Sumpah Aira takut saat ini, bagaimana tidak cowok bernama Elno ini memaksanya naik ke atas motornya lalu mengantarkan Aira pulang. Bukan karena cowok ini mengendarai motor ngebut membuat Aira takut, tapi karena Aira tak kenal dengan cowok ini, belum lagi kasus kriminalitas di Jakarta itu tinggi.
Bisa jadi sajakan cowok ini menculiknya. Bahkan wajahnya saja Aira belum melihat. Kalo bukan dipaksa Leo untuk ikut dengan Elno, Aira tidak akan mau.
Aira menatap jalanan, jalanan masih rame tidak pergi ke tempat yang sunyi. Berarti aman, pikirnya. Lalu tak lama setelah itu, motor yang dikendarai Elno memasuki komplek perumahan Aira. Ah berarti nggk jadi kena culik, Alhamdulillah. Batin Aira.
"Turun!" suara Elno membuat Aira langsung turun loncat dari motor sport itu.
"Maksihhhh, Elno." Aira sungguh tulus mengucapkan nya karena dia tadi takut tak sampai rumah karena tak tau alamat rumahnya sendiri, ckcck.
"Hmm." Elno membalas dengan gumaman dan berniat ingin pergi tapi Aira mencekal motor Elno.
"Ini bayar minyaknya."
Elno menaikkan alisnya, apa-apaan ini dikira dia tukang ojek. Sungguh melihat wajah polos Aira yang menyodorkan uang itu membuat kesal.
"Gak usah, gue ikhlas." masih sama Elno enggan untuk membuka helmnya.
"Oe, ok lah." Aira masih menatap Elno.
"Kenapa lagi." Elno bertanya, dia tak suka ditatap seperti itu oleh seorang cowek. Apalagi tatapan Aira itu seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Mau liat wajah kamu." ah, rasa penasaran itu membuat Aira tak tau malu, banyak mau.
Elno mendengus sebal, dari gerbang sekolah tadi pertanyaan ini sudah muncul, sekarang apa? Cewek itu kembali bertanya.
"Puas?" Elno menuruti kata Aira, bukan karena apa, tapi ia ingin pulang cepat dari sini.
Aira menatap Elno dalam, ah, gak kalah ganteng dari leo, eh!!
Tapi tunggu, sepertinya Aira tak asing dengan wajah Elno, seakan pernah bertemu tapi dimana. Wajahnya tak asing lagi menurut Aira, rahang tegas itu pernah ditemuinya, tapi kembali pertanyaan dimana?? Itu membuatnya bingung.
"Kita pernah ketemu gak sebelumnya?" Elno menatap dalam Aira, tatapan itu seakan mempunyai arti. Tapi pertanyaannya Aira tadi diabaikan begitu saja.
"Gue pulang." Elno memakai helmnya dan langsung melesat pergi. Aira menghela nafas, ia penasaran mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu Elno, dan kembali kepalanya pusing.
Di grasi mobil, Aira melihat mobil Dita yang berdiri tegak di situ. Berarti benar adiknya itu meninggalkannya. Ah, ingin Aira berkata toxic, kalo memang Dita tak mau bareng bilang, kenapa meninggalkannya yang tak tau alamat. Setelah ini ia akan bertanya ke bik Sumi nama tempat tinggalnya ini.
~️️️~
Aira telah mengganti pakaian nya menjadi baju rumahan biasa, ah ini terlalu mewah menurut Aira untuk dibilang baju rumahan. Karena baju ini pemberian Suryani, dan jangan tanyakan baju buluk Aira dari kampung kemana, karena Aira pun tak tau dimana.
"Bik mama mana?" Aira bertanya kepada bik Sumi yang sedang menyiapkan makan siang di meja makan.
"Ke butik kali non, bibik juga kurang tau." Suryani punya butik tak jauh dari rumah. Makanya Suryani meminta Aira nebeng dengan Dita karena dia sendiri sedikit sibuk.
"Bang Al kmna?"
"Den Al mah pulangnya sore biasanya non." Aira mengangguk kan kepalanya. Berarti sekarang dia dan Dita dong dirumah ini.
Baru menyendokkan nasi kepiringnya. Aira menoleh ke arah Dita yang tersenyum sinis, sedangkan bik Sumi sudah pergi ke belakang.
"Pulang sama siapa lo tadi?" Aira mendengus sebal, malah nanya, batin Aira bermonolog.
Kalo tidak mengingat dia orang baru di rumah ini sudah Aira tabok muka adiknya itu. Kalian tidak tau saja bar-bar Aira itu seperti apa.
Dita mendengus, kakaknya ini diam tak menjawab sambil melanjutkan makannya. Belum lagi suara kunyahannya itu membuat Dita ngiler. Padahal niat ingin mengerjai Aira malah membuatnya lapar. Terpaksa Dita duduk ikut makan.
"Lain kali, kalo kamu nggk ikhlas jangan dipaksa. Papa gak bakalan marah kalo kamu jujur." lama Dita dan Aira diam, tapi perkataan Aira membuat Dita menatapnya.
"Aku memang orang baru disini, jadi wajar kalo kamu gak suka!"
"Tapi paling nggk, kamu nggk usah pura pura ikhlas depan papa, kalo kamu jujur nggk mau aku bareng kamu sekolah papa bakalan ngerti kok." Aira sungguh marah sebenarnya.
"Kamu nggk bakalan tau gimana bingungnya aku mau pulang tadi, karena aku nggak tau alamat rumah ini. Dan teganya kamu ninggalin aku." Aira berdiri dari kursinya, pergi ke kamar. Ia takut menahan diri di sana, takut kelepasan dan mengatai adiknya, ia pemarah, itu sifatnya.
Sedangkan Dita yang ditinggalkan di meja makan hanya diam menunduk. Ia tidak menyangka kakaknya itu semarah ini, ah bodoh, jelaslah kakaknya itu marah. Ditinggalkan di tempat yang asing untuk orang baru seperti Aira itu sangat keterlaluan. Dita pikir kakaknya itu tau alamat rumahnya, sehingga Dita berani meninggalkan kakaknya, dan sedikit main-main. Tapi tadi Aira bilang dia tidak tau alamat rumahnya. Ah bagaimanapun Dita ini manusia, dia juga punya rasa bersalah.
~️️️~
Malam ini di meja makan sangat hening, Al yang kebetulan tidak ikut karena ada tugas kelompok dengan teman kuliahnya memilih makan malam di luar, dan tadi telah minta izin ke Suryani.
Begitu juga dengan Dita, biasanya dia akan heboh mengomentari makanan yang ini atau yang itu. Tapi malam ini, dia diam melanjutkan makannya.
Aira jangan tanyakan dia tak tau harus bersikap seperti apa kepada adiknya ini, setelah kelepasan marah tadi siang dia tidak pernah bicara pada Dita lagi, Aira merasa dia keterlaluan kepada adiknya itu. Meskipun Dita yang salah disini, tapi Aira merasa bersalah telah marah ke adiknya itu.
"Aira besok naik angkutan umum aja pa, ma." Dita yfng mendengar perkataan Aira langsung melihat. Dita was-was apakah Aira akan mengadukan kejadian tadi ke bara dan suryani.
"Eh kenapa?" suryani heran.
"Gak papa ma, gak enak aja ntar ngerepotin Dita." Aira tersenyum, lalu meminum air mineralnya. Mungkin ia beban bagi Dita. Makanya keputusan untuk naik angkutan umum adalah terbaik.
"Yaudah Aira keatas dulu ya." Aira menyudahi makannya dan pergi ke kamar. Kalian pikir Aira akan mengadukan kejadian tadi ke orangtuanya. Aira tau dia pendatang, membesar-besarkan masalah bukanlah hal yang baik.
Sedangkan Dita, ia diam. Dia pikir kakaknya akan mengadu ke orangtuanya. Dita menghela nafas lega. Suryani mentap Dita, ada sesuatu yang membuat Suryani penasaran.
"Kamu apain Aira?" tanya surayani.
Dita terkejut dengan pertanyaan mamanya ini, baru juga lega.
"Gak ngapa-ngapain, emang kenapa?" Dita cemberut, mamanya menampakkan kasih sayang ke orang lain, meskipun itu kakaknya.
"Mama tau kamu gak suka sama Aira, tapi Ta, dia itu kakak kamu."
"Bukannya dulu kalian dekat?" lanjut Suryani.
"Waktu bisa ngubah semuanya ma, jujur Dita gak suka sama Aira, walaupun dia itu kak dya."
"Termasuk sikap mama", batin Dita.
Sedangkan Aira diam di kamarnya, membuka kembali diary yang dilihatnya kameren. Membuka halaman demi halaman, lalu matanya membulat.
Disana halaman terakhir ada foto dia dan Dita. Yang membuat aira terkejut adalah mereka berfoto dengan seorang cowok yang mirip dengan Elno,ncowok yg mengantarkannya pulang tadi. Apa hubungan mereka dulu, apa mereka dulu berteman. Tapi dilihat dari wajah yang ada difoto ini mungkin masih umur 7/8 tahunan.
"Agrrrhh!" kembali rasa pusing itu membuatnya sakit. Aira meletakkan diary itu ketempat semula, beranjak dari sana dan merebahkan diri di ranjang. Tapi kilasan itu langsung membuatnya merasakan sakit luar biasa.
"Kamu suka sama hadiahnya?" seorang cowok dengan umur sama dengan dya bertanya.
"Suka, elo tau aja aku suka apa." dya menjawab pertanyaan cowok yang bernama 'elo' itulah.
"Dya, nanti di Bandung hati-hati ya?."
"Iya, elo jangan khawatir." dya membalas dengan senyuman manisnya.
"Elo boleh nggk cium dya?" cowok itu kembali bertanya kepada teman ceweknyanya ini.
"Kenapa cium Dya?" dya heran, tak biasanya elo meminta hal seperti itu. Ukuran anak 7 tahun sudah mengerti dengan yang namanya ciuman seperti itu.
"Kalo gak boleh gak papa." elo menghembuskan nafas kecewa.
"Boleh kok."
Elo mencium kening dya dengan lembut, membuat dya bersemu merah. Ah kalo adiknya melihat ini pasti sudah di ejek habis habisan, dikira mereka pacaran.
"Jangan lupain elo ya."
Aira tersentak, ini seperti mimpi tapi dia sedang tidak tidur. Kepalanya sakit, 'elo' dalam kilasan membuat dirinya bingung. Ah apa dia dulu punya teman cowok. Jelas yang dicium di situ dirinya. Dan cowok itu mirip dengan foto di buku diary tadi.
Lalu sangat mirip dengan Elno. Ah pantasan tadi dia seperti pernah melihat Elno. Aira penasaran, apakah ia harus bertanya pada Dita. Pasti adiknya itu punya jawaban tentang ini. Lalu apakah tadi Elno mengenali Aira, secara Leo telah mengatakan ke Elno kalo dia ini kembaran Dita.
~️️️~
Pagi ini seperti biasa, sarapan pagi dengan obrolan ringan. Kepala Aira masih sakit, tapi tidak sesakit semalam. Ia masih memikirkan siapa itu 'Elo' di kilasan itu, apa benar itu Elno cowok kemaren.
"Berangkat dulu ma." Aira menyudahi sarapannya.
"Naik apa?" Suryani heran, Dita kan belum siap sarapan.
"Aira mesan ojek online aja ma." Aira beranjak dari duduknya, menyalami Suryani dan pak bara. Lalu tersenyum ke arah Alfaro, jujur sampai sekarang dia masih canggung dengan Alfaro beda kalo bersama Dita dan Suryani. Karena Aira belum pernah secara pribadi ngobrol dengan kakaknya itu, karena Alfaro yang sibuk di kampus.
Dita menunggu ojek onlinenya di depan gerbang rumahnya, ini sebenarnya Pertama kali dia memesan ojek online. Di kampungnya mana ada seperti ini, orang lebih milih naik angkot atau tidak naik becak. Tapi tadi malam Aira telah browsing di internet dan belajar cara memesannya, bukan hal yang sulit.
"Mbak Aira?" suara laki laki membuat Aira mengalihkan tatapannya dari handphonenya, tadi dia baru membalas pesan dari teman temannya. Aira menceritakan semuanya ke temannya. Banyak dari mereka yang tidak menyangka Aira mempunyai orang tua yang kaya.
"Iya pak." Aira mengambil helm yang disodorkan tukang ojek itu. Memakainya lalu menaiki motor matic si tukang ojek.
Jalanan Jakarta memang selalu rame. Apalagi pagi seperti ini, bukan heran lagi namanya aja ibukota.
Aira menatap orang orang di depannya, sekarang ia tengah menunggu lampu hijau. Orang orang itu masih kecil, usia sekolah. Tapi baru pagi ia telah mengamen di tengah ramenya kendaraan. Aira jadi teringat dulu saat di kampung, apapun bentuk kerjaannya Aira jalani, yang penting halal. Lalu Sekarang, hidupnya dibuat berubah 100%. Hidup ditengah rumah mewah, tanpa memikirkan makan apa besok.
"Ku mau dia tak mau yang lain...."
"Hanya dia yang slalu ada di kala susah dan senang ku..." pengamen tadi bernyanyi di dekat motor tukang ojek yang ditumpangi Aira.
Aira tersenyum, mengambil uang dengan warna hijau di dalam saku sekolahnya. Lalu memberikan kepada anak tadi.
"Nggk ada kembalian nya kak." anak itu sibuk mencari uang di dalam plastik kecil tempat uangnya.
"Gak usah, ambil aja semua." Aira tersenyum mengangguk, ah dapat Aira lihat wajah senang anak itu. Padahal uang segitu bukanlah banyak, tapi bahagianya luar biasa. Aira mewajari itu, dulu ia juga seperti itu. Saat susah ada orang yang memberinya sesuatu nth uang atau barang, senangnya bukan main.
Motor tukang ojek kembali melanjutkan perjalanan, Aira bisa hapal jalan ke sekolahnya, juga alamat rumahnya sudah ia catat berkat bantuan bik sumi.
"Ini pak." Aira memberi uang ongkosnya tadi, tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Setelah itu baru dia jalan masuk ke sekolahnya.
Di koridor perjalanan ke kelas, seperti hari kemaren dia menjadi pusat perhatian, belum lagi kenyataan yang tersebar bahwa ia adalah kembaran Dita, sang primadona sekolah. Aira risih ditatap seperti itu, menyebalkan.
"Pagi." Jihan menyapa Aira yang telah duduk di bangkunya, membaca buku biologi sesuai daftar pelajaran hari ini.
"Pagi."Aira membalas dengan senyuman.
"Dita belum datang?" Jihan melihat bangku di samping Aira masih kosong.
"Belum."
"Kalian gak bareng? " Jihan bertanya karena kameren mereka bareng, tapi hari ini tidak.
Aira menggeleng, perutnya sedikit keram mungkin ingin datang bulan. Mengingat ini akhir bulan, pasti mens nya datang di waktu dekat ini.
Kalo memang datang bulan, Aira harap jangan sekarang karena dia tidak membawa pembalut, mana tau dia ingin datang bulan.
Ah bodoh pikirnya.
Bel masuk berbunyi, dipintu Aira melihat Dita baru sampai dan langsung duduk diam di samping Aira. Tak lama setelah itu pak Wili guru biologi datang dan menyapa isi kelas, melanjutkan pelajaran seperti biasa.