~~***~~
Rumah demi rumah terlewati. Rasa bergejolak antara amarah dan mual semakin terasa saat Valmera melihat tubuh-tubuh lemas tak bernyawa tergeletak di atas tanah. Dadanya semakin sulit menghirup oksigen yang seakan tidak ada di antara atmosfer berat ini. Valmera memejamkan rapat-rapat matanya untuk sesaat, sambil menggigit bibir bawah. Menahan tumpahan air mata, sekaligus dorongan tak mengenakkan yang bisa saja menumpahkan makan malamnya saat itu juga.
Valmera tersentak dari lamunan ketika sesuatu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sosok tersembunyi balik kegelapan itu terlihat melancarkan serangan padanya. Puteri raja itu hampir saja tidak sempat mengelak, saat seseorang mendorong tubuhnya menjauh dari tempat asal.
Kedua orang itu berguling beberapa saat sebelum akhirnya berhenti karena membentur rumah setengah utuh terdekat. Rintih kesakitan lolos dari mulut mereka saat merasakan linu di tubuh bagian belakang. Luka-luka lecet juga tercipta di kulit mulus sang gadis, membuat Neal semakin khawatir.
“Valmera! Apa kau tidak apa-apa!?” serunya.
“Aku … tidak apa-apa.” Valmera berusaha bangkit dan meraih senjata yang tergeletak di dekatnya. Mengabaikan denyutan pada otot-ototnya, gadis itu memasang kuda-kuda untuk berhadapan dengan makhluk tak dikenal itu. Langkah demi langkah, sosok itu keluar dari kegelapan. Perlahan mulai tersorot oleh cahaya rembulan, satu-satunya penerang yang ada di sana. Valmera tanpa sadar mengeratan genggaman di tombaknya, kala melihat tubuh setinggi dua meter, dengan kuku-kuku tajam di keempat kakinya, serta gigi-gigi tajam yang dipamerkan olehnya.
Rambut lebat kehitaman menyelimuti seluruh badannya, nampak seperti anjing—atau mungkin serigala raksasa. Hanya saja mata merah, dan api-api hitam yang menguar membuatnya seperti hewan yang datang dari neraka.
“Nhymp!?”
Valmera mengerutkan dahi tak paham. Mengerti tanda tanya yang terlukiskan di wajah sang putri, Neal menjelaskan, “Nhymp, mereka adalah makhuk dari dunia bawah—Narak—tempat para iblis dan makhluk-makhluk terkutuknya berada.”
“Apa!? Bukan manusia yang menyerang!?”
Ini semakin aneh! Selain karena desa kecil ini yang menjadi target, si penyerang pun ternyata adalah sebuah makhluk tak berakal yang entah bagaimana bisa keluar dari tempat asalnya.
Valmera berharap ia salah dengar, dan lelaki itu hanya bercanda, tetapi melihat raut wajah Neal, sepertinya dia harus benar-benar mengangkat senjata dan mengerahkan seluruh tenaga sekarang. Apalagi saat melihat makhluk-makhluk sejenis dengan ukuran lebih kecil, muncul mengelilingi mereka. Jumlah yang cukup banyak untuk anggota kerajaan yang hanya terdiri dari dua orang itu.
“Kita harus pergi dari sini, Putri! Ini jebakan!”
Belum sempat Valmera merespon ucapan Neal, makhluk bernama Nhymp itu tiba-tiba bergerak—berlari ke arahnya dan Neal. Sontak, sang gadis melompat ke samping dan melakukan pendratan dengan berguling. Anjing-anjing kecil juga mengikuti apa yang dilakukan si Besar. Mereka membuka mulut lebar-lebar, hendak mengigit target di dekatnya. Namun, sang putri berhasil menghindar dan langsung mengayunkan tombaknya.
Benda perak yang panjangnya hampir menyamai tinggi sang putri, berhasil menyabet leher hewan terkutuk itu dengan mata tombak tajamnya. Warna perak yang awalnya bersih dan indah dengan ukiran dan kain ungu yang terikat, kini terhiasi pula dngan warna hitam pekat dari tubuh Nhymp.
Neal sendiri tengah berusaha menyerang pemimpin dari pasukan kecil ini. Sambil menggerakkan pedang ke kanan dan ke kiri, melompati Nhymp mini sambil membunuhnya, ia memfokuskan diri agar Nhymp raksasa itu bisa dihabisi dengan segera. Pangeran itu tidak tahu ada makhluk apa lagi di tempat ini selain si anjing neraka, walau begitu ia harus cepat untuk mengantisipasi keadaan semakin parah.
Satu persatu Nhymp yang menghalangi jalan sang pemuda terpenggal kepalanya, atau terbelah tubuhnya karena senjatanya—membawanya semakin dekat dengan sang raksasa. Diliriknya sekilas Valmera yang masih sibuk membasmi hama-hama pengganggu di sekitarnya. Gadis itu jadi terlihat semakin cantik di antara makhluk-makhluk kegelapan ini. Gaun yang membalut dirinya, dan tombak yang bergerak bagai tengah menari, tetap tidak melunturkan sisi feminis dan dan elegan darinya.
Valmera yang merasa diperhatikan baru saja menebas pengganggu terakhir di dekatnya. Ia menoleh pada Neal yang mulai berhadapan dengan Nhymp raksasa. Tanpa menunda, dia langsung melesat, dan berdiri di dekat sang pangeran. “Kau baik-baik saja, Neal?”
“Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, Putri Valmera!” sahut Neal.
Sang gadis mendengus tak suka. “Jadi, kau masih belum percaya dengan kekuatanku? Membasmi antek-antek mini itu masih belum cukup, ya?” katanya, lalu memberi jeda sebelum melanjutkan. “Kalau begitu akan kubuktikan dengan membunuh raksasa ini!”
“Eits, tidak untuk sekarang, Tuan Putri. Aku tidak bisa membiarkanmu bertindak nekat lagi, apalagi melawannya sendirian.” Neal mencengkram pergelangan tangan Valmera untuk mencegah sang gadis berlaku sesuka hati lagi.
Putri kerajaan Llaeca itu ingin memprotes lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu, tetapi raungan keras dan satu kaki depan yang hendak menggepengkan mereka berdua, membuat Valmera harus menelan bulat-bulat lagi kekesalannya. Ia terkekeh pelan, “Sepertinya ada yang sudah bosan mendengar kita bercengkrama.”
“Ya…bagaimana kalau kita langsung saja membawa pulang anjing ini ke tempat asal?” Sang pemuda tersenyum saat menatap perempuan di sampingnya. Binar antusias langsung dapat i abaca dari iris magenta Valmera.
Pedang dan tombak lantas digenggam dengan erat oleh pemiliknya masing-masing. Sang putri molek kebanggan raja dan rakyatnya, serta calon penerus dari ayah putri tersebut, keduanya sama-sama siap mencabut nyawa makhluk di hadapannya.
“Haa!”
Raungan keras sontak memekakan telinga orang-orang di tempat penuh kobaran api kebiruan itu. Neal dan Valmera bersama-sama sukses membuat luka menganga di bagian penyatu kepala dan leher Nhymp. Darah hitam lantas mennyembur dan mengoyori tanah bak hujan deras.
Mereka tersenyum puas untuk keberhasilannya, tapi kesenangan itu tak bertahan lama. Nhymp mengaum panjang tepat sebelum tubuhnya ambruk ke atas tanah. Dia seakan tengah memanggil rekan-rekannya yang lain, karena sesaat kemudian tanah yang keduanya pijak bergemuruh. Gema-gema tak jelas juga terdengar dari kejauhan.
“Oh tidak ….” Valmera memunggungi pemuda, saling menempelkan tubuh dan mengedarkan pandangan pada sekelilingnya.
Bala bantuan dari pihak musuh berdatangan. Jumlahnya dua kali lipat dari komplotan anjing neraka tadi, bahkan sekarang tidak hanya satu jenis, tapi beberapa jenis mengelilingi putri dan pangeran tersebut. Seperti makhluk menyerupai manusia yang terselimuti asap hitam bersenjata tulang tajam, namun wajahnya berbentuk tengkorak bermoncong panjang. Ada juga yang seperti singa,
Gugur satu tumbuh seribu ini namanya!
“Kita dikepung. Satu-satunya jalan untuk bisa keluar dari sini adalah dengan melenyapkan makhluk-makhluk kegelapan ini.” Neal mengeraskan rahang. Sialan! Mereka berdua tidak akan mampu melawan penghuni-penghuni dunia bawah itu.
Valmera menoleh ke arah kastil tempatnya tinggal. “Neal, perasaanku tidak enak ….”
*****
Teriakan sana-sini membuat tempat itu semakin ricuh tak terkendali. Bangunan-bangunan yang ada luluh lantak saat diterpa kaki dan sayap naga-naga yang terbang di angkasa. Orang-orang berlari menghindari bahaya yang tiba-tiba datang tersebut, menangis ketakutan, dan berteriak meminta pertolongan pada siapapun yang ada di sana.
Sementara itu, seseorang yang menikmati semua pemandangan itu dari atas memasang senyum lebarnya. Matanya memincing tajam pada satu tujuan yang sudah tak jauh lagi di depan.
Kastil Springgleam.
Naga hitam besar itu mendarat di halaman istana yang megah. Hembusan napas yang keluar dari makhluk tersebut seketika membuat hawa di sekitar memanas. Membuat keringat mengucur di pelipis prajurit prajurit berzirah yang berbaris melindung Arther di belakang.
“Selamat malam, Yang Mulia Arther. Saya harap kedatangan ini tidak mengganggu malam tenang Anda.”
...oOo...