Lilac 9

1591 Words
~~***~~Pintu besar ruangan tertutup. Gadis yang sedari tadi duduk tegap akhirnya melepaskan semua beban ke sandaran kursi. Hembusan nafas panjang meluncur dari mulutnya, seraya mata beriris hazel menutup perlahan. Empat jam. Padahal hanya empat jam. Tumpukan buku dan rentetan materi yang diterima telinga, mata, serta otaknya menyedot semua energi yang dia punya. Kepalanya panas—mungkin hampir meledak saking rumitnya Tidak peduli sudah enam belas tahun lebih kegiatan ini menjadi rutinitas sehari-hari, kepala panas—yang mungkin sedikit lagi akan meledak—dan rasa lelah tetap menyiksanya setiap waktu belajar. Valmera masih bersyukur guru privatnya ini sedikit memberinya keleluasaan untuk rehat beberapa menit setelah materi maupun pengerjaan soal. Jadi, dia bisa menghirup sedikit udara bebas meski hanya sesaat. Kelopak mata terbuka. Dia memandang langit-langit sejenak. Menikmati ketenangan sebelum mendekatkan tubuh lagi ke meja dan mengumpulkan segala barang yang berserakan di atas sana. Tanpa sadar dirinya melamun dan memunculkan kilas materi beberapa jam tadi. Kerajaan Llaeca, berdiri sejak 10 abad yang lalu. Dewi Syringa menjadi pemimpin pertama yang turun langsung dari langit. Berkat kekuatan Nishati dari Semesta, dia berhasil menghentikan konflik dunia manusia dengan Narak—dunia para iblis…. Dewi …. Rasanya Valmera sudah sangat-sangat sering mendengar nama itu. Bukan hanya karena sejarah yang terus-menerus dijejalkan ke kepala, tetapi juga sebab panggilan-panggilan orang terhadap dirinya. Nera pernah berkata, tidak aneh kalau Pangeran Neal bisa mencintainya. “Tidak ada yang bisa berpaling dari kecantikan Nona. Bahkan, orang yang pertama kali melihat Putri dari Llaeca pun langsung jatuh cinta. Tidak ingin kehilangan sosok Nona yang seakan punya kekuatan magis untuk menjadi cinta pertama banyak orang!” “Ada-ada saja. Atas dasar apa kau bisa bicara seperti itu, Nera?” Si dayang tersimpul, seraya berlagak seakan tengah berpikir keras, “Hmm … mungkin … insting yang kuat? Oh! Nona mau tahu apa julukan yang diberikan rakyat untuk Nona?” Valmera menyesap teh siangnya. Maniknya melirik meminta jawaban dari Nera. “Lilac Ungu,” ucap si dayang kemudian. “Simbol dari cinta pertama. Nona mungkin bisa mengerti hubungan antara nama ini dengan perkataan saya sebelumnya.” Sejak ia mendengar penjelasan itu, Valmera menjadi sadar akan hal yang tidak pernah diperhatikannya. Ternyata memang selama ini Lilac Ungu sudah menjadi hal umum untuk banyak orang. Bunga yang hanya mekar di musim semi itu tiba-tiba saja menjadi hal yang melekat di dirinya. Dan tidak hanya berhenti di situ, banyak orang yang mulai meyakini kalau ia adalah titisan dari Dewi Syringa—jelmaan lilac itu sendiri. Dari mana Valmera tahu? Tentu saja dari dayang berambut merah tua yang tidak pernah berhenti mendongeng tentang sang Dewi sejak ia menyimpulkan teori setelah membaca sejarah Llaeca dan dunia dengan pertumbuhan dari putri tunggal Raja Arther. Yah … kalau memang bukan sesuatu yang buruk dan bisa mencoreng nama baik, Valmera tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tiba-tiba Valmera berhenti bergerak. Ada bagian yang terlupa ketika ia mencoba mengulang pelajaran tadi. Ia menimbang-nimbang. Tidak kunjung ingat juga, perempuan itu memilih membuka salah satu buku bersampul merah bata di tangannya. “Empat kerajaan bersatu dan membangun kedamaian. Nishati Semesta turut terbagi kepada pemimpin-pemimpin kerajaan yang lain. Raja atau ratu yang memimpin kemudian menjadi wakil alam—Rielga.” Ugh …. Valmera bisa merasakan keningnya berdenyut. Pertanda dia benar-benar butuh istirahat. Pergi keluar, jalan-jalan keliling istana atau ke ibu kota, menghirup udara segar yang mungkin bisa menyegarkan kembali otaknya. ~~***~~ “Putri!” Kaki jenjang yang tertutupi gaun biru muda berlengan sabrina terhenti ketika suara familier menggetarkan gendang telinga. Ia berbalik dan mendapati sosok jangkung tersenyum kepadanya. “Pangeran Neal?” “Sudah kubilang panggil aku Neal saja.” “Kau juga memanggilku Putri. Jadi, apa salahnya?” “Kau lebih manis kalau dipanggil Putri. Karena itu aku memanggilmu Putri. Apa itu mengganggumu, Putri? Valmera melotot. “Berhenti mempermainkan namaku!” Pemuda itu terkekeh. Melihat perempuan berambut putih ini menggembungkan pipinya karena kesal menjadi hiburan tersendiri untuknya. Sekaligus pelipur lara ketika berbagai hal mulai merundungi kepala dan membuatnya frustasi. Ketika sadar kalau Valmera sedang dalam suasana hati yang tidak begitu bagus, rasa ingin menjahilinya semakin meningkat. Neal tidak bisa menahannya. Pangeran menepuk pucuk kepala orang di depannya. “Maafkan aku, Putri. Mau kutemani keliling istana Springgleam? Barangkali bisa memperbaiki suasana hatimu, sekaligus permintaan maaf dariku.” Kata Putri yang terdengar sekali lagi membuat Valmera menghela napas. Dia terlalu lelah untuk protes, jadi hanya anggukan yang dia berikan sebagai jawaban atas ajakan sang pangeran. Mereka pun mulai menyusuri jalan setapak dari bata coklat muda. Tidak terlalu banyak percakapan terjadi di antara mereka, karena Valmera tengah sibuk memberi ruang di dirinya dengan melepaskan beban selama di ruang belajar tadi. Sesekali ia melirik ke sosok di sampingnya. Di saat yang sama, orang itu juga melirik dan memasang senyum manis yang khas. Sontak saja Valmera salah tingkah dan langsung membuang muka. Sudah sekitar tujuh atau delapan tahun sejak berita tunangan itu sampai kepadanya, dan semenjak itu pula perlahan ia mengenal dan semakin dekat dengan Putra Mahkota dari Kerajaan Vorenia tersebut. Namun, tetap saja. Melihat wajahnya—apalagi dalam jarak sedekat ini—masih belum sanggup untuk dia dilakukan. Meskipun mau, tubuh sang gadis selalu bergerak sendiri. Melakukan berbagai hal untuk menghindari matanya beradu dengan iris biru terang itu, atau melihat senyum yang bisa membuat jantung Putri Mahkota berdegup cepat seketika. Padahal dengan Pangeran negara lain tidak begini! Valmera bisa menghadap para petinggi dan orang-orang penting yang dikenal hebat, berkuasa, yang sorot matanya menatap tajam dan dalam atau yang setengah mengintimidasi. Ia bisa menaklukkan semua itu, tapi kenapa dia—! Ah, tunggu. Dia harus meralat perkataannya. Memang ia bisa menghadapi siapa pun, kecuali satu lelaki itu. Orang yang sudah lama tidak menunjukkan penampakannya sejak Makan Malam Kerajaan di umurnya yang masih lima tahun. Memang sudah cukup lama waktu berlalu, dan sikap Daren yang masih ada diningatannya tidak lagi sebegitu menakutkannya. Namun, sorot matanya itu masih sedikit mengusiknya. Ia jadi bertanya-tanya, kemana orang itu menghilang? Apakah Valmera masih bisa menghadapinya jika tiba-tiba sosok itu hadir lagi di hadapan dengan seringainya itu? “Putri, apa ada masalah?” “T—tidak. Tidak ada apa-apa.” “Sungguh? Tapi keningmu berkerut dalam. Wajahmu menekuk. Dan, wajahmu merah ….” Terdengar nada bicara Neal berubah pada kalimat terakhirnya. “Berisik!” amuk si gadis. Sang putri mendadak lompat ke hadapan Neal. Menghentikan langkah si pangeran yang sedikit terkejut dengan ulah Valmera. Pemuda itu bisa melihat sorot berbeda dari iris magenta Valmera. Ada keseriusan yang begitu kentara di sana. “Hm? Ada apa, Putri?” “Pangeran Neal, aku punya satu permintaan yang cukup egois untukmu. Apa kau mau mendengarnya?” “Apapun, Putri. Katakan saja.” “Tolong,” kata Valmera menarik napas. Meneguhkan hatinya sekali lagi sebelum melanjutkan. “Ajari aku bertarung!” Neal terkesiap dengan kalimatnya. “Eh?! Bertarung? Tapi kau kan seorang Putri—“ “Aku mohon, Neal. Ah, tidak. Aku memerintahkanmu! Ajari aku bertarung. Beritahu aku cara menggunakan senjata. Aku ingin kau melatihku!” Mata Neal masih mengerjap beberapa kali. Dia benar-benar terkejut dengan permintaan putri tunggal Raja Arther ini. Seorang putri ingin memegang senjata? Dalam tradisi, tidak ada wanita yang dinijinkan untuk memegang senjata jenis apapun, karena mereka pun tidak diperbolehkan untuk turun di medan perang—kecuali perempuan yang ada di keluarga Knight. Bangsawan lain—apalagi keluarga raja yang merupakan satu-satunya pewaris tahta—tidak diperbolehkan mempertaruhkan nyawa di peperangan. Namun, melihat kesungguhan dalam mata yang berbinar penuh harap. Neal tidak yakin ia bisa menolak keinginan si gadis. Sejak dulu, ia tahu kalau sekali Valmera menginginkan sesuatu dengan mata itu, maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya, maupun mengubah pikirannya. Neal menghembus napas panjang. “Baiklah, Putri,” balasnya membuat wajah muram Valmera berubah 180 derajat. “Tapi, sebelum itu, bolehkah aku tahu apa alasanmu meminta hal yang sangat-sangat bertentangan dengan tradisi kerajaan?” Sebelum menjawab, Valmera beranjak dari tempatnya dan memilih berdiri di sisi Neal. “Akhir-akhir ini, aku sering mampir ke gedung pelatihan prajurit saat waktu luang. Melihat mereka berlatih … entah kenapa membuatku betah lama-lama. Dan aku jadi lebih sering mampir ke sana. “Semakin lama aku jadi terpikir. Kau tahu, aku pewaris tahta Kerajaan Llaeca. Melindungi, menjaga, dan menjamin hidup rakyat akan berpindah ke tanganku suatu hari nanti. Aku tidak mau menjadi seorang ratu yang lemah.” “Kau masih punya Nishati dalam tubuhmu.” “Itu tidak cukup,” jawab Valmera cepat. “Aku tidak ingin hanya dengan sihir, atau kekuatan Semesta. Aku ingin ada kekuatan murni dari diriku dalam memimpin nanti. Aku mau jika harus turun ke medan perang nanti, aku akan berdiri sebagai tonggak pasukan. Jadi, aku harus kuat!” Penjelasan panjang lebar itu membungkam Neal untuk beberapa menit. Ia menganga—tidak menyangka Valmera yang sebelumnya sama sekali tidak pernah menyinggung soal hal itu tiba-tiba berbicara demikian. Rasanya baru Valmera seorang gadis yang secara terang-terangan bilang kepadanya dia ingin sebuah senjata—bahkan membicarakan pasal perang. “Kalau sudah begini … bagaimana bisa aku menolak—” Kalimat Neal tersendat di tenggorokan ketika sang putri menghambur ke arahnya secara tiba-tiba. “Terima kasih banyak, Pangeran Neal!” “Ah! Aku akan melatihmu dengan satu syarat.” Valmera mendongak, dan si pemuda berkata, “Hilangkan embel-embel Pangeran saat memanggil namaku di luar acara formal. Neal, cukup begitu. Mengerti?” Valmera membalas singkat dengan sebuah anggukan. Neal membalasnya dengan tepukan pelan di pucuk kepala—kebiasaan yang masih sering dia lakukan setiap Valmera berlaku baik. Tidak peduli meski gadis kecil yang ia temui dengan rangkaian bunga di tangan beberapa tahun lalu, kini telah menginjak masa remaja. “Kalau begitu sampai jumpa besok, Putri. Aku akan menjemputmu nanti.” ...oOo...      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD