Ketakutan Muria

2056 Words
Keith mengamati Muria yang terbaring tenang di bed ICU saat ini. Dia minta tolong Pak Sukro agar membantunya mendapat izin dari suster jaga untuk membesuk Muria ke dalam ICU. Keith ingin melihat sosok nyata Muria kakeknya Rachel. ‘Kasihan Rachel,’ bisik hati Keith, ‘Dia harus menanggung biaya hidup kakeknya ini.’ Dia lalu menghela nafas, ‘Apa Rachel tidak ada keluarga kah selain kakeknya?’ Kenapa Keith bertanya hal ini? Sebab Veron hanya mendapat informasi mengenai identitas Rachel saja yang ada di curiculum vitae di data base divisi cleaning service dan office boy. Mengenai siapa keluarga Rachel tidak Veron tanyakan, sebab Keith hanya minta mencari tahu siapa Rachel di Carter Oil Company dan kenapa Rachel ditemukan Keith sedang menangis. Meski Keith mengatakan Veron mencari tahu selengkap-lengkapnya mengenai Rachel, namun Veron tahu Keith hanya sebatas ingin tahu identitas Rachel. Keith pelan menyentuh lengan Pak Sukro yang mendampinginnya saat ini, “Pak Sukro, bisa bicara sebentar di sana?” Keith langsung bicara saat Pak Sukro melihat ke dia, sambil menunjuk desk suster jaga. Pak Sukro menganggukan kepala, lalu memberi isyarat dengan tangannya agar Keith ikut bersamanya ke tempat yang Keith tunjuk. Keduanya segera ke sana, tapi sedikit jauh dari desk suster jaga, lalu, “Ada apa Pak Keith?” Pak Sukro membuka pembicaraan. “Maaf sebelumnya,” Keith mencari kalimat yang baik untuk menyampaikan rasa penasarannya apa Rachel ada keluarga, atau tidak. “Di mana orangtua Rachel ya?” JRENG. Pak Sukro tersentak mendengar pertanyaan Keith ini. Lalu menghela nafas. “Pak Keith, Ibunya Acha sudah meninggal dunia, saat Acha berusia 17 tahun, dan baru lulus dari SMU.” “I see. Lalu ayahnya?” “sepengetahuan saya, ayah Acha pergi meninggalkan mereka, saat Acha berusia 3 tahun.” “Meninggalkan? Maksudnya meninggal dunia?” Pak Sukro menggeleng pelan, “Bukan, Pak Keith. Ayahnya Acha menikah sama perempuan lain. Ibunya Acha ditinggalkan begitu saja, tanpa dicerai.” JRENG. Keith tersentak mendengar ini, lalu menghela nafas, “Pantas Rachel kebingungan saat kakeknya anfal dan butuh di operasi.” Dia sekarang menjadi lebih paham mengapa Rachel menangis, dimana lebih dari karena Muria anfal dan butuh biaya untuk operasi. Pak Sukro menghela nafas, lalu, “Tapi Acha perempuan yang tegar dan ikhlas dalam hidup, Pak Keith. Dia tidak ada mengeluh sedikit pun menanggung hidupnya dan Pak Muria. Dia bekerja apa saja, demi untuk menghidupi mereka.” “Saya lihat itu di auranya, Pak.” Keith setuju dengan perkataan Pak Sukro.”Maaf Pak Sukro, Rachel kerja apa saja, maksudnya jadi office girl di kantor?” “Pak Keith, Acha sebelum menjadi office girl di kantornya yang sekarang, pernah bekerja menjadi pramuniaga, cleaning service, tukang cuci gosok, dan lainnya.” “I see. Maaf, pendidikan Rachel sampai di mana?” “Hanya sampai SMU, Pak Keith. Sebab setelah ibunya meninggal, dia memilih bekerja untuk membiayai hidupnya dan Pak Muria.” “I see.” Lalu Muria terbangun, kedua matanya tampak cemas, dia pun mengerahkan tenaganya untuk memanggil suster jaga. “Suster! Suster!” Keith yang mendengar lebih dulu suara Muria, segera mendekati Muria, wajahnya sedikit cemas, sebab suara Muria terdengar lirih. Pak Sukro dan suster jaga melihat Keith tergesa mendekati Muria, segera menyusul Keith. Suster jaga segera mengecek detak nadi Muria, dan alat pemantau jantung di monitor disebelah bed. Muria melihat Keith yang datang memenuhi panggilannya. Diamati Keith, sebab baru pertama kali melihat Keith. “Pak Muria.” Keith menegur Muria, satu tangannya pelan menggenggam tangan Muria, “Bapak kenapa bangun?” tanyanya sebab tadi Pak Sukro bilang dokter sengaja menyuntikan obat penenang jantung, agar Muria beristirahat lebih tenang. “Bapak apa merasa sakit?” tanyanya cemas, seolah dokter bertanya ke pasien. “Anda?” Muria pelan bersuara, “Anda siapa? Anda dokter kah?” dia menanyakan siapa Keith, mengira Keith seorang dokter. “Bukan Pak Muria.” sahut suster jaga cepat memberi jawaban, “Beliau ini sahabat Acha, Pak Muria.” Karena Pak Sukro mengatakan bahwa Keith adalah sahabat Rachel, sangat ingin membesuk Muria. Ini juga karena Keith sudah membayar semua pembiayaan berobat dan operasi untuk Muria. Muria sedikit terheran mendengar ini, diamati Keith. Perasaannya, Rachel dari kecil tidak ada sahabat, meski punya teman. Rachel jarang bercerita mengenai teman-temannya ke Muria atau Emily. “Pak Muria,” Keith menegur Muria,”Saya Keith, sahabat Acha di kantor tempatnya bekerja saat ini.” Diperkenalkan dirinya ke Muria. “Oo begitu?” Muria baru paham. “Apa Acha memberitahu anda bahwa saya dirawat di sini?” “Iya, Pak.” Sahut Keith sedikit berbohong. Padahal dia tahu dari Veron. Veron tahu dari Sundari. “Lalu mana Acha? Kenapa tidak ikut kemari?” “Acha masih ada pekerjaan, Pak.” “Maaf Pak Keith,” suster jaga menegur Keith, “Saya mau cek Pak Muria, kenapa beliau terbangun. Detak jantungnya sedikit lebih cepat saat ini. Ada yang menganggu pikirannya ini.” “Silahkan suster.” Keith pelan melepas tangan Muria, hendak menyingkir dari hadapan Muria, tapi cepat tangan Muria menangkap tangannya, “Pak Muria?!” Keith merasa heran kenapa Muria melakukan ini, “Ada hal yang ingin bapak tanyakan ke saya?” tanyanya feeling Muria masih ingin bertanya ke dia mengenai pertemanannya dengan Rachel. “Mas Keith,” Muria memanggil Keith dengan ‘Mas Keith’, “Tolong Acha!” ujarnya memandang Keith dengan cemas dan penuh ketakutan. “Tolong Acha?” tanya Keith heran, namun otak cerdasnya menangkap kecemasan dan ketakutan Muria, “Acha kenapa, Pak?” tanyanya menjadi cemas. “Tolong Acha! Tolong Acha!” Muria mengulang perkataannya sampai dua kali, “Ada yang berbuat jahat ke dia.” “Ah Pak Muria,” sela suster jaga, “Anda kan tadi dengar Pak Keith bilang Acha masih kerja di kantornya. Mana ada di sana yang jahatin dia.” Dia berusaha menetralkan kecemasan dan ketakutan Muria, agar detak jantung Muria tidak bertambah cepat. Muria menggenggam tangan Keith, ditatapnya Keith penuh harapan. “Tolong Acha, Mas Keith! Tolong dia!” rengeknya terus minta Keith menolong Rachel. “Baik,” Keith menyanggupi, “Sekarang bapak tenang ya. Saya akan tolong Acha.” Dia balas genggaman tangan Muria, “Doakan dia pasti tertolong.” “Tolong Acha, Mas Keith!” Muria hanya berkata minta Keith menolong Rachel, “Lekaslah, Mas Keith!” Keith menganggukan kepala, entah kenapa dia yakin Muria merasakan terjadi sesuatu yang buruk ke Rachel. Dia lepaskan tangan Muria, lalu melihat ke Pak Sukro. “Pak, saya titip Pak Muria ya.” Dia menitipkan Muria ke Pak Sukro. Pak Sukro menganggukan kepala, “Iya Pak Keith. Lekaslah. Pak Muria jika berkata begitu pasti memang ada kejadiannya.” ujarnya, “Beliau ada indera keenam.” lanjutnya menjelaskan bahwa Muria memiliki indera keenam. Keith menganggukan kepala, lalu bergegas keluar dari ICU. Saat baru keluar, Veron langsung menghadangnya. “Ada apa, Veron?” tanyanya to the point ke Veron yang tampak cemas, apalagi tangan Veron memegang ponsel, “Ada kabar apa?” “Anu Tuan Muda,” Veron tampak berat menyampaikannya, “Jack bilang Nona Rachel diculik beberapa pria tidak dikenal saat keluar dari gedung Carter Oil Company.” JRENG. Keith tersentak mendengar ini, merasa yang dikatakan Muria benar, Rachel dalam bahaya, perlu pertolongannya. “Jack kenapa telpon kamu? Kenapa tidak telpon saya?” “Ponsel anda kan sama saya, Tuan Muda.” Veron memamerkan ponsel ditangannya yang adalah milik Keith, “Kan Tuan Muda tadi menitipkan saat mau besuk Tuan Muria.” Dilanjutka penjelasan kenapa ponsel Keith ada sama dia. “Jadi saat dia telpon anda, saya yang jawab.” Keith menghela nafas, “Lalu apa Jack sudah mengejar orang-orang itu?” “Belum Tuan Muda.” “Kenapa belum? Kan saya tugaskan dia menjaga Rachel!” Keith menghardik Veron, “Uggh!” dia menjadi geram sebab Veron tampak ciut kena hardikannya. Dia lalu tarik nafasnya, otaknya berusaha memikirkan siapa yang berani menculik Rachel saat di luar gedung Carter Oil Company. Lalu sekelebat dibenaknya muncul nama ‘Robert’. “Astaga!” serunya feeling pasti Robert yang menculik Rachel, “Veron, apa kamu sudah memberi nomor ponsel Rachel ke Jack agar dilacak kemana Robert membawa Rachel?” “Robert, Tuan Muda?” “Iya Robert!” Keith kembali menghardik Veron, “Sudah fokus ke melacak Rachel!” dia menyetop Veron bertanya lebih jauh kenapa dan siapa Robert yang disebut olehnya. “Saya sudah kasih nomor itu ke Jack, Tuan.” “Sudah disambungkan ke ponsel saya kah?” “Jack sedang on the way kemari, Tuan Muda.” Veron malah bicara ke arah lain. “Dia sudah mendapat jejak Nona Rachel, jadi menyusul anda kemari.” Keith segera mengambil ponselnya dari tangan Veron, diaktifkan menu lacak, disambungkan dengan nomor ponsel Rachel yang ada di ponselnya, beberapa detik kemudian tampak dilayar peta lokasi dan dua titik. Satu titik berwarna biru adalah nomor ponsel Keith, titik lainnya yang berwarna merah adalah nomor ponsel Rachel. “Tuan Muda!” terdengar suara Jack dari arah kanan koridor jalan menuju ICU ini. Keith dan Veron langsung melihat ke arah suara Jack. Tampak Jack setengah berlari mendekati kedua pria itu. “Tuan Muda!” seru Jack saat berhadapan sama Keith, “Maafkan saya, tidak menjaga baik Nona Rachel. Beliau diculik beberapa orang asing di luar gedung Carter Oil Company.” Ocehnya meminta maaf ke Keith tidak menjaga baik Rachel. “Tapi saya sudah menemukan jejak Nona Rachel dari sistem pelacakan di ponsel saya.” Dia tunjukan ponselnya ke Keith. TUK. Keith menjitak kening Jack, dipelototin pula dengan gemas. “Sudah ketemu jejak, kenapa tidak langsung ke lokasi itu?” dihardiknya Jack, “Kenapa malah kemari menemui saya?” dia merasa Jack salah langkah. “Maaf Tuan Muda,” desau Jack merasa bersalah, “Saya tadi kan dipesan untuk melaporkan dulu ke anda.” Keith terkesiap mendengar ini. Benar kata Jack, memang Keith menyuruhnya melapor dulu, menunggu instruksi dari dia. “Maaf jack.” Dia minta maaf sudah menghardik Jack, “Ya sudah sekarang kita cepat menyelamatkan Rachel!” +++ Rachel mengerjap-kerjapkan kedua matanya, mulai siuman, sebab mencium wewangian menyengat dari hidungnya. “Sudah bangun, Acha?” terdengar suara pria menegurnya. Rachel terkesiap mendengar suara tersebut, segera mengarahkan pandangan ke arah suara itu, dan, JRENG. Tampak Robert dihadapannya. “Astaga!” pekiknya terkaget melihat Robert, “Pak Robert?!” dia mengenali Robert. “Kenapa anda bersama saya? Ini di mana?” dia mengajukan pertanyaan ke Robert, sebab seingatnya dia tidak bersama Robert, dan baru keluar dari gedung Carter Oil Company. Pelan tangan kanan Robert membelai wajah Rachel yang mulus glowing berwarna putih s**u. Rachel segera menjauhkan wajahnya, tapi cepat tangan Robert meraih kedua sisi dagunya, dicengkram erat, membuatnya menatap Robert. Dia merasa bergidik melihat binar mata Robert yang penuh hawa nafsu pria yang buas siap menerkam perempuan. “Apa kamu lupa Acha?” tanya Robert ke Rachel, “Kamu menolak bertemu saya di hotel saat kamu mengajukan permohonan meminjam uang untuk biaya operasi jantung kakekmu?” dia mengingatkan kembali peristiwa penolakan Rachel tadi siang di Carter Oil Company. JRENG. Rachel tersentak kaget mendengar ini. Langsung melihat sekitar mereka, tapi tangan Robert yang mencengkram dagunya memaksa dia melihat ke Robert lagi. Rachel memandangin Robert dengan ketakutan, hatinya kini penuh doa memohon pertolongan ke Tuhan. “Sekarang,” Robert bicara lagi, “Kamu ada di hotel bersamaku, Acha.” Dijelaskan dimana Rachel saat ini, “Dan kamu harus membayar penolakanmu ke saya!” “Jangan harap saya lakukan itu, Pak Robert!” Rachel menghardik Robert dengan berani. PLAK. Satu tamparan keras mendarat di wajahnya. Itu dari Robert. Lalu wajahnya kembali dicengkram tangan Robert. Tampak Robert begitu buas memandangnya. “Kamu pikir siapa dirimu berani menghardik saya, hmm?” tanya Robert dengan suara tenang namun penuh penekanan sarkas, “Kamu pikir dirimu bidadari sehingga menolak saya?” Rachel tidak berkata apa pun, wajahnya terasa sakit karena dicengkram kuat tangan Robert. PLAK. PLAK. PLAK. PLAK. Robert menampari berkali wajah Rachel, sehingga perempuan itu meleleh air mata kesakitan. Belum puas dengan menampari wajah Rachel, Robert mengambil cambuk tambang dari salah satu tangan anak buahnya, lalu melecutkan cambuk itu berkali ke badan Rachel. CLETAR. CLETAR. CLETAR. “Akhh!” jerit Rachel kesakitan terkena setiap lecutan cambuk itu, “Akh! Akhh! Pak Robert hentikan!” jeritnya minta Robert berhenti melecutnya dengan cambuk, “Akhh! Kenapa anda lakukan ini hanya karena saya menolak menemui anda di hotel?” dia berusaha menghentikan Robert yang terus melecutnya dengan cambuk, sehingga bukan hanya pakaiannya mulai tercabik, tapi dibeberapa bagian badannya terhias border line merah. + Bersambung +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD