Datang Tepat Waktu

1817 Words
Robert melepas semua pakaian dari badannya sendiri meski dengan susah payah, sebab tetap menjaga Rachel terkurung dalam kedua kakinya. Pandangan mata Robert dipenuhi keinginan untuk memangsa Rachel ke dalam hasrat lelakinya yang saat ini meninggi. Rachel memandangi Robert dengan air mata berlinang, terbayang dibenaknya kesuciannya segera direnggut Robert. Dia sama sekali tidak melihat betapa memukau postur tubuh Robert yang tanpa sehelai benang saat ini. “Ibu,” terdengar pelan rintihannya memanggil Emily, “Tolong Acha, Ibu. Tolong Acha.” Dia terus merintih meminta pertolongan Emily, namun Emily sudah tiada di dunia. Robert mulai menstimulasi Rachel dengan merambahi bagian-bagian tubuh mulus Rachel yang dibeberapa bagian terhias border line merah. BRAK! Terdengar suara pintu di dobrak paksa dari luar oleh beberapa orang. “Astaga!” lalu terdengar jeritan pria, detik berikut tampak pria itu mengamuk, menghajar anak buah Robert yang menghalanginya. Jack, Dareck, anak buah Keith, dan security hotel segera melawan anak buah Robert. Tak pelak kamar ini menjadi ajang pertarungan antar pria. BAK-BUK-BAK-BUK Robert melihat ini, bukannya beranjak dari badan Rachel, dia meneruskan aksinya. Rudal miliknya dijejali agar merenggut kesucian Rachel. Namun sebuah tangan kekar menarik kasar dia dari belakang, dan dihadiahkan pukulan keras bertubi. BAK-BUK-BAK-BUK Terdengar pula suara makian dari orang yang memukuli Robert. “b******n kamu, Robert! Beraninya menculik dan menganiaya istri saya! Sekarang juga saya kubur kamu hidup-hidup!” BAK-BUK-BAK-BUK. DUBRAK!! Robert berakhir dengan membentur dinding kamar, lalu melihat Keith menatapnya dengan bengis. Keith lah yang menarik, memukulinya, dan memakinya barusan. “Tuan Keith Carter?!” Robert tidak menyangka Keith kemari, “Kenapa Anda kemari?” “Veron!” Keith tidak menjawab pertanyaan Robert, menjerit memanggil Veron, “Seret ular iblis ini ke tempat biasa!” diberi perintah saat Veron mendekatinya, “Tunggu saya di sana. Saya pasti menghabisi ular iblis ini yang berani menistakan istri saya!” Robert melongo mendengar perkataan Keith, merasa bingung kenapa Keith mengatakan itu. Dia lalu melihat ke Rachel yang masih tergeletak di tempat tidur, ‘Apa istri yang diteriakan Tuan Keith saat menghajarku itu Acha?’ bisik hatinya sebab tadi saat Keith menghajarnya, dia mendengar Keith menyebut “ISTRI SAYA’, menjadi terheran sebab setahu dia, Keith belum menikah. Kemudian dia melihat Keith bergegas mendekati Rachel yang berusaha menegakan badan dimana wajah Rachel terlihat lega. “Acha!” Keith segera membantu Rachel duduk, ditopang dengan kedua tangannya memegang sisi lengan Rachel. “Astaga!” desaunya sebab melihat dibeberapa bagian tubuh Rachel yang polos ini ada border line merah. “Robert mencambukmu?” dia mengenali border line merah tersebut sebagai bekas cambukan. Ditatapnya Rachel dengan pandangan pilu. Rachel tidak bersuara, hanya menatap Keith dengan pandangan antara sadar dan tidak. Keith segera meluaskan pandangan, disandarkan Rachel ke bantal yang ditumpuknya, segera mencari selimut untuk membungkus tubuh polos Rachel. “Silahkan tuan,” petugas hotel menghadang Keith yang berjalan ke sana kemari, menyodorkan sehelai selimut ke Keith. Dia tahu yang dicari Keith, “Tuan, saya atas nama hotel, memohon maaf terjadi hal ini atas istri anda.” Dia pun minta maaf ke Keith saat Keith mengambil selimut dari tangannya. Dia yakin Rachel istri Keith, sebab tadi Keith menghajar Robert bagai Rahwana mengamuk ke Sri Rama yang merebut Dewi Shinta yang dianggap istri. “Bukan salah kalian.” Desau Keith, “Maaf, istri saya butuh saya.” Dia segera meninggalkan petugas ini, ke Rachel, dibungkusnya tubuh Rachel, lalu digendongnya, “Veron!” dijeritin lagi Veron yang mengawasi Robert memakai pakaian. “Sebentar Tuan Muda!” sahut Veron yang mengawasi Robert yang sedang memakai kembali semua pakaian Robert, “Jack!” Veron memanggil Jack, padahal Jack bersama dia mengawasi Robert, “Kamu bawa ular iblis ini ke tempat biasa.” ditunjuknya Robert, mengalihkan tugas dari Keith tadi, sebab tahu Keith membutuhkan dia untuk mengurus Rachel. Dia lalu bergegas mendekati Keith yang menggendong Rachel yang semakin menurun kesadarannya, “Ayo Tuan, kita lekas bawa Nyonya ke Carter Hospital.” Dia menyebut Rachel dengan “Nyonya” karena mendengar Keith mengatakan Rachel adalah istri Keith. “Kita pulang ke rumah saya. Di sana sudah kamu stand by kan petugas medis IGD Carter Hospital kan?” “Baik Tuan Muda.” Veron paham. “Bawa juga barang milik Rachel seperti tasnya.” Keith memberi perintah tambahan ke Veron lalu bergegas membawa dirinya dan Rachel keluar dari room ini. +++ Darno mengemudikan jeep secepat mungkin, sebab melihat Keith membawa Rachel yang terluka. Di dalam jeep, Keith terus mendekap Rachel, tidak disandarkan ke sandaran bangku mobil. Keith pun terus meracau, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Bertahan sayang, bertahanlah! Sebentar lagi kita sampai ke rumah kita. Aku obatin kamu sampai sembuh di sana. Bertahan sayang. Bertahanlah.” Bibir Keith pun tanpa sesadarnya, sering mengecup kening Rachel. “Ibu,” terdengar suara racauan Rachel, “Ibu! Ibu, maafkan Acha! Maafkan Acha!” Keith mendengar ini, hatinya menjadi pilu. Didekap Rachel lebih erat, “Maafkan aku, sayang. Maafkan aku tidak disisimu. Kamu jadi mendapat kemalangan ini. Maafkan aku.” Keith menjadi menyesal meninggalkan Rachel di Carter Oil Company sehingga Robert membuat Rachel babak belur. Sudut mata Keith pun mulai .terlihat guliran kristal-kristal bening. Veron dan Darno mendengar semua ini, menghela nafas bersamaan, ikut merasakan kesakitan Rachel, sekaligus merasa senang sebab penyakit playboy Keith hilang sejak mengenal Rachel. Setengah jam pun berlalu, mereka sampai di rumah super mewah dan megah milik Brylee Carter yang diwariskan sepenuhnya ke Vienna sang istri dan Keith. Tampak di teras menanti Vienna, Nico keponakan kontan Vienna, dokter Altar, dan petugas medis dari Carter Hospital. Veron menghubungin Nico, sebab Nico sebelumnya diminta Vienna menghubunginya akibat kedatangan dokter Altar dan petugas medis Carter Hospital ke rumah ini. Vienna ingin tahu kenapa mereka ke rumah ini. Darno menepikan jeep tepat di depan teras utama rumah ini, kemudian mematikan mesin mobil. Keith segera turun dari mobil, lalu tergesa mengeluarkan Rachel dari sisi lain mobil, digendongnya. Vienna dan rombongannya tergesa mendekati Keith. “Keith!” Vienna menegur Keith, “Siapa gadis ini?” ditanyanya Keith sambil menunjuk Rachel yang teler dalam gendongan Keith, “Dia kah yang dibilang Veron butuh pertolongan medis dari Carter Hospital? Dia kenapa, Keith?” dicecernya Keith, sebab melihat di beberapa bagian wajah Rachel terhias border line merah. “Penjelasannya nanti, Mama.” tukas Keith “Nico, bantu gue.” Ditegurnya Nico yang menghela nafas terus melihat semua ini, “Buruan Nico, Rachel perlu ditolong. Dia luka-luka saat ini!” dihardik Nico, lalu cepat kembali berjalan. Nico dan para medis bergegas mengejar Keith. Vienna menghela nafas, “Keith..Keith, ada apa sebenarnya? Siapa perempuan itu? Tumben kamu membawa perempuan ke rumah ini. Biasanya dibawa ke Penthouse kamu. Tapi tidak dalam keadaan babak belur seperti ini.” Dia menjadi penasaran sama Rachel, sebab seumur hidupnya, baru kali ini melihat Keith membawa perempuan ke rumah ini, dan keadaan perempuan itu babak belur. “Veron!” serunya memanggil Veron yang hendak menyusul Keith dengan menenteng tas milik Rachel dan Keith. “Iya, Nyonya.” Veron mendekati Vienna, “Nyonya butuh bantuan saya?” “Tidak Veron.” Sahut Vienna, “Siapa perempuan yang Keith bawa?” ditunjuk pula pintu masuk utama, menggambar Keith yang membawa Rachel ke rumah ini, “Kenapa dia babak belur dan dibungkus selimut?” “Anu Nyonya, “ Veron memutar otak cerdasnya, agar tidak salah memberi jawaban ke Vienna, “Beliau bernama Rachel. Tuan Muda jatuh hati ke beliau.” “Rachel? Keith jatuh cinta ke perempuan itu? Di mana Keith mengenalnya, dan kenapa dibawa Keith dalam keadaan babak belur?” “Emm, “ Veron kembali memutar otak cerdasnya, “Maaf Nyonya, baiknya anda bertanya langsung ke Tuan Muda.” Dia tidak menemukan jawaban yang tepat, jadi minta Vienna bertanya sendiri ke Keith mengenai Rachel. “Maaf Nyonya, saya permisi, Tuan Muda butuh saya.” Dia segera berpamitan, lalu bergegas meninggalkan Vienna. Vienna menghela nafas, segera masuk ke dalam rumah, dan bergegas ke kamar Keith. Dia feeling Keith membawa Rachel ke kamar Keith, sebab Veron mengatakan Keith jatuh cinta ke Rachel. Tapi dia dihadang Veron di depan kamar Keith yang tertutup rapat. “Ada apa Veron?” tanya Vienna terheran dihadang Veron. “Maaf Nyonya,” Veron menghela nafas pelan, lalu, “Sementara ini Tuan Muda tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam kamar sampai tim medis selesai mengobati semua luka-luka Nona Rachel.” Vienna menghela nafas, semakin penasaran ingin tahu siapa Rachel, sebab Keith begitu perduli dan menjaganya. ‘Apa benar Keith jatuh cinta saat ini?’ tanya hati Vienna teringat perkataan Veron di teras tadi, ‘Jika iya, aku bersyukur anakku pensiun jadi playboy. Aku juga bisa segera punya menantu dan cucu.’ Dia menjadi senang lalu berangan-angan. Matanya lalu melihat Nico keluar dari kamar, “Nico!” dia cepat memanggil Nico sambil mendekati keponakannya ini, “Bagaimana di dalam?” ditanya Nico dengan tatapan sejuta rasa penasaran. “Maaf Tante Vie,” desau Nico, “Nico pamit dulu.” Ditutup rapat kembali pintu kamar. “Maksudmu apa?” “Keith minta Nico segera ke rumah sakit Sentosa.” JRENG! Vienna terkesiap mendengar ini, dipandang Nico dengan sorot mata keheranan. “Tante Vie,” Nico bicara lagi, “Keith minta Nico mengabari Pak Sukro yang menjaga kakeknya Rachel di rumah sakit itu.” JRENG! Vienna terkesiap lagi, kembali menatap Nico dengan keheranan. “Kakeknya Rachel anfal tadi pagi dan malam ini harus operasi pemasangan ring kedua di jantungnya.” Nico kembali bicara, sebab merasa Vienna tidak memahami perkataannya, dikarenakan tidak berurutan dituturkannya. “Keith berjanji mengabari Pak Sukro jika Keith berhasil menyelamatkan Rachel dari bahaya yang dialami Rachel saat ini.” ditunjuk pula pintu kamar yang sudah ditutupnya. “Keith mengenal kakeknya Rachel itu?” Vienna menunjuk pintu kamar. “Kenal Tante.” Nico menganggukan kepala, “Kakeknya Rachel feeling Rachel dalam bahaya, minta Keith menolong Rachel.” “I see.” Vienna paham, “Apa Keith ada cerita lain ke kamu selain mengenai kakeknya itu?” “Belum Tante.” Nico mengelabui Vienna, padahal Keith sudah mengatakan kenapa Rachel babak belur, sebab dokter Altar bertanya kenapa bisa dibeberapa bagian tubuh dan wajah Rachel terhias border line merah yang dirasa itu bekas cambukan. Apa Keith yang meminta Nico merahasiakan mengenai penyebab Rachel babak belur? Iya, tapi juga Nico memang memutuskan tidak memberitahu Vienna, takut Vienna shock dan panik. Vienna mudah panik saat mendengar kabar buruk. “Maaf Tante Vie,” Nico bicara lagi, “Nico pamit dulu.” Dia kembali berpamitan untuk pergi melaksanakan tugas dari Keith. Dicium sekilas telapak tangan kanan Vienna, kemudian bergegas pergi. +++ Pak Sukro menghembuskan napas, tampak lega setelah mendengar kabar dari Nico mengenai Keith berhasil menyelamatkan Rachel, dan sekarang Rachel berada di rumah Brylee bersama Keith. “Syukurlah! Syukurlah!” Pak Sukro memandang Nico dengan lega, “Dengan begini Pak Muria bisa tenang menjalani operasinya.” Nico tersenyum tipis mendengar ini, tidak yakin, sebab tadi Keith mengatakan bahwa Muria ada indera keenam seperti dia. Muria pasti tahu Rachel babak belur, sedang dirawat Keith. “Pak Nico,” Pak Sukro menegur Nico, “Lalu mana Acha sekarang? Kenapa tidak kemari bersama Pak Keith?” + Bersambung +
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD