Berusaha Menemui Kakek

1881 Words
Rachel tergesa meninggalkan gedung Carter Oil Company, lupa meminta izin ke Sundari atasannya. Dia sangat mencemaskan Muria. Sementara Veron menemui Sundari di divisi cleaning service dengan membawa ember yang ditinggalkan Rachel. “Astaga!” Sundari terperanjat melihat Veron datang ke ruangan cleaning service dengan menenteng ember. Dia bergegas menyambut Veron. Di Carter Oil Company, Veron adalah tangannya Keith. Semua direksi dan staff menghormati Veron. “Pak Veron,” disapanya Veron dengan ramah, “Ada apa kemari? Bapak bisa minta Mbak Astari menelpon saya, sekiranya ada yang Tuan Keith perlukan.” Beberapa staff cleaning service yang ada bersama Sundari segera berdiri, dan keluar dari ruangan. Mereka merasa Veron ingin bicara pribadi ke Sundari. “Hehehe.” kekeh Veron tersenyum tipis melihat sikap Sundari,”Apa bisa bu Sundari mengumpulkan semua cleaning service asuhan ibu di sini?” “Mengumpulkan mereka? Ada apa ya Pak? Apa ada dari mereka yang berbuat tidak baik ke Tuan Keith, atau ada yang bekerja asalan di kantor ini?” “Sudah Ibu kerjakan saja yang saya minta.” Veron tidak memberi jawaban dari semua pertanyaan Sundari ini. Dia duduk di salah kursi yang ada di sini. Ember diletakan ke atas meja di depannya. Sundari menghela napas pendek, hatinya menjadi was-was, sebab Veron meminta semua staf cleaning service dikumpulkan, lantas Veron membawa ember milik divisi cleaning service dan Office Boy. Tapi Sundari segan mendesak Veron mengatakan mengapa kemari dan menyuruhnya melakukan semua hal tadi. Dia segera mengerjakan yang diminta Veron. Sementara di lantai tujuh, di dalam ruangan paling besar dan mewah, Keith tidak konsentrasi kerja. Entah kenapa sejak bertemu Rachel, dia terus memikirkan gadis cantik tersebut. Dia penasaran siapa gadis itu, lalu kenapa si gadis menangis. Dia baru merasakan hal ini. Selama ini dia banyak bertemu perempuan, banyak dari mereka ditidurinnya. Namun tidak satu pun membuatnya punya perasaan seperti ke Rachel saat ini. Jack yang bersama Keith merasa aneh melihat Keith tidak konsentrasi kerja. Biasanya begitu Keith duduk di kursi kerjanya, Keith total konsentrasi bekerja. Keith menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, lalu melepas napasnya dengan kasar. “Mana sih Veron? Disuruh lama banget!” dia menggerutuin Veron yang belum juga menghadapnya untuk memberikan laporan mengenai siapa Rachel. Sementara di jalan, Rachel kena apes. Ojek online yang ditumpanginnya mogok, mau pesan armada lain, pulsa internetnya habis pula. Pikirannya menjadi semakin kacau, bahkan sampai menduga terjadi hal lebih buruk ke Muria. Rachel segera mengecek isi dompetnya, ternyata hanya tersisa selembar uang dua puluh ribu dan lima ribu. Uang kembalian pembayaran ojek online tadi. “Astaga!” desaunya, “Ngga bisa pakai taksi ini,” keluhnya karena uangnya tidak memungkinkan dia menyewa taksi yang sliweran di jalan raya di depannya saat ini yang berdiri di trotoar jalan.”Kalo pakai bus, lama sampai ke rumah sakit Sentosa.” keluhnya lagi sadar kalo naik bus, akan memakan waktu lumayan lama untuk sampai ke rumah sakit tempat Muria saat ini berada. Lalu perlahan sebuah Bajaj mendekatinya, dan berhenti di depannya. Supir Bajaj berseru ke Rachel dengan suara sedikit lantang, sebab deru mesin Bajaj sangat bising, ditambah deru mesin kendaraan yang sliweran di jalan. “Neng! Neng!” Rachel mendengar ini, mengalihkan pandangan ke supir tersebut. “Neng butuh naek Bajaj kah?” tanya supir Bajaj menawarkan jasa Bajajnya ke Rachel Rachel memandang supir tersebut dengan pandangan curiga. “Neng tenang saja,” kekeh supir Bajaj seolah menangkap rasa curiga Rachel itu, di mana dia akan berbuat tidak baik ke Rachel, “Saya asli supir Bajaj. Lagi nyari orang yang perlu saya antar dengan Bajaj saya ini.” Rachel menghela napas, lalu, “Berapa Bang kalo sampai ke rumah sakit Sentosa di Jl, Anyelir Raya 22?” ditanya berapa tarif jasa mengantarnya ke rumah sakit tujuannya saat ini. “Dua puluh rebu aja, Neng.” Rachel menghela napas pendek, ‘Ya sudahlah nanti sampai di rumah sakit, aku tarik tunai di ATM, terpaksa mengambil uang makanku minggu ini.’ “Gimana, Neng?” supir Bajaj menegur Rachel. “Oke lah Bang, saya minta di antar ke sana pake Bajaj ini.” “Sip lah!” Sementara di Carter Oil Company, di ruangan divisi cleaning service, berbaris rapih semua staff cleaning service dan office boy. Veron lalu mendekati satu persatu sambil diamatin, mencari Rachel di antara orang-orang tersebut. ‘Aneh,’ bisik hatinya, ‘Kenapa tidak ada gadis itu di antara para staf ini?’ sebab tidak menemukan Rachel di antara para staf tersebut. Sundari melihat Veron mencari seseorang di antara para staf tersebut, diberanikan diri menegur Veron. “Pak Veron, maaf, anda mencari siapa sebenarnya?” “Saya belum tahu siapa dia, Bu.” “Lha?” Sundari melongo mendengar jawaban Veron. “Dia perempuan cantik berprofil blasteran Indonesia dan negara luar,” Veron pun mengatakan tujuannya minta Sundari mengumpulkan semua staf ini, “Rambutnya panjang ikal berwarna hitam kecoklatan tua, dan diekor kuda.” ujarnya menerangkan sekilas sosok Rachel, “Saya tadi bertemu dia di depan pintu lift direksi di lantai tujuh. Dia bawa ember berisi kanebo dan sebotol cairan pembersih. Sepertinya hendak membersihkan lift direksi. Kemudian mendadak dia pergi, melupakan embernya itu.” Sundari dan semua staf langsung memikirkan keterangan Veron ini, mengingat-ingat apa ada sosok seperti yang diterangkan Veron. Lalu salah satu staf mengangkat satu tangan ke atas, dan dengan sopan menegur Veron, “Maaf Pak Veron!” seru staf tersebut, “Apa orang yang Bapak maksud itu Rachel?” “Rachel?” Veron memandang staf itu. “Nama perempuan yang saya cari itu Rachel?” “Iya Pak. Dia satu-satunya staf di sini yang wajahnya kebule-bulean. Lantas dia memang bermaksud membersihkan lift direksi sebab disuruh Mbak Vega.” tutur si staf ke Veron, lantas menunjuk perempuan bertubuh subur seusia Sundari yang 35 tahun. “Ah ya kamu betul, Geng!” sahut Vega perempuan itu membenarkan keterangan si staf ke Veron, “Aku memang minta Rachel mengerjakan tugas itu.” ujarnya teringat memang menyuruh Rachel membersihkan lift direksi. “I see.” Veron paham kini, “Lalu mana Rachel sekarang? Kenapa tidak ada di antara kalian?” Sundari dan semua staf saling berpandangan, tidak ada yang tahu di mana Rachel saat ini. Lalu mereka serempak memandang Veron, menggelengkan kepala pelan, artinya kami tidak tahu di mana Rachel saat ini. Veron menghela napas, ditegurnya Sundari, “Bu, coba hubungin ponselnya. Biar saya tahu kemana dia, dan kenapa tidak ikut berkumpul di sini.” “Baik, Pak.” Sundari paham, segera dia hubungin ponsel Rachel, “Hallo Acha!” dia tersambung dengan ponsel Rachel. “Ya Bu Sundari?” Rachel sudah sampai di rumah sakit Sentosa, tergesa membayar Bajaj, lantas dengan setengah berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit. “Kamu di mana sekarang? Kenapa tidak ada di kantor?” Jleb, Rachel tersentak mendengar ini, berhenti berlari, lalu wajahnya tampak kecut, ‘Astaga!” desaunya, ‘Aku lupa minta izin ke Bu Sundari kalo mau ke rumah sakit! Celakalah aku!’ dia tersadar pergi dari Carter Oil Company tanpa meminta izin Sundari. “Acha!” “Maaf Bu, saya main pergi di jam kerja,” keluh Rachel kecut, “Kakek saya pingsan dan sekarang di rumah sakit. Bahkan kakek saya diharuskan operasi pemasangan ring kedua di jantungnya.” “Astaga Acha!” desau Sundari sedikit mengelus dadanya, “Ini sudah ketiga kalinya ya kamu pergi di jam kerja tanpa minta izin ke saya!” diomelinnya Rachel, “Ya sudah, kamu temui kakekmu itu, dan segera kembali ke kantor. Temuin saya!” ujarnya kesal, lalu mengakhiri telponnya, “Ini anak mau kerja apa ngga sih?” dia menggerutu, tidak sadar ada Veron di dekatnya. “Bu Sundari!” Veron menegur Sundari, “Ada apa?” “Ah maaf pak Veron!” Sundari tersadar menggerutu di depan Veron, “Acha tidak ada di kantor karena kakeknya masuk rumah sakit lagi.” “Acha?” “Maksud saya, Rachel. Acha itu nama panggilannya.” “I see.” Veron paham, “Ya sudah bubarkan mereka semua, lalu anda ikut ke ruangan saya sekarang!” Kembali ke Rachel, dia tampak keluar dari IGD, bergegas ke tangga evakuasi yang berada di sebelah IGD, lantas dinaikin tangga itu setengah berlari. Dia sudah mendapat keterangan dari petugas IGD bahwa Muria dipindah ke ruang ICU. Pak Sukro membayarkan uang muka rawat inap Muria di ICU. Meski Pak Sukro tidak memberi Rachel kartu berobat bersubsidi Pemerintah, dia tidak tega melihat Rachel kerja keras demi Muria. Dia dan istrinya sepakat membantu Rachel semampunya. Mereka tidak pernah minta Rachel mengembalikan bantuan itu. Rachel akhirnya sampai di lantai 4, tempat di mana ruang ICU berada. Rumah sakit ini tempat Muria berobat rutin semasa Emily masih hidup. Biaya berobat di sini tergolong lumayan mahal, namun penanganan medis ke pasien sangat baik. “Bu Sukro!” Rachel melihat Bu Sukro duduk di kursi tunggu tidak jauh dari ruang ICU. Dia segera berlari ke perempuan itu yang melihatnya, dan bersama suami berdiri menantinya. “Bu Sukro! Pak Sukro!” Rachel sampai juga dihadapan kedua orang ini yang adalah RT di wilayah tempat tinggal Rachel. “Maaf saya menyusahkan kalian lagi.” Bu Sukro tersenyum mendengar ini, diusap sayang wajah Rachel, “Tidak perlu sungkan, Acha,” ujarnya tulus, “Ayo lekas temuin kakekmu. Dia terus bertanya di mana kamu.” disuruhnya Rachel segera menemui Muria di ruang ICU. Rachel menganggukan kepala, segera masuk ke ruang ICU. Ditemui dulu suster jaga, lantas memakai seragam ICU yang diberikan suster jaga, baru mendekati Muria ditemanin suster itu. Pelan suster jaga membangunkan Muria, “Pak Muria. Pak! Ini Acha cucu anda sudah datang.” Diberitahu bahwa Rachel sudah datang. Pelan kedua mata Muria terbuka, lalu mencari sosok Rachel cucu semata wayang yang sangat disayanginya. Rachel segera ke sisi Muria, digenggam tangan kanan Muria. Suster jaga menyingkir, memberi kesempatan agar kakek dan cucu berbicara sejenak. “Kakek, ini Acha.” “Iya, nak.” sahut Muria pelan dengan senyum lega, “Maafin Kakek ya.” “Untuk apa, Kek?” “Kakek terus menyusahkanmu. Sama seperti kakek menyusahkan ibumu dulu.” “Hais kakek bicara itu mulu,” Rachel tersenyum geli mendengar Muria menyesal menyusahkan Rachel.“Acha kan cucu kakek. Mana ada Acha merasa kakek menyusahkan Acha?” Muria tersenyum mendengar ini. Dia beruntung Rachel sangat baik hatinya seperti Emily. Pelan diusap sayang wajah cucu kesayangannya ini. “Makasih, Acha.” Rachel menganggukan kepala, “Sekarang kakek istirahat ya. Acha urus dulu administrasi rawat inap kakek.” “Acha, kakek mau pulang saja.” “Ngga boleh, Kek. Sudah kakek tenang saja. Acha urus semuanya.” +++ “Apa katamu?!” Keith memandang Veron yang datang membawa laporan mengenai Rachel, “Gadis itu sedang di rumah sakit karena kakeknya anfal?” dia sampai terlonjak berdiri dari kursinya. “Iya Tuan Muda.” sahut Veron, “Itu informasi dari Bu Sundari yang saya suruh menelpon Nona Rachel, sebab saya tidak menemukan Nona Rachel di antara para staff cleaning service dan office boy.” Keith terhenyak mendengar ini, duduk kembali, disandarkan punggungnya. Dia feeling Rachel menangis karena Muria anfal. Satu tangannya diremas-remas, wajahnya tampak sedih, seolah ikut merasakan kesedihan Rachel itu. “Tuan Muda.” Veron menegur Keith, “Anda masih mau mendengar informasi mengenai Rachel?” “Veron,” Keith tidak memberi jawaban, “Coba kamu cari tahu di mana kakeknya itu di rawat. Selidiki selengkap-lengkapnya mengenai penyakit kakeknya itu, dan apakah sudah diselesaikan administrasinya.” “Untuk apa semua itu, Tuan Muda?” + Bersambung +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD