Episode 7

1670 Words
Ntah sudah berapa lama pak Wili mengoceh menjelaskan materinya yaitu pembelahan sel, di depan sana. Perut Aira sangat sakit, menggigit bibirnya untuk menahan ringisan yang ingin keluar. Aira mendelik, dapat ia rasakan darah mensnya keluar di bawah sana. Bagaimana ini!!. Dita yang melihat gelagat aneh kakaknya menoleh ke samping, melihat Aira menggigit bibir menahan sakit membuatnya heran, kenapa kakaknya ini? pikirnya. "Kenapa lo?" Dita bertanya, jam pelajaran pak Wili hampir habis sebentar lagi. Aira menjawab dengan gelengan, tangannya masih bertengger di perut bagian bawah saat sakit itu kembali menyerang. Dulu saat mens hari pertama ia akan dibuatkan jamu oleh nek Asih. Aira bingung, ia tidak membawa pembalut untuk menggantinya, belum lagi sampai tembus, ah malunya. "Lusa kita lanjutkan, assalamualaikum" jam pak Wili benar habis untuk hari ini. selanjutnya akan ada jam olahraga. Tapi Alhamdulillah ketua kelas mengumumkan pak Bakri sang pengajar ada keperluan, alias jam kosong. Aira berdiri, melihat kebelakang. Tak ada orang, melihat kesamping semuanya sibuk bermain gadget begitupun Dita sibuk menscrol branda Instagramnya. Aira menoleh ke arah belakang roknya, meskipun roknya berwarna gelap, tapi kemeja putihnya kena darah, Alias tembus. Aira duduk kembali, ah malunya. Bagaimana ini membeli pembalut keluar, itu tidak mungkin dia tidak punya sesuatu untuk menutupi kemejanya. Belum lagi keadaan kelas yang rame, pasti dia jadi bahan candaan laki-laki nanti. Dita kembali melihat Aira gelisah, kakaknya ini sebenarnya kenapa. Dita terganggu, itulah dari dulu dia tidak mau ada yang semeja dengannya karena itu membuatnya terganggu. "Kenapa sih?" Dita kembali bertanya, mendekat kan badannya ke arah Aira. "Tembus." Aira menjawab lirih, ah dia sangat malu. Meskipun Dita itu adiknya. "Ha?" Dita mengerenyit, apanya yang tembus? pikirnya. Kemudian kembali mengerti, Dita menahan tawa, ah kakaknya ini sedang mens toh. "Gak bawa pembalut emang?" Aira menggeleng, perutnya kembali sakit. Memegangi kembali perutnya membuat perhatian Dita tersita, Dita tau sakitnya saat mens. Menggeleng kan kepalanya, Dita mengambil pembalut yang selalu dia bawa meskipun tidak halangan. "Ni." Dita memberikan pembalut itu dari bawah. "Gantinya gimana?" "Lo gak bisa pake pembalut?" Dita ambigu karena ucapan Aira. "Bukan, maksudnya itu, kemeja aku kena." Dita menghembuskan nafas pelan, Aira ini menyusahkan saja. Dita juga bingung akan melakukan apa untuk menutupi kemejanya kakaknya ini. Belum lagi keadaan kelas yang begitu rame, bisa jadi bahan tawaan nanti, kan dia juga yang malu. "Tunggu bentar." Aira melihat Dita keluar, Dita kemana, pikirnya. Lama Aira menunggu adiknya itu belum datang juga, ah bagaimana ini. Aira takut tembusnya makin banyak. Ah menjijikkan!!. "Nih, pake." Dita menyerahkan Hoodie hitam ke arah Aira. Jujur hati Aira menghangat karena sikap Dita, walau terkesan cuek Dita ternyata peduli kepadanya. Buktinya ia mencarikan penutup untuk kemeja Aira. "Punya siapa?" Aira bertanya, masalahnya Hoodie yang berada di tangannya ini bau parfum cowok. "Gak penting, cepat sana ganti!" Aira mengangguk, memakai Hoodie itu. Badan Aira yang kecil membuatnya tenggelam di dalam Hoodie hitam itu. Aira terbuai dengan wangi Hoodie ini, seperti pernah merasakan wanginya tapi kapan. ~️️️~ Aira baru saja siap dari toilet, noda darah kemejanya tidak bisa hilang meskipun sudah digosok kuat. Terpaksa Aira harus memakai Hoodie ini sampai pulang. Sebenarnya Aira tak nyaman, Hoodie ini terlalu besar untuknya. Aira menghela nafas, berjalan keluar dari toilet lalu pergi menuju kelasnya. Di perjalanan Aira hanya menunduk kan kepalanya, nth kenapa semua mata terarah padanya. Apanya yang salah. Aira kembali berjalan menunduk, jujur dia risih ditatap oleh semua orang seperti ini. "Bugggh!" Aira meringis jidatnya terbentur sesuatu yang keras, mendongak Aira melihat d**a seseorang persis didepan wajahnya. Aira mundur ke belakang, menatap siapa yang di tabraknya ini. "Maaf." Aira meminta maaf kepada Elno, ya d**a Elno yang ditabraknya tadi. "Hmm."Elno bergumam sebagai jawaban. Lalu matanya menyipit melihat Hoodie yang di pakai Aira, bukankah itu.. "Kok natap aku kayak gitu?" Aira bertanya saat di tatap dalam oleh Elno, ah cowok ini tidak tau bahwa Aira sedikit salah tingkah ditatap seperti ini. Belum lagi kilasan tadi malam masih melekat di kepalanya. "Hoodie siapa?" Elno balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Aira. "Oh, tadi Dita yang minjamin." "Jaga baik-baik, gue gak suka barang gue rusak ditangan orang lain." Elno pergi berlalu meninggalkan Aira yang bingung dengan ucapannya itu. Maksudnya apa?? Hoodie ini punya Elno emang? batin Aira. Aira kembali berjalan menuju kelasnya, sesampainya di kelas Aira melihat Dita yang tengah duduk bersama Leo, di sana Aira melihat mereka mengobrol. Lebih tepatnya Leo yang berusaha mengobrol dengan Dita. Sedangkan Dita hanya diam. "Hai kakak ipar." Leo menyapa saat melihat Aira yang baru datang. "Hai." Aira menjawab sambil ikut duduk di bangkunya, karena kini Leo duduk di bangku Jihan otomatis mereka berhadapan. "Hoodienya----" mata Leo menyipit melihat Hoodie yang dipakai Aira. "Elno." Dita menjawab. Aira menoleh ke samping, ah pantas saja tadi Elno menyuruhnya menjaga dengan baik. Tapi kenapa bisa Dita meminjam Hoodie ke Elno, apa mereka teman?? Berarti buku diary itu benar dong. "Oh iya, punyanya Elno." Leo menyambung. "Ta, nanti malam keluar yuk." Leo mengajak Dita. "Gak ada waktu." Dita menjawab cuek sambil memainkan handphonenya. Adiknya Aira ini memang benar-benar. "Ayolah Ta, Lo kenapa sih nggk mau gue ajak jalan. Plis kali ini aja kok." Leo kembali membujuk Dita, berharap gadis di depannya ini menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dita menghela nafas, cowok satu ini tidak pernah menyerah. Memandang wajah Leo, Dita tak tega menolaknya. Bagaimana pun Leo punya hati, bisa saja hatinya nanti sakit setelah puluhan kali ajakannya ditolak. "Yaudah, kita nonton. Tapi kali ini aja." Leo bahagia sekali, ternyata ajakannya kali ini berhasil buktinya Dita mengiyakan. "Ntar malam gua jemput deh." Dita hanya mengangguk kan kepalanya, Leo yang senang pamit pergi ke kelasnya. Aira tersenyum melihat itu, ternyata adiknya ini di kejar-kejar oleh cowok tampan. "Kalian kenapa gak pacaran aja?" Aira bertanya kepada Dita. "Ck, bukan urusan lo." setelah mengatakan itu Dita pergi meninggalkan kelasnya. Aira mengedikan bahu tak acuh. Dita selalu seperti itu, ketus. ~️️️~ Malam ini Aira telah siap dengan pakaian bagusnya, ya Dita mengajaknya ikut nonton bersama Leo. Ntah kenapa selepas pulang sekolah tadi Dita memintanya untuk ikut nonton bersama mereka. Leo yang rencananya ingin menjemput ke rumah Dita menjadi gagal, karena Dita mengatakan akan pergi menaiki mobil saja dan berjumpa di bioskop. "Udah siap?" Aira yang sedang memoles kan bedak bayi ke mukanya menoleh ke arah Dita yang sudah berdiri di depan pintu. "Udah yuk." Jujur, meskipun mereka akan pergi bertiga. Tapi rasa senang jalan dengan Dita sangat besar di hati Aira. Karena baginya momen-momen seperti ini dapat mendekatkan dia dengan sang adik. "Kamu tau Dit?" Aira menoleh ke arah Dita yg sedang fokus mengemudi mobil. "Jalan kayak gini itu ngebuat aku senang." lanjut Aira. Dita diam, jujur hati kecilnya menghangat bila dekat dengan Aira, seolah kasih sayang seorang kakak yang hilang lama telah datang kembali. Namun, karena alasan itu Dita benci dengan datangnya Aira kembali ke hidupnya. "Hmm." Dita hanya bergumam sebagai jawaban dan tetap fokus pada jalanan di depannya. Hampir setengah jam mereka di perjalanan menuju mall tempat mereka nonton, sampai akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. "Leo udah nunggu di dalam, cepatan." Dita keluar dari mobilnya diikuti oleh Aira dari belakang. Ah ini pertama kalinya Aira pergi ketempat seperti ini. Di kampungnya, Aira tak pernah pergi ke mall, tidak ada mall di kampungnya, Apalagi bioskop. Dulu Aira selalu ingin tau bagaimana rasanya nonton di bioskop dengan layar yang besar itu. Tapi kini lihatlah, keinginan itu terwujud. Di sana Leo telah duduk dengan memainkan handphone ditangannya. Sebenarnya, bagi Leo tak masalah Aira diajak. Yang penting Dita mau ikut dengannya. "Aku udah beli tiketnya." Leo menunjukkan tiket di tangannya. "Masih 10 menit lagi sih masuk." lanjutnya melihat jam yang tertera di tiket nontonnya itu. "Ya udah tunggu aja." Aira tersenyum, ah rasanya tak sabar ingin menonton bioskop, apalagi kata Leo gendre filmnya horor. Aira suka dengan film horor. 10 menit berlalu, saat ingin masuk ke dalam bioskop Dita izin sebentar ke toilet katanya kebelet pipis. Dita pun menyuruh Leo dan Aira untuk masuk duluan ke dalam bioskop. Karena ucapan Dita yang mengatakan sebentar. Maka Leo dan Aira pun memilih pergi masuk duluan. "Dita kemana sih?" Leo gusar. Pintu bioskop sudah ditutup dan lampu sudah padam semuanya. Kini benar benar gelap. Aira yang duduk di sebelah Leo pun menggeleng tidak tau. "Iya ini filmnya mau mulai." Aira khawatir terjadi sesuatu kepada adiknya itu. Derrt...Derrtt.. Handphone Aira bergetar di dalam sakunya, disana ada pesan dari Dita. 'Lo nonton aja, gue mau pulang' begitu pesan yang dikirimkan Dita. Lagi, Dita meninggalkannya. "Dita bilang apa?" Leo tau kalau Aira mendapatkan pesan dari Dita. "Nyuruh kita nonton, dia pulang duluan," jawab Aira pelan, karena di depan film sudah ditayangkan. "Huffft." Leo mengusap wajahnya. Apa apaan ini, kenapa Dita meninggalkannya, apalagi bersama kakaknya. "Kita pulang atau lanjut nonton?" Leo bertanya kepada Aira. "Terserah, semau kamu aja." Aira berkata seperti itu dengan mata yang masih fokus di layar depan. Karena disana awal film horor itu dimulai. Bukankah sudah dibilang Aira itu suka sekali dengan film horor. Leo yang melihat Aira fokus menonton menjadi tidak tega mengajaknya pulang. Sebenarnya mood Leo sudah di bawah, dan itu semua karena Dita yang meninggalkannya, apalagi bersama Aira. Jujur, hatinya sakit saat ini. Kalo memang Dita tak mau jalan dengannya jujur saja seperti dulu- dulu. Tapi kini, ah sudahlah. Film di depan sana sudah selesai, lampu bioskop sudah dinyalakan. para penonton sudah meninggalkan tempat duduk masing-masing. Begitu juga dengan Leo dan Aira mereka mulai beranjak pergi. Aira tau selama film berlangsung Leo tidak melihat filmnya, ah lebih tepatnya melamun. "Leo?" Aira memanggil Leo yang berjalan mendahuluinya. "Maafin Dita ya." Leo menatap Aira tersenyum. "Bukan salah Dita, gue aja yang maksa dia buat jalan." Leo menghela nafas. Mungkin dirinya yang memaksa hingga Dita meninggalkannya. "Mau pulang atau makan dulu?" Leo kembali bertanya saat melihat stand makanan. "Pulang aja." Aira tak enak jika harus makan dengan Leo, bagaimanapun Leo itu gebetan Dita. Belum lagi hari sudah malam, tak enak jika ia pulang lama. Karena sebelum ke sini Aira dan Dita tidak pamit, karena Suryani dan Bara yang sedang tidak di rumah, begitu juga Alfaro. Saat di parkiran mall ingin mengambil motor Leo, Aira terkejut dengan seruan seseorang. "Leo!" "Elno?" ucap Aira dan Leo bersamaan. __
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD