Lilac 8

1504 Words
~~***~~ “AAAAA!!!! Maafkan saya, Nonaaa! Maafkan saya!!” “Sudah kubilang aku tidak apa-apa, Nera. Lihat, nih! Aku masih bisa lompat-lompat!” Valmera melompat-lompat penuh semangat, berusaha untuk membuktikan bahwa ia sehat sepenuhnya. “Ta—tapi, Nona!” Gadis berambut merah bata tergerai yang berlutu di hadapan perempuan kecil dengan piyama yang sudah melekat dalam tubuh terus berseru. “Saya melihat sendiri apa yang terjadi di ballroom tadi! Sebagai dayangmu, saya sudah benar-benar gagal! Saya tidak bisa melindungi Nona dari monster itu.” “Nera, kau seorang dayang. Bukan seorang pengawal—“ “Dan, saya sungguh tidak berani menemui Nona setelah dansa selesai. Saya juga tidak seharusnya menampakkan diri yang memalukan ini di hadapan Nona sekarang!” “Ne—Nera … kau berlebihan!” Di samping Nera, seorang perempuan lain yang sedari tadi hanya berdiri memperhatikan mendekat. Ia membungkukkan badan. Begitu dalam hingga membuat rambut coklat yang tidak terikat jatuh menutupi wajah. “Maafkan saya juga, Nona Valmera.” “Ke—Kenapa kau juga ikut-ikutan, Dara …?” Valmera menghembus napas. Ia menjatuhkan b****g ke atas ranjang di belakangnya. “Aku tidak apa-apa. Sungguh!” Dia menunduk. “Tadi aku memang kesal. Tapi itu tadi ….” Sebelum Daren melakukan “sihirnya”. “Aaargh!!” Nera tiba-tiba berteriak. Mengejutkan Valmera dan Dara yang tenggelam dalam kebisuan beberapa detik itu. “Dasar Pangeran Daren menyebalkan!” katanya. Ia mendekat dan menggenggam erat kedua tangan Valmera. “Tenang saja, Nona! Besok akan aku pastikan acara makan malam Nona akan berjalan tenang dan damai!” Valmera tersenyum. “Terima kasih, Nera!” balasnya. Ia senang mendengar ada orang yang mengerti bahwa lelaki itu memang benar-benar menyebalkan. Namun, keceriaan tersebut tidak bertahan lama. “Tapi … aku masih takut. Aku tidak tahu apa yang akan orang itu lakukan. Bagaimana kalu dia sungguh akan memakanku besok!?” “Hmm …. Itu bisa jadi alasan besar untuk Yang Mulia Raja Arther menutup gerbang rapat-rapat dan melarang Pangeran Daren untuk menginjakkan kaki di sini selamanya.” “Oh-oh! Atau begini. Kita manfaatkan berita tunangan Nona Valmera dengan Pangeran Neal!” Valmera menelengkan kepala tak mengerti. “Apa hubungannya?” Nera berpikir. “Hmm …. Entah? Biasanya orang tidak akan berani macam-macam kalau seseorang sudah ada yang punya.” “Aku rasa itu hanya berlaku dalam urusan cinta orang dewasa, Nera.” Dara berkomentar. Sudah ada yang punya? Cinta orang dewasa? “Sudahlah, Nona Valmera. Jangan dengarkan Nera. Lebih baik Anda tidur. Ini sudah hampir larut,” saran Dera. Sang gadis yang kebingungan hanya bisa mengangguk dan segera memapankan diri ke ranjang besarnya. Ia benar-benar berharap kalau besok Semesta akan memberinya sedikit anugerah dengan tidak mendatangkan monster itu ke hadapannya, atau setidaknya ada seseorang yang akan datang menolong ketika Pangeran Daren akan memangsanya. Ia terus berdoa dan berharap, hingga ia benar-benar terlelap. Tahu-tahu kesunyian malam telah berganti dengan kicauan burung di luar kamar. Dan apa yang ia panjatkan pada Semesta semalam, sepertinya tak didengar (sepenuhnya) oleh-Nya. Semesta hanya memberinya harapan sesaat, sebelum kemudian menghilangkan kesenangannya. Sungguh sial petang itu. Kala si putri bahagia karena pagi dan siangnya tidak diusik oleh suatu apapun yang menyebalkan nan menyeramkan, ia justru harus menghadapi ketakutannya ketika tengah menyusuri lorong menuju ruang makan khusus jamuan makan malam kerajaan. Pintu yang seharusnya menampakkan ruangan berdinding coklat dengan ornament keemasan, serta deretan kursi yang tertata di balik meja panjang, justru membawanya ke sebuah tempat remang-remang dengan jalan bebatuan. Ia tidak menyadarinya sampai ketika kulitnya tak sengaja menyentuh ujung daun di Taman Istana dan membuatnya terperanjat. “E—eh!? Kenapa aku ada di taman?” Valmera celingak-celinguk mencari sosok yang seharusnya tadi berjalan menemaninya. “Nera? Dera!? Dimana kalian?” panggilnya. “Berhenti berteriak, Cantik. Kau hanya akan membuat tenggorokanmu sakit. Tidak akan ada juga orang yang mendengarmu.” Ugh! Ya. Seharusnya Valmera tahu ulah siapa ini. Tidak ada orang yang senekat ini menculik seorang putri raja meskipun masih dalam lingkup istana. “Pangeran Daren! Makan malamnya sudah akan mulai!” “Bukan urusanku.” Sosok itu mendekat dari arah belakang. “Untuk apa aku peduli dengan acara membosankan itu, kalau ada yang lebih bisa dinikmati di sini?” Lirikannya membuat bulu kuduk Valmera seketika berdiri. Apa yang harus ia lakukan? Apa ada cara untuk kabur dari sini? Tapi, ia sudah mencoba hal itu berkali-kali dan Daren selalu berhasil mencegahnya dengan cara apapun. Aargh! Seharusnya hari ini bisa menjadi lebih normal! Bergabung dengan tamu-tamu kehormatan ayah—yang biasanya terdiri dari perwakilan anggota bangsawan negeri tetangga, orang-orang kepercayaan raja, juga sosok yang berpengaruh di Kerajaan Llaeca. Kenapa nasibnya selalu seperti ini? Menyebalkan! “… Bagaimana kalu dia sungguh akan memakanku besok!?” “Hmm …. Itu bisa jadi alasan besar untuk Yang Mulia Raja Arther menutup gerbang rapat-rapat dan melarang Pangeran Daren untuk menginjakkan kaki di sini selamanya.” Valmera teringat ucapan Dera. Apa dia bisa mencari cara agar Daren benar-benar menunjukkan apa yang ia sembunyikan lantas mengadukannya kepada Ayah? Tapi, menurutnya fakta bahwa ia telah diteleportasi dari Ruang Makan ke Taman Istana seharusnya sudah cukup untuk membuat Daren dihukum. Ayah seharusnya mengerti itu, pikirnya. “Kau menikmati pesta kemarin, Cantik?” tanya Daren tiba-tiba. Mengingatkan kembali Valmera akan apa yang dialami oleh dirinya. Sentuhan magi situ … mendadak dapat ia rasakan kembali. Sensasi menakjubkan melayang di bawah sinar lampu diniringi melodi indah dari simponi kerajaan …. Valmera menggeleng kuat-kuat, berusaha menghilangkan imajinasi anehnya. “Hey, Putri.” Sekali lagi suara Daren membuat tubuh Valmera sekaku pohon di hutan. Apalagi, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari ucapan si Pangeran. Sang gadis semakin tidak berani menggerakkan badan. Namun, lawan bicaranya terus mendesak. “Ada yang mau aku bicarakan. Berbaliklah.” Valmera menggeleng pelan. Sangat pelan. Seakan tidak ingin diketahui oleh Daren. Ia bisa mendengar langkah kaki mendekat. Sang gadis semakin kalut. Jantungnya mulai derdetak cepat. Dia seperti bisa merasakan geraman serigala lapar di balik punggungnya. Menyebutkan namanya berulang kali entah untuk tujuan apa. Ketika ketakutan semakin menguasai dirinya, Valmera teringat perkataan Nera semalam.. “Kita manfaatkan berita tunangan Nona Valmera dengan Pangeran Neal! Biasanya orang tidak akan berani macam-macam kalau seseorang sudah ada yang punya.” “Put—“ “A—Aku sudah bertunangan!” Suara tapak kaki terhenti begitu saja disusul keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Gadis dengan balutan gaun petang pink pastel-putih berpita berbalik. Dengan seluruh keberanian yang ia punya, Valmera mengulang kalimatnya. “A—Ayah memberitahuku kemarin … ka—kalau Pa—Pangeran Neal adalah tunanganku,” katanya gagap. Cahaya di tempat ini memang tidak terlalu terang, tapi Valmera tetap bisa melihat ekspresi yang ada pada wajah Daren. Bukan marah, bukan terkejut … dia tidak bereaksi? Valmera justru semakin cemas dengan sikap si Pangeran. “Putri ….” Daren akhirnya berucap. Suaranya sempat terdengar begitu dalam, tapi sedetik kemudian ia mendengus dan tertawa. “Serius, Cantik. Untuk apa kau mengucapkan omong kosong seperti itu padaku?” Daren tidak berhenti tertawa. “Tapi, aku serius!” “Lalu?” tanya Daren. “Apa yang kau mau setelah mengatakan itu?” Valmera diam. Terdengar decihan keluar dari mulut sang pangeran. “Kau merusak suasana hatiku,” ucapnya pelan. Valmera yang tidak bisa mendengar jelas bertanya, namun Daren tidak membalas dan justru berbalik meninggalkan Valmera tanpa sepatah kata lagi. Dia bisa merasakan gadis kecil itu mengekor cukup jauh di belakangnya. Sebuah portal lantas dibuatnya tepat satu langkah di depan Valmera dan membuat perempuan yang kalah cepat dengan kemunculannya langsung terbawa masuk dan berpindah tempat ke hadapan pintu Ruang Makan. Membuatnya terheran-heran untuk kesekian kalinya. “Oh, selamat malam, Pangeran Daren dari Xologon.” Lelaki yang disinggung namanya memutar badan. Mengarahkan lirikan tajam pada manusia yang ia pikir seumuran dengannya. Senyumnya merekah, manik biru langitnya nampak cerah di bawah cahaya redup seperti ini. Ia langsung mengenali ketika melihat rambut berwarna terang dari tamu tak diundangnya. Warna yang sama dengan orang yang ditabraknya di Pesta Malam Tahun Baru kemarin. “Pangeran Neal.” ~~***~~ Valmera tak henti-hentinya menggerutu sendirian di dekat pintu masuk Ruang Makan. Ia sekarang yakin, kata menyebalkan saja tidak cukup untuk disematkan kepada makhluk bernama Pangeran Daren Caecillius. Tingkatnya itu sudah lebih—sangat melebihi dari itu. Entah seberapa tinggi, tapi yang jelas sangaaaaat tinggi sampai-sampai Valmera tak dapat menjelaskannya. “Bagaimana sekarang? Apa aku langsung masuk saja? Ayah pasti mencariku dari tadi. Apa tidak apa-apa? Apa aku akan dimarahi?” pikiran sang gadis mulai diliputi rasa cemas. Jari-jemarinya saling bertaut tak karuan, antara mau mendorong pintu besar di depannya atau tidak. Mendadak, seseorang menepuk pucuk kepalanya. Ketika Valmera berbalik, ia tak bisa menahan sumringah di wajahnya. “Pangeran Neal!” “Mau kutemani masuk, Putri Valmera?” Tanpa ragu, sang gadis langsung mengangguk bahagia. Perasaan kesal campur aduk tadi lenyap begitu saja tanpa meninggalkan sedikit jejak pun. Neal yang ternyata menjadi perwakilan ayahnya dari Kerajaan Vorenia, membuka jalan dan mempersilakan putri raja untuk masuk lebih dulu. Keduanya kemudian menikmati malam bersama dengan obrolan riang dengan tamu yang lain. Tidak menyadari bahwa di sisi lain ada api kecil dan kegelapan yang mulai tersulut tanpa siapapun ketahui. …o0o…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD