~~***~~
“Ada apa, Putri Cantik? Tidak berani menghadapku?”
Tidak terima diremehkan seperti itu, Valmera sontak memutar tubuh. Perawakan tinggi dengan paduan pakaian hitam dan merah maroon langsung terpampang di depan wajahnya. Ia mendongak, dan mendapati sederet gigi di balik seringai, serta manik merah yang menatapnya tajam. Perempuan kecil itu bisa merasakan bergetar sedikit, bahkan hampir melangkah mundur—lari dari monster yang siap menerkam kapan saja. Namun, ia sadar. Jika kabur, maka orang ini akan semakin menjadi-jadi dalam mengolok-olonya. Jadi, ia berusaha menutupi rasa takutnya, meski bagi Daren raut wajah Valmera masih saja tetap sama.
“Se—Selamat malam … Pangeran Daren Caecillius,” ucap Valmera memberanikan diri berlagak selayaknya seorang Putri terhormat. “K—Kau hadir di pesta ini juga ternyata ….”
“Tentu saja, Cantik. Aku juga salah satu tamu kehormatan Yang Mulia Raja Arther. Kau pikir aku ini siapa, hm?”
Kau? Siapa? Tentu saja kau monster yang menjelma menjadi manusia!
Padahal Valmera pikir malam ini juga akan sama seperti beberapa hari sebelum pesta. Tak akan ada gangguan dari Pangeran Daren, dan ia bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang yang lebih menyenangkan daripadanya. Sungguh menyebalkan mengingat orang ini adalah calon orang penting beberapa tahun yang datang.
Daren tiba-tiba membisu, tapi sepasang bola matanya masih terpaku pada tubuh kecil di hadapannya. Menyusuri dari pucuk kepala yang dihiasi oleh pernak-pernik rambut, turun ke tubuh berbalut gaun panjang hingga ke ujung kaki yang menampakkan sedikit sepatu yang digunakannya.
Apa yang dilakukan Daren membuatnya tidak nyaman. Ia menggunakan lengan untuk menutupi tubuhnya agar si lelaki berhenti menggrilya dengan matanya itu. “Be—Berhenti melihatku seperti itu!”
Daren tersenyum lebar. “Baguslah. Kau melakukan apa yang aku perintahkan?”
“Kau perintahkan? Apa maksudmu?”
Telunjuk Daren teracung pada Valmera. “Kau menuruti perintahku untuk tampil sempurna. Dan, ya, aku benar-benar tidak kecewa. Kau benar-benar cantik, Putri Valmera. Tanpa sedikit pun cacat.”
“Dibilang cantik olehmu sama sekali tidak membuatku senang, Pangeran Daren. Tapi, bagaimana pun juga aku harus berterimakasih dengan perkataanmu,” ucap Valmera penuh keberatan.
Daren tertawa. “Kau tidak perlu berterimakasih padaku pun tidak apa.” Perkataannya membuat Valmera terkejut. “Tapi, sebagai gantinya.” Ia melanjutkan seraya mengulurkan tangan. “Kau harus menemaniku berdansa.”
“Hah?! Aku tidak mau!”
“Aku tidak meminta, Cantik. Aku memaksa.” Tak peduli lagi apa yang akan dikatakan Valmera, Daren menarik begitu saja lengan kanan sang gadis. Menyeretnya ke tengah ballroom di mana beberapa pasangan lain tengah menunggu lagu selanjutnya dimainkan. Suasana berubah seketika ketika para tamu menyadari Tuan Putri hendak melakukan dansa di antara mereka. Berpasang-pasang mata langsung tertuju padanya. Tak terkecuali sang Raja dan Pangeran dari Vorenia yang menatap dari kejauhan.
Para okestra sudah dalam detik-detik memainkan note pertama, ketika Valmera berucap panik, “A—Aku belum bisa berdansa.”
“Kau pikir untuk apa aku memegangimu seperti ini, Cantik?” Daren mengeratkan pegangan pada pinggang dan tangan Valmera.
Namun, hal itu tetap saja tidak dapat menghilangkan kecemasan pada raut wajah putri. Ketika melodi mulai menggetarkan gendang telinga, ketakutan Valmera semakin menjadi. Ia khawatir setiap langkah yang dibuatnya justru akan menghancurkan lantai dansa, karena dia belum pernah turun langsung dalam dansa seperti ini—selain berlatih berdua bersama guru dansanya. Membuat pedansa lain yang notabennya lebih besar darinya jadi terganggu, atau lebih buruk tubuh mereka bisa bertubrukkan dan kaki mereka saling menginjak.
Ia tidak tahan. Valmera mengatupkan kelopak matanya rapat-rapat. Tidak sadar bahwa orang yang mendampingi sudah membimbingnya hingga ke pertengahan lagu. Daren mulai kesal dengan gadis yang tidak menikmati momennya dan justru membiarkan diri tengelam dalam kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu akan terjadi. “Hey. Apa yang kau lakukan? Buka matamu.”
Valmera menggeleng.
“Aku bilang buka.”
“Ti … tidak mau …,” sahutnya pelan. Ia semakin menunduk dalam. Menyembunyikan paras indahnya dari hadapan sang Pangeran. Namun, ia bukannya bermaksud tidak sopan. Valmera hanya benar-benar takut akan mengacaukan segalanya di hadapan tamu-tamu ayahnya.
“Aku bilang buka matamu! Dasar Putri Cantik keras kepala!”
“WAAH!?” Valmera merasakan tubuhnya tiba-tiba di angkat—menjauh dari lantai dansa. Matanya yang membeliak terkejut sontak saja beradu dengan manik Daren yang mendongak kepadanya. Tak disangka, di bawah sorot lampu besar ballroom, mata merah menyala itu bisa terlihat begitu indah. Mengaburkan fakta bahwa seringai masih tetap melekat pada wajah si pangeran.
Semua orang terpukau. Tidak menyangka seorang bocah sepuluh tahun yang fisiknya belum sekuat orang dewasa mampu mengangkat pasangan dansanya. Bagi Shella sendiri, posisinya ini lebih seperti terbang. Tubuhnya terasa begitu ringan. Ia juga bisa merasakan sedikit energi magis mengelilingi dia dan si pangeran Apakah Daren menggunakan sihir yang membuatnya dapat mengudara?
Teknik dansa yang dilakukan Daren tidak berlangsung lama. Setelah membawa Valmera dalam satu putaran di udara, ia kembali mendaratkannya. Saat itu, si perempuan berumur tujuh tahun itu menyadari bahwa hanya tersisa dirinya dan Daren di pusat ruangan. Pedansa lain seakan sengaja bergerak di tepian sehingga memberikan ruang lega untuk mereka berdua. Lagu masih belum usai. Di beberapa menit menuju akhir itu, Valmera mulai menikmati setiap langkah yang dia lakukan. Semuanya berjalan lancar seperti arus air di Sungai Syle. Mengalir tanpa hambatan. Meluncur di ujung tebing tiada kesulitan.
Dan, tanpa Valmera sadari, dansanya telah usai. Para pemain orchestra sudah selesai dengan lagunya. Dia pun bisa mendengar tepuk tangan ramai diberikan orang-orang di sekitar.
Daren membungkuk hormat, Valmera pun merendahkan tubuh sebagai penutup dari setiap dansa yang dilakukan. “Sampai bertemu di makan malam kerajaan besok, Putri Cantik.” Daren berlalu melewati Valmera yang masih terpaku di tempat. Masuk ke dalam kerumunan dan sempat beradu dengan seseorang.
“Ah. Maafkan aku.”
Mata Daren berkelit tajam. “Pakai matamu kalau jalan!” serunya dan lanjut melangkah tanpa memedulikan lelaki berambut pirang yang membungkuk sopan.
…o0o…