Situasi Darurat Yang Menegangkan

1760 Words
Keith tampak resah saat ini. Dia sedang dalam perjalanan menuju lokasi tempat Robert menahan Rachel dengan jeep mewahnya dari pabrikan Los Angeles. Disisinya ada Veron yang sibuk melakukan panggilan telpon dengan Ponelnya, memberi instruksi ke anak buah Keith untuk segera ke lokasi itu menyelamatkan Rachel. Bahkan Veron menghubungin IGD Carter Hospital untuk mengirim tim medis ke rumah Brylee. Keith yang minta itu, sebab feeling pasti Robert membuat Rachel babak belur. Robert ada gangguan jiwa, di mana saat libidonya naik, dia akan membuat perempuan korbannya babak belur baru diintimin. Lalu juga kalo ada perempuan menolak untuk memenuhi hasratnya itu, dia akan lebih ganas, bisa membuat perempuan menyesal menolaknya. Keith tahu mengenai gangguan kejiwaan Robert, sebab Robert sudah lama bekerja di Carter Oil Company, dimana ada saja yang datang ke Carter Oil Company menuntut Robert atas penganiayaan terhadap perempuan yang dimangsa Robert. Keith tidak memecat Robert dikarenakan kerja Robert bagus di Carter Oil Company. Keith juga menilai Robert tidak melibatkan Carter Oil Company disaat Robert menghadapi para penuntut itu. Namun hari ini, Keith merasa harus memecat Robert, bahkan menghajar Robert. Sungguh berani Robert menculik Rachel, wanita yang sudah mencuri hati Keith. Tapi mana Robert tahu kalo Keith jatuh cinta ke Rachel? Kan baru hari ini Keith mengenal Rachel, itu pun Keith tidak sempat berbincang-bincang sama Rachel. Namun Keith tidak perduli mengenai itu, sebab hatinya sudah dipenuhi Rachel, maka siapa pun yang berani mencelakai Rachel, meski hanya sehelai rambutnya saja, maka dia akan menghukum berat orang tersebut. Mungkin terasa seperti dongeng negeri mimpi yang terjadi sama Keith setelah mengenal Rachel. Tapi semua ini kenyataan yang dibuat alam semesta untuk Keith. “Darno!” Keith memanggil Darno Drivernya, “Kamu bisa nyetir ngga sih?” tanyanya kesal sebab dirasa laju jeep lambat di jalan raya Ibukota saat ini, padahal lalu lintas tidak ramai dengan kendaraan. “Lelet banget kamu kemudikan mobil ini!” ujarnya mendamprat Darno. Darno tidak menjawab, sebab akan membuat Keith bertambah kesal dan panik. Dia tadi bertanya ke Jack, ada apa sama Keith, sebab sebelum ini, saat mengantar Keith ke rumah sakit tempat Muria dirawat, Keith juga uring-uringan, merasa dia lambat melajukan jeep milik Keith menuju rumah sakit itu. Darno yang juga sudah lama bekerja sama Keith, tahu pasti ada sesuatu yang super penting yang harus Keith selesaikan secepatnya jika Keith memintanya melajukan super cepat jeep. “Sabar Tuan Muda,” Veron membujuk Keith untuk menenangkan diri, “Saya sudah mengutus orang-orang kita untuk lebih dulu menyelamatkan Nona Rachel. Saya minta mereka ke sana pakai motor.” Diberitahu bahwa orang-orang Keith sudah dikerahkan ke lokasi untuk lebih dulu menyelamatkan Rachel. “Dams!” Keith memaki sendiri, dipukulkan sekali telapak tangannya ke pintu jeep di sebelahnya, mengenai tombol power window car, membuat kaca jendela terbuka, “Astaga!” dia terkaget sebab gegara itu angin dari luar masuk ke dalam jeep, “Darno!” dijeritinnya Darno, “Kenapa kamu buka jendela saya?” dia mengira Darno yang membuka itu jendela. Hlo, Keith celeng ini. Dia yang membuka, menuduhnya Darno. “Tuan Muda,” Veron menegur Keith, “Maaf, anda yang membuka jendela itu.” Ujarnya mementahkan tuduhan Keith ke Darno, “Anda tadi memukulkan tangan ke tombol power windows.” ditunjuk tangan Keith, lalu menunjuk tombol power windows, “Maka terbuka lah jendela anda.” diakhiri penjelasannya. TUING-TUING! Keith mengerucutkan bibirnya, lalu cepat menekan tombol itu agar jendela tertutup lagi. “Terima kasih Pak Veron!” terdengar suara Darno yang menuju ke Veron. Dia merasa Veron menyelamatkannya dari tuduhan Keith yang sedang uring-uringan cemas. “Sama-sama, Darno.” Sahut Veron paham kenapa Darno mengucap terima kasih. “Veron!” terdengar lagi suara Keith, “Iya saya memanggilmu!” serunya saat Veron melihat dia dengan heran. “Emm, Tuan Muda sabar ya, sebentar lagi sampai kok.” Veron menjadi jiper menghadapi Keith yang emosi jiwa akibat Rachel diculik. “Hentikan mobil ini!” Keith tidak menanggapi Veron. TUING-TUING! Veron terheran mendengar ini. “Hentikan mobil ini, Veron!” Keith mengulang kembali perkataannya ke Veron yang tampak heran memandangnya. “Kenapa dihentikan, Tuan? Bensin mobil kan sudah penuh diisi Darno tadi pagi.” TUK! Keith menjitak kening Veron dengan gemas, kenapa Veron bicaranya ngelantur ke soal Bensin mobil ini hanya karena dia minta mobil dihentikan. “Sudah jangan bicara lagi!” Keith pun menghardik Veron yang mau memberinya pertanyaan lain yang pasti disertai dengan jawaban dari Veron sendiri. “Darno!” serunya lantang ke Darno, “Hentikan jeep ini! Lekas!” diberinya perintah tegas ke Darno. Darno menghela nafas, perlahan menurunkan kecepatan mobil, digiring ke tepi bahu jalan, baru dihentikannya. “Sudah berhenti mobilnya, Tuan Muda.” Darno pun memberi laporan ke Keith bahwa sudah dilaksanakan perintah Keith tersebut. “Bagus!” Keith memuji Darno, “Ayo semuanya turun dari mobil!” dia memberi perintah lain. “Maaf Tuan Muda,” sela Veron, “Kita semua, termasuk anda, turun dari mobil?” diberi pertanyaan ke Keith, sebab merasa aneh dengan perintah Keith, “Anda tidak jadi menyelamatkan Nona Rachel?” “Turun saja lah!” Keith membentak Veron, lalu segera turun dari jeep ini. Veron, Jack, dan Darno segera turun. “Darno!” Keith mendekati Darno, “Kemarikan kunci jeep!” ditengadahkan telapak tangan kanannya ke Darno, “Kemarikan kunci jeep!” diulang permintaannya sebab Darno melongo mendengarnya. Darno segera memberikan kunci jeep yang dipegang olehnya sedari tadi. Keith lalu cepat naik ke dalam jeep, menyalakan mesin mobil, lalu tancap gas. “Astaga!” jerit Veron terkejut melihat Keith tancap gas, membuat mobil melaju secepat kilat, “Tuan Keith!” jeritnya baru sadar bahwa Keith mengosongkan mobil, agar bisa mengemudi sendiri ke rumah sakit dengan mengebut. Sementara di jalan raya, Keith mengemudi dengan perasaan sangat cemas. “Tuhanku! Tuhanku!” dia memanggil Tuhan, “Bawa aku cepat ke Rachel. Aku tidak mau dia dirusak Robert!” dia memohon agar dibawa cepat sampai ke lokasi agar menyelamatkan Rachel. “Robert!” disebut nama Robert, “Kalo sampai Rachel babak belur, aku kubur kamu hidup-hidup! Rachel istriku!” dia tanpa sadar mengatakan Rachel adalah istrinya. +++ Rachel tersungkur di lantai, tubuhnya sudah tidak kuat menahan setiap lecutan cambuk dari Robert. Robert berhenti melecutkan cambuk, merasa Rachel sudah kehabisan tenaga, bisa dilancarkan aksi berikut hingga siap memuaskan hasrat lelakinya di ranjang. Robert membuang cambuk ditangannya, mendekati Rachel, dengan satu tangan diangkat dagu Rachel, ditatap Rachel yang megap-megap kesakitan. “Kenapa anda lakukan ini, Pak?” tanya Rachel lirih, dibeberapa bagian wajah cantiknya terhias border line merah. “Masih bertanya kenapa, Acha?” Robert memandang sarkas ke Rachel, “Kamu menolakku! Maka kamu harus membayar dengan caraku ini.” “Anda ini siapa yang harus saya terima?” tanya Rachel dengan berani. Dia bukan perempuan kebanyakan yang saat sudah babak belur seperti ini akan menyerah. PLAK! Satu tamparan keras mendarat di wajah Rachel, lalu tangan kekar Robert mencengkram kedua sisi pipi Rachel, ditatap Rachel dengan bengis. “Kamu masih saja berani melawanku?” tanyanya, “Aku suka perempuan yang berani melawanku! Sebab akan sangat menggairahkan kuintimin di ranjang!” “Jangan harap keinginan anda terwujud, Pak Robert!” Rachel menyikut perut Robert dengan satu tangannya, lalu sekuat tenaga berdiri, setengah berlari menuju meja bufet di mana tergeletak sebuah gunting. Gunting itu salah satu alat milik Robert untuk menganiaya Rachel nantinya, jika Rachel masih tidak bisa ditaklukan dengan mencambuk. Dia akan memangkas paksa sampai habis seluruh rambut Rachel. Rachel melihat gunting itu, saat dia menghindar dan melindungi dirinya yang dicambuk Robert. Robert segera mengejar Rachel, menangkap pinggang perempuan ini. Rachel memberontak-rontak. “Acha!” seru Robert, “Kamu jangan gila!” dipaksa Rachel menghadap ke dia, “Dari pada kamu bunuh diri, lebih baik melayaniku di ranjang!” dia takut Rachel bunuh diri dengan gunting tersebut. Dia tidak mau korbannya mati bunuh diri. Rachel tidak menggubris ini, dia terus memberontak dari pelukan Robert. Robert akhirnya menyeret Rachel berjalan, dan dihempaskan kasar ke atas tempat tidur. Seorang anak buahnya cepat mendekati Robert yang kini mengunci paksa tubuh Rachel di bawah tubuh Robert. Anak buah itu membawa segelas minuman beralkohol yang sudah dibubuhi obat perangsang. “Tuan!” ditegurnya Robert yang tampak b*******h menciumi leher Rachel, dimana Rachel terus berontak-rontak. “Lekas Anda cekokin perempuan ini, agar anda bisa puas menikmatinya.” Dia pamerkan gelas itu saat Robert melihat ke dia. Robert mengerti yang dikatakan anak buahnya ini, dia cepat menarik Rachel duduk, dicengkram tubuh Rachel dari belakang, “Cekokan ke dia!” serunya meminta anak buahnya mencekokan air tersebut ke dalam mulut Rachel. +++ Keith setengah berlari menuju desk resepsionis. Dia sudah sampai di hotel tempat Rachel disekap Robert. Ditangannya terpegang ponsel yang masih menunjukan di mana Rachel saat ini. “Mas!” serunya ke seorang petugas hotel, “Maaf, bisa bantu saya sekarang juga?” ditanyanya petugas itu yang menghampirinya. “Bisa Tuan.” Sahut petugas dengan sopan, “Anda perlu pertolongan apa?” “Saya perlu tahu di mana letak kamar yang ditanda titik merah ini.” Keith segera memberikan ponsel ke petugas dan menunjuk titik merah yang masih terlihat di menu lacak jejak. Petugas mempelajari sejenak jalur yang ada di menu itu, lalu cepat mengakses komputernya untuk menemukan kamar nomor berapa yang ditandai titik merah itu. “Tuan Muda!” terdengar suara seorang pria. Keith mengenali suara itu, segera memutar pandangan, dan melihat beberapa pria menghampirinya. Mereka anak buah Keith. “Tuan Muda.” Dareck yang memanggil Keith tadi bicara ke Keith, “Mari, kita ke kamar tempat Nona Rachel disekap Pak Robert.” Dia sudah dihubungin Veron, bahwa Keith nekat ke hotel sendirian, minta stand by menunggu Keith di ground. “Tuan,” petugas tadi segera mendekati Keith, dikembalikan ponsel ke Keith, “Kamar yang anda cari kamar nomor 302, atas nama Robert Subrata.” “Terima kasih bantuannya.” Keith tampak lega, “Bisa anda dan beberapa security ikut kami? Istri saya disandera di kamar itu.” Keith meminta petugas ikut bersamanya menyelamatkan Rachel, dan sekali lagi Keith menyebut Rachel itu istrinya. “Baik Tuan.” Petugas setuju, lalu segera memanggil beberapa security yang ada di sekitarnya, kemudian ikut Keith dan rombongan Keith menuju ke kamar tempat Rachel disekap Robert. +++ BRUK. Rachel terkulai jatuh ke atas tempat tidur, tampak sekitar bibirnya basah dengan air. Anak buah Robert sudah mencekokan air beracun itu ke dalam mulutnya, dan seketika dia merasa semakin tidak bertenaga. Anak buah Robert segera menyingkir, memberi kesempatan Robert untuk menikmati Rachel. Robert tersenyum sarkas, segera merobek pakaian Rachel yang sudah tercabik-cabik oleh lecutan cambuknya itu. Dia kurung Rachel dengan kedua kakinya “Jangan!” rintih Rachel memohon agar Robert tidak melakukan perbuatan nista ke dia. “Jangan lakukan itu!” + Bersambung +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD