Fons Cafe Episode 54

1098 Words
Dua hari berikutnya, Eugene berada di rumah, dia memasak. Tapi di temani oleh Lita. Alasannya karena dia sedang flu, sehingga lidahnya tidak bisa merasakan rasa dengan benar. Padahal, seluruh lidahnya sudah mati rasa, dan semuanya hanya dimasak olehnya dengan menggunakan perkiraan-perkiraan semata. ----- "Natal kali ini Fons sangat ramai ya, Kris!" Seru David meledek, "Fonsnya ramai, tapi hati si Pemilik Fonsnya sepi karena tak ada pengisi hatinya. Benar atau tidak?" "Diamlah Vid! Kau hanya menganggu saja disini!" "Ayolah, kalau aku memang mengganggu, maka kau akan makin kesepian kau tahu?" Balas David. "Seharusnya kau bersyukur karena aku belum menikah, Kris." Kris berdecak. "Oh, Eugene?" Eugene datang ke Fons dengan aura yang mendatangkan energi positif. "Wah, cafe ini sesak sekali!" "Restoranmu juga pasti ramai." Eugene tersenyum. Memang benar kalau GAE sedang di banjiri order pesanan natal di dalam restoran maupun yang di bawa untuk makan di rumah. "Oh ya, dimana Leo?" Tanya David, "Hari ini adalah malam natal. Jadi seharusnya kalian berkumpul di rumah. Bahkan Alex, Tatsuya dan Carlos berkumpul bersama keluarga mereka." Itu memang benar. Tatsuya, Gaby dan Clement pergi ke pinggiran kota untuk berkumpul dengan keluarga Tatsuya. Sementara Alex, mereka berkumpul di rumah keluarganya Steffi sambil mengajak Ayah Alex. Dan Carlos mengajak Rhea untuk berlibur ke Bali lagi bersama ayah dan ibunya. Kepergian mereka membuat David dan Kris melalui natal tahun ini sendirian pula. "Leo lembur. Karena dia telat untuk mengajukan cutinya." "Astaga, padahal kalian berdua masih pengantin baru!" Eugene menggeleng sambil tersenyum, "Hal ini sudah biasa terjadi. Dulu Dad juga sering lembur di rumah sakit tiap akhir tahun. Makanya aku selalu jalan-jalan bersama Mom saja saat akhir tahun." "Begitu ya.." Eugene tersenyum. "Bagaimana kalau kita video call? Hanya sekedar menelepon saja untuk melihat Leo.." "Jangan!!" Seru Eugene, "Kau hanya akan mengganggunya, Vid!" "Oh, halo? Leo! Kau disana?" Sahut David. "Aku sedang di Fons bersama dengan kekasih setiaku, Kris Aikawa," David melayangkan layar ponselnya kepada Kris, "Dan disebelahku ada seorang celebrity chef terkenal, Eugene Anastasia!" David melayangkan tangan kanannya ke pundak Eugene. "Lepas rangkulan kotormu dari istriku, Bodoh!" David terkekeh, "Lagi pula kenapa kau harus lembur di rumah sakit sih? Kasihan sekali istrimu harus melewatkan natal di rumah tanpamu." "Jangan di dengarkan Le!!" Seru Eugene tanpa basa-basi, "Kau bekerjalah saja. Jangan pikirkan aku dulu." "Hei, tapi kau ini istrinya, Eugene!" "Betul itu, kalian berdua seharusnya pergi berbulan madu saja lagi, dan membuat anak. Supaya anak kalian bisa seumuran dengan anaknya Alex dan Carlos nantinya," tambah Kris. "Kalau kau meneleponku hanya untuk mengolok-olokku saja lebih baik aku tutup!" "Ehhh! Tunggu dulu! Kapan jam praktikmu habis hari ini?" Tanya David, "Biar aku dan Eugene mengunjungimu setelah jam praktikmu selesai. Aku yakin kau tidak akan pulang ke rumah lagi untuk berkumpul saat malam natal." "Berikan pada Eugene!" David tersenyum, lalu memberikan layarnya pada Eugene. "Hai, Le." "Hai. Jadi kau mau mengunjungiku?" "Mmm.. inginnya begitu." "Aku selesai jam setengah delapan malam. Kau masih mau menemuiku? Itu sudah cukup malam." "Kalau kau tidak keberatan, dengan senang hati aku akan datang. Lagi pula ada David yang menemaniku," jawab Eugene ringan. "Baiklah. Aku tunggu nanti." Setelah menelepon, Eugene merasa senang sekali. Sekarang dia ingin memasak makanan untuk suaminya itu. Sekarang masih jam empat sore. Untuk membuat makanan untuk Leo ini adalah waktu yang cukup. "Kris, boleh aku pinjam dapurmu?" Tanya Eugene. "Kau mau memasak?" "Ya.. aku ingin memasak untuk Leo," kata Eugene. Lalu, dehaman David membalasnya, "Oh, tentu saja untukmu juga, Vid. Aku memasak untuk kita nanti saat di rumah sakit. Bolehkan?" "Tentu saja! Suatu kehormatan bagiku untuk membiarkan dapurku diisi oleh koki hebat seperti dirimu Eugene Anastasia!" Seru Kris, "Apa yang ingin kau masak ngomong-ngomong?" "Aku juga bingung. Leo kira-kira ingin makan apa ya, untuk hari ini?" David pun ikut berpikir. Leo suka dengan soto santan dan makanan pedas. Tapi bahan masakan Fons untuk soto santan tidak ada karena sekarang bertema natal. Sementara untuk makanan pedas... Fons bukanlah spesialis makanan pedas! Jadi, tidak ada yang benar-benar mendukung Eugene untuk membuat masakan kesukaan Leo. "Kalian punya ide untuk apa yang harus kumasak?" David seketika mendapatkan ide cemerlang. "Ah, aku tahu! Kau masak nasi goreng lada hitam dan new york strip saja, Eugene!" Eugene membulatkan matanya. "Ah, betul juga!" "Ya sudah, kalau begitu, kalian pergi dulu saja ke supermarket untuk membeli dagingnya. Kalau nasi, aku yakin di dalam dapur pasti ada banyak." Kris menganjurkan agar Eugene dan David pergi dulu ke supermarket, lalu David dan Eugene pergi dengan mobil Kris ke supermarket. ----- Jam menunjukkan pukul enam sore. Masih satu setengah jam lagi bagi Leo untuk menemui David, Kris dan Eugene. Tumpukkan statusnya berkurang. Itu berarti tugasnya juga semakin sedikit. Tapi disisi lain, sebentar lagi dia harus memeriksa keadaan pasien-pasiennya yang baru saja selesai di operasi minggu lalu untuk menentukan kabar dan keadaannya. Leo menenggak sirup glukosanya. Kali ini, Leo hanya meminum tiga kapsul. Karena dia tidak mau perutnya tidak keruan saat akan malam bersama dengan istri dan teman-temannya itu. Kriiiing!! On call Leo berbunyi. "Ya, dengan Leonardo dari departemen Onkologi. Ada yang bisa dibantu?" "Dok, saya Isna, dari UGD. Bisa Dokter segera kesini? Ada seorang pasien tumor otak yang harus segera di tangani oleh Dokter." "Dokter lainnya?" "Hanya ada Dokter, dan Dokter Eltha. Tapi Dokter Eltha sedang melakukan tindakan di ruang operasi tiga jadi--" "Baiklah aku kesana." Padahal Leo sangat menghindari mendapat menangani pasien dalam hari-hari seperti ini, karena hal itu hanya akan menambah pekerjaannya dan menyita waktunya lebih banyak lagi di bandingkan sebelumnya. Dengan jas putihnya, Leo turun dari lantai 12, menuju ruang UGD di lantai dasar, lalu, ia segera menuju bagian informasinya. "Mana status pasiennya?" Isna, perawat yang meneleponnya tadi langsung memberikan statusnya dengan cepat. "Tumor otak sebesar tiga sentimeter." "Hmm. Dimana pasiennya?" "Di sebelah sana," Isna keluar dari meja informasi lalu membuka sebuah tirai pasien. "Ini Dok, pasiennya." Leo menutup statusnya lalu segera melihat pasien tersebut. Mata Leo tak dapat berkedip saat melihat wajah yang sangat ditunggunya dari tadi. "Eugene...?" Isna menelan ludahnya saat Leo berhasil menyebut nama putri Presdir tempat mereka bekerja. Dari arah yang berlawanan Eltha datang dengan cepat, masih mengenakan pakaian operasinya, dengan wajah yang penuh keringat, Eltha segera menerobos UGD, dan melihat pasiennya itu, Eugene, tanpa mengabaikan Leo yang mematung melihat Eugene. "Sediakan ruang tindakan dengan cepat! Dan kau, siapkan ruang perawatan yang biasa di pakai Eugene!"  "Siapa Dokter yang menanganinya?" "Dokter Fritz," jawab Eltha cepat. "Dia pasien tumor, Tha! Dokter Fritz itu hanya internis!" Leo menahan ucapannya, lalu berpikir cepat, "Tunggu, apa kau sudah tahu penyakit Eugene?" "Hmm!" Balas Eltha cepat. "Bagaimana bisa?!" "Dokter Fritz mempercayakannya padaku," jawab Eltha, "Apa kau akan terus berdiri disana atau kau mau menyelamatkan istrimu?" "Dokter Eltha, ruang tindakan sudah siap." "Baiklah."   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD