Lilac 12

1100 Words
~~***~~ Kerajaan Llaelca, terkenal dengan negerinya yang makmur dan sejahtera. Rakyat-rakyat yang tinggal di sana, hidup berkecukupan berkat tanah subur dan banyaknya sumber daya alam yang bisa dijadikan sebagai lapang pekerjaan. Hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain pun terlampau baik, berkat kepemimpinan raja Arther Springgleam. Lelaki berusia 80 tahun itu masih terlihat bugar, dan kewibawaannya pun tidak pudar walau usia hampir menginjak satu abad. Selama hidup Valmera—satu-satunya puteri bangsawan di kerajaan Llaeca—pun tidak pernah melihat atau merasakan yang namanya kesengsaraan, baik dari dirinya sendiri maupun rakyat-rakyatnya. Malam ini juga seharusnya menjadi malam yang spesial dan menyenangkan. Pertunangannya dengan pangeran dari kerajaan Vorenia menjadi langkah awal untuk semakin mensejahterakan—tak hanya kerajaan Llaeca—tetapi juga kerajaan sang pemuda itu. Neal juga akan menjadi penerus dari Arther dan menggantikan posisinya sebagai pemimpin dari rakyat dan negerinya. Namun, takdir berkehendak lain. Suara ledakan terdengar jauh, namun begitu memekakan telinga. Neal dan Valmera tergesa-gesa kembali ke dalam istana dan mencari sang raja. Sebagian undangan pesta berhamburan keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi, menyebabkan sang gadis harus berdesakan agar bisa bertemu dengan ayahnya. “Ayah!” Valmera berseru saat melihat ayahnya tengah berbincang dengan pembawa pesan kerajaan. “Ayah, suara apa tadi? Apa ada keributan yang terjadi?” “Desa Ramsey telah diserang.” “Apa!?” Valmera dan Neil berseru kaget. “Diserang? Oleh siapa?!” “Dari penglihatan kami, pasukan kegelapan telah mempora-porandakan desa tersebut, Putri. Dan lambang yang ada di pakaian besi tersebut … berasal dari kerajaan Xologon.” Seorang wanita berpakaian serba putih menghampiri. Neal dan Arther sama-sama menyerukan nama gadis yang secepat kilat melesat meninggalkan mereka. Susah payah menuruni anak tangga dengan busananya, langsung menuju gerbang utama. “Putri, tunggu! Kau mau kemana?” “Menyelamatkan rakyatku yang terluka! Kemana lagi!?” “Valmera, berhenti!” seruan dari lelaki tua yang mengekori dua orang itu menghentikan langkah Valmera. Ia berbalik, menghadap sang ayah yang mengerutkan kening dalam-dalam. “Apa yang kau pikir mau kau lakukan, Sayang? Kau tidak boleh ke Ramsey! Berbahaya!” Valmera membalas, “Tapi, Ayah, aku harus menyelamatkan mereka! Desa Ramsey sedang diserang, aku tidak bisa diam saja!” “Memangnya apa yang mau kau lakukan di sana?” Sang gadis terdiam. Otaknya berpikir cukup lama untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Sepertinya mau tak mau ia harus mengatakannya lebih cepat. “Aku akan bertarung,” katanya tegas setelah satu hembusan napas panjang. Tentu saja Raja yang mendengar itu terperanjat. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putrinya. Kenapa anaknya mau bertarung, sedangkan tradisi kerajaan melarangnya?! Dan lagi, selama ini tidak pernah ia melihat satu-satunya keturunan raja itu memegang sebuah senjata, apalagi berlatih memakainya. “Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Ayah.” Valmera yang melihat raut kebingungan Raja berusaha meyakinkan. “Maafkan aku, Ayah. Selama ini aku sudah diam-diam berlatih bertarung bersama Pangeran Neal. Aku tahu ini mendadak dan sangat bertentangan dengan tradisi. Tapi, percayalah padaku. Aku pasti bisa melakukannya! Aku janji! Aku akan segera kembali!” Arther mengeraskan rahang. Tidak percaya bahwa putrinya sendiri telah melanggar tradisi, dan sekarang nekat untuk pergi ke tempat yang jelas-jelas sangat berbahaya. Namun, melihat mata indah Valmera yang memancar penuh ambisi itu, tidak sanggup ia mengatakan sesuatu yang membuatnya kecewa. “Neal, kau ikutlah dengannya,” katanya kemudian. Dibalas sopan oleh si pangeran. “Aku akan perintahkan semua prajurit Llaeca untuk ikut dengan kalian juga.” “Semua!? Ayah, jangan berlebihan! Bagaimana dengan Ayah dan istana Springgleam!?” Arther mendekat. Kedua tangannya menyentuh pundak Valmera. “Tidak akan kubiarkan siapapun melukai Putri dari Llaeca.” Meski terdengar tegas, putri itu bisa merasakan kesedihan di antara kata-katanya. “Jaga dirimu, Sayang. Jangan paksakan dirimu, dan segeralah kembali.” Senyum lebar terukir di bibir ranum sang gadis. Ia berterimakasih sembari memeluk pria di depannya. Arther kemudian memerintahkan salah seorang dari keluarga Knight untuk membawakan mereka kuda. Namun, Neal tiba-tiba menghentikan perempuan bersurai seputih salju tersebut ketika ia mendekat ke kuda miliknya. “Putri, kau mau pergi dengan pakaian seperti itu?” Sontak, Valmera melihat ke bawah. Benar juga, pikirnya. Baju ini terlalu ramai dan berat. Ia juga tidak bisa menunggangi kuda petticoat di dalam gaunnya. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tangan. Menciptakan cahaya keunguan yang lantas ia arahkan ke rok gaun. Bagian yang mengembang super lebar itu mengempis seketika. Telihat lebih ringan dengan lapisan yang berkurang. Ia juga mengikat satu rambut putihnya di belakang. “Ayo, Neal. Kita harus segera memberi balasan untuk orang yang sudah berani melukai rakyat Llaeca.” **** “Valmera! Kau yakin dengan hal ini?” Neal berteriak berusaha mengalahkan suara sepatu kuda yang tengah menyusuri jalan di antara pepohonan yang rindang. Kedua orang itu kini sudah cukup jauh dari istana, bergegas menuju tempat yang mendapat serangan tiba-tiba. “Tentu saja aku yakin!” Valmera balas berseru sambil menoleh padanya. “Tapi, Valmera, ini berbahaya—“ Lirikan tajam dari gadis di depannya membuat Neal menahan kalimatnya di tenggorokan. Sungguh, kekasihnya itu benar-benar keras kepala. Rasa cinta pada rakyatnya membuat ia rela berbuat apapun. Perjalanan menuju desa yang tengah diserang, sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama dari istana untuk tiba di sana. Namun, entah kenapa rasanya jalan yang mereka telusuri begitu panjang. Secepat apapun kuda mereka berlari, tempat bercahaya terang itu tak kunjung juga terlihat. Perasaan tidak enak merundungi diri Valmera dengan tak nyamannya. Pikiran kalut. Takut hal-hal yang paling tidak dininginkan terjadi selagi ia bergegas menuju ke sana. Kekhawatiran itu membuat kedua tangannya refleks memacu kuda agar semakin cepat bergerak. Meninggalkan pasukan serta pemuda yang berulang kali menyerukan namanya. Jalanan gelap diterobos, tak peduli angin dingin yang berhembus. Hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya sekarang. Ia harus segera sampai di sana. ***** Kuda yang ditumpaki berheni tiba-tiba saat tali di leher binatang itu ditarik. Kedua bola mata Valmera membelalak sempurna. Iris magentanya bergetar melihat pemandangan yang ada di depannya. Lahan gandum yang awalnya hijau—hampir siap panen—kini semuanya terselimuti api hitam besar. Rumah-rumah di sekitarnya juga hancur karena hal yang sama. Teriakan, raungan, tangis anak-anak kecil dan wanita, memenuhi indra pendengar putri dan pangeran kerajaan itu. Aura gelap, bercampur aura ketakutan dari orang-orang membuat d**a Valmera semakin sesak. Ia … ia belum pernah merasakan hal seperti ini selama hidupnya. Tempat ini ... seperti sebuah neraka. “Valmera!” Neal terkejut saat sang gadis tiba-tiba turun dari tunggangannya.  Seakan dirasuki oleh sesuatu, Valmera berlari cepat dengan tangan kanan yang menggengam tombak panjang buatan sihirnya. Pemuda itu tak mau membiarkan kekasihnya berjuang sendiri, apalagi sampai terluka karena kegaduhan ini. Oleh karena itu, setelah meminta pasukan berpencar dan mencari warga yang selamat, ia mengeluarkan pedang dari sarung, dan segera mengejar Valmera. ...oOo...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD