke ruangan.
Keith dan Jack menanti di luar.
DRRTT.
Ponsel Keith bergetar. Keith segera mengeluarkan Ponsel itu dari saku celananya, lantas membaca pesan masuk yang dari Veron. Veron mengiriminya berkas rincian biaya pengobatan beserta catatan medis milik Muria. Keith tersenyum melihat semua ini, dibalas pesan itu dengan ucapan terima kasih.
Sundari keluar dari ruangan bersama Isa salah satu rekan baik Rachel di perusahaan ini.
“Tuan Keith.” Sundari menegur Keith yang kembali menyimpan Ponsel ke dalam saku celana panjang pria itu.
“Kamu sudah tahu di mana Rachel?” tanya Keith to the point.
“Isa yang tahu, Tuan.” Sundari menunjuk Isa disebelahnya, “Isa, lekas beritahu Tuan Keith.” dimintanya Isa bicara ke Keith.
“I..Iya Bu.” sahut Isa gugup, sebab baru kali ini berhadapan sama Keith.”Tuan, rasa saya, Acha ada di Menara gedung ini.” Dia bicara ke Keith sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke atas.
“Rasa kamu?” tanya Keith heran, “Jadi kamu tahu atau tidak sebenarnya di mana dia? Kamu bilang rasanya, berarti antara tahu dan tidak tahu.”
Jleb, Isa tersentak kaget mendengar perkataan Keith yang tegas ini. Wajahnya menjadi kecut.
“Tuan,” Sundari cepat mengambil alih pembicaraan, “Maaf, rasa yang dirasakan Isa itu keakuratannya delapan puluh persen.”
“Kenapa kamu berkata begitu?”
“Sebab Isa teman dekat Acha di sini. Isa tahu Acha kalo sedih suka menyendiri.”
“Dan tempatnya menyendiri di menara gedung ini?”
“Iya Tuan,” sahut Isa spontan saja, “Ups, maaf Tuan.” Dia tersadar main menyela pembicaraan antara Keith dan Sundari.
“Tidak mengapa.” desau Keith tidak mempermasalahkan kepolosan Isa ini, “Selain menara, apa ada tempat lain yang biasa untuk dia menyendiri?”
“Ada Tuan. Di taman belakang gedung ini. Dia suka ke sana, sebab bisa menyendiri sambil melihat ikan-ikan Koi di kolam yang ada di sana.”
“Ada lagi tempat lainnya?”
Isa menggeleng.
“Ya sudah saya terima keteranganmu.” Keith paham, “Kalian boleh melanjutkan makan siang.” ujarnya ke Sundari dan Isa, “Jack, kamu cari Nona Rachel ke taman, saya cari ke menara,” diperintahkan Jack mencari Rachel di taman, “Kalo dia ada di sana, kamu kirim pesan ke saya.” lanjutnya lalu bergegas pergi, tujuannya ke menara. “Tuhan,” Keith merasa tidak enak hatinya, “Semoga aku menemukan dia. Kalo dia di menara, semoga dia tidak nekat terjun karena sedih kakeknya sakit dan butuh biaya besar.”
+++
Bu Sukro mengamati Pak Sukro yang sedang berbicara dengan seseorang di ponsel sang suami. Dia menghela napas pelan, tampak raut wajahnya antara berharap dan pesimis. Dia tahu menggalang dana untuk biaya operasi pemasangan ring di jantung sangat sulit.
“Pokoknya saya ingin kamu upayakan warga menyumbang berapa pun,” terdengar Pak Sukro memberi instruksi ke orang yang ditelponnya saat ini, “Untuk membantu pembiayaan operasi tersebut. Sejalan dengan itu, saya menemui Pak Walikota, mencoba minta beliau bantu ke dinas kesehatan pusat untuk meringankan pembiayaan tersebut.”
Bu Sukro mendengar semua ini kembali menghela napas pelan, ‘Tuhan, semoga Engkau berkenan menolong Rachel untuk menyelamatkan hidup kakeknya. Rachel anak baik dan bertanggungjawab atas kehidupan kakeknya itu.”
Pak Sukro sudah selesai melakukan panggilan telpon, segera duduk di sebelah Bu Sukro, menghela napas pelan.
“Pak.” Bu Sukro menegur Pak Sukro.
“Kita harus optimis, Bu. Kan kita sudah sepakat menjadikan Acha anak angkat, sebab kita tidak punya anak. Jadi sebagai orangtua angkat, semampunya menolong kesulitan dia.”
Suami istri ini memang tidak punya anak. Mengenal Rachel dari gadis itu berusia lima tahun. Mereka menyukai Rachel yang anak manis. Mereka juga menyukai Emily dan Muria. Dengan ikhlas membantu keluarga itu dengan mengurus Rachel dan Muria di saat Emily berangkat kerja.
“Iya Pak.” Bu Sukro menghela napas, “Ah ya kapan bapak menghadap Pak Walikota?”
“Besok pagi.”
+++
Keith menghembuskan napas lega sebab menemukan Rachel di menara gedung Carter Oil Company. Diamatin Rachel, lalu menghela napas pelan.
‘Dia pasti memikirkan dana untuk operasi kakeknya itu,’ desau Keith dalam hati, ‘Aku harus menolongmu.’ ujarnya bertekad menolong Rachel. ‘Hei kenapa denganku? Baru kali ini aku seperti ini ke perempuan?’ Keith tersadar ada yang janggal dengan dirinya yang membuat dia perduli ke Rachel, ‘Aku baru bertemu kamu beberapa jam ini, tapi entah kenapa merasakan kesedihanmu, dan aku ingin menghapus itu darimu.’ Dia mengoreksi dirinya sendiri.
KRING.
Ponsel Keith terdengar berdering. Keith cepat menjawab panggilan masuk dari Veron, sebab suara ringtone yang terdengar memang di settingnya untuk menandai panggilan masuk bagi Veron di ponselnya ini.
“Ya Veron?” Keith bersuara lebih dulu, lalu sejenak menyimak laporan Veron yang masih di rumah sakit mengawasi Muria, “I see. Jadi saat ini ada Pak Sukro dan istrinya yang adalah RT di wilayah tempat tinggal Rachel? I see. Mereka sedang menggalang dana untuk membantu biaya operasi kakeknya Rachel? Kamu terus pantau hal itu, dan sekiranya memang benar menggalang dana, cari tahu nomor rekening penanggungjawab penggalangan dana tersebut. Oke, makasih ya.” diakhiri panggilan telpon ini, kembali melihat ke Rachel, “Ya sudah aku ikutan menyumbang di penggalangan dana yang dibuka ama Pak Sukro.” kekehnya tersenyum geli, sebab keduluan Pak Sukro untuk menolong Rachel. Perlahan dia mendekati Rachel, tapi
KRING.
Ponsel ditangannya berdering. Dia berhenti melangkah, dan mendecak kesl,
“Hais si Jack ini!” dia tahu yang menelponnya adalah Jack, dari ringtone yang disettingnya khusus untuk panggilan masuk dari Jack di ponselnya. Dia segera menjawab telpon masuk tersebut, “Iya Jack? Iya, kamu tidak ketemu, sebab Rachel di menara. Ya sudah kamu ke menara, berjaga di pintu menara, jangan biarkan siapa pun masuk dulu ke menara, saya mau bersama Rachel sejenak.” kicaunya ke Jack, “Ah ya, kamu lekas minta kemilan dan minuman hangat ke Astari. Buat saya ama Rachel, Jack! Udah kerjakan saja!” dia akhiri telpon Jack, “Kamu mulai ketularan bawelnya Veron!” dia merasa Jack ketularan Veron yang suka bertanya ini itu saat disuruh mengerjakan sesuatu.
Dia lalu simpan ponsel ke dalam saku celana panjangnya, kembali mendekati Rachel. Rachel tidak menyadari kedatangan Keith, masih terlarut memikirkan mendapatkan dana untuk operasi Muria. Keith kini di dekat Rachel, diamatinya, dan tersenyum,
‘Kamu ternyata sangat cantik dan menarik, Rachel.’ dinilai Rachel itu cantik dan menarik, ‘Aura kamu begitu indah. Aku suka perempuan seperti kamu, sebab sangat langka di dunia ini.’
Keith kembali terbawa ke rasa hati yang berbeda dari rasa hatinya ke perempuan-perempuan yang dikenalnya. Pelan Keith merundukan setengah tubuhnya, menegur Rachel,
“Nona! Nona!”
Rachel mendengar suara Keith, segera memutar pandangan ke Keith, terkejut melihat Keith sangat dekat dihadapannya,
“Hua!!!” dia terpekik, spontan berdiri, tapi karena tergesa membuatnya mundur ke belakang, dan tumit kakinya yang terbungkus sepatu kets terhantuk batu tepian dinding menara, “Akhhh!” jeritnya sebab merasa melayang jatuh ke belakang batu tersebut yang adalah udara lepas.
“Rachel!!!” Keith kaget bukan main melihat semua ini.
+ Bersambung +