Vienna dan Veron yang diluar kamar Keith, saling memandang, lalu berbarengan menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Feeling mereka benar, Keith tergoda aura Rachel, dan kini Keith meniduri Rachel. Veron membawa Vienna ke ruang tengah lantai tiga ini.
“Nyonya.”
“Veron,” Vienna memandang Veron dengan ekspresi antara lega dan gregetan, “Coba lihat itu Tuan Muda kamu,” ditunjuk kamar Keith yang tidak jauh dari ruang tengah ini, “Tidak bisa melihat gadis cantik, dimangsanya.” desaunya merasa penyakit playboy Keith belum hilang.
Veron tersenyum geli mendengar ini,
“Nyonya tenanglah.” Dia bicara, “Ini untuk terakhir kalinya Tuan Muda berkelakuan seperti itu, sebab Tuan Muda jatuh cinta ke Nona Rachel.”
“Tapi apa Rachel juga begitu?”
“Itu saya tidak bisa menjawab Nyonya. Sebab seharian ini, Nona Rachel terfokus ke Tuan Muria.”
“Kalo begitu kita doakan bersama, Rachel tidak menolak cinta Keith.”
“Semoga Nyonya, sebab dari Jack, saya tahu Nona Rachel bukan perempuan yang mudah menerima cinta, apalagi dia hari ini baru diputusin kekasihnya.”
“Rachel sudah punya kekasih?”
“Hari ini sudah tidak punya, Nyonya.”
“Perjuangan Keith tidak akan mudah ini, sebab Rachel masih broken heart.”
“Nyonya tenanglah, Tuan Muda itu gigih kalo dia sudah menetapkan pilihan.”
“Semoga.” desau Vienna tersenyum tipis.
“Permisi Nyonya.” terdengar suara Jack menegur Vienna.
Vienna dan Veron serempak mengarah ke Jack,
“Ada apa, Jack?” tanya Vienna lebih dulu ke Jack.
“Ada Tuan Walter, Nyonya.” sahut Jack, lalu menggeser dirinya ke sisi lain, kemudian terlihat pria seumur Brylee berwajah gagah dan profilnya mirip sekali sama Keith.
Vienna segera berdiri, mendekati Walter, dicium sekilas pucuk tangan Walter, dan mendapat cium sayang dikening dari Walter.
Veron segera membawa Jack pergi.
“Kamu tumben kemari tidak menelponku dulu?” Vienna membawa Walter duduk di sofa.
“Maaf sayang.” Walter meraih tangan Vienna, digenggamnya, “Ah ya mana Keith?” dialihkan pembicaraan.
“Kamu kemari mencari Keith?”
“Iya Vie. Anak itu mendadak menyuruh Astari membatalkan miting dengan Salvador Company.”
“Apa?!” Vienna terkejut mendengar ini, “Astaga!” dia tersadar sesuatu,”Kamu benar, hari ini Keith seharusnya miting di perusahaanmu, sebab Keith sangat inginkan proyek Resort di Semenanjung Malaka.” Dia teringat Keith memang ada miting dengan Walter mengenai proyek Resort tersebut, sebab Keith sangat menginginkannya.
“Lalu mana anak itu sekarang?”
JLEB.
Vienna terkesiap mendengar pertanyaan Walter, lalu tersenyum kecut.
“Ada apa Vie?” tanya Walter tidak mengerti kenapa Vienna tersenyum kecut.
Vienna menghela nafas, kemudian menceritakan mengenai apa yang Keith alami seharian ini, setelah itu menunjuk ke arah kamar Keith.
Walter menepuk keningnya sendiri,
“Hadeuhh!” desaunya panjang, “Anak ini kenapa niru aku dulu ya? Aku juga playboy, tidak nahan ke kamu, kejadian deh!” dia merasa Keith menirunya saat dia masih muda. “Kenapa juga dia meniru Brylee yang sebelas dua belas denganku sewaktu Brylee muda?” dia pun merasa Keith meniru Brylee yang juga playboy, dan begitu mengenal Vienna, langsung menubruk Vienna.
“Like father like sons, I think.” sahut Vienna nyengir mendengar desauan Walter. “Tapi kamu tenang saja, Keith sudah berjanji segera menikahi Rachel jika terjadi hal yang terjadi saat ini di kamarnya.”
Walter menepuk sekali lagi keningnya, “Tapi apa Rachel mau?” tanyanya, “Vie, kamu bilang Rachel baru saja terlepas dari upaya pemerkosaan, lalu mendadak Keith mesrain dia, apa Rachel mau sama Keith yang tidak ada bedanya dengan orang yang ingin memperkosanya?” diberinya Vienna menjelasan, sebab Vienna memandangnya heran mengapa dia pesimis Rachel tidak menerima Keith.
JRENG.
Vienna tersentak mendengar ini, lalu menghela nafas.
“Kita doakan bersama Rachel mau sama Keith.”
Sementara di kamar, Keith merasa nikmat menggayuh rudalnya di sumur Rachel yang sudah diperawaninnya ini. Apalagi Rachel merespon baik gairahnya. Bahkan dia sangat b*******h beradu bibir dengan Rachel sambil tetap menggayuh rudalnya.
‘Sayang,’ desau Keith, ‘Seumur hidupku, bersamamu saat ini sangat nikmat.’ dia merasa dadanya tersesakin gairah yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. ‘Aku tidak akan melepasmu untuk pria mana pun, Acha. Kamu sudah milikku seutuhnya.’
Keith melepas ciuman mereka, ditatapnya Rachel yang tersenyum ke dia. ‘Rachel, alam semesta sangat baik padaku, sebab mempertemukanku denganmu bidadari tercantik dalam hatiku.’ Dia kembali meraupi ganas bibir Rachel yang ranum dan manis rasanya.
Rachel membalas ciuman ini masih dalam keadaan antara sadar dan tidak. Obat perangsang yang dicekokkan anak buah Robert berkualitas sangat bagus, dan bikin perempuan akan b*******h sangat lama, sehingga Keith bisa semalaman berpuas diri bersama Rachel.
“Argghhh!”
Terdengar lepas erangan mereka.
Keith menghempaskan wajahnya disisi leher Rachel, nafasnya memburu.
“Sayang!” serunya pelan ditelinga Rachel, “Kamu membuatku gila saat ini. Nikmat sangat memadu bersamamu.”
Rachel tidak menjawab perkataan Keith, digulingkan Keith ke bawahnya, lalu diraup bibir Keith dengan liar. Rachel masih belum puas sepertinya. Keith melepas ciuman ini, ditatap gemas Rachel.
“Masih belum puas, hmm?” dijawil sayang hidung Rachel, “Baik, kupuaskan kita berdua sampai sepuas-puasnya.” kekehnya. ‘Ternyata obat itu sangat kuat pengaruhnya bagi perempuan.’ Bisik hatinya merasa gairah Rachel begitu kuat saat ini untuk bercinta dengannya. ‘Makasih Robert, sebab Aku yang mendapatkan penuh gairah Rachel.’ Dia berterima kasih ke Robert, sebab saat ini dia yang menikmatin gairah Rachel.
Keith lalu bikin Rachel duduk di atasnya, dimana rudalnya didalam sumur Rachel.
“Shake rudalku, sayang. Up down.” Keith mengajari Rachel jurus bercinta, sebab Keith tahu Rachel belum berpengalaman sama sekali urusan ranjang. “Yup begitu.” Dia lega Rachel mengikuti ajarannya, ‘Terus sayang. Up down. Yup terus begitu.” Keith terus membimbing Rachel, “Hei kamu cepat paham ini.” kekehnya sebab merasa Rachel mulai agresif mengocok rudalnya ini, “Argghh enak ini sayang. Terus sayang.” rintihnya merasa yang dilakukan Rachel nikmat. Kedua tangannya memegangin panggul Rachel, menjaga gadis ini agar tidak terpelanting akibat melakukan gerakan yang mulai ful power ini.
“Rachel..akhh..enaknya ini sayang.” racaunya sebab Rachel entah kenapa memutar sumur dipermukaan rudalnya, “Ternyata obat itu, membuat perempuan mampu berimajinasi hebat dalam bercinta.” Dia merasa yang dilakukan Rachel ini akibat obat perangsang itu. “Tapi ke depannya, aku mau kita tanpa itu. Kuyakin kita mampu bermain seliar ini tanpa itu.”
Dan mereka terus bermain sampai kelelahan, dan Keith tidur memeluk Rachel dengan mesra. Sehelai selimut menutupi tubuh polos mereka. Keith tampak bahagia saat ini. Seumur hidupnya sebagai playboy, baru saat bersama Rachel merasa bahagia.
+++
Keith bangun lebih dulu dari Rachel. Dipandangin Rachel dipelukannya. Tampak olehnya wajah Rachel sangat cantik. Keith tersenyum, teringat kemarin saat pertama bertemu Rachel. Keith merasa bertemu Bidadari, membuatnya melakukan apa pun demi melepaskan Rachel dari kesedihan. Dan terakhir membuatnya tidak mampu menahan hasratnya untuk perawanin Rachel.
Pelan Keith mencium sayang pucuk kepala Rachel, lalu memindahkan kepala Rachel ke bantal, baru perlahan turun dari tempat tidur. Dia segera ke kamar mandi, disegarkan badannya. Saat mandi, terbayang kemesraannya bersama Rachel. Sayangnya Dia tidak membawa Rachel mandi bersama. Tapi tidak mengapa, masih banyak waktu untuk melakukan hal itu, semisal Rachel berkenan membuka hati untuk Keith.
Setelah mandi, Keith melihat Rachel masih pulas tidur, dan tampak tenang. Keith pun keluar dari kamarnya, mau ke Bik Sumi untuk dibikinkan sarapan untuknya dan Rachel. Saat itu matanya melihat shopping bag kain tertaruh di lantai tepat di sebelah pintu. Keith segera mengambilnya, lalu mengecek isinya. Dia tersenyum sebab ada pakaian wanita lengkap dengan perlengkapan mandi dan kosmetik. Lalu menemukan pula sehelai kertas bertuliskan tangan Vienna.
Keith,
Ini semua untuk Rachel ya.
Keith merasa lega melihat Vienna mendukung upayanya bertanggungjawab atas Rachel. Segera dia taruh kiriman itu ke dalam kamar, lalu bergegas ke Dapur di lantai dasar.
“Morning anak Mama.” terdengar suara Vienna menyapa Keith.
Keith segera memutar pandangan matanya, mencari sosok Vienna, lalu mendekati ibunya ini yang sedang bikin Sandwich Daging Asap kesukaan Keith. Tapi kali ini bikin dua porsi, sebab yang satu porsi untuk Rachel. Matanya juga melihat Walter disisi Vienna sedang membaca koran pagi.
“Om Walter?” Keith terheran mengapa ada Walter sepagi ini, meski ini bukan pemandangan pertama dilihatnya, sebab Walter semasa Brylee masih hidup, sering ke rumah ini pagi hari, atau menginap di rumah ini. Brylee mengenalkan Walter sebagai sepupunya.
Walter menurunkan korannya yang sebenarnya tidak dibaca. Dia sengaja membentangkan koran saat Keith terlihat olehnya masuk ke dapur ini, agar kesannya dia sedang membaca koran, bukan sengaja menunggu Keith. Walter lalu tersenyum dan,
TUK.
Walter menjitak kening Keith, ditatap gemas anak semata wayangnya ini yang belum tahu mengenai hal itu. Sebab Vienna meminta identitas asli Keith yang anak kandung Walter tidak diberitahu ke Keith. Meski dulu Brylee minta Walter mengatakan hal itu ke Keith setelah dia wafat.
Vienna mengernyitkan sedikit wajahnya, merasa Keith segera diomelin Walter. Yang dilakukan Walter sama seperti yang dilakukan Brylee. Sebelum mengomelin Keith, pasti menjitak kening Keith.
“Anak ini,” Walter sedikit mengelus dadanya, wajahnya terlihat gregetan, “Kamu merengekin Om untuk bisa mendapatkan proyek Resort di Semenanjung Malaka, eh malah kemarin membatalkan miting sama Om untuk proyek itu.”
JRENG.
Keith tersentak, lalu teringat mengenai hal yang dikatakan Walter, kemudian memandang kecut Walter.
“Maaf Om.” keluh Keith memelas, “Keith seharian kemarin,”
“Sibuk mengurus gadis malang bernama Rachel Espanola?” Walter cepat menyalip perkataan Keith, “Om tanya Mamamu semalam.” Walter tidak membiarkan Keith bertanya kenapa tahu mengenai Rachel.
“Maaf Om, habis,” Keith menjadi kikuk, “Habis,”
“Habis,” Walter menyambung kalimat Keith, “Kamu jatuh cinta sama Rachel, hmm?”
Keith nyengir kuda mendengar ini.
“Kamu yakin jatuh cinta sama gadis itu?”
“Sangat yakin, Om.”
“Bikin kamu mesrain dia?”
JLEB.
Keith menelan salivanya, merasa tertohok dengan pertanyaan Walter.
“Keith,” desau Walter, kembali dijitak kening Keith, “Kamu tahu apa pura-pura tidak tahu, Rachel baru saja lepas dari upaya pemerkosaan, lalu kamu mesrain dia, apa itu hal baik?”
JRENG.
Keith tersentak mendengar ini, lalu menghela nafas. Walter dan Brylee sama tegas dan streng dalam mendidik akhlak Keith. Boleh saja Keith playboy, asalkan tidak main dengan perempuan yang sedang tidak berdaya seperti Rachel.
Vienna menghela nafas, dia tidak bisa membela Keith, sebab yang dirasakan sama seperti yang dikatakan Walter. Namun dia tidak bisa mencegah Keith untuk tidak mesrain Rachel, karena posisinya berada diluar kamar Keith.
Walter menghela nafas, “Keith, kamu tidak akan mudah mendapatkan Rachel setelah apa yang kamu lakukan ke dia.”
JRENG.
+++
Di dalam kamar Keith, Rachel terbangun. Pandangan matanya masih nanar, merasa kepalanya pusing, dan badannya pegal-pegal. Dia lalu mengamati dirinya, sejurus kemudian terlonjak bangun.
“Astaga!” desaunya sebab menemukan dirinya tidak memakai sehelai benang pun, “Apa yang terjadi sama Aku?” dia menjadi panik. “Tenang Rachel, tenang dulu.” Dia mencoba menenangkan dirinya, agar mengingat terakhir dia mengalami apa, “Astaga!” dia teringat apa yang dialaminya terakhir, “Aku kan diculik Pak Robert, mau diperkosanya. Tapi kenapa sekarang aku ada di kamar mewah ini? Ini kamar siapa?” dia menyisiri kamar ini dengan pandangan kedua matanya.
Dia lalu segera membungkus badannya dengan selimut, tergesa turun dari tempat tidur, lalu terpekik,
“Auhh!” dia merasa bagian sensitifnya perih, ditambah pula luka dibadannya, “Astaga!” desaunya, “Pak Robert kejam sekali. Dia inginkan perempuan melayaninnya, namun dianiaya dulu perempuan itu.” Dia teringat bagaimana Robert menganiaya dirinya. “Apa Pak Robert yang menggauliku semalam?” dia menjadi penasaran apakah Robert berhasil mendapatkan dirinya. “Tapi ini bukan kamar di hotel itu.” Dia sekali lagi menyisiri kamar Keith.
Dia menghela nafas, matanya mencari pakaian dan barang-barangnya. Namun hanya ada sehelai baju tidur yang tergeletak bersama handuk milik Keith. Keith semalam melempar baju tidur itu ke lantai, dan Rachel pun melempar handuk yang ditarik dari badan Keith ke lantai.
Rachel terpaksa memakai baju tidur itu, lalu berjalan pelan keluar dari kamar ini, sebab semua lukanya membuat dia nyeri. Dia mencari jalan untuk pergi dari rumah ini, sampai akhirnya bertemu Keith yang keluar dari lift. Dia tertegun melihat Keith yang membawa baki berisi sarapan.
“Pak Keith?!” dia masih mengenali Keith, “Kenapa Anda ada di sini?” dia terheran melihat Keith, masih tidak tahu ini rumah warisan milik Keith dari Brylee Carter ayahanda Keith.
“Sudah bangun rupanya?” Keith belum menjawab keheranan Rachel, “Kalo begitu baiknya kita sarapan dulu ya, sambil kujelaskan apa yang ingin kamu ketahui kenapa kamu di sini.” Dia feeling Rachel mulai menyadari berada di tempat asing.
“Anda jelaskan sekarang saja, Pak Keith.” pinta Rachel sebab mengapa ada Keith di rumah ini. “Saya di mana saat ini?” dipandangnya Keith dengan tatapan bingung sekaligus takut.
+ Bersambung +